SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
TENTANG KITA


__ADS_3

Air mata Kirana semakin deras mengalir. Berkali-kali dia mengusap pipinya yang basah "Aku juga sangat mencintaimu, Dave..." ucapnya sesenguan.


Dave langsung memeluk dan menghapus air mata Kirana. "Sudah jangan menangis lagi." Dave tak tega. "Maafkan aku." ia memegangi kedua pipi Kirana untuk memandangnya. "Seandainya aku nggak memeluk mu saat itu, pasti kejadian seperti ini tak akan terjadi." Dave kembali memeluk Kirana sayang.


Di balasnya pelukan Dave dan di elusnya punggung Dave yang bertato.


"Aku nggak bisa mengendalikan perasan ku saat aku melihatmu berdansa bersama Jonathan." Dave memejamkan matanya sesaat dalam posisi masih memeluk Kirana dan mengelus rambut panjangnya.


Mata Kirana membulat. Dia seperti tak percaya dengan apa yang Dave katakan. "Dave cemburu ?" ucapnya dalam hati.


"Aku sudah berusaha menahanya, tapi kalian terlihat sangat mesra dan.." Dave tak sanggup melanjutkan kata-katan. Dilepas pelukanya pada Kirana dan di pandangi mata gadis itu.


"Dan ?" Kirana menunggu Dave melanjutkan kalimatnya.


Dave tertunduk, wajahnya memerah."Dan kau, kau terlihat seksi.." ucapnya pelan.


Kirana langsung menutup separuh wajahnya yang merah padam dengan kedua telapak tangan. Rasanya tak percaya Dave yang berwajah datar dan biasa bersikap pendiam bisa berkata seperti itu. "Padahal ketika di Pesta dia seperti nggak peduli." Kirana berkata dalam hati, dan itu semakin membuat dirinya salah tingkah.


Mereka berdua sama-sama menunduk dengan wajah tersipu dan perasaan jengah yang membuat resah.


"Se, sebenarnya saat itu aku merasa rendah diri." Kirana berkata perlahan, membuat Dave mengangkat wajah melihatnya. "..Angela cantik sekali, eh ?" tiba-tiba Kirana tersadar akan sesuatu. Dia langsung menatap Dave dalam-dalam.


"Ada apa ?" tanya Dave tak mengerti.


"Angela. Bagaimana dengan Angela jika..jika kita ?" Kirana memegangi keningnya dengan rasa bersalah. Wanita itu terlalu baik untuk di sakiti dan dia sudah di anggap teman baik oleh Angela. Itu sama dengan Kirana menjadi orang ketiga dalam hubungan Dave dan Angela.


"Tenanglah." Dave mengengam jemari tangan Kirana.


"Dave, dengan aku tahu kau menyukai ku itu sudah cukup. Aku nggak mau semua orang menderita karena keegoisan ku." Mata Kirana berkaca-kaca menatap Dave.


"Kau bisa menghadapi semua. Bahkan wajahmu sampai terluka. Lalu kenapa aku hanya diam saja ?" kening Dave berkerut.


Kirana mengigit bibir bawahnya dengan wajah sedih. "Aku hanya kasihan pada Angela..." Kirana menghapus air matanya yang mengalir.


"Lalu bagaimana dengan Jonathan ?" Dave memandang Kirana.

__ADS_1


Mengingat Jonathan membuat Kirana semakin merasa menjadi orang paling jahat sedunia.


"Aku nggak mau lagi mendengar atau melihatmu dalam bahaya Kirana." Dave berkata. "Kau tak tahu khwatirnya aku saat mendengar berita kucing dengan leher terpengal di ruanganmu. Bingungnya aku mencari keberadanmu dan kini pipi mu menjadi cacat." Dave mengusap rambut nya ke belakang. "Dan itu semua terjadi karena aku." Dave menunjuk dirinya sendiri.


Kirana berkali-kali menghapus air matanya. Dia juga tidak pernah menyangka jika satu kenyaman yang di berikan Dave bisa membuahkan rentetan bencana untuknya. "...Apa Daddy akan merestui hubungan kita, jika kita jujur ?" tanya Kirana setelah berhenti menangis. "Lalu Mom ?" tanya Kirana lagi. "Kakek dan Nenek mu ? Kau sangat menyayangi mereka, kan ?"


Lelaki bertelanjang dada dengan tatto malaikat dengan sayap lebarnya yang tengah menunduk seperti sedang bersedih itu terdiam.


"Orang-orang juga tahunya kita bersaudara satu Ayah." kembali mata Kirana berair. "Bagimana kita menjelaskan nanti ?" ia menghapus air matanya sebelum mengalir.


"..Aku pernah merasa sangat tertekan dalam hidup, Kirana." Dave berkata setelah beberapa menit terdiam. "Aku orang pasif yang sulit untuk mengungkapkan perasaan." Dave kembali terdiam.


Mereka duduk berhadap-hadapan dan Kirana menyimak dengan sungguh-sungguh.


"Kau pasti tahu jika aku sangat menghormati, bahkan mengidolakan Dad." Dave berkata. "Sejak kecil aku mengejar sosok Dad. Berusaha melakukan yang terbaik hanya supaya Dad mau membagi sedikit perhatiannya padaku dan Mom." Pandangan Dave mengawang. "Tapi Dad tak pernah sekali pun melihat kami." Dave tersenyum pahit. "Tatto di punggungku aku buat ketika aku benar-benar kecewa pada Dad yang tak bisa datang saat wisuda cumlaude ku di INSEAD." Dave kembali tersenyum getir. "Padahal aku adalah lulusan termuda.." mata Dave berkaca-kaca. "Aku belajar mati-matian untuk gelar itu. Supaya Dad memuji dan mengatakan, 'aku bangga padamu' di depan semua orang. Tapi itu tak pernahterjadi.." nada suara Dave melambat. "Dad nggak bisa hadir dan aku sangat terpukul." kali ini Dave terkekeh.


Dipandanginya Kirana yang masih menatapnya dengan wajah sembab. "Aku langsung belari ke seniman tatto di Paris dan merajah punggung ku." Dave geli mengingat kebodohannya, tapi kelopaknya menahan air mata penuh kesedihan.


"Pasti sakit sekali.." tangis Kirana. "Tatto sebesar itu.." dia menangis tersedu-sedu seolah kulit tubuhnya lah yang di rajah.


"Entahlah." Dave terkekeh, mencoba menutupi luka masa lalunya. "Aku nggak ingat tentang rasa sakitnya, mungkin karena saat itu hatiku lebih sakit." ucapnya.


"Iri ?" Dave tertawa. "Selama bertahun-tahun kau tinggal bersama Dad. Tanpa bersusah payah Dad mencurahkan semua rasa sayangnya padamu." Dave berkata. "Ibu juga sangat perhatian padamu. Jadi apa yang kau iri ni dari aku ?"tanya Dave tak habis pikir.


"Mom juga sangat sayang padamu." Kirana tak mau kalah. "Kau juga punya Kakek dan Nenek yang menganggapmu adalah segalanya." Wajah Kirana berubah muram. "Sedangkan Opa dan Oma yang selalu membela ku sudah meninggal."Kirana cemberut.


Wajah Dave berubah muram. Keduanya terdiam sementara hujan badai telah berhenti dan tinggal rintik hujan.


"...Sebelumnya Mom tak pernah peduli padaku." Dave berkata setelah mereka terdiam beberapa waktu.


Kirana mengangkat muka memandang Dave.


"Bertahun-tahun Mom mengurung diri di kamar. Rambutnya memutih dengan cepat dan selalu menangis." Dave mencurahkan isi hatinya.


Kirana tertegun.

__ADS_1


"Aku sejak usia tujuh tahun lebih sering tinggal bersama Kakek dan Nenek. Dari mereka pula aku tahu tentang Dad." Dave menghela nafas panjang. "Aku menganggap karena bercerai dengan Dad lah Mom seperti itu." Dave menunduk. "Sejak itu aku berusaha lebih dari orang lain untuk membuat Mom senang dan Dad mau kembali pada kami." Dave mengusap rambutnya ke belakang, memperlihatkan keningnya yang lebar. "Tentu saja, itu sebelum aku tahu kenyataan yang sebenarnya." Dave tersenyum pada Kirana yang menatap prihatin.


"Om Rendy.." Kirana sengaja mengulur kalimatnya. Menunduk sebentar, kemudian kembali melihat Dave. Dia menelan ludah. Mempertimbangkan akan mengatakan pada lelaki itu atau tidak. "..Om Rendy, beliau meninggal karena menyelamatkan aku." ucapnya perlahan.


Mata Dave membulat.


"Ada penembakan di acara yang kami hadiri." Kirana memandang Dave sayu. "Aku nggak begitu ingat detailnya.." suara Kirana merendah. "Yang aku ingat Om Rendy memelukku dengan tubuh dingin dan gemetar. Wajahnya pucat..." Air mata Kirana meleleh membayangkan kejadian tragis yang terjadi saat ia berusia tiga tahun tersebut.


Dave masih memandang Kirana tak bergeming.


"Iya..kenapa aku baru sadar, ya.." Kirana tersenyum sambil memegangi pipi lelaki yang dia cintai dengan wajah tersenyum namun berderai air mata. "Dave, kau mirip sekali dengan Om Rendy." Kirana terisak. Sedih oleh rasa bersalah yang masih terasa nyata meskipun telah bertahun-tahun.


"Kirana.." Dave mendekap Kirana dalam peluknya.


"Maaf Dave, seandainya Om Rendy nggak meninggal, pasti keadaanya tak akan serumit ini." tangis Kirana.


"Itu sudah takdir, Kirana." Dave mengelus rambut panjangnya. "Seandainya masih hidup pun, dengan sikap Keluarga Sanjaya, aku tak yakin Mom bisa jujur dengan hatinya." lanjutnya dengan mata mengawang.


"Aku pasti kena kutuk. Jatuh cinta pada anak orang yang kehilangan nyawa karena aku." Kirana berucap.


"Apa ?" Dave langsung memegangi pundak Kirana agar melihat padanya. "Coba bilang siapa yang kena kutuk ?" Dave berkata dengan nada marah.


Raut Kirana berkerut masam. "Aku..jatuh cinta padamu yang selalu berkata buruk padaku.." ucap nya masam.


Dave ikut kesal. "Apa kau tahu aku berkata buruk karena menutupi perasaanku padamu ?"tanya Dave dongkol.


"Apa..? aku yang dulu jatuh cinta dan memendam sakit hati karena omonganmu." Kirana mengkerutkan kening mengingat perlakuan Dave padanya dulu.


Dave mendengus. "Kau ingat pertemuan pertama kita ?" tanya Dave.


"Tentu saja, aku hampir mati mau kau tabrak." Kirana berucap.


"Bukan!" ucap Dave cepat dengan suara meninggi.


"Kita pertama bertemu memang saat itu kau hampir menabrakku." Kirana tetap kekeh dengan perkataanya.

__ADS_1


"Gundam." ucap Dave makin kesal karena Kirana tak mengingat.


"Apa ?" mata Kirana membulat. "Gundam ?" dia tak mengerti.


__ADS_2