SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
APA KABAR KIRANA ?


__ADS_3

Tidak seperti Hertoni Sanjaya yang beranggapan jika anak Lelaki lebih baik dalam hal kepemimpinan sehingga tidak percaya akan anak perempuannya sendiri untuk memimpin Perusahaan. Andreas tak begitu, baginya mau laki-laki atau perempuan sama saja. Karena skill bisnis di tentukan oleh otak cerdas dan kemauan untuk belajar dan itu tidak ada hubungannya dengan gender.


Maka meskipun ia punya Kiandra sebagai anak lelaki, ia tetap fokus pada Kirana dan menyuruhnya untuk langsung bekerja di Perusahaan. Tentu saja seorang Andreas tidak akan langsung memberi jabatan eksklusif walaupun itu anak nya sendiri.


Ia ingin Kirana belajar dari bawah, karena memang putri nya yang sebentar lagi berusia 25 tahun tersebut nol pengalaman.


"Melelahkan sekali..." keluah Kirana berbarengan dengan ia yang menjatuh kan tubuh nya ke sofa ruang keluarga. Dari tubuh nya yang di balut piyama motif keroppi tercium wangi segar sabun dan sampo berpadu dengan parfume beraroma lembut bunga.


"Melelahkan apa Kirana, kerja mu kan hanya duduk." Kiandra yang tahun ini berusia 10 tahun berucap santai dari seberang tempat Kirana duduk.


Wajah gadis yang malam ini membiarkan rambut panjang nya tergerai bebas itu langsung berubah sebal.


"Kian, jangan bicara seperti itu pada Kakak mu." tegur Marisa yang duduk di samping Suami nya yang masih menyeruput kopi panas nya.


Anak lelaki yang semakin besar lebih mirip Ibu nya dengan kulit lebih cokelat dari Kirana dan tak bermata sipit seperti Ayah nya itu pura-pura main game di tangan nya.


"Anak kecil mana tahu dunia kerja, tahu nya hanya dunia PUBG." ejek Kirana sambil memasukan potongan roti brownis ke mulut nya.


Kiandra yang bermata lebar namun memiliki warna cokelat terang yang sama dengan Kirana itu mencelos. "Iya, aku tahunya PUBG dan aku jago menembaki musuh ku, termasuk kau Kirana." ucap nya kesal.


Kirana mengeram dan menatap sebal ke Kiandra yang duduk di depanny dan hanya di pisah kan oleh meja lebar dari kaca dengan berbagai macam camilan dan minum di atas nya.


"Sebentar lagi Kirana akan menikah, pasti kau akan kangen dengannya nanti." Andreas terkekeh.


Istri nya menoleh ke arah nya, memberi kode. "Harusnya kau tidak tertawa." Marisa berucap pelan pada Suami nya yang beberapa rambut nya telah beruban tapi entah kenapa kerutan di wajah nya sepertin tak bertambah.


"Aku hanya bercanda." Andreas ikut mengecil kan suara nya dan menatap Istri nya yang mau sampai kapan pun akan tetap yang tercantik di mata nya meskipun wajah dan rambut nya telah di makan usia.


Marisa mencelos, membuat senyum Andreas kian terkembang.

__ADS_1


Tanpa pasangan itu sadari, Kirana diam memperhatikan orang tua nya tersebut. Sedari dulu Kirana merasa jika orang tua nya itu selalu punya dunia sendiri yang bahkan sebagai anak tidak bisa ia masuki.


Seumur Kirana hidup hampir tidak ada pertengkaran berarti dari orang tua nya tersebut, paling hanya Ibu nya yang akan mengomel jika Daddy nya itu ketahuan merokok.


Bahkan di saat rekan-rekan kerja Ayah nya mulai jenuh dengan perkawianan dan mencicipi perempuan lain, Ayah nya itu akan tetap setia dan memilih pulang ke rumah. Padahal jika mau, pasti Ayah nya itu dengan mudah bisa memiliki satu atau dua simpanan.


Tapi Ayah nya tak begitu, dan itu lah yang membuat Kirana maki menyayangi dan bangga kepada kedua orang tua nya.


"Mungkin pertengkaran dan kesedihan mereka sudah di habiskan di masa lalu." Kirana berkata dalam hati saat mengingat masa lalu kedua orang tua nya yang di awali kepahitan.


"Yang kasihan itu Nii san." kata Kiandra yang membuat Kirana kembali fokus pada nya. Nii san adalah panggilan Kiandra untuk Jonathan yang berarti Kakak laki-laki. "Nii san harus mengurusi bayi besar." ia menjulurkan lidah nya pada Kirana.


Wajah Kirana langsung merah padam. Ia bangkit dari duduk ny dan lamgsung menyerang adik lalakinya tersebut. "Kiiiaaaannn !" amuk Kirana.


Tak lama di rumah mewah dengan gaya etnic-modern tersebut terdengar tawa dari penghuni nya yang tengah berkumpul di ruang keluarga.


Tawa yang selalu terdengar yang membuat tidak hanya Keluarga kecil itu yang bahagia namun juga Para pekerjanya yang mendengar, seperti Para Pelayan di dapur atau yang sedang istirahat di kamar khusus pekerja. Meski tak melihat, mereka akan ikut tersenyum geli karena membayangkan Tuan Muda kecil mereka yang saat ini sedang menerima balasan dari Nona muda nya karena sifat usil nya.


"Bilang aku bayi lagi ?" Kirana makin gemas. ia semakin semangat mengelitiki Adik nya tersebut. Rambut panjang nya sudah berantakan dan wajah nya sudah sama merah ny dengan Kiandra, karena ia yang mati-matian tetap menahan Kiandra dalam posisi tergeletak di sofa dengan kedua tangannya yang ia jepit.


"Hahaahahahahahahha...maaf..maahahaahaha..." Kiandra sampai sulit bernafas karena tertawa.


Melihat kelakuan dua anak nya tersebut Andreas ikut tertawa, sedang Istri nya yang sebenarnya tidak setuju dengan Kiandra yang kurang bersikap hormat pada Kakak nya, mau tak mau ikut tersenyum sambil menutup mulutnya karena geli melihat tingkah kedua nya.


Tanpa mereka sadari, seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan kaos lengan panjang warna biru dongker yang di tarik sampai lengan di padu dengan jeans biru nya itu mengintip Keluarga bahagia itu sesaat dari ambang pintu, sebelum kemudian perlahan ia berjalan memasuki ruang.


"DAVE ?!" Marisa bangkit dari duduk nya.


Mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar, membuat Kirana menghentikan aktifitas nya. Ia menegakkan tubuh nya, membuat Kiandra langsung bisa moloskan diri dan berlari menjauh dari nya.

__ADS_1


"Ya Tuhan Dave." mata Marisa berkaca-kaca menatap tak percaya pada lelaki yang kini berdiri di hadapa nya.


"Apa kabar, Bu ?" ia menyunggingkan senyum.


Andreas terpaku melihat sosoknya. Dia yang sudah setua ini melihat lelaki muda yang sedang di peluk dan di cium kedua pipi nya oleh Istri nya.


Tidak. Andreas bukan cemburu karena Istri nya memperlakukan lelaki itu secara istimewa. Yang membuat nya sampai nyaris tak bergerak saat menatap lelaki itu hanya satu, wajah nya.


"Dad ?" ia tersenyum pada nya. "long time no see." ia berucap.


Lelaki 55 tahun itu bergerak maju dan memeluk nya. Ia terisak, betapa rindu nya ia akan pemilik wajah itu.


Ia yang sampai rela mengakui anak yang bukan darah dagingnya, hanya untuk menjaga nama baik saudara dan anak tersebut. Dan setelah bertahun-tahun berlalu pun, rasa bersalah Andreas pada Ayah kandung Dave yang juga Saudara nya tersebut masih begitu kental ia rasa.


"Lihat anak kurang ajar yang bsrtahun-tahun tak pulang dan hanya menelpon akhirnya kembali." mata cokelat terang milik Andreas berkaca-kaca menatap Dave yang kini tinggi nya sejajar diri nya.


Dave terkekeh, ia bahagia mendengar orang yang di hormati nya berbicara seperti itu. "Maaf kan aku, Dad." ia berucap.


"Kak Dave !" Kiandra juga menyambut dan memeluk nya dengan suka cita.


"Waah...Kian tambah tinggi." Dave menepuk pelan pundak anak lelaki yang tengah tersenyum lebar dan menatap nya penuh kekaguman itu.


Semua Keluarga dengan suka cita menyambut kedatangan Dave, kecuali Kirana yang masih hanya diam tak bergerak dari tempat nya berdiri.


Kirana menelan ludah dengan susah payah, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu pun. Jantung nya tetap tak bisa di ajak berkompromi jika sudah memyangkut Dave.


"Apa kabar Kirana ?" dari kejauhan Dave menyapa nya, membuat mata cokelat terang milik gadis itu membulat. "Kau tetap seperti anak kecil ya ?" ia tersenyum tipis.


Mula nya Kirana tak mengerti maksud nya, tapi kemudian ia sadar jika piyama yang tengah ia kenakan bermotif kartun keroppi.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2