SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
BERBEDA


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan pada Cucuku ?!" Wajah tua Hertoni memerah dengan kerutan yang semakin dalam.


Malam begitu mendapat kabar jika Dave kecelakaan, dia yang saat itu sedang berada di Malaysia dan mengurus pekerjaan penting, langsung pulang begitu saja dengan pesawat pribadi.


Andreas terdiam sambil memalingkan muka, wajahnya terlihat gamang dan penuh rasa bersalah.


"Bertahun-tahun kau mengabikan darah dagingmu sendiri, dan sekarang hanya dalam tempo beberapa minggu dia tinggal di rumah mu, dia sudah seperti ini !!" Amuk Orang tua berusia 85 tahun itu.


"...Maaf...aku..." Andreas tidak bisa berkata-kata. Ia masih menunduk sambil sesekali mengusap wajahnya yang lelah karena semalam tidak tidur.


Hertoni mengeram melihat sikap mantan menantunya itu, tapi Istrinya memegangi lengannya kuat, membuat Hertoni menoleh ke Istrinya.


"Kenapa Dave belum sadar ?" tanya Erika dengan waajahnya yang sembab oleh air mata.


Andreas mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Wanita berusia 80 tahunan dengan rambut di cat pirang dan di gelung sederhana itu.


"...Dave kehilangan banyak darah..." Andreas berkata perlahan, seperti takut jika pernyataannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Kenapa tidak langsung di tranfusikan ?" nada suara Erika meninggi, dadanya berdebar penuh perasaan cemas dan khawatir akan keselamatan Cucu satu-satunya.


"....PMI...tidak ada stok darah untuk Dave..." jawab Andreas setelah terdiam beberapa saat.


"Kata-kata macam apa itu ?!" Hertoni langsung mencegkeram kerah baju Andreas dengan kedua tangannya.


Tidak seperti Andreas yang biasanya yang pasti akan langsung melawan meskipun itu mantan mertuanya sendiri, kali ini Lelaki berusia 50 tahun yang masih terlihat sangat gagah itu hanya diam, berusaha untuk tak bertemu pandang dengan Hertoni.


Saat itu mereka berada di ruang Presidential suite room, di mana kamar tidur pasien terpisah oleh sebuah pintu dengan ruangan seperti ruang tamu untuk menjenguk si Pasien.


Dan di situlah Andreas dan Pasangan Suami Istri Sanjaya berada.


"Kenapa bukan kau yang mendonorkan darahmu untuk Dave ?" tanya Erika penuh emosi. "Apa karena Dave anak Eva makanya kau tidak mau berkorban sedikit ??" ucapnya sambil menghapus air matanya yang berlina dengan sapu tangan.


"Aku tidak pernah membeda-bedakan Dave." Akhirnya Andreas menatap ke arah Erika dan melepas cengkraman tangan Hertoni pada kerah nya. "Kalau aku bisa..." ia tercekat melihat sepasang mata tua yang memandanginya penuh tuntutan.


"Kalau kau bisa apa ??" Erika tak mengerti. "Kau tentu bisa, kau Ayah kandung Dave !" ucap nya marah. Ia merasa sikap Andreas seperti tidak peduli akan keselamatan Cucu nya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, seorang Laki-laki berjas hitam rapi menunduk hormat ke arah Andreas.

__ADS_1


"Saya sudah menyebar pengumunan ke media sosial dan cetak untuk siapa pun yang bergolongan darah O Rhesus Negatif akan mendapatkan ...."


"Rhesus apa...??" Hertoni memotong pembicaraan orang berjas hitam tersebut.


Andreas memijit keningnya yang mendadak pening sambil memejamkan mata, sebelum kemudian ia mengibaskan tangan kanannya ke arah si Laki-laki berjas hitam tersebut, sebagai tanda agar ia segera pergi.


Susana hening sejenak dengan ketiga orang tersebut yang masih berdiri mematung, menunggu penjelasan dari Andreas.


Matahari mulai naik dengan semburat sinar kuning cerahnya pada langit biru cerah tanpa awan. Kirana masih menangis sambil memeluk nisan dari batu granit putih bertulisan RENDY A MARTHADINATA.


"Maaf kan Kirana Om..." ucap Kirana penuh sesal. Wajahnya memerah dengan mata bengkak karena menangis terus menerus, telapak kakinya pun lecet dan berdarah karena berlari tanpa henti dari Rumah Sakit tempat dia di rawar, ke Tempat Pemakaman yang berada di atas bukit itu.


Kini ia ingat semua, malam naas di sebuah Pesta yang ia datangi, suara letupan senja api dari seorang Laki-laki berkaca mata yang menyringai jahat padanya.


Ia yang saat itu hanya anak kecil berusia 3 tahun, hanya bisa menangis ketakutan saat moncong senjata api dari Lelaki itu terarah pada dirinya.


Kirana menangis keras-keras, sampai ia sulit bernafas. Dadanya sesak saat ia mengingat bagaimana sosok dari orang yang kini makam nya ia peluk, dan sikap nya dulu yang datang mendoakan hanya karena si suruh Ibunya, ternyata orang yang sangat baik dan telah menyelamatkan nyawanya.


"Oomm..." Kirana masih menangis sambil memeluk gundukan tanah berselimut rumput jepang tebal dengan batu granit putih di ujung nya.


Ia teringat Ibu nya yang selalu mengingatkan setiap tanggal 6 untuk datang ke makam, ternyata bukan saja untuk Opa nya yang dulu begitu memanjakannya, tapi lebih untuk ke Om nya yang kehilangan nyawa di tanggal tersebut karena dirinya.


Sementara itu, Marisa yang pagi-pagi sudah kembali ke Rumah Sakit, setelah sebelum nya ia harus pulang karena Kiandra yang sendirian di rumah bersama Para Pembantu, terkejut karena kasur tempat tidur Kirana telah kosong dan Jonathan yang semalam menungguinya tertidur di sofa.


"Jon, mana Kirana ??" tanya Marisa cemas setelah Jonathan di bangunkannya.


Jonathan tergagap, ia mengucek matanya yang masih mengantuk beberapa kali. Sebelum ia benar-benar sadar dan mendapati ranjang Kirana telah kosong dengan selang infus yang terlepas dan tergantung dengan cairan infusnya yang menetes-netes ke lantai.


"A, apa...??" mata Hertoni membulat menatap mantan menantunya yang wajahnya tak kalah gamang dengan dirinya saat ini.


"Mana mungkin Dave memiliki golongan darah selangka itu ??" Erika hampir berteriak karena begitu terkejut dengan pernyataan Andreas.


Andreas menelan ludah dengan susah payah, bahkan tanpa sadar kedua tangannya terkepal untuk menguatkan hati nya.


"...Iya...golongan darah Dave O Rhesus Negatif, golongan darah langka yang hanya bisa di donorkan dari golongan O Rhesus Negatif juga." Andreas menerangkan perlahan.


"Kalau begitu cari dari Keluarga mu yang bergolongan darah itu !" Erika berteriak tak sabar.

__ADS_1


Sedang Hertoni berdiri terpaku dengan wajah yang mulai ketakutan akan keselamatan Cucu nya.


"Kenapa diam saja ?!" Istrinya yang biasanya lebih sabar dari dirinya, kini terlihat begitu emosional.


Bahkan beberapa kali wanita berusia 80 tahun itu memukul dada Andreas karena mantan menantuanya yang terlihat tak berperasaan dengan membiarkan Dave tak mendapatkan darah untuk tranfusinya.


Kedua alis Andreas saling tertaut dengan kerutan di dahi dan bawah matanya yang semakin terlihat nyata.


"ANDREE !!" Erika memukul dada Andreas karena Lelaki itu hanya diam. "Kau mungkin tidak peduli dengan Dave, karena kau hanya peduli dengan anak-anakmu dari wanita itu, tapi aku !" Erika menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Aku yang merawat Dave bahkan ketika Eva tidak peduli dengan anaknya sendiri !" mata tua dari wanita itu kembali berair.


Andreas menatap sedih ke arahnya.


"Kau tahu sebenarnya kami tidak pernah setuju Dave tinggal denganmu !" kembali Erika berkata. "Tapi Dave telah berusaha keras, membuat bahkan Suamiku luluh dan akhirnya ia bisa tinggal denganmu." Erika melihat sekilas Hertoni yang masih diam di sampingnya dengan pikiran berkecambuk.


"Kami tidak pernah menuntut apa pun dari mu, walaupun kau memperlakukan Eva, anak ku satu-satunya seperti sampah..." suara Erika bergetar dengan mata memerah dan air mata yang kembali mengalir.


Andreas memalingkan muka mendengarnya, ia berusaha untuk kuat dan tak menyangkal apa pun yang mantan mertuanya itu katakan, walaupun sebenarnya ia bisa.


Namun kini fokusnya hanya ke Dave dan bayang-banyang masa lalu yang membuatnya takut akan terjadi sesuatu pada anak lelakinya tersebut membuat kepalanya nyeri.


"Setiap detik untuk Dave begitu berharga, dan kau masih hanya diam ??" Erika tak percaya.


Andreas hanya menunduk, wajahny kian berkerut.


"...Tolong..." suara Hertoni terdengar, membuat Andreas menoleh ke arahnya.


Lelaki yang dulu pernah dekat dengan Ayahnya dalam hal kerjasama bisnis dan berbuntut perjodohannya dengan Eva, Ibu Dave dan putri mereka satu-satu nya itu, kini terlihat memelas.


"....Golongan darah O Rhesus Negatif itu sangat langka..." ia berucap perlahan. "Aku takut terjadi sesuatu dengan Dave sebelum orang mu nemukan pendonor yang tepat." mata tuanya berkaca-kaca menatap Mantan Menantu yang sangat ia benci itu. "Kau Ayahnya, pasti darahmu sama dengan Dave..." ia sengaja memotong kalimatnya.


Di lihatnya Istrinya yang sama tuanya dengan dirinya itu menangis tertunduk dengan sapu tangannya yang telah basah.


Hertoni, President Ditektur Sanjaya Company yang terkenal angkuh dan berharga diri tinggi menundukkan kepalanya di hadapan Andreas. "...Tolong selamatkan Dave, hanya dia harapanku di usia ku yang mendekati maut ini..." ia terisak.


Mestinya Andreas tertawa senang, seorang Hertoni Sanjaya memohon padanya. Tapi tidak kali ini, karena hati nya saat ini sama remuk nya dengan Lelaki tersebut.


"...Golongan darahku tidak sama dengan Dave." ucap Andreas setelah ia terdiam dan bisa menguasai diri. "Begitu pun dari Keluarga ku, tidak ada satu pun yang memiliki golongan darah itu..."

__ADS_1


Hertoni dan Erika tertegun.


"...Satu-satunya orang yang bergolongan darah sama dengan Dave, hanya saudara angkat ku..." Andreas kembali berucap, tenang dan perlahan ketika memgucapkannya. "Kalian pasti juga mengenalnya kan, Rendy..." Andreas tersenyum pahit.


__ADS_2