SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
UNGKAPAN HATI


__ADS_3

Hati itu rumit. Bertahun-tahun tak bertemu, di sisi telah ada pendamping yang sempurna. Tapi hati tak goyah dan tetap memikirkan dia yang di sana.


Sudah tahu tak mungkin bersama. Tapi kenapa terus mendamba ? Menyiksa diri dengan rindu dan dusta yang terus di ucap, hanya supaya menjadi benci dan menjauh.


Dave dan Kirana saling tatap, dan kembali bibir mereka saling mencium dan kedua tangab yang memeluk.


Selalu ada getaran yang berbeda tiap kali bibir mereka bersentuhan. Perasaan berbeda dengan saat Dave menyentuh bibir Angela, atau Kirana di cium Jonathan.


Digendong Kirana dengan bibir mereka yang masih saling tertaut memasuki kamar.


Dengan hati-hati Dave meletakkan Kirana ke atas ranjang, mata mereka masih saling menatap satu sama lain. Mungkin benar istilah mata adalah ungkapan jiwa. Karena tanpa perlu di ucapkan, baik Dave dan Kirana, sama-sama mengetahui jika apa yang mereka rasakan adalah sama.


Suara petir dan guntur kembali saling sahut menyahut. Menciptakan kilatan di gelapnya mendung dan dapat terlihat dari ventilasi udara. Curah hujan bertambah di sertai angin yang menderu.


Tangan lebar Dave menjelajahi tubuh Kirana. Jantung keduanya berdetak kencang seiring nafas yang kian sesak dan panas.


Dicium bibir Kirana, kemudian turun ke leher jenjangnya. Disesapnya lembut, membuat darah Kirana berdesir dan kedua tangannya yang sedang menjelajahi tubuh Dave yang berotot terhenti dan langsung memeluk pinggang Dave yang ramping dan keras.


Dengan tangannya yang lain, satu persatu Dave membuka kancing baju Kirana yang tengah terlena dengan ciumannya.


"Dave..." tanpa sadar Kirana menyebut namanya.


"Kirana.." Dave memanggil sambil mengusap lembut wajah Kirana yang tergolek pasrah di bawahnya.


Kedua tangan Kirana terjulur memegangi wajah laki-laki yang dia damba. Di telusuri alis hitamnya yang melengkung tegas, garis hidungnya yang mancung dan matanya yang selalu menatap sayu namun tajam. Kirana tersenyum tipis, menambah paras ayu nya yang polos tanpa make up dengan rambut panjangnya yang kusut berantakan.

__ADS_1


"Kirana, di mana harga dirimu ?" suara hati Kirana mencoba memperingatkan.


Tapi cinta itu memang buta dan dosa jika sudah bergesekan dengan hawa nafsu. Perasaan rindu yang meluap, cinta yang hanya mampu tertahan di relung hati tanpa bisa di ungkap. Dan keadaan yang membawa mereka pada titik di mana bisikan setan lah pemenangnya jika tipis iman.


Kancing baju Kirana telah separuh di buka Dave. Membuat lelaki itu bisa melihat belahan dada Kirana yang masih tertutup oleh bra. Matanya kian nyalang, di tarik kerah baju Kirana dan kembali di ciuminya pundak serta dada dari wanita yang kedua lengannya tengah memeluk pundak dan bahunya.


Kirana seperti terhipnotis saat jari-jari tangannya menelusuri otot perut Dave yang sempurna. Ia baru sadar saat Dave menegangkan tubuh dan melepas ikat pinggangnya.


Wajah Kirana langsung memerah. Jantungnya berpacu lebih cepat. Tanpa sadar dia merapatkan bajunya yang sudah setenga terbuka. Rasa malu dan takut menyelimuti, membuat wajah Kirana terlihat gelisah.


"Aku dengan Dave..." Kirana berkata dalam hati. "Dengan Dave..?" mata cokelat terang Kirana berkaca-kaca melihat ke arah Dave yang mata hitam nya memandang tajam.


Jantung Kirana hampir melompat keluar dan seakan dia kesulitan untuk mengambil udara saat Dave kembali mengurungnya dan membungkuk untuk mencium bibirnya kembali.


Kirana memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya meleleh dan tubuhnya menegang saat Dave yang masih menyesap bibir dan memasukan lidah ke mulutnya, dengan tangannya yang lain membuka resleting celana dan hendak menurunkannya.


Ciuman Dave begitu lembut dan memabukan, membuat tubuh Kirana yang semula menegang, perlahan mengendur. Di tariknya kain pelapis bantal tempatnya berbaring dengan kedua tangannya untuk meredam gemetar tubuhnya.


"Kenapa kau pasrah sekali ?" Dave menghentikan aksinya, membuat Kirana langsung membuka mata dengan nafas naik turun seperti orang baru selesai berlari ratusan kilometer.


Dave langsung merebahkan diri di samping Kirana berbaring." kancingkan baju dan celana mu." ia berkata.


Kirana terkejut. Cepat-cepat dia duduk dan merpaikan diri dengan perasaan malu sekaligus gundah. Dia tak mengerti kenapa tiba-tiba Dave berhenti. Kirana masih sibuk menerka-nerka, tanpa menyadari jika Dave yang berbaring di belakangnya tengah memperhatikan.


Pikiran Kirana ke mana-mana. "Apa aku terlihat sangat buruk dengan luka ini ?" ia memegangi pipi kanananya dengan wajah bertanya-tanya. "Bukankah aku harusnya bersyukur hal ini nggak terjadi ?" Kirana berkata lagi dalam hati. Dia mengusap wajahnya kasar, kemudian menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah. "Apa yang barusan mau kami lakukan ?" Kirana mengerang dalam hati.

__ADS_1


"Aku akan memintamu dari Dad." ucap Dave membuat Kirana menoleh ke arahnya dengan wajah sembab dan mata berair.


Lagi-lagi Kirana di buat tak mengerti oleh tingkah lelaki bertelanjang dada dan kini tengah bersandar pada kepala ranjang.


"Apa maksudmu ?" Kirana menghapus air matanya. "Aku ingin pulang dan segera ke dokter kulit di Korea." ia mengeser tubuhnya dan hendak turun. Tapi Dave menahannya dengan memegangi lengan Kirana dan menariknya ke belakag.


Kirana tersentak kaget dan lebih tertegun lagi saat Dave memeluknya dari belakang dan menaruh kepalanya pada pundak Kirana.


"Apa kau pikir aku berhenti karena luka di wajahmu ?" tanya Dave membuat Kirana menunduk.


Dave merubah posisi duduknya menjadi di depan Kirana yang masih diam tak menjawab.


Suara guntur kembali terdengar, membuat keduanya menoleh ke arah kaca jendela yang tertutup kain kordeng tipis yang bergerak-gerak tertiup angin badai dari celah jendela.


"Jangan membuatku bertambah malu, Dave. Kau tahu memang hal ini tak seharusnya terjadi, itu dosa besar." Kirana merasa kata-kata nya terdengar seperti orang munafik. Ia memalingkan muka dan menunduk.


"Aku nggak mau kisah orang tua kita terulang." kata Dave membuat Kirana memandang ke arahnya. "Cukup kita yang merasakan lahir dari hubungan di luar nikah." Dave berkata dengan raut wajah serius.


Mata Kirana membulat, kemudian meredup. "Aku bahkan nggak berpikir sampai sana." sesal Kirana dalam hati. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang begitu gampang di kuasai hawa nafsu.


"Anak kita nanti akan terlahir dari ikatan suci sebuah perkawinan, yang di saksikan oleh malaikat dan Yang Memberi Hidup." Dave menatap Kirana dalam-dalam.


"A, anak kita..?" Kirana tak yakin dengan apa yang di dengar.


"Aku akan datang ke Rumah Keluarga Marthadinata." mata Dave berkaca-kaca menatap Kirana yang tengah memandangnya dengan ekspresi heran yang lucu. "Bukan sebagai anak dari Andreas Reynald. Tapi sebagai anak dari Rendy Aryatedja." Dave berhenti sebentar demi melihat Kirana yang menutup mulut dengan wajah memerah dan air mata yang mengalir dari ujungnya. "Aku akan memintamu dari Dad.." Dave mengengam satu tangan Kirana yang sedang meremas baju yang tengah di pakainya.

__ADS_1


Kirana tergagap, ia hendak mengatakan sesuatu. Tapi takut jika hanya salah paham seperti yang sudah-sudah.


"Iya, Kirana," Dave tersenyum. "Aku mencintaimu dan aku ingin menjadikanmu istriku." ucap Dave sambil menghapus air mata di pipi Kirana.


__ADS_2