
Hal pertama yang di lakukan Dave begitu keluar dari Rumah sakit dan sehat adalah ke Memorial Park, sebuah tempat Pemakaman di atas bukit dengan lingkungan asri dengan banyaknya Pohon Kamboja dan rumput jepang tebal terawat yang menutupi area itu bak permadani.
Sudah sekitar setengah jam lebih Dave mematung tanpa melakukan hal lain selain menatap batu nisan dari granit putih yang terukir nama yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya, RENDY A MARTHADINATA.
Ia yang sejak kecil terdoktrin hanya Andreas lah Ayah kandungnya tak bisa membayangkan sedikitpun tentang sosok yang kini terbaring tenang di dalam gundukan tanah tersebut.
Sejak dulu yang ia kejar adalah sosok Andreas, bahkan karena nama tengahnya juga Andreas membuat ia semakin termotivasi untuk menjadi seperti nya. Dan sekarang secara tiba-tiba ia harus menerima kenyataan pahit tentang Ayah kandungnya. Sosok yang bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya.
Dave masih termangu diam dalam lamun dan tatapan kosongnya yang mengarah pada makam berselimut rumput jepang tersebut. Angin sore berhembus lembut menyibak rambutnya yang menutupi kening, membuat tampilannya lebih dewasa karena wajah nya yang kini lebih tirus dengan tulang rahangnya yang menonjol.
"...Sayang sekali kita nggak saling mengenal." ucap nya perlahan.
Suasana di situ begitu tenang dan hanya ada beberapa Pekerja makam yang sedang menyapu guguran daun dan bunga dari Pohon-pohon bunga kamboja di sekitar makam. "Mom bilang aku mirip dengan mu." ia menarik ujung bibirnya sesaat sebelum kembali diam dengan wajah datarnya yang seperti biasa.
Dave kembali menghela nafas panjang sambil menunduk. Hidup nya selama 20 tahun hanya seperti di bangun di atas kebohongan dan kini dia di paksa untuk menerima kebohongan itu.
Lama ia hanya berdiri mematung di depan makam tersebut, sampai beberapa saat kemudian ia membalikkan badan dan matanya membulat melihat Kirana dan Jonathan yang susah berdiri di belakangnya.
Kirana yang membawa seikat bunga sedap malam dan Jonathan yang membawa keranjang berisi bunga tabur tak kalah terkejut melihat nya.
"Dave...?" Kirana berkata tanpa sadar.
Jonathan langsung merangkul pundak Kirana, merapatkan ke dirinya dan menatap Dave dengan sikap bermusuhan. Kirana yang masih terkejut, dengan mata yang masih mengarah ke Dave hanya diam ketika Jonathan melakukan itu.
Tapi Dave hanya berjalan melewati mereka begitu saja tanpa berkata apa pun.
"Lihat wajahnya yang menyebalkan itu." cibir Jonathan masih dengan wajah sengit menatap punggung Dave yang mulai menjauh.
"Dia pasti syok." ucap Kirana dengan pandangan prihatin.
"Apa wajah seperti itu menunjukkan orang syok ?" Jonathan tak yakin.
"Kenapa kau bicara begitu ? Dia baru saja kecelakaan dan harus menerima kenyataan yang pasti menyakiti hati nya." bela Kirana.
"Kenapa kau malah membelanya ?" Jonathan melipat kedua tangannya di dada. "nggak ingat omongan jahatnya pada mu ?" ia mengingatkan.
Kirana mengelembungkan kedua pipi nya." Dia begitu karena mengira aku merebut Daddy dari nya." ia berucap.
__ADS_1
Jonathan melengos. " Hal ini yang membuat aku was-was jika pulang ke Tokyo." ia berkata sambil memandangi gadis dengan mata cokelat yang semakin terlihat terang karena bias sinar matahari. "Kau itu terlalu baik hati, kau selalu berpositif pada setiap orang yang jelas-jelas sudah berkata buruk tentang mu."
Kirana menunduk dengan kening yang berkerut.
"Aku tahu kau kasihan dengannya." Jonathan meletakkan kedua tangannya di bahu Kirana yang masih saja menunduk. " Tapi aku juga nggak mau kau terluka dan menangis lagi karena dia." lanjutnya penuh rasa khawatir.
Sementara itu Mobil Lamborghini Hurracan Evo milik Dave telah melaju kencang di jalan tol yang lengang. Sesaat raut wajah Kirana membayang dalam pikirannya, ada rasa tidak nyaman tiap kali Dave menatap mata gadis itu, dan lebih tak enak lagi saat fokus matanya tadi ada pada tangan Jonathan yang berada pada pundak gadis itu.
Wajah Dave kaku, ia memilih mengabaikan semua rasa dan bayang dari gadis yang pernah ia rasakan manis bibir dan hangat peluk tubuh nya dan menginjak pedal gas lebih dalam.
Ia berjalan masuk ke sebuah lobby Apartemen di Pusat kota dan dari kejauhan dia sudah melihat orang yang selama ini ia panggil Daddy telah duduk di ruangan smoking room
"Maaf menganggu jam kerja mu." ucap Dave begitu sampai di dekatnya.
Andreas yang mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang itu segera mematikan rokok nya dan bangkit berdiri.
"Kenapa bahasanya jadi sungkan seperti itu ?" ucap nya sambil tersenyum.
Dave hanya diam dan tersenyum simpul.
Sepanjang perjalanan Dave hanya diam menunduk, sedang Lelaki setengah abad itu sesekali melihat ke arahnya. Sampai mereka berdua masuk ke dalam lift.
"Mommy mu sakit ?" tanya Andreas memecah rasa sunyi di antara mereka saat tanda merah di atas mulai bertambah angka nya.
"...Yah." jawab Dave singkat tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.
"Kenapa tidak berobat ?" tanya Andreas lagi.
Dave menghela nafas, mungkin jika dia tidak tahu kebenaran tentang Ayah kandungnya, pasti sekarang ia kan mengumpat karena sikap Ayahnya yang tidak ada rasa khawatir sama sekali dari nada bicara nya.
"Entahlah, Mom nggak pernah mau." akhirnya Dave menjawab.
Andreas terdiam memdengarnya dengan pikiran mengawang, tentang masa muda mereka sambil melihat angka yang kini menunjukan lantai 10.
"...Kenapa kau harus berpura-pura menjadi Ayah kandung ku ?" tanya Dave yang lagi-lagi tanpa melihat ke arah yang di ajak bicara.
Andreas menegadahkan kepalanya ke atas, melihat angka merah di lift yang terus naik menuju tempat tujuan mereka.
__ADS_1
"Karena kau anak saudaraku." Andreas menjawab sambil menoleh memandangi Lelaki muda yang berdiri di sebelahnya.
Dave tak memberi reaksi, ia masih tetap menatap lurus pintu lift yang tertutup sambil bersandar ke belakang.
"Awalnya seperti itu." lanjut Andreas sambil tetap menatap Dave dari samping. "Tapi dengan semakin besarnya kau tumbuh, semakin besar pula rasa sayang Daddy pada mu." Andreas menyakinkan.
"...Bagaimana rasanya saat tahu Istri dan Saudara mu ternyata tidur bersama ?" Dave kembali bertanya setelah terdiam dan tanpa melihat ke arah Andreas.
Lelaki 50 tahun itu tertegun mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Anaknya yang baru saja menginjak usia 20 tahun.
"Kalian masih terikat pernikahan kan waktu itu ?" Ia menoleh ke arah Andreas.
Sesaat Lelaki yang tetap terlihat gagah d usianya yang tak lagi muda itu terdiam, kemudian terkekeh. " Maaf aku tertawa." ia mengusap sudut mata nya yang berair. "Tapi kau benar-benar mirip Rendy." ucap nya.
Dave melengos mendengarnya.
"Jujur saja saat itu aku tidak peduli dengan apa yang Mommy mu lakukan." Andreaa berkata. "Dia type perempuan egois yang selalu menomor saru kan kedudukan dan harga diri, hampir sama seperti Kakekmu." Andreas tersenyum sesaat. "Aku juga tidak pernah mengerti tentang Rendy, padahal dia selalu di sisiku..." ia menunduk dan terdiam sebentar.
Kali ini Dave melihat ke arah Daddy nya.
"...Mungkin aku pun egois, karena dulu yang aku pikirkan hanya diriku sendiri dan satu-satunya wanita yang aku cintai." Andreas dan Dave saling tatap. "Orang yang kau panggil Ibu, hanya dia yang aku cintai meskipun saat itu aku sudah terikat pernikahan dengan mommy mu."
Kening Dave sedikit berkerut mendengarnya, namun sekarng tidak ada alasan untuk nya marah atau merasa cemburu.
"Saat aku menemukanny kembali, yang ada di pikiranku hanya ingin bersama dengannya dan juga anak kami Kirana." kembali Andreas bercerita. "Jadi tanpa berpikir aku mengatakan cerai pada Mommy mu." kembali mereka saling pandang. "Aku harap kau tidak salah paham Dave, tapi sejak menikah dengan Mommy mu aku tidak pernah menyentuh nya meskipun seperti yang kau tahu, aku pernah menjadi seorang bajingan." ucap nya tenang.
Bunyi lift terdengar di barengi pintu yang terbuka di lantai 30. Andreas melangkah keluar dari lift di ikuti Dave. Kembali mereka berjalan bersisihan menelusuri lorong dengan banyak pintu seperti di Hotel.
Mereka berhenti pada sebuah pintu bernomor 2288.
"Ini kamar Apartemenya, buka lah." kata Andreas sambil tersenyum.
Dave mengeluarkan kunci yang terbungkus plastik klip dari dalam saku celana jeans nya, kemudian di keluarkan kunci tersebut dan di gunakan untuk membuka pintu.
Dave masih terdiam di ambang pintu saat Andreas sudah masuk ke dalam dan menoleh ke arah nya.
"Masuk lah Dave, ini kamar Apartemen milik Daddy mu sendiri." Andreas berkata.
__ADS_1