
Ya Tuhan, hanya kepadamu aku memohon. Jaga dan lindungi lah dia. Jauhkan dari segala hal buruk yang bisa merapuhkan dan menghilangkan jati dirinya.
Sehat kan dia, lancarkan usahanya. Jadikan dia Pemimpin yang bisa mengayomi dan memakmurkan orang-orang yang bergantung di bawahnya.
Semoga kebahagiaan selalu menyertai tiap langkah hidupannya..
(Amin)
...----------------...
TOK!
TOk!
TOK!
"Kakak ! Kakak !" Seorang anak perempuan kisaran usia sepuluh tahun mengetuk- ngetuk pintu bercat putih tak sabar. "Kak Kiranaa !" panggilnya lagi. Kali ini lebih keras dan ketukan pada pintu tempo nya lebih cepat.
"Iyaa.." Ucap Kirana sambil membuka pintu. Rambut panjangnya tergelung sederhana dengan anak-anak rambutnya yang basah menempel pada kening dan pipi. "Ini masih subuh, kenapa sudah gedor pintu orang, Maia ?" nada bicaranya terdengar kesal, namun ia memalingkan muka sambil mengusap-usap matanya yang sembab.
"Katanya mau lihat Meow ngelahirin." ia berkacak pinggang dengan wajah cemberut.
"Eh, sudah mau lahiran Meow ?" mata Kirana membelalak.
Gadis kecil berkuncir ekor kuda itu mengangguk pasti. "Ayo, cepat, Kak ! Meow sendirian, nih." ia sudah berbalik dan berlari lebih dulu.
Cepat-cepat Kirana menutup pintu kamar dan mengikuti ke mana gadis kecil bernama Maia itu berlari.
Suasana rumah masih redup karena jam di dinding masih menunjukkan pukul lima pagi. Kendati begitu, langit di luar sudah terlihat warna birunya dan suara kokokan ayam jantan terdengar saling bersahutan.
Mereka sampai di dapur yang berada di lantai bawah. Di ruangan paling pojok dari dapur tersebut, mereka duduk mengelilingi sebuah keranjang besar dengan kain berlapis-lapis yang menjadi alas. Seekor kucing berbulu cokelat putih tengah menjilati anak-anaknya yang terlihat masih berlendir. Menandakan jika baru saja kucing itu bersalin.
"Yaaah...Meow udah keburu ngelahirin." Maia tampak kecewa menyaksikan tiga ekor anak kucing yang belum bisa membuka mata dan berdesakan menyusu pada induknya.
Kirana memandang takjup anak-anak kucing beserta induknya tersebut.
__ADS_1
"Gara-gara manggil Kakak dulu, nih." Maia cemberut.
Kirana tertawa terkekeh. "Yang penting, kan, Meow dan anak-anaknya selamat." Kirana menekan hidung mungil Maia sesaat. Membuat gadis itu mengerjap.
"Iya !" dengan semangat gadis kecil polos itu berujar.
Mereka masih sibuk mengamati Ibu kucing yang merayakan kelahiran dengan menjilati bulu-bulu anak-anaknya yang masih berlendir saat lampu dapur di nyalakan.
"Sudah bangun, Na ?" seorang pria kisaran usia empat puluh tahunan meletakkan tas hitamnya ke tempat terdekat lalu berjalan dan ikut jongkok bersama mereka.
"Om Marpin sudah pulang ?" Kirana bertanya pada sosok pria di sampingnya yang tengah mendapat pelukan hangat dari Maia.
"Om sengaja pulang subuh. Tante mu khawatir kau dan Maia akan makan mi instan dan telur lagi." Pria yang di panggil 'Marpin' oleh Kirana itu pura-pura kesal.
Kirana terkekeh. "Maaf, bisanya itu, Om."ujarnya.
"Papa, bagaimana Mama ? Apa adik Maia sudah lahir ? Kapan bisa ketemu ?" tanya Maia bertubi-tubi sambil melingkarkan lengannya pada Ayahnya.
"Sudah, nanti siang kita ke Rumah Sakit." ia mengelus puncak kepala anak gadisnya lembut.
Pria itu mengacak rambut Kirana. "Perempuan." ucapnya sambil bangkit berdiri. "Ayo, bantu petik kangkung sama cabai di kebun. Hari ini Om masakan sesuatu yang enak."
"Masak apa, Om ?" Kirana mengekor di belakamg.
"Papa cuma bisa masak tumis sama sayur sop." Maia yang di gandeng Ayahnya menjawab.
Pria empat puluh tahun itu tertawa terbahak mendengarnya.
Matahari telah muncul dan udara pagi begitu segar saat Kirana membuka pintu dan terhampar pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Ia dan Maia berlomba memetik kangkung yang di tanam di halaman belakang rumah mereka yang luas.
Tidak hanya kangkung yang di tanam di situ, tapi juga ada cabai, tomat, bayam serta sawi. Istri Marvin memang suka suka sekali bercocok tanam. Dan tangan ajaibnya itu selalu berhasil menumbuhkan apa pun walaupun itu hanya dari biji. Seperti pohon tomat dan cabai yang kini tengah Kirana petik. Itu semua hanya dari cabai dan tomat yang telah membusuk dan di letakkan begitu saja oleh Istri Marvin ke dalam tanah, dan sim salabim tanpa pupuk atau apa pun, bisa tumbuh subur dan berbuah lebat.
Marvin sendiri adalah Adik laki-laki dari Ibu Kirana. Sejak menikah, Marvin memang memilih tinggal di pinggiran Kota dan menjual rumah yang dulu di tempatinya saat kecil. Tak lain karena Marvin tak sanggup hidup dalam rumah yang menyimpan banyak kenangan akan mendiang Ibunya yang kini telah meninggal.
"Om Marpin harus usaha lagi dong." Kirana tertawa sambil memetik kangkung dan memasukannya ke dalam keranjang plastik.
__ADS_1
"Usaha Om sudah banyak." ucap Marvin. "Daddy mu selalu tidak kira-kira kalau memberi proyek." guraunya. Ia membantu Maia memilih tomat yang sudah matang untuk nanti ikut di olah.
"Usaha buat anak maksudnya." bisik Kirana yang langsung mendapat pelototan mata dari Om nya. "Kan perempuan lagi." Kirana meringis.
"Anak ini." Marvin mengacak puncak kepala Kirana gemas.
Kirana makin kencang tertawa. Sedang Maia bertanya-tanya tentang apa yang lucu dengan raut muka bingung.
Sudah satu tahun lebih Kirana tinggal dengan Keluarga Om nya tersebut. Kebetulan Istri Om nya sedang hamil, dan Kirana yang suka anak kecil, langsung bisa dekat dengan Maia, anak mereka yang pertama. Di sini Kirana tak bekerja, ia hanya iseng berkebun bersama Istri Marvin dan bermain bersama Maia. Karena tujuannya memang untuk menenangkan diri.
Dalam hari-hari tertentu ia masih melamun membayangkan Pernikahan Dave dan Angela yang telah berlangung beberapa bulan silam. Tapi Kirana yakin, doa dan waktu akan menyembuhkan.
Mereka baru saja selesai sarapan dan Kirana sedang mencuci piring saat Marvin memanggilnya.
"Kirana."
Kirana menoleh ke belakang dan menghentikan aktifitas mencucinya. "Ya, Om ?" tanyanya.
"Ada tamu untukmu." jawabnya.
Kirana tak mengerti.
"Temuilah." Marvin mengambil alih cucian piring Kirana yang tinggal sedikit.
"Ada oppa-oppa ganteng, Kak." ia terlihat girang. "Maia boleh kenalan ?" tanyanya.
Kirana terkekeh pelan. " Yang ganteng cuma Sehun." candanya sambil berjalan melewati Maia.
Gadis kecil itu hendak ikut, tapi segera di cegah Ayahnya. "Maia bantu Papa cuci piring, okey ? Setelah ini, kita tengok adik bayi." ia berkata.
Begitu mendengar 'adik bayi' fokus Maia langsung teralihkan dan segera membantu Ayahnya mencuci piring tanpa banyak bertanya lagi.
Marvin sendiri masih menatap punggung Kirana dengan raut gelisah. Ia tahu apa yang terjadi dengan keponakannya beberapa tahun belakangan, dan berharap dengan kedatangan lelaki itu, semua akan tetap baik-baik saja seperti saat ini.
"Jon ?" mata Kirana membulat saat melihat siapa yang telah duduk di ruang tamu rumah Pamannya.
__ADS_1
"Kirana." Lelaki berkaos putih yang di rangkap kemeja motif abstrak warna biru merah itu tersenyum.