
Malam semakin larut tapi Kirana tak kunjung bisa tidur. Matanya menatap nyalang dalam keremangan kamar tidurnya yang gelap. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran melayang. Ia masih tak percaya dengan apa yang di katakan Ayah Ibu nya tadi.
"Aku nggak percaya kalau sebelum nya Daddy sudah pernah menikah..." Kirana berkata dalam hati. "Daddy kan bucin banget sama Ibu." ia mengkerutkan keningnya. "Wanita seperti apa Istri pertama Daddy dulu..?? Apa kah mirip Ibu...??" tanyanya lagi dalam hati.
Rasa terkejut dan penasaran dengan berbagai pertanyaan di bentak membuat Kirana akhirnya membuka selimut dan bangkit dari tidurnya. Ia menyalakan lampu kecil berbentuk Pucca yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, kemudian bersandar pada kepala ranjang.
"Cincin hilang..., tahu Daddy pernah menikah...." Kirana berkata dengan lesu. " Anak nya mau tinggal bareng.." ia mengelembungkan pipi nya. "Namanya sama dengan dia lagi..." Kirana mengerang sambil mengacak rambut panjangnya yang tergerai bebas dengan kedua tangannya kesal. "Hari ini aku terlalu banyak berpikir, pusing !" Ia jengkel.
Sementara itu di Rumah Keluarga Sanjaya. Dave tengah asik bervideo call dengan Mommy nya yang tinggal di Paris.
"Kau senang Dave...?" wanita dengan rambut putih nya yang tergerai panjang itu berkata dari dalam layar ponsel.
"Tentu aku senang Mom." Dave tersenyum sumringah. "Walaupun syaratnya nggak mudah dan aku masih kebingung bagaimana meningkatkan penjulana di tengah banyaknya Mininarket-Minimarket kecil yang mulai menjamur." Wajah Dave berubah serius. "Tapi aku senang Kakek mengijinkan." ia kembali tersenyum lebar.
Wanita dalam layar itu tersenyum tipis. "Bersikap baik lah di rumah Daddy mu." pesan nya. " Jangan tanya hal apa pun tentang kenapa dulu Daddy dan Mommy berpisah, Itu hanya masa lalu." Ibu nya menekankan. "Sekarang Daddy mu sudah bahagia dengan Keluarganya, begitu pun Mom yang bahagia dengan keadaan Mom sekarang."
Wajah Dave yang semula sudah bahagia, lambat laut terlihat muram.
"Kami tetap baik, dan kau tetap anak kami meskipun sudah berpisah." Kata Wanita itu lagi. "Tunjukkan pada Daddy mu bahwa kau anak baik, bahwa Mom bisa mendidikmu menjadi anak yang cerdas dan sopan."
"....Ya Mom." Dave bekata setelah terdiam beberapa saat. Wajah nya tak lagi secerah ketika pertama memberi kabar jika Kakeknya telah menyetujui permintaannya untuk tinggal di Rumah Ayahnya untuk beberapa waktu.
Siang harinya, dengan wajah lesu karena kurang tidur. Kirana yang siang ini mengenakan kaos kebesaran warna putih dengan bawahan celana motif Army telah duduk bersama Shopie di kantin Kampus yang ramai oleh Mahasiswanya yang sedang makan siang.
"Nggak percaya aku..." mata Shopie membulat memandang Kirana. "Aku pikir Ibu mu wanita satu-satunya untuk Daddy mu." ia berkata. "Aku kalau lihat orang tua mu saja ikut senang, sudah setua itu tapi masih begitu mesra. Apa lagi Daddy mu, cool dan kelihatan sayang banget sama Ibu mu." Shopie melirik ke arah Kirana. " Jadi yaa nggak nyangka kalau sebelumnya Daddy mu pernah menikah."
Wajah Kirana muram mendengarnya. Tapi meski begitu, ia tetap lahap menyantap nasi goreng porsi jumbo plus telur mata sapi dan kerupuknya.
"Efek dari kau menghilangkan cincin warisan Opa mu tuh." Shopie berkata lagi sambil meminum es teh nya lewat sedotan. "Makannya kau tahu hal-hal kayak gini."
"Jangan singgung cincin itu dulu kenapa sih..??" Kirana menoleh ke arah Shopie, dengan kening berkerut dan pipi mengelembung penuh nasi goreng
"Kau sih di bilangin jangan, sudah metik mangganya. Tapi nggak mau nurut." Shopie malah semakin semangat bicara. " Karma itu namanya, karma !" tunjuknya.
__ADS_1
Kirana mengigit kerupuk nya keras-keras mendengar ocehan Sahabatnya itu. Ia sedang malas berdebat, pikirannyan syok dan kacau.
"Berarti hilang beneran yaa...?" kembali Shopie berkata. " Padahal cincin mahal lo, batu berliannya saja utuh. Cuma ada satu-satunya lagi." ia melihat Kirana yang sudah selesai menghabiskan nasi gorenganya. "Opa mu pasti nangis tuh cincinnya kau hilangkan."
"Nggak hilang kok !" Wajah Kirana kesal. " Orang Daddy juga sedang ikut mencari dari pagi."
"Oh yaa..??" Shopie pura-pura kaget. Ia ingin tertawa melihat wajah Kirana yang lucu jika sedang marah. Tapi di tahan-tahannya. "Terus ketemu enggak...??" ia bertanya.
Seketika wajah Kirana muram. "Belum..." ucap nya lesu.
"Nah kan." Shopie menjentikan jari nya.
"Tapi aku..." Kirana tak melanjutakn kalimatnya saat ia menagkap sosok tinggi yang melintas di tengah halaman Kampus.
Seketika ia mencangklongkan tas nya dan berlari ke arah nya.
"Hei Kiranaa..?" panggil Shopie tak mengerti. Namun di urungkan mengejar Kawan baik nya itu saat melihat ke arah mana Kirana berlari.
Dave terkejut melihat Kirana yang berlari ke arahnya. Keningnya berkerut dalam saat gadis itu sudah berada tepat di hadapannya.
Dave tak habis pikir dengan Gadis yang siang ini pun begitu berantakan dengan rambut nya yang terkuncir sembarangan dan kini sedang terengah-engah mengatur nafas di hadapannya.
"...Kau..apa kemarin aku lihat cincinku..?" tanya Kirana setelah ia bisa bernafas dengan teratur.
Dave memalingkan wajahnya. "Aku nggak lihat." jawab nya bohong.
"Masa kau nggak lihat...??" Kirana tak yakin. "Cincinnya besar karena itu 2 cincin yang di jadikan 1. Ada berlian utuh di salah satunya, dan cincin itu terpasang di kalung emas putih." Kirana menerangkan dengan penuh harap.
"Aku nggak lihat." kembali Dave berkata tanpa memandangnya.
Kirana langsung kecewa.
Dave menoleh ke arahnya, sebenarnya ia sedikit kasihan dengan Kirana. Tapi entah kenapa dia senang melakukannya.
__ADS_1
"Makanya kau ini jangan ceroboh !" Dave berkata, membuat Kirana mendogkakkan wajah menatap nya.
Sinar matahari siang yang membias, membuat kedua mata Kirana yang berwarna cokelat terang itu semakin indah memandagnya, membuat dada Dave kembali berdesir saat mereka saling tatap.
"Kenapa kau selalu ketus dengan ku ?" Kening Kirana berkerut dan kedua pipinya yang putih tanpa polesan make up sedikit pun itu memerah karena jengkel.
Ia marah karena orang terus-terusan mengatakan ceroboh kepadanya.
"Itu kenyataan." Dave melipat kedua tangannya ke dada. Melihat wajah Kirana yang marah dengan bibir berkerut dan alis yang saling bertaut memandangnya itu membuat ia geli. Sedikit bisa jadi penghibur kepedihan hati Dave tentang Keluarganya.
"Coba kau tanya pada diri mu sendiri, mana ada orang menabrakan diri nya berkali-kali..??" Dave bertanya dengan nada mengejek.
Kedua pipi Kirana langsung mengelembung kesal. Dan sebelum Dave tertawa melihatnya, segera ia pergi meninggalkan Gadis itu sendirian di tengah halaman Kampus yang luas dengan bibir yang mengulum senyum.
"Semoga anak Daddy yang bernama Dave itu nggak menyebalkan seperti dia." Kirana berkata sambil memandang punggung Dave kesal.
Namun sepertinya harapan tinggal harapan.
Mata Dave dan Kirana sama-sama membulat, saat mereka bertemu di ruang tamu Rumah Keluarga Martadinata yang luas dan di penuhi hiasan dari kayu ukir khas Kota Jepara kegemaran Mendiang Opa Kirana dulu.
"Akhirnya kau datang Dave."
Di lihatnya Daddy nya itu memeluk Dave yang masih berdiri mematung melihat ke arahnya.
"Ibu senang akhirnya kau bisa tinggal bersama kami."
Ibu nya yang memeluk dan mengecup pipi Dave dengan penuh rasa sayang.
"Yeeeyy..! Kak Dave tinggal bareng kita !"
Bahkan Adik Lelakinya bersorak kegirangan melihat kedatangan Lelaki itu.
Kirana masih diam di tempat, di pegangi dadanya yang seperti bongkahan batu yang remuk.
__ADS_1
Dave menelan ludah dalam-dalam dengan wajah kaku memandang Kirana yang berdiri tak jauh dari nya.
"Ah..Dave...kenapa kau nggak sadar, bukankah mata itu milik Daddy mu...??" Naluri Dave berkata.