
Melihat Kirana datang tanpa sadar Dave yang mulainya hanya diam dan mencoba menikmati ketika Angela mencium bibirnya, langsung mendorong gadis itu dan membuat nya bertanya.
Namun Angela segera mengerti saat pandangan mata Dave mengarah ke pintu.
"Kirana ?" Angela langsung menutup mulutnya dengan wajah memerah karena malu.
Kirana masih terpaku di tempat, otak nya serasa beku, padahal ia hanya melihat sesaat.
"Kau mau menjenguk Dave ?" dengan canggung Angela berjalan ke arahnya dan mengandeng lengannya untuk menemui Dave yang pura-pura tak melihat dan bersandar pada ranjang nya.
Padahal jika boleh jujur sebenarnya Dave lah yang lebih merasa tak enak hati. "Kenapa aku merasa seperti sedang terpergok selingkuh...?" ia memalingkan muka dan bertanya dalam hati.
Kirana masih diam ketika ia sudah berdiri di sisi ranjang tempat Dave berada. Aksi diam keduanya membuat Angela salah tingkah, ia merasa malu terpergok Kirana sedang bercumbu dengan Dave dan ia beranggapan karena hal itu lah kedua nya diam.
"...Aku senang sekali kalau ternyata kalian bersaudara." Angela mencoba membuka bahan obrolan.
Namun Dave masih memalingkan muka dan Kirana masih diam menunduk, membuat Angela semakin serba salah.
"...Syukurlah sepertinya kau sudah sehat." akhirnya Kirana yang pertama membuka mulut setelah beberapa saat lalu hanya keheningan yang tercipta dengan sikap rikuh Angela yang berad di tengah-tengah mereka.
"Dad memperkosa Ibu mu ! Ibu mu hamil dan Dad terpaksa bertanggung jawab !"
Dave teringat perkataanya yang menyakiti Gadis yang kali ini membiarkan rambut nya tergerai bebas, membuat perasaan tak nyaman kembali menelusup dalam relung hati nya.
Dave mengatupkan bibir nya dan tanpa sadar mendengus kesal ketika menyadari perasan itu.
Melihat respon Dave yang tak baik membuat wajah Kirana semakin tertekuk. "Angela, baju mu masih di aku." Kirana mengalihkan perhatiannya pada Angela. "Nanti malam kalau kau masih di sini, akan aku bawakan." lanjutnya.
"Ah, nggak usah." tolak Angela sambil mengerak-gerakkan kedua telapak tangannya. "Baju itu sangat cocok untuk mu, buat mu saja." ia tersenyum.
Entah kenapa melihat bibir warna peach milik Angela yang membentuk senyum, malah membuat Kirana berpikir yang tidak-tidak.
"Itu bibir yang baru saja di cium Dave." ia berucap dalam hati, membuat wajahnya kian muram.
"Aku harus pergi." ucap Kirana setelah Dave masih juga tak memberi reaksi.
"Kenapa buru-buru ?" tanya Angela. "Aku membuat kue, coba lah." lanjutnya.
"Lain kali saja, aku ada janji." tolak Kirana.
Diam-diam Dave mendengarkan semua.
__ADS_1
"Dengan Kak Jon ?" mata Angela membulat. "Aku ngefans sekali dengannya !" ia terlihat antusias. "Tadi aku juga ketemu, aslinya lebih ganteng dan dia baiiiikkk sekali !"
Mata Kirana mengerjap dengan sikap Angela yang begitu girang ketika menceritakan tentang Jonathan. "A, apa iya..?" Kirana tak yakin.
"Aaahh...kau beruntung sekali." Masih dengan sikap girangnya, ia meletakkan kedua tangannya ke pundak Kirana. "Dan aku sama sekali nggak tahu kalau ternyata kalian bertunangan." ia tersenyum. "Benar-benar nggak terendus media." lanjutnya.
Kening Dave sudah berkerut, namun ia masih memalingkan muka.
"Belum resmi kok, hanya saja Jon..."
"Duuh...bayangkan berapa banyak wanita yang akan patah hati kalau misalnya Jon mengumumkan pertunangan kalian ??" Mata Angela berbinar dan ia gemas sendiri membayangkannya.
"A, aku dan Jon..."
"Nggak sabar deh." Angela kembali memotong perkataan Kirana dengan senyum merekah dan wajahnya yang tampak begitu bahagia.
Kirana mencoba untuk menjelaskan, tapi Angela sudah terlampau bahagia tahu Kirana ternyata adalah Tunangan dari Jonathan aktris idoalanya.
"Aku mau tidur." suara Dave yang berat langsung membuat keduanya terdiam dan ruangan menjadi sunyi.
Kirana langsung mengatupkan bibirnya kuat-kuat melihat Dave yang kini sudah dalam posisi tidur miring membelakangi mereka dengan selimut yang menutupi sampai separuh wajah.
"Ada Angela rupanya...?" Eva masuk dengan membawa piring dengan potongan buah apel di atasnya.
"Saya pamit dulu." Kirana berkata kepada Eva, mencoba tetap tersenyum walaupun hati nya kesal dengan anak nya.
Sebelum Eva sempat menjawab, Kirana sudah berjalan cepat keluar dari ruangan.
Angela memandang kepergian Kirana dengan rasa bersalah, sedangkan Dave yang matanya kini membuka di balik selimutnya hanya diam dengan hati dan pikiran yang kacau.
"Dave..."
Suara serak Kirana dalam keremangan saat gadis itu ada di bawahnya dengan wajah sendu dan rambut nha yang berantakan membayang.
"...Ternyata aku benar-benar mencintai mu.."
Kembali Dave memejamkan matanya rapat-rapat, dengan tangan terkepal di balik selimut.
Kirana berjalan cepat menelusuri lorong Rumah sakit, wajahnya memerah menahan marah.
"Kau memang bodoh Kirana !" umpatnya dalam hati. "Dia itu nggak suka pada mu, benci ! " kedua alisnya semakin tertaut dengan mata cokelat terangnya yang mulai berair.
__ADS_1
Ia berhenti berjalan dan menyandarkan diri pada lorong ruang perawatan yang lengang. Kepalanya menegadah dan memandang hampa pada langit-langit berplafom putih nya.
"Belum tahu saja...sikapanya sudah seperti ini, bagaimana jika dia tahu kalau gara-gara aku Ayah kandung nya itu meninggal...??" Kirana berguman.
Di peganginya dadanya yang berdebar, lebih kencang tiap kali ia bertemu Lelaki dingin itu. Memori otak nya membayangkan adegan ciuman Angela dan Dave tadi, membuat ia menekan dada ny lebih keras. Sesak...
Jonathan menjemputnya beberap saat kemudian, membawanya ke lokasi pemotretan dan bermaksud memperlihatkan pesona ketampananya ketika sedang di foto. Tapi sayang, bukan kekaguman yang di perlihatkan gadis dengan penampilan tomboy nya itu, melain kan wajah bosan dan Kirana yang menguap berkali-kali.
"Kenapa kau mengatakan pada semua orang kalau aku Tunaganmu ?" tanya Kirana kesal. Ia teringat bagaiman tadi Jonathan memperkenakkannya sebagai Tunangan kepada Para crew Pemotretannya.
Saat itu mereka berdua telah berada di dalam mobil, menelusuri jalanan dengan pinggir pantai nya yang indah dengan laut dan langitnya yang berwarna biru.
"Masih untung aku bilangnya Tunangan, harusnya aku bilang kau ini Istri ku." Jonathan tersenyum lebar.
"Coba bilang lagi ?" Kirana sudah memukul pundak Jonathan yang menbuat Lelaki berkebangsaan Jepang itu tertawa.
Wajah Kirana makin berkerut, ia mendengus kesal.
Jonathan meliriknya ke arah nya sebentar, sebelum ia kembali berkonsentrasi menyetir dan menjalankan mobil nya lebih kencang.
"Mau di bawa ke mana aku ?" tanya Kirana ketus.
"Tempat yang kau suka." jawab Jonathan tanpa menoleh ke arah nya.
"Memang kau tahu apa yang aku suka." Kirana melipat kedua tangannya dengan wajah mengejek.
Menaggapinya Jonathan hanya terkekeh.
Wajah murung Kirana langsung berubah cerah begitu mobil terparkir dan ia turun. Mereka sampai di sebuah tempat mirip pasar tradisional yang berada di sebuah hutan bambu dengan suasan teduh khas pedesaan.
Tanpa menunggu Jonathan, Kirana sudah berlari membaur ke dalam keramaian. Di situ berjejer pedagang-pedagang yang menjajakan berbagai makanan tradisional seperti kue putu, lopis, serabi, wajik, aneka macam getuk, bubur tradisional sampai aneka rebusan ubi-ubian dan jagung. Di situ juga terdapat aneka kerajina dari bambu dan kayu juga di jual aneka batik sampai kaos.
Cara membayarnya pun unik, mereka tinggal menukar sejumlah uang dengan batu gamping dan batu gamping itu lah yang nantinya di tukar dengan berbagai macam barang yang di jual.
Jonathan tersenyum dari kejauhan melihat Kirana yang kembali ceria dengan kedua tangannya yang memegang lopis warna-warni yang di bentuk sate dan satu tangan lainnya memegang rujak buah yang di tempatkan dalam daun yang di bentuk pincuk, sementara mulutnya yang membentuk senyum itu terlihat lucu dengan kedua pipinya yang mengelembung penuh makanan.
...----------------...
Ada yang tahu Pasar maan yang di kunjungi Jon dan Kirana ? ðŸ¤
__ADS_1