SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
PERPISAHAN II


__ADS_3

"Pikirkan saat kau mengantarku ini adalah yang terakhir. Bandingkan saat sama-sama kau harus melepas seseorang yang dekat dengan mu."


Kata-kata Jonathan beberapa hari yang lalu melintas dalam pikiran Kirana yang termangu menatap Dave yang tengah di peluk dan di cium kedua pipi nya oleh Angela Tunangannya.


"Saat itu, kau akan tahu seberapa besar perasaan mu untukmu."


Kembali kata-kata Jonathan terngiang, yang sayang nya itu hanya semakin mempertegas perasaan Kirana kepada Laki-laki yang tersenyum lebar dan mengelus puncak kepala tunangannya itu dengan pandangan sayang.


Pagi ini ia bersama Ibu nya berada di Bandara untuk mengatar Dave dan Ibu nya untuk pulang ke Perancis. Sayang sekali Ayah nya tidak bisa, ikut karena terhalang oleh rapat pagi dan segala urusan kesibukannya di Perusahaan.


"Semoga Nona lekas sehat dan segera pulang kembali ke sini." Marisa mengenggam kedua tangan wanita yang beberapa tahun lalu pernah berseteru dengannya. Namun percaya lah baik ketika muda maupun sudah tua seperti sekarang, Marisa tak pernah membenci nya.


"Kenapa kau masih memanggil Nona ?" Eva terkekeh. Ia mengengam erat kedua tangan hangat yang menangkup kedua tangannya yang selalu dingin. Ia pernah iri dengan wanita yang sangat di cintai oleh Mantan Suami nya itu, tapi rasa iri itu telah hilang. Eva sadar jika selama ini ego dan kesombongan membutakan matanya. Dan setelah semua yang terjadi, ia ingin memulai semua dari awal.


Marisa terkekeh, ia menutup mulut nya malu. "Maaf kan saya." ucap nya sambil tertawa.


Eva tersenyum. "Aku kalau mendengar orang berbicara dengan bahasa formal selalu ingat dia." Ucap wanita yang kini rambut panjang nya sudah berwarna hitam.


Marisa menepuk-nepuk punggung tangan Eva yang masih dalam genggamannya. "Walaupun Rendy sudah meninggal, tapi dia meniggalkan separuh dirinya." Marisa menoleh ke arah Dave yang masih mengobrol dengan Angela.


Eva mengikuti pandangan Marisa. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap Putra satu-satu nya tersebut.


"Dia yang akan mencintai dan menjaga dengan tulus melebihi apa pun." Marisa kembali berkata, ia ikut terharu saat kedua wanita yang sudah tidak muda lagi itu kembali saling tatap.


"Aku beruntung kan Marisa ?" Eva berkata dengan nada sombong nya yang seperti biasa, namun wajah nya sudah memerah dengan air mata yang hampir tumpah.


"Iya, kau wanita paling beruntung Eva." Marisa sengaja menekan kan nada bicara nya saat memanggil nama nya, membuat Eva tersenyum meskipun ia menangis.


Kirana senang melihat Ibu nya kini bisa saling memeluk dan tersenyum bahagia dengan Ibu Dave seperti sekarang.


Tanpa ia sadari, Dave juga diam-diam tengah memperhatikan orang tua ny tersebut. Sampai secara tidak sengaja mata mereka bertemu, kemudian saling memalingkan muka dengan gugup.

__ADS_1


"Padahal aku pikir kau akan tinggal lama di Jakarta." wajah Angela berkerut sedih. Kedua tangannya enggan menyingkir dari lengan Tunangan yang sangat dia cintai tersebut.


"Maaf kan aku, tapi pengobatan Mom lebih penting." Ucap Dave dengan wajah menyesal.


Angela semakin memelas. Rasanya tidak rela melepas Dave pergi lagi, tapi untuk ikut pun ia tidak bisa karena berbagai kegiatannya yang berkenaan dengan balet.


"Jika senggang aku janji untuk pulang menengok mu." Dave tersenyum lembut sambil mengelus rambut panjang Angela.


Dari kejauhan Kirana melihat nya, ia menelan ludah dengan susah payah. Ia memalingkan muka, hati nya lagi-lagi serasa di robek.


"Benarkah ?" wajah cantik nya kini terlihat cerah dengan mata lebar bak boneka nya.


Dave mengangguk sambil tersenyum. "Berlatih lah dengan giat, jangan gampang putus asa. Aku menantikan dirimu menjadi Balerina kelas internasional." Dave memberi semangat.


Angela langsung memeluk Dave, ia senang Dave menyemangatinya karena memang jalan menjadi seorang Balerina tidak lah mudah. "Aku menyayangi mu Dave." Angela berkata setelah melepas pelukannya dan kini menatap Dave penuh cinta.


"Aku juga menyayangi mu Angela." Dave tersenyum.


Angela kembali memeluk Dave lebih erat, membuat wajah Kirana berkerut. "Mana wajah ketus mu ?" umpat Kirana dalam hati.


Suara Ibu nya membuat Kirana kembali menoleh ke arah Dave dan Angela.


Kirana langsung gelisah, namun perlahan ia berjalan lebih maju mendekat ke mereka.


"Aku senang sekali saat tahu ternyata kalian bersaudara." Angela menepuk kedua tangan nya girang saat Kirana sudah berdiri di antara mereka.


Kirana tersenyum kecut, sedang kan Dave, seperti biasa ia mampu berakting dengan baik.


Angela memang tidak tahu fakta yang sebenarnya karena memang Andreas tidak berniat membuka nya pada publik mengenai kebenaran tentang Dave yang bukan anak kandung nya. Bukan karena nama baik Keluarga, tapi supaya Dave yang adalah anak kandung Saudara nya tidak perlu malu.


"Selamat tinggal Dave." Kirana berkata cepat, lalu menunduk dan berbalik arah berganti ke hadapan EVa dan Ibu nya yang berdiri tidak jauh dari situ.

__ADS_1


"Nggak seperti penampilannya yang tomboy, Kirana itu ternyata pemalu ya, Sayang." Angela geli sambil menutup mulut nya saat tertawa.


"Iya." Dave menjawab perlahan, tapi wajah nya tak berekspresi dan matanya menatap gadis berkuncir sederhana yang kini sedang mengobrol bersama Ibu nya.


"Saat kembali nanti, aku harap Tante sudah sehat." Kirana berucap malu-malu karena Ibu Dave itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang nya yang hitam dan tergerai indah.


"Panggil Mom seperti Dave memanggil." ia tersenyum.


"Eh ?" Kedua pipi Kirana langsung bersemu merah menatap wajah Eva. Dalam pikiran Kirana memanggil Ibu Dave Mom, itu seolah ia adalah Pasangan Dave. Namun cepat-cepat Kirana menghapus pikiran itu, ia tahu yang di maksud Eva. Ia sudah di anggap anak sendiri, sama seperti Dave yang sudah di anggap anak oleh Marisa, Ibu nya.


"Mata mu indah sekali." Eva masih memandag nya saat Kirana hanya terbengong menatap nya.


Sedang Marisa yang berada di tengah mereka hanya tersenyum.


"Ini mata Daddy." Kirana akhirnya tersenyum.


"Tentu saja itu mata Daddy Andre." Eva tersenyum. "Tidak ada orang lain yang memiliki mata itu selain Daddy mu." Ia menoleh ke arah Marisa dan hanya di balas senyum lebar.


Kirana agak kikuk ketika mendengarny mengingat jika dulu Ibu Dave adalah mantan Istri Ayahnya, tapi melihat sikap nya rasanya benar jika sebenarnya yang di cintai oleh Ibu Dave adalah Rendy adik Ayah nya yang sudah meninggal.


"Kenapa masih belum memanggil Mom ?" Eva melipat kedua tangannya pura-pura marah.


Tapi percaya lah sikap nya itu membuat Kirana yang sedang melamun langsung takut, karena wajahnya terlihat galak.


"Um..i, iya..." Kirana meneremas jari-jari tangannya di dada. "Mo, Mom ?" Kirana berkata ragu.


Eva tersenyum lebar dan langsung memeluknya. "Anak manis." ia mengusap-usap rambut panjang Kirana.


Dave melihat semua itu, hati nya terasa getir. Bukan karena ia cemburu Ibu nya memeluk Kirana. Tapi karena ia tahu, hubungannya dengan gadis itu selamanya akan sebatas saudara.


"Tumben Kakek nggak mengantar mu, Dave ?" tanya Angela membuat Dave menoleh pada nya.

__ADS_1


"...Kakek sedang sibuk." jawab Dave setelah terdiam beberpaa saat untuk mencari alasan.


Di pandanginya wajah Tunagannya yang cantik dengan sifatnya yang begitu baik dan lembut. "Bagaimana kalau kau tahu yang sebenarnya tentang aku ?" ia bertanya dalam hati.


__ADS_2