SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
PERBEDAAN


__ADS_3

"...Kau ambil fakultas apa...?" tanya Kirana setelah beberapa saat.


"...Ekonomi dan Bisnis." jawab Dave tanpa melihat ke arah gadis itu.


"Waah...kita bisa sekelas !" ucap Kirana dengan kegirangan yang tidak di tutup-tutupi.


Dave memandang lurus ke arah lapangan basket sambil tersenyum meremehkan. "Siapa yang sekelas dengan mu Dasar bodoh." ucapnya dalam hati.


"Tapi...aku sering absen." Kata Kirana yang membuat Dave akhirnya menoleh ke arahnya. "Aku nggak suka mata kuliahnya." ia mengelembungkan pipinya, membuat Dave hampir tertawa terpingkal melihatnya.


"Kalau kau nggak suka, kenapa kau pilih fakuktas itu ?" Dave bertanya setelah tadi ia berdehem beberapa kali untuk menyamarkan ia yang hampir tertawa.


"Daddy yang ingin." jawab Kirana. Lagi-lagi wajah murung dari gadis itu terlihat begitu lucu dan mengemaskan di mata Dave.


Kembali Dave berdehem dan membenarkan posisi duduknya.


"Daddy ingin aku bekerja di Perusahaannya, tapi...." bibir Kirana mengerucut. "Aku nggak pernah tertarik dengan dunia bisnis." lanjutnya.


"Iya, lebih baik kau nggak usah jadi bagian dari Perusahaan Daddy mu itu." Dave berkata tegas.


Mata cokelat terang Kirana langsung berbinar menatapnya. Ia senang Dave memahaminya.


"Bisa bangkrut Perusahaan Daddy mu itu karena orang ceroboh seperti mu !" lanjut Dave ketus yang langsung membuat raut wajah Kirana muram.


Gadis itu menunduk dengan keningnya yang berkerut dan pipi merahnya yang mengelembung sebal. Tanpa Kirana tahu, Dave tengah tersenyum lebar dan hampir tertawa melihat wajah muram nya yang terlihat lucu itu.


"Kenapa dia selalu bicara ketus seperti itu denganku...??" runtuk Kirana dalam hati. "Iya, iyaa... aku kumal, ceroboh...beda jauh dengan Tunagannya yang seperti Malaikat itu." bibir Kirana semakin manyun dengan wajah nya yang kian tertunduk.


Di liriknya Kirana yang masih menundukkan wajahnya. Sedikit rasa bersalah terselip dalam diri Dave. Tapi tentu saja, lelaki dengan wajah menyebalkan itu tidak mau mengakui rasa bsrsalahnya.

__ADS_1


"Kau tadi ngapain bicara dengan Nenek itu ?" tanya Dave setelah ia menyingkirkan jauh-jauh rasa bersalahnya.


Kirana mengangkat wajahnya. Saat mata mereka saling bertemu, spontan kedua nya saling memalingkan muka.


Dave memegangi dadanya yang lagi-lagi berdetak begitu kencang. Seolah jantung nya itu mengedor-ngedor dadanya dan ingin keluar dari rongga.


"Bisa mati aku kalau berdekatan lama-lama dengan gadis bodoh ini." Dave berkata dalam hati.


"....A, aku...aku kasihan dengan Nenek itu." jawab Kirana dengan wajah yang memerah. Ia sedang berusah mengontrol dirinya agar tidak terlihat gelisah saat mata mereka tadi kembali bertemu pandang.


"Apa..?" Dave terkejut.


"I, iya...aku kasihan dengan Nenek itu..." Suara Kirana melemah. Entah kenapa jika dengan Dave dia tidak bisa menunjukkan kegarangannya.


Dave kini sepenuhnya fokus mendengarkan ceritanya. Ia tertarik dengan cerita Kirana, membuat ia bisa mengabaikan sedikit debaran di hatinya tiap kali mereka saling pandang.


"Beberapa hari lalu aku nggak sengaja melihat Nenek itu, kasihan..." Wajah Kirana memelas. "Dia hidup hanya berdua dengan Suaminya yang lumpuh. Sehari-hari dia berjualan sayuran sisa pasar dari hasil minta-minta." Kirana mengigit bibirnya. "Kau bisa bayangkan kan, sayuran yang nggak laku di pasar...?" Mata sipitnya yang berwarna cokelat terang itu memandang Dave. "Sudah layu..." Ucap Kirana sedih. "Makanya saat aku lihat mangga di Pohon itu berbuah banyak dan nggak ada yang ambil, aku memetiknya dan memberikannya kepada Nenek itu untuk di jual." Kirana mengakhiri ceritanya sambil mengigit bibir bawahnya dan menatap lelaki dengan rambut nya yang menutupi kening itu.


"Nenek itu." Kirana menjawab jujur.


"Bagus kau nggak memberinya uang." Dave berkata sambil menoleh ke arah Kirana.


"Oh yaa...?" Wajah Kirana langsung cerah mendengar Dave memujinya. "Eeng...sebenarnya aku nggak memberinya uang karena uang ku di batasi oleh orang tua ku." Kirana berkata setelah tadi berpikir sejenak.


Wajah Dave langsung berubah kesal. "Kembalikan pujianku, dasar gadis bodoh." cibir Dave dalam hati.


"Memang kenapa ??" Tanya Kirana, ia tidak suka dengan ekspresi wajah Dave yang seperti menghinanya.


"Jaman sekarang, banyak orang yang pura-pura miskin dan menderita seperti itu. Mereka mengobral kisah sedih mereka untuk mendapatkan empati dari orang-orang bo.." Dave menutup mulutnya sesaat dan berdehem karena hampir saja keluar kata bodoh dari mulutnya.

__ADS_1


"Intinya, " Dave kembali berkata. "Jangan mudah kasihan kepada seseorang, kadang mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dari mu." lanjutnya.


Kirana mengangga tak percaya dengan omongan yang baru keluar dari mulut Dave. " Kau...tega sekali bicara seperti itu...?" Kirana mengkerutkan keningnya.


"Itu kenyataan !" Dave berkata tegas. "Mengemis itu sudah jadi pekerjaan, memang aku nggak bilang semua. Tapi jangan gampang menaruh kasihan kepada orang yang baru kau kenal."


"Tapi Nenek itu jualan, bukan mengemis !" Nada suara Kirana meninggi. Ia teringat wajah lelah dan kuyu dari Nenek tua tersebut, juga senyum nya yang penuh syukur saat ia hanya bisa memberinya mangga yang belum matang. Dan kini Dave dengan kejam berkata seperti itu.


"Itu sama saja mengemis, dia berjualan barang yang pasti nggak akan laku." Dave berkata. "Dia hanya sedang menarik empati dengan pura-pura berjualan !"


Kirana mengeretakkan gigi-giginya. Ia benar-benar marah dengan kata-kata Dave.


"Kau nggak pernah bertemu dengan Nenek itu, kau juga nggak ada di tempat kejadian !" Kirana bangkit berdiri. "Tapi kau langsung menuduh yang bukan-bukan seperti itu ?!" Kirana menatap sengit ke arah Dave.


"Benar, aku memang nggak tahu." Dave ikut berdiri. "Tapi memang rata-rata seperti itu kenyataanya, hanya berapa persen dari mereka yang mengemis karena betul-betul terdesak keadaan." Dave menjelaskan.


"Nah, itu !" Kirana menunjuk Dave. "Nenek itu termasuk dari berapa persen yang kau sebutkan tadi !" Kirana tak mau kalah.


"Apa...?" Dave menyipitkan kedua matanya menatap Kirana meremehkan. "Sok tahu.." ucapnya sambil terkekeh.


Kirana mengepalkan kedua tangannya. Ia geram dengan sikap Dave. "Picik sekali pemikiranya." Ucap Kirana dalam hati sambil menatap Dave sengit. " Menyesal aku dari tadi salah tingkah karena orang seperti ini !" Kirana mengumpat dalam hati.


Dengan wajah yang di penuhi amarah, Kirana mengambil tas slempangnya dari bangku yang mereka duduki tadi.


Di pakainya tas hitam itu dengan mata sipitnya yang masih menatap Dave benci. Mendapat sikap bermusuhan dari Kirana, Dave hanya diam tanpa merasa bersalah atas omongannya. Malahan ia melipat kedua tanganya di dada menunjukkan sikap angkuh.


Dave merasa benar atas apa yang ia bicarakan, dan ia tidak mau repot-repot membuat Kirana mengerti.


"Nggak mau lagi aku bicara denganmu ." Kirana berkata dalam hati. Ia mendengus kesal ke arah Dave, sebelum kemudian ia berjalan pergi melewatinya begitu saja.

__ADS_1


Dave yang masa bodoh segera mengambil tas ransel nya dan baru saja mencangklongkan di bahu kanannya, ketika di dengarnya pekikan suara seorang wanita.


__ADS_2