SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
ANGELA II


__ADS_3

Kepanikan langsung mewarnai pagi yang mestinya damai di rumah bergaya mediteranian itu. Dave berteriak-teriak memanggil siapa pun yang ada di dalam rumah sambil memeluk Angela yang tak sadarkan diri, sedang tangannya yang lain ia gunakan untuk menutup leher Angela yang terus mengucurkan darah.


Semuanya di luar dugaan. Tak ada yang menyangka Angela akan bertindak senekat itu hanya karena Dave memutuskan secara sepihak pertunangan mereka.


Angela segera di larikan ke rumah sakit. Meski kehilangan banyak darah. Tapi untung nya tidak sampai mengenai bagian syaraf penting. Penanganan dan pengobatan terbaik di lakukan. Kedua orang tuanya yang berada di luar kota segera pulang, di susul dua kakak lelakinya yang tinggal Luar Negeri.


Keadaan menjadi sangat kacau.


"Apa kurangnya anakku sampai kau membuatnya seperti ini ?!" bentak Adriansyah Adam, Ayah Angela yang malam harinya langsung menuju Rumah Sakit tempat putrinya di rawat.


Dave yang sejak pagi menunggu dan bahkan tidak berpikir mengurus dirinya sendiri diam menunuduk.


"Kakek mu yang meminta Angela dari kami untuk di tunangkan padamu, dan sekarang kau juga yang memutuskannya secara sepihak !" Wajah Pria berusia enam puluh tahun itu merah padam. "Apa sopan santun dan tata krama tidak berlaku di Keluarga Sanjaya ?" umpatnya.


"Teganya kau pada Angela kami." Anggie, Ibu Angela menangis dan menunjuk tak terima pada Dave. "Seumur hidup aku menjaganya agar tidak terluka, dan kau yang orang luar sampai membuatnya nekat bunuh diri ! Bisa kau bayangkan sakit hatinya anakku padamu !?" wanita yang masih tampak cantik di usia lima puluhan itu berteriak dan menangis.


Dave hanya duduk diam dan menerima semua amarah kedua orang tua Angela. Otakknya berputar, rasa bersalah mengelayuti dan berkali-kali ia mengusap kasar wajahnya yang lelah.


Berita bunuh dirinya Angela langsung menyebar, tak terkecuali Kirana yang mendengar. Ia yang semula tengah berbahagia melihat kebaya putih milih Ibu nya yang dulu di pakai ketika menikah dengan Ayahnya, seketika menjadi muram.


"Kau tak harus datang ke sini." suara Dave dari dalam ponsel terdengar. "Angela baik-baik saja, dia sudah sadar."


"Tapi aku.." Kirana tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Untuk sementara aku belum bisa bertemu denganmu." suara Dave kembali terdengar.


"Aku tahu, Dave. Aku tak apa." Kirana berkata sambil menunduk memainkan payet mutiara pada kebaya pengantin milik Ibunya yang berada di pangkuannya. "Yang penting Angela dulu, aku bisa menunggu." lanjutnya.


Dave yang sedang berdiri di lantai lima balkon rumah sakit menelan ludah mendengar perkataan Kirana dari ponselnya. "Aku akan mengabarimu lagi nanti." ucapnya sebelum menutup ponsel dan memasukannya ke dalam saku celana.


Pandangan Dave mengawang menatap langit senja yang mulai mengelap. Angin mulai berhembus dingin menyibak-nyibak rambutnya sampai menutupi kening. Hatinya kini tak menentu.


Setelah luka di jahit dan menerima transfusi darah, Angela memang langsung sadar meskipun belum boleh beraktifitas. Tapi yang menjadi masalah, Angela tak mau makan ataupun minum. Ia juga tidak mau bertemu siapa pun termasuk orang tuanya dan Dave.


"Sayang, makanlah, ya ?" Ibu nya memohon dengan sendok berisi bubur putih yang di arahkan pada putrinya.


Angela yang tengah berbaring dengan leher terlilit perban tak memberi reaksi. Wajahnya terlihat pucat dengan kedua pipi tirus dan mata sembab. Tak ada lagi keceriaan di wajah cantiknya yang selalu berseri.


Anggie berkerut sedih melihat keadaan putrinya. Sudah dua hari Angela begini. Statis karena tidak mau memakan apa pun, pasokan gizi hanya di dapat dari infus yang di campur dengan obat dan di alirkan lewat selang kecil ke urat nadinya.


"Kami memang bersalah karena dulu menjodohkan Dave dengan Angela." Eva yang pasang badan untuk Dave, saat kedua orang tuanya yang telah uzur tak lagi bisa menangani banyaknya masalah yang timbul di Keluarga mereka. "Tapi kami juga tidak bisa memaksa Dave untuk menikahi Angela, karena Dave tidak mencintainya." ucap Eva sehalus mungkin.


Kedua mata Anggie membulat mendengar penuturan Ibu Dave. "Kita sesama wanita." ucapnya cepat sebelum Suaminya bicara. "Bagimana perasaanmu jika Tunangan yang kau cintai selama bertahun-tahun ternyata membatalkan rencana pernikahan dan mencintai wanita lain ?" tanyanya emosi.


"Aku tahu rasanya." jawab Eva tenang. "Tentu akan sangat sakit, dan aku paham itu."


"Kau paham, tapi kenapa tak membujuk anakmu supaya tidak menyia-nyia kan anakku ?!" Anggie berteriak gemas. Ia sungguh tidak terima anak perempuan yang di dambanya selama bertahun-tahun dan akhirnya hadir dalam rahimnya. Yang dia rawat dan besarkan bak putri Raja, kini sengsara dan tak mau hidup lagi hanya karena seorang lelaki.

__ADS_1


"Seperti kau yang ingin anakmu bahagia, Anggie. Aku juga ingin Dave bahagia. Dan bahagianya Dave bukan dengan Angela, putrimu." ucap Eva tegas.


Anggie tak percaya Eva bisa berkata setega itu tentang hubungan putrinya dan Dave.


"Baik." Adriansyah bangkit dari duduknya. Ia membenarkan sebentar jas hitam nya yang tertekuk. "Keluarga Sanjaya yang memulai genderang perang. Jadi jangan salahkan kami." ucapnya. Di gandeng istrinya untuk pergi meninggalkan Rumah Keluarga Sanjaya dengan Eva yang masih duduk tenang seolah tegar. Padahal setelah pasangan itu pergi, ia menghela nafas panjang sambil merebahkan punggung nya di sofa lalu memejamkan mata untuk menenangkan pikiran.


Dave mendengar semua dari balik ruangan lain. Ibunya memang melarang dirinya untuk keluar saat Pasangan Suami-istri Adam itu datang.


Dave berkerut sedih melihat Eva dari kejauhan. Ibunya baru saja sembuh dan harus memikul masalah yang timbul karenanya. Bahkan Kakek dan Neneknya sudah angkat tangan dan tak mampu lagi untuk mendukung atau pun menentangnya.


"Kirana.." Dave berkata dalam hati. Di sandarkan kepalanya ke dinding sambil menghela putus asa.


Seminggu berlalu dan Angela masih enggan untuk makan atau minum. Segala bujuk rayu telah coba di lakukan. Tapi hasilnya kosong.


Badannya kian lemah dan kini bergantung sepenuhnya dari infus untuk asupan makan.


Dari balik kaca jendela ruangan di mana Angela di rawat, mata Kirana berair menatap Angela yang berbaring lunglai dan terlihat merana. Hati Kirana bergetar, mana tega dia melihat wanita baik hati dan selalu tersenyum ramah padanya menderita karena ulahnya. Ia menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Tak menyangka, ia akan menjadi orang ketiga yang mengkandaskan hubungan dan menorehkan luka di hati wanita lain.


"Siapa Anda ?" tanya Anggie yang baru datang saat melihat Kirana yang berdiri di depan pintu ruangan putrinya.


Kirana tersentak. Ia menunduk dan langsung berlari meninggalkan koridor ruangan VVIP dengan Anggie yang masih menatapnya dengan pandangan bertanya.


Kirana berlari sambil menunduk, sampai pada belokan menuju lantai bawah. Tak sengaja ia menabrak seseorang.

__ADS_1


"Dave " mata Kirana membelalak.


"Kirana ?" Dave tak kalah kaget. "Sedang apa kau di sini ?" tanyanya.


__ADS_2