SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KELUARGA SANJAYA


__ADS_3

Keluarga Sanjaya adalah salah satu keluarga Konglomerat di Indonesia, bahkan masuk dalam jajaran 10 besar orang terkaya di dunia fersi majalah Forbes. Bisnisnya meliputi semua sektor dari Industri, Perdagangan sampai Media Elektronik mereka kuasai. Tidak main-main, keluarga itu lah pemilik 3 stasiun TV di Indonesia. Juga pemilik salah satu unicron jual-beli online terbesar di Asia Tenggara.


Bisa di bayangkan, berapa ribu orang yang mengantungkan hidup mereka di bawah naungan Sanjaya Copr. Dan untuk mempertahankan semua itu di tengah gelombang ekonomi global dengan pasang-surutnya tidak lah mudah.


Maka dari itu dari generasi ke generasi, Keluarga Sanjaya selalu menerapkan disiplin, pembelajaran yang lebih dari orang lain dan ketat dalam hal pergaulan. Semata untuk melindungi apa yang sudah Generasi sebelum nya capai dengan susah payah dan kelangsungan hidup Para Karyawan nya yang jika salah langkah bisa membuat kehilangan mata pencaharian.


Begitu besar tanggung jawab Seorang Hertoni Sanjaya, dan bertambah berat dengan ia yang hanya mempunyai seorang anak perempuan, bukan laki-laki yang ia anggap lebih mampu mengemban semua.


Hidup nya di usia tua makin terpuruk saat Pernikahan Putri semata wayangnya dengan Keluarga Marthadinata yang mestinya membawa kebahagiaan, kesejahteraan dan kemakmuran untuk semua, harus kandas di tengah jalan.


Putrinya terpuruk selama bertahun-tahun, putri yang sejak kecil ia didik keras dan ia beri ilmu bisnis untuk membantu nya kelak memilih hidup terasing di Negeri Orang.


Putus asa dan hanya bisa membenci Keluarga dan terutama Mantan suami putri nya. Semua teralihkan saat pertama kali ia mengendong cucu lelakinya, tangan kecil nya yang mengenggam erat jari tangannya dan mata hitam bulat penuh sinar nya saat menatap nya lah harapannya.


Cucu nya yang tampan, yang cerdas dan tak pernah mengeluh atau menangis saat ia selalu menuntut lebih pada nya yang bahkan sampai tak punya waktu bermain seperti anak seusianya.


Dave, lebih dari seorang Cucu untuknya. Dia anak Lelaki yang tak pernh bisa dia punya, dia kebanggan juga harga dirinya. Dan sekarang ia harus menerima kenyataan jika separuh darah yang mengalir dari Hartanya yang paling berharga itu berasal dari seorang yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya.


Wajah Hertoni memerah mengingat semua itu, ia sedih sekaligus merasa menjadi orang paling bodoh karena telah di bohongi selama bertahun-tahun. Harga dirinya terinjak oleh anak ny sendiri.


"Sayang..." suara pelan Istri nya sambil meraih tangannya yang tergenggam di atas paha membuat nya sadar dari lamunan.

__ADS_1


Ia menoleh ke samping, ke arah Istrinya yang kini raut wajahnya sudah sembab dengan mata yang memerah dan kedua alis yang saling bertaut.


"Besok aku akan membawa Dave pulang ke Paris." Ucap Eva lagi karena kedua orang tuanya tak kunjung memberi respon. "Dave juga akan kuliah di Paris." ia berkata. "Anak itu ingin Kuliah di sini hanya karena ingin dekat Daddy nya, dan sekarang dia tahu kenyataanya, aku rasa dia tidak minat lagi untuk melanjutkan di sini."


Suasana kembali hening, tidak ada respon apa pun dari Ayahnya yang entah sejak kapan sosoknya terlihat begitu ringkih, padahal dulu terlihat sangat superior sampai Eva begitu takut dan segan akan sosok Ayah kandungnya itu.


"...Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Lelaki itu ?" suara berat Hertoni untuk pertama kali nya terdengar, membuat Eva yang sudah bangkit berdiri kembali duduk.


Ayah dan Anak yang kini telah sama-sama di makan usia itu saling tatap. Ekpresi angkuh keduanya hampir mirip, dengan bibir terkatup rapat dan pandangan mata yang seolah merendahkan lawan bicaranya.


"Apa itu yang menyebabkan dulu Andreas menceriakanmu ?" ia bertanya lagi saat anak nya hanya diam melihat ke arah nya.


Suasana begitu tegang, di tambah tidak ada bunyi apa pun selain suara mereka. Erika memegangi lengan Suaminya, wanita 80 tahun itu berharap tidak akan ada lagi badai di rumah mereka.


"Aku senang Papa mau bertanya." ia berkata. "Apa Papa mau mendengarkan juga ?" tanya nya seperti sindiran karena Orang tuanya itu tak pernah bertanya terlebih dahulu tentang keputusan apa pun yang bersangkutan tentang dirinya, dan tak pernah sekalipun mendengar keluh kesah nya.


Kedua tangan Hertoni saling mengenggam dan keningnya sedikit berkerut. Ia tahu putrinya itu menyindir dirinya.


Ibu nya yang duduk di samping Ayahnya hanya bisa menunduk pasrah, baginya yang sudah betahun-tahun hidup dengan Suaminya sudah paham dan tahu akan seperti apa watak Suami nya tersebut.


"Aku jujur memcintai Andre sampai aku meminta Papa untuk bagimana caranya dia di jodohkan dengan ku." Eva mulai bercerita. "Sayang cinta nya bukan untukku..." pandnaganny mengawang. "Malam pertama kami di isi dengan dia yang kabur dari ranjang pengantin dan tak pulang selama satu minggu lebih."

__ADS_1


Erika memekik dan menutup mulutnya. "Kenapa kau tidak bilang pada kami ?" Erika tak habis pikir, bagaiman mungkin anak semata wayangnya di perlakukan seperti sampah di malam yang harusnya dia di perlakukan bak Ratu.


Eva tersenyum kecut menatap wajah terkejut Ayah dan Ibu nya. "Andre mencintai wanita lain, wanita yang sudah memberinya seorang anak." ucap nya. "Wanita beruntung yang bisa merubah seorang keras kepala dan egois seperti Andre, menjadi seorang Suami dan Ayah yang begitu baik, sayang dan perhatian kepada anak-anak nya.." lagi-lagi pandangan Eva mengawang.


Erika sudah menangis pilu dengan sapu tangan putih nya yang berkali-kali ia buat untuk menyeka air mata mya yang meleleh.


"Aku terpuruk..." Air mata sudah membayang di pelupuk matanya. "Dan dia yang datang menenagkan." sedikit senyum pahit terukir di bibir wanita yang sebenarnya masih sangat cantik jika saja wajahnya tidak muram dan lingkar hitam di bawah matanya tidak begitu terlihat.


Ia menghapus air matanya sebelum tumpah dan menoleh ke arah di mana Ayah dan ibu nya duduk. "Kalian ingat, saat berusia 3 tahun Dave pernah kecelakaan." Eva sengaja memotong kalimatnya, hanya untuk memberi jeda dirinya menelan ludah dan menguatkan hati nya kalah teringat semua itu.


Meski tak menjawab, tapi Hertoni masih sangat ingat. Saat mendengarnya, ia yang saat itu sedang berada di Malaysia langsung pulang dan membatalkan semua janji.


"Apa kau mau bilang jika darah untuk tranfusi Dave adalah miliknya ?" Erika lagi-lagi di buat tak percaya. Ia yang menunggui Dave di rumah sakit, tapi ia tak berpikir tentang siapa yang menjadi pendonor. Ia hanya bersyukur bahwa Cucu nya telah pulih.


"Golongan darah Dave langka, sangat langka...seperti Dia." Eva mengigit bibir bawahnya, teringat bagaimana Rendy Ayah kandung Dave harus melepas nyawa hanya karena tidak adanya pasokan darah yang sama dengan miliknya. "Tapi karena dia, Dave bisa selamat saat itu..."


Air mata Eva terus berjatuhan mengenag semua. "Aku tidak pernah tahu sedalam apa aku mencintai nya, karena yang aku pikirkan hanya harga diri serta kehormatan Keluarga..." suaranya bergetar dengan wajah tertunduk, sementara kedua tanganya saling mengenggam di pangkuannya.


...----------------...


Maaf telat Up, sibuk banget sama RL 🙏🙏

__ADS_1


Sambung nanti malam lagi ya, insyaAllah 😇


-🍀-


__ADS_2