
Ragu-ragu Dave melangkah masuk ke dalam ruang Apartemen yang berkesan sederhana untuk dirinya yang terbiasa dengan kemewahan.
"Ruangan ini masih sama seperti saat terakhir dia tinggal." Andreas berkata sambil berjalan maju menelusuri ruang tamu dengan gaya mininamis nya, meninggalkan Dave yang masih berjalan pelan di belakangnya.
Di amatinya dinding berwarna putih yang hanya terdapat hiasan jam dinding, kemudian sofa nya yang berwarna abu tua dengan karpet tebal nya yang berwarna cokelat tua serta meja yang bagian atasnya bersih tanpa hiasan apa pun, tapi di bawahnya Dave bisa melihat setumpuk koran lama yang sepertinya oleh Daddy nya di biarkan pada tempatnya.
"Seperti yang kau lihat, dia orang yang teratur, rapi dan...sedikit membosankan." Andreas terkekeh teringat masa lalu nya sambil menoleh ke arah Dave berada.
Dave hanya tersenyum simpul dan melihat ke arah Daddy nya sesaat, kemudian melanjutkan memutari ruangan.
"Kami sangat dekat tapi dalam hal selera kami benar-benar berbeda." Andreas kembali berkata saat melihat Dave mengamati figura berukuran A5 yang di tempel di dinding yang ia kira itu sebuah foto, tapi ternyata hanya tulisan motivasi bisnis. "Seleranya dia benar-benar payah." ucap Andreas yang membuat Dave menoleh ke arah nya.
"Dengan uang yang dia punya, dia bisa membeli apa pun.Tapi coba lihat..." Andreas merentangkan kedua lengannya seolah tak percaya akan sesuatu. " Tinggal di Apartemen murah, mobil hanya satu, itu pun hanya merk-merk biasa." Andreas mengeleng-geleng kan kepalanya.
Dave mendengarkan tanpa melihat ke arah Andreas. Jujur saja saat ini Dave sedang membandingkan dirinya dengan sosok Ayah kandung yang tak pernh ia kenal tersebut.
"Coba kalau dia masih ada, pasti aku akan menyuruh mu memberi tahu nya, tentang empuk nya Mobil keluaran Eropa." Andreas ngomel, membuat Davw yang melihat ekpresi wajahnya tersenyum menahan geli.
Mereka sampai di ruangan sebelah, ruangan yang mungkin sebenarnya ruang santai mungkin. Tapi menjadi lebih mirip ruang dapur dengan ukuran besar karena di situ terdapat sederet kitchen set berukuran lebar dari ujung ke ujung dengan banyaknya perkakas memasak dan alat-alat yang berhubungan dengan dapur seperti panggangan roti, sederet pisau dengan berbagai macam ukuran dan bahkan hanya untuk spatula di ruangan itu terdapat 5 sampai 7 jenis yang berbeda.
Dave mengambil salah satu pisau yang mungkin selain sebagi alat masak juga di fungsikan sebagai hiasan dapur, karena percayalah pisau di situ banyak dengan berbagai jenis mata pisau dan warna-warni untuk gagangnya.
"Dia sangat suka memasak." Andreas berkata saat melihat Dave mengelilingi kitchen set berwarna cokelat tua lengan dengan penyerap asap dia atasnya dan 6 kompor gas dan 2 kompor listrik.
__ADS_1
Mata Dave membulat mendengarnya, tentu sjaa karena dia pun sebenarnya sangat suka memasak. Namun dia malu dan memilih menyembunyikan hobi nya tersebut.
"Dia memang pelit untuk barang-barang mewah, tapi jika untuk yang berhubungan dengan memasak, ia akan sangat boros." Andreas mencibir. Tentu saja ia tidak sedang benar-benar memcibir, karena sebenarnya masuk ke dalam kamar Apartemn milik Saudara angkatnya yang sudah melebihi saudara kandung tersebut membuat rindu nya akan sosok Rendy semakin menjadi.
"Dia menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk membuat tempat masak pribadi nya dan mengisi dengan barang-barang...yah..kau lihat sendiri kan..?" Andreas memegangi spatula yang di gantung berjejer di tempok kitchen set dan langsung melepasnya dengan wajah maklum.
"Dia suka memasak ?" untuk pertama kali nya setelah masuk ke ruangan Dave bertanya, walaupun sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
Andreas tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit. "Sangat suka." ia menjawab. "Masakannya enak, dan dari semua kemampuan bisnis sampai kecerdasan otak nya, tidak tahu kenapa yang paling dia banggakan kemampuan memasaknya itu." Andreas tak habis pikir dengan ekspresinya yang membuat Dave mengulum senyum. "Dia juga sangat menyukai kebersihan, kerapian..." Andreas berjalan kembali mengelilingi ruang dengan Dave mengekor di belakang nya. "Bicara dengan bahasa formal..." ia mengenang. "Kaku dan sulit mengungkap kan isi hati nya." Andreas menoleh ke belakang di mana Dave berada, sebelum kemudian membuka pintu sebuah kamar dan memasukinya.
Mendengarnya membuat Dave sedikit menunduk. Kata-kata Daddy nya seperti menyindir dirnya, walaupun Dave tahu Daddy nya itu tidak bermaksud begitu.
"Masuklah, ini kamarnya." Andreas mempersilahkan.
"Aku jarang masuk ke kamarnya." Andreas meraih figura foto berukuran 4R yang ada beberapa di atas lemari tinggi samping meja kerja nya yang penuh akan tumpukan dokumen entah apa. "Lihat lah Dave, ini Ayah mu dan Daddy waktu kecil." Andreas tertawa dan menoleh ke arah Dave sambil memegangi figura dengan list warna putih.
Dave berjalan ke arah Andreas dan mengambil figura foto tersebut. Mata nya memicing melihat 2 anak Lelaki kisaran 8 tahun dengan seorang wanita yang percaya tidak percaya begitu mirip dengan Kirana. Wajahnya polos tanpa make up dengan rambut di kuncir ekor kuda seperti Kirana, hanya saja wanita dalam foto ini memakai dress putih panjang dengan motif abstrak warna kuning pada bagian ujungnya.
"Ini Rendy." tunjuk Andreas pada seorang anak lelaki berkaos hijau yang tengah tersenyum.
Mata mereka saling melihat dalam jarak dekat, membuat Dave bisa melihat mata sipit milik daddy nya yang sangat ia damba itu terlihat jelas warna cokelat terangnya yang indah. Yang anehnya malah membuat Dave teringat akan Kirana.
"Beliau mirip sekali dengan Kirana kan kalau penampilannya seperti ini ?" Andreas tersenyum, membuat Dave terkejut. Ia seperti merasa jika Daddy nya itu tahu apa yang di pikirkannya. Membuat Dave langsung memalingkan muka dengan wajahnya yang memerah tapi tetap dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"A, apankah beliau orang yang sama dengan foto yang berada di ruang keluarga ?" Dave bertanya, hanya supaya pikirannya akan Kirana teralihkan dan Daddy nya itu tidak menyadari.
"Benar." Andreas tersenyum.
Dave menarik ujung bibirnya sesaat, kemudian kembali menunduk melihat figura-figura lain yang sebagian besar terisi oleh foto kenangan masa kecil mereka. Dave menghela nafas panjang saat tak menemukan foto Ayahnya yang seorang diri dan dalam usia dewasa.
"Aku harus segera kembali ke kantor." ucap Andreas setelah tadi ia sempat berkeliling ruangan saat Dave melamun dengan figura-figura foto yang berjejer di atas nakas. "Kau di sini lah dulu, ini milikmu." lanjutnya.
Dave hanya diam tanpa melihat wajah lawan bicaranya meskipun kini mereka berdiri berhadap-hadapan.
Andreas maklum, tentu berat bagi Dave menerima semua. "Tidak akan ada yang berubah Dave." ucap nya sambil memberikan figura foto berukuran 4R dalam posisi terbalik. "Aku menyayangi mu..." ia mengelus belakang kepala Dave yang masih tak mau memandang ke arah nya. "Kau tetap anakku, saudara Kirana dan Kiandra."
Dave langsung mengangkat wajahnya menatap Lelaki berusia 50 tahun yang ia panggil Daddy itu. Seharusnya ia senang mendengarnya, tapi hati nya gamang, mendadak nyeri oleh perasaan yang ia sendiri belum sadari.
"Aku pergi dulu." Andreas menepuk-nepuk pundak Dave sambil tersenyum kemudian berjalan pergi.
Dave masih berdiri mematung di tempat, tanpa sadar ia menelan ludah saat mengingat kalimat Daddy nya tadi.
"Kau tetap anak ku, saudara Kirana dan Kiandra."
Ia membalik figura foto yang tadi di berikan Andreas padanya, foto seorang Lelaki yang sama dengan yang ia terima beberapa hari lalu.
...----------------...
__ADS_1