
"...Jangan pernah mengasihani ku..." suara Eva bergetar. Air mata sudah mengalir dari matanya yang memerah turun menghiasi raut wajahnya yang masih saja mempertahankan topeng pongahnya.
Melihatnya Andreas hanya bisa berdiri mematung tidak jauh dari nya, sedangkan Marisa terdiam memandangnya.
Eva menatap nanar ke arah Marisa, wanita dari kalangan biasa dengan wajah tidak lebih cantik dari nya, tapi bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang yang dulu pernah ia cintai, setidaknya itulah yang Eva yakini.
Ia yang di didik dalam lingkungan Keluarga yang keras, di mana nama baik Keluarga di atas segalanya. Selalu di cap tidak berguna hanya karena terlahir sebagai seorang wanita, sedangkan Ayahnya membutuhkan anak Lelaki yang di anggap lebih mampu sebagai Pewarisnya.
Kedua alis Eva semakin tertaut seiring rasa pedih di hati nya.
Ia yang yang berharga diri tinggi, yang terdoktrin sebagai seorang Sanjaya yang tidak boleh memperlihatkan kelemahannya pada orang lain.
Topeng angkuhnya yang bahkan kedua orang tuanya sebagai orang terdekatnya tidak tahu, hanya orang itu lah yang mampu membukanya.
Eva terisak, ia menyembunyikan sebagian wajahnya dengan telapak tangan dan beringsut pergi, namun belum sempat ia berdiri, Marisa dengan cepat memeluknya erat.
Membuat ia terkejut, dan berusaha berontak. "Apa yang kau lakukan ?" bentaknya. "Berani-beraninya wanita menjijikan seperti mu...!" ia tercekat dengan air matanya sendiri.
"Aku mohon jangan bersikap seperti ini...!" Marisa mempererat pelukannya, air matanya sudah mengalir membasahi wajahnya yang ia benamkan dalam-dalam ke pundak wanita yang bertahun-tahun bersikap memusuhinya.
Bahu Eva bergetar, setengah mati ia menahan air matanya agar tidak keluar, tapi pelukan dari wanita yang ia iri ni ini terasa hangat untuk dirinya yang dingin.
"...Menangislah jika terasa sakit..." Ucap Marisa dalam posisi ia yang tetap memeluk tubuh kurus dengan tulang bahu yang terasa menonjol dalam pelukannya. "Ceritakan pada orang yang kau percayai jika sudah tidak mampu memendamnya sendiri.."
Wajah Eva memelas, ia menunduk menyembunyikan wajahnya di bahu Marisa, sedangkan kedua tangannya yang berada di punggung, meremas kuat baju Marisa, hanya supaya ia bisa mengendalikan diri untuk tidak menangis.
"Tidak ada salahnya dengan itu semua, itu bukan kelemahan yang akan menurunkan harga diri kita." Marisa semakin erat memeluk Eva saat suara isakan dari wanita yang sama-sama memiliki rambut panjang, namun bedanya milik Eva telah memutih karena uban yang begitu banyak. "...Jadi tolong..." suara Marisa gemetar karena tangis. "Jangan bersikap angkuh hanya untuk menutupi kerapuhan hati Anda, itu menyakitkan..."
Andreas menghela nafas panjang sambil duduk tidak jauh dari dua orang wanita yang selama bertahun-tahun tidak pernah saling bicara, dan kini mereka saling memeluk dan menangis bersama.
__ADS_1
Ia tak pernah mengerti tentang wanita, jelas-jelas tadi seperti akan saling baku hantam, tapi ternaya malah berujung dengan saling memeluk dan menangis bersama.
Meski begitu, diam-diam ia merasa lega dan ikut tersenyum melihat benag kusut yang telah mengikat mereka bertahun-tahun, kini mulai terburai di usia mereka yang tak lagi muda.
Bersamaan dengan itu pintu ruang Operasi terbuka, membuat mereka bertiga langsung menghambur menemui Dokter dan beberapa rekan medis di belakangnya yang sama-sama masih memakai baju operasi warna hijau.
"Bagaimana Dok..?"
"Bagaimana anak saya...?"
Tanya Eva dan Andreas hampir bersamaan.
Dokter itu membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya, kemudian tersenyum. "Operasinya berhasil, pasien akan segera sadar setelah obat biusnya hilang." ucapnya.
"Syukurlah..." Marisa dan Andreas saling peluk dengan perasaan haru sekaligus lega.
Dokter bersama rombongannya segera pamit pergi.
Ia takut peristiwa masa lalu saat Rendy harus meninggal karena ketidaktersediaan golongan darah O rhesus negatif terulang pada anaknya, untuk itu secara berkala ia mengantar Dave ke Bank darah untuk di ambil darah nya dan di simpan di situ.
Tidak saja bisa menyelamatkan nyawa Dave seperti saat ini, tapi darah anaknya yang langka itu telah banyak menyelamatkan nyawa orang lain yang juga memiliki golongan darah langka seperti hal nya diri Dave.
Eva tidak pernah tahu sedalam apa dia menyayangi Putra yang selama bertahun-tahun ia anggap beban, putra yang tiap tahun dengan semakin bertambah usia semakin menegaskan perasaannya pada seseorang yang tidak mencintainya.
"Nona, syukurlah Dave selamat." Marisa memegangi kedua tangannya, dan menagkupkan memjadi satu.
Sekali lagi Eva memandang wajah wanita yang ia anggap lebih rendah dari seorang pelayan di rumahnya, sebelum ia mulai menangis dan memeluknya.
"...Dave...syukurlah...syukurlah..." tangisnya dalam pelukan Marisa.
__ADS_1
"Iya, Dave akan baik-baik saja sekarang..." air mata Marisa ikut mengalir.
Tidak perlu di jelaskan rasanya kehilangan, sudah bertahun-tahun pun masih terasa begitu membekas, terlebih kehilangan dengan cara yang tragis.
Dan kini mereka lega, karena tidak perlu mengulang kehilangan yang sama lagi.
"Ada flek pada paru-paru ku." akhirnya Eva bercerita saat mereka sudah berpindah ke ruang perawatan dengan Dave yang masih tertidur di ranjang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Andreas dan Marisa yang duduk di seberang meja membelalak kan mata menatap wanita yang kini telah memakai kembali kain hitam nya untuk menutupi rambutnya yang memutih.
"Kenapa tidak di obati ?" tanya Marisa cepat, pertanyaan yang sama seperti yang suaminya tanya beberapa saat lalu. "Kita bisa mencari Dokter spesialis Pulmonologi, pasti bisa sembuh." ucap nya pasti.
Eva mengeleng perlahan. "Tidak, aku sudah lelah...tapi bingung cara mengakhirnya." ia memandang pasangan Suami Istri di depannya. "Dan aku malah bersyukur ada penyakit ini." ia tersenyum, tapi pahit bagi yang melihat.
Andreas hanya diam, ia pernah sangat membenci sikap dari wanita yang pernah menjadi istrinya itu, tapi kini ia justru simpati dan ada perasaan tak tega terselip untuk nya.
"Kompak sekali kalian memandang ku sperti gelandnagan yang butuh uang." Eva terkekeh, namun wajahnya sembab dan ia berulang kali mengusap hidung dan matanya yang tidak bisa di ajak kompromi agar jangan mengeluarkan air mata.
Baik Andreas maupun Marisa tak bergeming.
"Hanya anak itu yang terus-terusan memberatkanku..." Eva memandang lurus ke arah Dave yang tengah berbaring dengan bagian kepala yang terbelit perban dan 2 selang infus yang masing-masing mengalir cairan bening dan merah ke dalam urat nadi nya.
"Dave sangat menyayangi mu." Andreas berucap.
"Tentu saja." Eva berkata dengan nada sombong nya yang seperti biasa. "Aku mengandungnya dengan susah payah, melahirkannya sampai mau mati, tapi....sedikitpun dia tidak mirip aku." bicaranya ketus, tapi pandnagannya mengawang.
Pasangan Suami-Istri itu masih memandanginya.
"Bukankah harusnya seorang anak laki-laki itu mirip Ibunya ?" Eva menoleh ke arah mereka. "Tapi kenapa...." kata-kata nya terhenti saat mata Marisa dan Andreas membulat memandang ke arah nya.
__ADS_1
Eva langsung menunduk saat sadar air matanya sudah kembali meleleh, menutupi nya dengan kedua telapak tangannya. "Dasar orang bodoh, sudah meninggal pun tetap membuat hidup orang susah dengan mewariskan wajah bodohnya itu ke anakku...." ia terisak, nyeri di dadanya akan semakin terasa tiap kali ia mengingatnya, membuat nafasnya sesak karena di penuhi kesedihan akan cinta tak terbalas dan untuk bertanya pun sudah tidak mungkin.
Marisa dan Andreas saling pandang dengan perasan iba, melihatnya membuat mereka sadar jika selama ini Eva menyembunyikan cinta nya.