SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
SELAMANYA


__ADS_3

Seharusnya semua sempurna. Dia hanya perlu menahan diri untuk tak melakukan tindakan bodoh yang bisa menghancurkan semua.


Dave mempererat pelukannya. Membuat Kirana makin sesak dan jantungnya yang berpacu lebih kencang.


Hanya pada wanita ini Dave tak bisa mempertahankan topengnya. Wanita yang sejak awal bertemu mampu mengetarkan hatinya hanya dengan sifat bodohnya.


Hal tak masuk akal yang mengoyak nalar Dave. Membuatnya mati-matian menghindar, supaya tidak melakukan tindakan tolol yang bisa membuat Ibu terkasihnya malu dan merana. Apa lagi kini ia tahu kenyataan sebenarnya. Kenyataan yang membuat hatinya hancur, tapi bisa di sembunyikan dengan baik dengan satu motivasi, "Yang penting Mom bahagia."


Tapi sekarang, apa yang tengah dilakukannya ? Bahkan ia bisa mendengar suara jantungnya sendiri yang menginginkan wanita ini. Dave frustasi, tapi enggan melepas pelukannya.


"Dave..." Kirana memejamkan mata dan balas memeluk punggung Lelaki itu. Aroma wangi woody yang maskulin dan lembut membuat Kirana menyandarkan kepalanya dan menghirup dalam-dalam wanginya pada pundak Dave.


Nyaman. Hanya kata itu yang bisa mengambarkan perasaan Kirana. Perasaan yang tak ia temukan pada Jonathan meskipun bertahun-tahun Lelaki itu setia bersamanya. Seolah Kirana tahu, bahwa jiwanya yang kering akhirnya menemukan oasenya. Rasanya ingin ia berlama-lama dalam pelukan hangat Dave yang menenagkan juga mendebarkan nuraninya.


"Maafkan aku." Dave melepas pelukannya dan menjauhkan Kirana darinya.


Kirana yang sedang terbuai aroma wangi Dave terkejut. Dilihatnya Dave yang memandang gamang ke arahnya.


Mereka saling tatap. Suasana malam dan bunyi binatang kecil menambah kekalutan hati masing-masing.


Kirana meremas gaun malamnya. Ia bingung mau berkata apa. Ia juga tak mengerti kenapa Dave tiba-tiba memeluknya. Tapi jujur dalam hatinya, ia menikmati. Pikiran gila yang membuat kedua pipi Kirana merona karena malu.


"Aku nggak pernah membencimu." ucap Dave membuat Kirana yang tengah menunduk mengangkat muka melihatnya.


Mereka kembali terdiam. Di tatapnya baik-baik Kirana yang bak dewi malam dengan gaun hitam dan kulit putihnya yang menonjol. Matanya turun ke bawah, dan berhenti pada belahan dada Kirana. Membuat pikirannya melayang pada kejadian beberapa tahun silam.


Dave hampir mengumpat. Wajahnya langsung merah padam. Seperti baru terjadi kemarin saat tangannya menjelajahi tubuh indah dari wanita itu. Bahkan Dave masih mengingat lembut dan hangatnya tubuh Kirana saat ia mencium, menyesap dan meremas bagian paling mempesona dari seorang wanita tersebut.


"Apa yang aku pikirkan !?" Dave berteriak dalam hati. Walaupun ia seorang apatis, tetap saja ia lelaki normal yang menginginkan wanita yang di cintai. "Apaa ?!" Dave kaget sendiri dengan pikirannya.


"Ada apa Dave ?" Kirana khawatir karena Dave terlihat tak tenang.


Dave kembali menatap Kirana yang kini berdiri tak jauh darinya dengan raut wajah cemas.


Dave membuang muka.Ia mulai berhitung dari angka satu sampai lima dalam hati, lalu menghela nafas panjang diam-diam. Kemudian kembali memandang Kirana.


"Dave aku ingin kita nggak bermusuhan." Kirana berkata takut-takut. Mata cokelat terangnya terlihat gelap dalam keremangan malam. Tapi Dave bisa melihat sinar cantiknya yang terpantul dari bias lampu.

__ADS_1


Dave menelan ludah. Ia merasa susah bernafas padahal ia sudah berkali-kali melonggarkan dasinya. "Nggak ada yang memusuhimu." ia akhirnya bisa berkata setenang biasanya.


Kirana semakin intens memandangnya.


Seandainya Dave bisa mengatakan betapa cantiknya Kirana saat itu. "Selamat Kirana." Ia berkata setelah sepenuhnya bisa menguasai diri. "Sebentar lagi kau menikah." lanjutnya.


"Dave aku...!" Tanpa sadar Kirana sudah memegangi lengan baju Dave. Mata mereka membulat saat saling pandang.


DEG


DEG


DEG


Jantung keduanya berpacu lebih kencang. Jarak wajah keduanya sangat dekat, begitu dekat dengan Dave yang sudah memiringkan kepalanya dan Kirana yang seolah terhipnotis.


Bibir mereka hampir bersentuhan ketika getar ponsel Dave yang diletakkan di saku bagian dalam kemeja menyadarkan keduanya.


Dave langsung menjauh sambil mengangkat telponnya."Halo ?" ucapnya dengan ponsel yang ia letakkan di telingan kanannya.


Sedangkan Kirana, ia masih terlihat syok dengan apa yang baru saja hampir dilakukannya.


Kirana mengangkat wajahnya memandang Dave yang telah kembali dengan ekspresi datarnya yang seperti biasa. "Angela mencariku." lanjutnya yang membuat hati Kirana bagai di remas sembilu.


Dave berjalan lebih dulu, sedang Kirana terlihat seperti orang linglung yang tak mengerti dengan apa yang barusan terjadi. Tak mengerti dengan perasaannya yang tiba-tiba terasa kosong padahal tadi jantungnya seperti melompat-lompat hendak keluar.


Air matanya kembali mengenang, kali ini langsung luruh membasahi pipi mulusnya yang di sapu blouse on warna soft pink.


Kirana masih berdiri terpaku, ketika Dave kembali dan memakaikan jas nya untuk Kirana.


Wajah Kirana yang di penuhi air mata mendongkaj menatap wajah Lelaki yang selalu berhasil memporak-porandakan perasaanya.


"Aku nggak pernah membencimu Kirana." dengan wajahnya yang sedingin es ia usap pelan pipi Kirana yang basah oleh air mata. Kemudian merapatkan jas nya yang kebesaran pada Kirana sampai menutupi belahan dadanya. "Sejak dulu sampai sekarang...aku nggak pernah membencimu." Dave kembali berkata.


Kirana masih terdiam menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf tadi aku berbohong dengan mengatakan Dad mencarimu." Ia berkata. "Maaf juga aku tadi memelukmu." Dave menunduk sesaat agar wajah 'bodohnya' tak terlihat.

__ADS_1


Kirana tetap tak memberi reaksi.


Dave memijit keningnya gusar dan kembali menatap lawan bicaranya yang kali ini terlihat rapuh tak tersentuh."Kita bersaudara, Kirana. Dan selamanya akan begitu..." Dave sengaja memperlambat kalimatnya. Ia menelan ludah untuk menguatkan diri supaya tetap bisa memandang mata gadis itu.


Pundak Kirana sudah gemetar dengan kedua tangannya yang meremas jas hitam milik Dave yajg menutupi tubuhnya.


"Mulai sekarang, ayo kita menjadi saudara yang baik untuk kebahagiaan orang tua kita." Dave mengulurkan tangan kanannya.


Wajah Kirana berkerut kecewa. Ia langsung berlari sambil menjinjing gaun malamnya, membuat jas milik Dave yang tersampir di pundaknya jatuh. Tapi Kirana tak peduli, ia tetap berlari masuk ke dalam gedung.


Tinggal Dave yang berdiri kaku dalam hembus angin malam dan udara dingin yang kian menusuk dengan semakin larutnya malam.


Tanpa Dave maupun Kirana tahu, sedari tadi dari kejuhan kegiatan mereka tengah di intip seseorang. Bahkan ia memfoto dan memvideo apa saja yang mereka lakukan tadi.


"Kirana !" panggil Jonathan mengejarnya. Tapi Kirana terus berjalan cepat menuju pintu keluar. "Kirana !" akhirnya ia bisa meraih lengan gadis itu.


Jonathan terkejut saat melihat wajah Kirana yang sembab. "Ada apa ?" tanyanya.


"Enggak." dia mengelak.


"Tadi Oji san mencarimu." Jonathan berkata. "Apa Dave membohongimu ?" tanyanya.


Kirana tak menjawab.


"Dia sengaja berbohong untuk mengatakan hal buruk lagi padamu ?" Jonathan mulai emosi.


"Enggak !" sangkal Kirana mengejutkan Jonathan karena reaksi Kirana yang berlebihan.


Sadar akan sikapnya, membuat Kirana menunduk. "...Dave hanya memgucapkan selamat pada kita." ia berbohong. "Dia malu padamu...makanya sengaja berbohong..." lanjut Kirana tanpa memandang lawan bicaranya.


Mobil Lamborghini Aventador Lp 700-4 warna yellow itu membelah malam yang mulai lengang.


"..Jon baik sekali. Dia sampai repot-repot mengantarku ke kamar kecil untuk membersihkan gaun ku, padahal air yang tumpah hanya air mineral." Angela bercerita dengan riang.


Dave hanya tersenyum menangapi sambil sekilas melihat ke arah Tunangannya.


"Beruntung sekali Kirana berjodoh dengan Jon." Angela menyatukan kedua tangannya penuh rasa syukur. "Mereka sangat serasi, kan ?" tanya Angela dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Iya." Dave menjawab singkat dengan senyum di bibir.


"Iya, kan." Angela terkekeh. "Mereka berdua sama-sama baik. Dan sama-sama berwajah oriental." Angela tertawa senang.


__ADS_2