SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
TAK PERCAYA


__ADS_3

"Kita pertama bertemu saat berusia tiga tahun." Dave menegaskan.


"Haah ?" kali ini Kirana benar-benar di buat kaget.


"Mom membawaku ke sebuah makam. Waktu itu aku tak tahu apa pun, dan untuk bertanya aku tak berani." Dave bercerita.


Kirana masih memutar otak mencoba mengingat.


"Kita bersisipan dan robot Gundam ku jatuh." sedikit kesal Dave berkata karena wanita di depannya itu belum juga mengingat. "Sebenarnya apa isi kepalanya itu ?" ucap Dave dalam hati. Berniat nostagia, tapi yang di ajak mengenang malah tak ingat. "Kau mengambil dan memberikannya pada ku." kening Dave berkerut.


"Aahh! Aku ingat!" seru Kirana sambil mengepalkan tangan kanan dan memukulkannya ke telapak tangan kiri.


Dave menipiskan bibirnya. "Bisa-bisa nya aku jatuh cinta pada wanita ini" ucap Dave tak habis pikir.


"Yah..ingat-ingat sedikit sebenarnya." Kirana terkekeh sambil mengaruk belakang kepalanya tak enak.


Dave pasang wajah malas.


"Jadi..." Kirana memajukan wajahnya menatap Dave. "Kau sudah jatuh cinta pada ku saat berusia tiga tahun, ya ?" kedua pipi Kirana memerah dengan senyum sumringah.


"Mana ada." Dave berusaha menutupi rasa malu dengan berkata ketus. "Aku hanya berpikir pipi mu itu bulat seperti bakpao dan ingin aku makan." ia tergelak.


"Enak saja." Kirana langsung memukul Dave. Membuat mereka saling serang di atas ranjang sambil tertawa terbahak-bahak.


Sampai beberapa menit kemudian, saat Kirana berada di atas tubuh Dave dan mereka berhenti tertawa dan hanya saling melihat. Rambut panjang Kirana terjulur berantakan pada wajah Dave. Membuat lelaki itu mengelus dan merapikannya.


Ditatapnya Dave dengan raut wajah gamang. Kirana tahu, saat badai ini usai, dia dan Dave harus melalui jalan curam dan berliku jika ingin tetap bersama.


"Je suis heureuse d'etre a cote de toi." ucap Dave lembut. Dan sebelum Kirana merusak moment romantis dengan ketidaktahuannya, Dave sudah menjulurkan tangan dan mencium kembali bibir Kirana lembut. "Je t'aime.." bisik Dave.


Kini kedua pipi Kirana bersemu merah, karena dia tahu arti ucapan Dave padanya. Di peluk erat lelaki yang rasanya dulu hanya bisa ia raih dalam mimpi. Menyandarkan kepalanya di dada Dave yang berdetak seirama dengan degub jantungnya, sementara jemari tangan mereka saling tertaut dan mengengam.


Hujan telah benar-benar berhenti. Awan hitam mulai memudar saat sinar mentari yang berwarna jingga menerobos dengan kuatnya.

__ADS_1


Waktu bermimpi telah usai, kini Dave dan Kirana harus menghadapi kenyataan yang ada.


Menjelang sore barulah Marisa di temani Jonathan datang menjemput Dave dan Kirana yang telah menunggu di teras rumah.


"Kirana.." Marisa berjalan cepat ke arah Kirana. Dan saat melihah codet di pipi sebelah kanan putrinya, Marisa tak kuasa membendung air mata.


"Nggak apa, Bu." Kirana berusaha kuat. Walaupun ia sendiri merasa buruk rupa dengan luka itu.


Marisa tak bisa berkata apa pun. Di peluknya kembali Kirana erat-erat. Sementara Dave dan Jonathan saling pandang tanpa berucap apa pun.


"Dave, kau tak apa ?" giliran Marisa mengenggam erat kedua tangan Dave.


"Aku tak apa, Bu." Dave berucap agak membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Marisa.


"Ibu sama sekali tak percaya jika Shopie yang melakukan semua ini.." Marisa terisak sambil mengelengkan kepala.


"Apa ?" Kirana tersentak. "Shopie ?" tanyanya.


"Memang Shopie dalangnya." Dave menimpali.


"Aku sengaja tak menceritakan padamu Kirana, karena pasti kau tak akan percaya." Dave melirik Jonathan sesaat, sebelum fokus kembali pada Kirana. "Aku bisa menemukan mu setelah menelusuri Villa milik Keluarga Shopie. Gudang tempatmu di sekap itu bersebelahan dengan Villa milik keluarganya yang kosong setelah tiga hari lalu Ayah Shopie meninggal dengan hutang menumpuk." Dave menjelaskan.


"Ayah Shopie ? Hutang ?" Kirana tak paham. "Kenapa Ayahnya meninggal Shopie nggak cerita ? Padahal seharian dia bersama ku." tanya Kirana bertubi-tubi.


"Shopie juga terbukti sebagai pelaku yang membunuh dan meletakan mayat kucing itu di ruanganmu Kirana." Marisa menghapus sisa-sisa air matanya.


"Pa, pasti ini salah paham." sangkal Kirana. "Pasti ada yang keliru. Shopie mana tega membunuh binatang ??" Kirana terlihat syok. Diamenoleh ke arah Dave. "Dave, bukankah kau lihat sendiri yang menyekapku tiga orang wanita dan bukan Shopie." ucapnya.


"Mereka di manfaatkan oleh Shopie, Kirana." Dave memandang dengan raut serius. "Shopie memanfaatkan fans fanatik Jonathan untuk mrncelakaimu."


Mata Kirana membulat dan ia langsung menutup mulutnya yang membuka.


"Kirana, maaf kan aku.." Jonathan menyesal. Ia ikut merasa bertanggung jawab, karena Kirana terluka di sebabkan oleh fans nya.

__ADS_1


"Jon, katakan kalau ini hanya salah paham." dia mendongkakan wajah sambil memegangi kedua lengan Jonathan. "Kita kenal baik Shopie. Kita berteman sudah lama." mata Kirana berkaca-kaca. "Nggak mungkin, kan, Shopie tega melakukan ini semua..?" mata Kirana membulat. "Shopie menyukaimu ?" tanya Kirana tiba-tiba.


"Suka atau enggak, Shopie sudah melakukan kejahatan." ucap Dave sebelum Jonathan membuka mulut.


Kirana masih tak percaya. Tubuhnya sampai gemetar ingat moment kebersamaan mereka setelah peristiwa kucing yang tepenggal.


Seharian mereka menghabiskan waktu bersama. Bercanda, tertawa dan saling cerita seperti biasa. "Sejak kapan Ayahnya sakit ? Bahkan sudah meninggal ?" ucap Kirana dalam hati. "Kenapa aku jadi tak tahu apa pun tentang sahabatku sendiri ?" Kirana benar-benar tak habis pikir.


"Kenapa kau bisa sampai di sekap oleh tiga orang Fans Fanatik itu, aku rasa Shopie juga yang paling tahu." Dave masih kesal jika mengingat apa yang terjadi pada Kirana.


Mata Kirana membulat. Dia tampak mengingat-ingat sesuatu, sementara yang lain memandang ke arahnya. "..Sho..Shopie bilang supaya nggak suntuk di rumah, mengajakku keluar untuk mencari makan. Dan..dan tiba-tiba saat aku membuka mata lagi..aku sudah berada di tempat mirip gudang dengan tiga orang wanita mengenakan topeng." Kirana tampak ragu ketika menjelaskan. Dia masih tak yakin jika sahabatnya dalang di balik semua ini. Tapi semua bukti mengarah padanya, membuat Kirana gundah dan gemetar.


"Lebih baik kita pulang dulu." tahu putrinya terguncang, Marisa mendekap Kirana. "Kita harus segera merawat lukamu, Ibu tidak mau terjadi apa-apa dengan wajahmu, Nak." Marisa memandang prihatin ke wajah anaknya.


"Tapi, Bu, Shopie.." Wajah Kirana berkerut sedih.


"Shopie ada di Kantor Polisi." ucap Marisa membuat Kirana kaget. "Setelah siap kau bisa menemuinya untuk bicara. Daddy juga sudah dalam perjalan pulang, jadi ayo kita lekas kembali ke rumah." Marisa tersenyum di paksa.


Walaupun masih banyak yang ingin di tanyakan. Tapi akhirnya Kirana memilih diam dengan raut wajah gamang.


Mobil Porsche Cayenne Turbo Coupe melaju menuruni jalanan menurun yang basah oleh air hujan. Beberapa ranting tampak berserak sampai jalan aspal, namun untuk mobil jenis SUV itu tak menjadi masalah.


Mobil yang mereka naiki baru saja masuk ke jalan tol setelah melewati bekas tanah longsor yang membuat Kirana dan Dave tidak bisa pulang.


"Kau nggak melakukan apa-apa pada Kirana, kan ?" Jonathan yang duduk di jog belakang bersebelahan dengan Dave berkata pelan, supaya hanya mereka yang dengar.


Dave mendengus. "Masih bisa berkata seperti itu ?" Dave tersenyum sinis. "Dasar nggak tahu malu." ucapnya sambil membuang muka menghadap jendela.


"Kirana menyukaimu." Jonathan tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.


Kali ini Dave terkejut. Tapi ia berusaha menutupi. Meraka berdua sama2 melihat ke arah jendela tanpa berkata apa pun lagi.


Sedangkan di jog depan, Kirana memeluk Ibunya dengan wajah muram. Pikirannya masih bimbang antara percaya dan tidak.

__ADS_1


"Kenapa Shopie tega berbuat sejahat ini padaku...?" matanya kembali berair. Namun cepat-cepat di hapus sebelum menetes.


Si Sopir menekan pedal gas lebih kencang saat langit mulai menampakkan bintang di langit malam nya yang cerah tak berawan.


__ADS_2