SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KITA BERSAUDARA


__ADS_3

"Selama kau tinggal di sini, nggap lah ini kamar mu sendiri." Marisa tersenyum sambil mendongkakkan wajahnya melihat ke arah anak dari Mantan Istri Suami nya tersebut.


Mereka berada di sebuah Kamar tidur luas dengan cat warna putih dan ranjang king size nya berseprei abu tua.


"Terima kasih Bu." Dave tersenyum pada wanita yang hanya bertinggi sedadanya itu. Sementara Para Pelayan sibuk memasukan 2 Kopor besar milik Dave ke kamar tersebut, dan segera pamit pergi begitu meletakkan nya di pojok ruang.


"Di samping persis adalah kamar Kirana, dia juga Kuliah di Universitas Jayabaya dan seusia denganmu." Wanita dengan rambut hitam panjangnya yang di gelung rapi itu berkata. "Ibu harap, kalian bisa akrab karena kalian bersaudara." ia kembali tersenyum sambil mengelus pundak Lelaki yang selalu menutupi sebagian keningnya dengan rambut.


"...Iya." jawab Dave yang kali ini memakai kaos biru tua itu setelah terdiam beberpaa saat.


Marisa tersenyum senang mendengarnya. " Kau bersihkan diri mu dulu, setelah itu segera lah turun untuk makan malam bersama." Ucapnya sambil berjalan ke arah pintu dengan wajah yang masih menoleh ke arah nya.


"Ya, Bu. Terima kasih..." Dave tersenyum sampai Ibu Tirinya yang berperawakan kecil itu membuka pintu kamarnya, kemudian keluar dan menutupnya kembali dengan senyum yang masih tersungging di wajah nya.


Dave langsung terduduk di pinggir ranjang dengan kedua siku tertumpu di atas paha dan kedua telapak tangan yang menutupi wajah.


Kamar tidur luas itu terasa sunyi bagi nya yang saat ini tengah di rundung kekalutan dan rasa terkejut mengetahui bahwa Gadis yang tempo hari selalu membuat dadanya berdesir dengan senyum dan tingkah konyol nya itu adalah Saudara 1 Ayahnya.


"Daddy..." Kirana memegangi lengan Ayahnya yang duduk di sebelahnya.


Andreas yang tengah bercanda dengan Kiandra langsung menoleh ke arah nya.


"A, apa benar dia itu anak Daddy..?? " tanyanya dengan kedua mata cokelat terangnya yang memandang ke arah Ayahnya. "Saudara ku...??" keningnya berkerut tak yakin.


"Iya, dia anak Daddy dari Pernikahan yang pertama." Andreas menjawab dengan senyum yang langung membuat mata Kirana membulat.


Saat itu mereka sedang duduk bertiga bersama Kiandra di sofa besar yang berada di ruang tengah. Sementra Ibu nya sedang sibuk di meja makan bersama Para Pelayan untuk menyiapkan makan siang.

__ADS_1


"Ta, tapi Daddy nggak pernah cerita kalau Daddy pernah menikah sebelum nya." Kirana masih tak percaya. Banyak pertanyaan di benaknya, apa lagi ini menyangkut Dave. Lelaki yang sejak pertama mereka bertemu sudah membuat dada nya berdetak kencang dengan wajahnya yang selalu membayang di dalam pikirannya.


"Daddy menikah sebelum nya..??" Kiandra ikut-ikutan bicara. Adik nya yang berwajah lebih mirip Ibu nya itu memandag Ayah dan Kakak Perempuannya bergantian.


Andreas balas memandang anak Lelakinya yang baru berusia 5 tahun, di elus nya puncak kepalanya. "Iya, Daddy menikah dengan Ibu." ia tersenyum lebar.


Kirana mengigit bibir bawahnya, ia mengurung kan niat untuk bertanya lebig jauh. Kirana tahu, ada Kiandra di situ. Dan baik ia atau Ayahnya tak ingin sampai anak kecil yang masih polos itu bertanya-tanya tentang masalah orang dewasa.


Walaupun sebenarnya Kirana yakin kalau sebenarnya Adik Lelakinya itu tidak mungkin sepolos itu.


Kiandra cerdas sejak dari embrio, di didik langsung oleh Ibu nya yang tegas. Pemikirannya pun lebih dewasa dari anak usia 5 tahun kebanyakan.


Sangat berbanding terbalik dengan Kirana yang sejak kecil sampai remaja selalu di manja dan terlalu di sayang oleh Opa nya yang telah meninggal saat dia berusia 17 tahun.


Jam 7 tepat mereka berlima sudah duduk rapi di ruang makan dengan meja panjangnya yang terbuat dari kayu jati yang lagi-lagi di penuhi ukiran indah di tiap kaki-kaki meja nya.


Kirana yang duduk di depan Dave dan di pisah kan meja makan sesekali melirik ke arah nya.


"Ibu tidak tahu makanan apa yang menjadi kesukaan mu, tapi karena kau lama tinggal di Paris Ibu membuatkan beberapa makanan khas Kota tersebut." Marisa tersenyum sambil menaruh beef burguignon di atas piring nasi Dave.


"Terima kasih Bu." Dave tersenyum menerima masakan yang terbuat daging sapi yang di daerah asalnya di rebus menggunakan anggur merah. Tapi kali ini Marisa hanya merebusnya dengan bumbu rempah biasa, tanpa mengurangi tekstur lembut nya.


"Ibu juga membuat soupe al' oignon." ibu nya menunjuk panci kecil terbuat dari porselen putih yang berisi kuah kaldu sapi kental dengan potongan bawang putih, sementara di sebelahnya terdapat mangkuk berisi daging ayam suwir dan parut keju sebagai pelengkapnya.


"Ibu, kalau ini apa namanya...??" Kiandra menunjuk sajian yang terdiri dari berbagai macam sayur-sayuran yang di panggang dengan saus pasta dan parutan keju di atasnya.


"Oh, itu ratatouille jawab Ibu nya. "Kiandra makan itu yaa, itu sehat dan enak." ia mengarahkan jempol tangannya sambil tersenyum lebar ke arah Anak lelakinya yang duduk di seberang meja di samping Kirana.

__ADS_1


"Waah..karena ada Kak Dave hari ini kita makan masakan Perancis !" Kiandra bersorak girang.


Dave tersenyum simpul menanggapi nya.


"Makanlah yang banyak Dave." Ayahnya yang duduk di sampingnya berkata. " Begitu tahu kau akan menginap di sini, Ibu mu langsung mempelajari resep-resep masakan Perancis." bisik Lelaki berusia 50 tahun itu sambil tersenyum memperlihatkan kerutan di bawah matanya.


Dave sedikit terkejut mendengarnya, namun segera ia tersenyum dan mengangguk. " iya Dad." ucap nya.


Kirana masih diam-diam memperhatikan Dave yang duduk di tengah-tengah Ayah dan Ibu nya. Sampai-sampai ia yang suka makan belum menyentuh piringnya sama sekali.


"Kak Dave ganteng yaa Kirana...??" Bisik Kiandra yang membuat nya terkejut.


Ia mendesis pelan ke arah Adik nya. "Kau dengannya memanggil Kak, dengan ku di suruh panggil Kak nggak pernah mau." ucap nya jengkel.


"Kau bukan Kakak ku, kau musuhku yang selalu menyembunyikan mainanku." Kiandra menjawab sengit.


Di bawah meja Kirana langsung mencubit paha Adik nya yang membuat anak lelaki berusai 5 tahun itu meringis kesakitan.


"Kirana Bar-bar." Kiandra mendesis kesakitan dengan mata melotot memandang ke arah Kakaknya sambil mengusap paha nya yang terasa nyeri.


"Kalian." Suara Ayahnya yang besar membuat kedua nya melihat ke arah nya. "Ini hari pertama Dave tinggal dengan kita, bersikap sopan lah." ucap nya.


"Maaf Daddy." Kiandra menjawab sambil menunduk. Cepat-cepat ia mengambil nasi dan lauk kemudian makan.


Sebalik nya, Kirana masih terdiam dengan wajah memerah karena Dave melihat ke arah nya. Ia langsung menunduk dan mengambil sendok garpu lalu pura-pura makan, namun Kirana lupa jika dia bahkan belum mengambil nasi.


Kirana tergagap dan cepat-cepat mengambil nasi dengan kikuk. ia tak berani mengangkat wajah nya karena Dave duduk tepat di depannya.

__ADS_1


Dave yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak-gerik Kirana, spontan memalingkan muka dan menutup mulut nya tak kuat menahan tawa.


__ADS_2