
"Pantas saja dia bodoh, suka nya mi instan" Dave mengerutu dalam hati. Ia sudah menyalakan kompor dan merebus air di panci kecil sementara dia mengambil mi instan dari dalam laci dan membuka kulkas untuk mencari sesuatu.
"Tuan Muda, mau memakan sesuatu...?" Satu dari tiga Pelayan yang sedang berada di dapur itu maju sedikit dan bertanya pada Dave, mengira Tuan Muda nya ingin memakan sesuatu sampai harus membuatnya sendiri.
"Nggak." ia menjawab singkat sambil menutup pintu kulkas setelah mengambil beberapa sayuran dan telur dari dalam nya.
Sebenarnya Pelayan tersebut hendak bertanya lebih lanjut, karena dia melihat Tuan Muda nya itu mulai memakai celemek bersih yang selalu tersedia di laci kitchen set, tapi karena melihat wajah Dave yang berkerut dalam dan tampak marah, ia mengurungkan niatnya.
"Saya dan yang lain ada di Ruang makan untuk membereskan meja, Tuan Muda bisa memanggil kami jika membutuhkan sesuatu." ia menunduk hormat.
Dave hanya berdehem tanpa melihat ke arahnya, membuat si Pelayan tersebut saling pandang dengan kedua rekannya yang berada di belakang, sebelum kemudian undur diri ke Ruang makan yang letaknya di samping dapur persis.
Dave mulai membuka 1 bungkus mi instan rasa soto dan memasukannya ke dalam panci kecil dengan air nya yang telah mendidih tadi, tidak hanya satu kali rebusan, Dave merebus mi itu dua kali dengan mengganti airnya.
Dan begitu terlihat mi setengah matang, ia segera membuang air rebusannya dan menyisihkan mi tersebut. Dengan cekatan dia mulai mengiris bawang bombay, bawang merah dan cabai rawit yang ia ambil dari kulkas.
Dia juga memotong bakso yang dia ambil dari kulkas bersama bumbu yang sebelumnya ia potong, dan membelahnya menjadi dua. Di lanjut dengan memotong brokoli dan juga tomat serta beberapa lembar sawi putih, yang sebenarnya hanya sisa dari bahan masakan hari ini.
"Astaga...Tuan Muda memasak..." Pelayan wanita yang mencium bau harum dari tumisan bawang bombay, bawang merah dan cabai diam-diam mengintip.
"Aku baru tahu kalau Tuan Muda bisa memasak.." bisik Pelayan yang lain.
"Aduuh...keren sekali Tuan Muda kalau sedang memasak seperti ini." Pelayan ketiga memperhatikan Dave yang sedang memberi segelas air ke dalam tumisannya, menciptakan bunyi nyaring saat minyak panas di campur air.
Dave sama sekali tidak tahu jika sedang di perhatikan oleh tiga Pelayan wanita yang mengintipnya diam-diam dari kejauhan. Ia masih sibuk memasukan potongan brokoli, bakso serta sawi putih ke dalam kuah tumisannya yang telah mendidih sambil terus mengaduk-aduknya, membuat seisi dapur tercium aroma wangi dari bumbu tumisnya.
Saat mereka tengah asik melihat Dave yang memasukan mi yang telah di tiriskan tadi ke dalam kuah yang mendidih, terdengar suara halus seorang wanita.
"Sedang apa kalian..?" ucapnya.
Ketiga Pelayan itu berjingkak kaget, seketika mereka menoleh ke belakang, Marisa telah berdiri persis di belakang mereka yang sedang mengintip.
"Nyonya sudah pulang..??" tanya salah satu dari mereka gugup.
Marisa yang baru saja pulang dari mengantar Kiandra sekolah tak lagi bertanya kepada ketiga Pelayan wanitanya, saat ia mencium bau harum masakan, dan dari kejauhan ia melihat sosok Dave yang sedang memasak.
"Maaf Nyonya...Kami..."
__ADS_1
Marisa menaruh jari telunjuknya di bibir dengan mata yang tetap awas menatap Dave dari kejauhan. "Pergilah...." ucap nya pelan, yang dengan segera ketiganya pergi meninggalkan ruang dapur tersebut.
Dave baru saja mematikan kompor dan memasukan tomat ke dalam mi serta kuah yang masih mendidih, lalu membuka bumbu mi instan dan menaruh nya ke dalam mangkok.
Di tuangkan mi serta kuah tadi ke dalam mangkok tersebut, kemudian di aduk-aduknya sampai semua bumbu beraroma soto itu tercampur.
Hanya satu yang kurang, dan Dave tidak tahu di mana di letakkannya benda itu. Ia membuka semua laci dan meneliti semua wadah-wadah dari kaca yang berjajar di situ, tapi tak di temukan juga yang ia cari.
"Dave."
Panggil Marisa, membuat Dave sedikit terkejut dan menoleh ke arah wanita 43 tahun yang ternyata telah berdiri tidak jauh dari nya.
Dave baru akan membuka mulut, ketika wanita yang menjadi Ibu tirinya itu kembali berkata.
"Kau bisa memasak...?" tanyanya seolah tak percaya.
Wajah Dave langsung bersemu merah, ia malu."...Nggak...eh..i, iya...sedikit." jawabnya sambil menunduk.
Marisa tersenyum lebar, kedua tangannya terulur memegangi kedua pipi Laki-laki yang sebentar lagi berusia 20 tahun tersebut. "Kalau memang bisa kenapa malu...??" ia berkata.
Dave yang wajahnya sudah terangkat, kini bisa melihat kedua mata ibu tirinya tersebut yang berkaca-kaca saat memandangnya, membuat Dave salah tingkah.
"Ah, i...iya." Dave terbata menjawab. Ia selalu merasa tersentuh saat wanita yang menjadi orang ketiga di Keluarganya itu memandangnya. "...Aku mencari bawang merah goreng..." ia berkata, yang langsung membuat Marisa dengan sigap membuka laci di bagaian pojok.
"Ada di sini." Wanita itu mengambil toples plastik berisi irisan bawang merah yang telah di goreng, lalu memberikannya pada anak Lelakinya.
"Terimakasih." ucap Dave perlahan saat menerimanya.
Marisa masih tersenyum dengan wajah yang entah kenapa terlihat haru saat memperhatikan Dave yang sedang membuka tutup toples plastik tersebut dan mengambil sedikit bawang merah gorengnya, dan menaburkannya ke atas mi rebus nya.
"Apa kau tidak cocok dengan masakan di rumah ini, Dave..?" Marisa bertanya perlahan sambil tersenyum sayang ke arah nya.
"Ah, nggak...bukan begitu, Bu...jangan salah paham." Dave melihat sebentar kearah Ibu tirinya yang masih memandangnya, sebelum kemudian ia kembali menunduk, menghindari tatapan mata Ibu tirirnya tepatnya. "...Aku dengar Kirana sakit, dan...dia nggak mau makan..." Terputus-putus Dave berkata, ia malu terpergok sedang memasak, apa lagi itu untuk Kirana.
"Apa kau memasakan Kirana...??" mata Marisa membulat tak percaya.
Dave masih menunduk dan mengigit bibirnya. "I,iya...aku dengar dia suka mi instan jadi..jadi aku.." ia merasa tak enak.
__ADS_1
"Kalau begitu antarkan lah." ucap Marisa seperti mengerti jika Dave selama ini menyembunyikan sifat malu nya di balik sikap tenang dan dewasanya.
"Ah, enggak..Ibu saja..."
"Kirana pasti akan senang sekali jika tahu kalau kau sampai mau repot-repot memasak untuknya." potong Ibu tirinya tersebut sambil tersenyum melihatnya.
"Tapi..."
"Kirana sedang tidak mau berbicara pada Ibu, maupun pada Daddy mu." kembali Marisa berkata dengan wajah memelas, sebelum Dave menyelesaikan kalimatnya.
Dave terdiam mendengarnya, ia teringat kata-kata nya pada Kirana soal Ibu nya yang di perkosa Daddy mereka, hamil dan terpaksa mereka harus menikah.
"...Baiklah Bu, aku akan mengantarkan ini dulu ke kamar Kirana." Dave akhirnya berkata setelah terdiam beberapa saat.
"Siapa yang mengatakan hal itu...??" Kening Jonathan berkerut.
Kirana menangis sesengukan sambil menghapus air matanya berkali-kali, ia tidak mau menagis di depan Jonathan tapi saat ini perasaannya benar-benar tidak menentu, hatinya begitu terluka karena kata-kata Dave tempo hari.
"Aku kan bertanya padamu, seandainya aku bukan anak yang di inginkan bagimana...?" Kirana memandang Jonathan kesal dengan mata dan hidungnya yang memerah karena menangis."Kenapa kau malah balik bertanya pada ku..?" di lemparkannya bantal ke arah Lelaki bermata sipit dengan rambut lurusnya tersebut.
"Aku ini khawatir kau di sakiti orang ." Dengan sigap Jonathan menangkap bantal yang di lemar Kirana ke arahnya.
"Memang kenapa kalau aku di sakiti orang..? Aku benci kau !" Wajah Kirana semakin memerah dan terlihat kesal.
"Kenapa malah marah pada ku...?" Jonathan tak mengerti.
Dengan kesal Kirana melempar boneka pucca ukuran jumbo nya ke arah Laki-laki yang duduk di pinggir ranjangnya, "Pokonya aku marah, aku benci pada semua laki-laki di sekitarku !" ucapnya.
Kembali Jonathan menagkap boneka pucca jumbo pemberiannya dulu pada Kirana, dia kasian dengan Kirana yang sakit dan harus di infus, tapi diam-diam dia juga geli melihat wajah gadis berambut panjang yang tergerai sepunggung dan mengenakan piyama putih motif pucca and Garu.
Karena dengan wajah kesal, hidung memerah yang berkali-kali di usap pemiliknya, wajah Kirana terlihat cantik, lucu dan mengemaskan. Sampai-sampai Jonathan ingin sekali mencubit kedua pipi gadis yang selalu mengelembung jika sedang marah tersebut.
Di dekat pintu yang terbuka, Dave dengan membawa baki berisi mangkuk mi kuah yang mungkin sudah menghangat, menyaksiakan semua itu.
...----------------...
Silahkan yang mau coba resep mi instan sehat ala Dave, mumpung musim hujan 🤭
__ADS_1
-🍀-