
Hati Kirana was-was. Antara dia ingin Dave jujur. Tapi dia juga tidak mau menempatkan Dave dalam posisi yang sulit.
Sebenarnya yang di inginkan Kirana hanya Dave jujur tentang perasaan mereka, tidak lebih. Dia paham mereka terlalu sulit. Tapi untuk bisa menerima Jonathan, itu lain lagi. Dia tidak bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang tidak ia cintai. Meskipun untuk bersama orang di cintai pun, itu tak mungkin.
"Kau Dave ?" Marisa yang pertama bereaksi. Sedang Suaminya masih mencoba mencerna tentang ada apa yang terjadi dengan anak-anaknya.
"Ibu, aku.."
"Permisi." suara lain terdengar. Memotong kalimat Dave, dan membuat semua yang berada di ruang keluarga tersebut menoleh ke sumber suara.
Angela telah berdiri di belakang seorang Pelayan yang menunduk hormat kepada mereka.
"Angela ?" Dave langsug berdiri.
"Tadi aku ke rumah, Dave, dan Nenek mengatakan kau ke sini." Angela dengan dress selutut warna pink salem berjalan mendekat setelah si Pelayan undur diri.
Kirana mematung dengan mata bergetar. Fokus nya langsung hilang.
"Kirana." Angela duduk di sebelahnya. Di berikannya seikat bunga mawar warna pink yang selaras dengan warna dress yang di pakainya pada Kirana. "Aku memetiknya sendiri dari rumah kaca." ucapnya.
Ragu-ragu Kirana menerima. "Te, terimakasih." dia tak mampu memandang wajah Angela yang tengah tersenyum tulus padanya.
Andreas dan Marisa saling pandang. Karena ada tamu, mereka sepakat menunda pembicaraan.
"Selamat siang Dad, Ibu." sapa Angela dengan senyum manisnya. Membuat Kirana makin tertegun. Memupuskan harapan kecil nya akan Dave yang mau mengakui perasaannya, dan mereka bisa saling mencintai diam-diam.
"Mencintai diam-diam ?" Kirana berkata dalam hati. Di pandangnya wajah Angela yang sedang berbicara dengan orangtuanya. Ada rasa bersalah terselip di relung hatinya. Kemudian pandangannya beralih ke Dave yang ternyata tengah memperhatikannya sedari tadi.
Tanpa bicara kini Kirana tahu, tembok yang harus mereka lewati tidak hanya satu. Dan ini tidak hanya soal Jonathan, tapi juga Angela. Mungkin dia akan sanggup, namun Dave ? Statusnya akan di pertanyakan, dan itu paling sulit. Mengingat semua dokumen resmi menyatakan bahwa Dave adalah anak kandung Ayahnya.
__ADS_1
"Buatlah dirimu nyaman Angela." Andreas berkata. "Aku masih ada sesuatu yang harus di kerjakan." ia bangkit dari duduknya di susul Istrinya.
"Anggap saja rumah sendiri." Marisa tersenyum ramah.
"Kenapa nggak bilang jika mau ke rumah ?" tanya Dave saat pasangan Suami-istri itu tak terlihat.
"Biasanya hari minggu kau hanya di rumah, Sayang. Makanya aku berniat memberimu kejutan dan meminta mengantarkan ku untuk bertemu Kirana." Angela menoleh dan menangkup telapak tangan Kirana yang terpangku dengan buket mawar yang ia beri.
Kirana terperanjat saat tangan hangat Angela memegang tangannya, membuyarkan lamunanya, kemudian mengangkat wajah memandang wanita cantik dengan rambutnya yang terkuncir rapi dengan pita rambut dari satin.
"Aku tak akan menghakimimu, Kirana." suara Angela lembut terdengar. "Aku hanya berdoa, semoga ujianmu menuju hari bahagia ini dapat segera terlewat." ia tersenyum, menambah cantik wajahnya yang bersih dan di poles make up nude dengan sentuhan warna pink coral di kedua pipinya.
Kedua mata cokelat terang Kirana meremang melihatnya. Jantungnya bagai di remas. Bagaimana mungkin dia berpikir untuk merebut Dave dari wanita sebaik ini ? Hati Kirana merana oleh perasaan bersalah, tak tega dan cintanya sendiri.
"Jon pria baik." Angela kembali berkata dengan kedua tangan yang mengengam tangan Kirana lembut. "Bertahun-tahun aku mengikuti karirnya sejak Jon masih menjadi Aktris cilik. Dan sampai kini Jon berkali-kali memenang kan Award, dia tidak pernah sekalipun ada skandal kecuali gosip-gosip murahan yang tak jelas dan hanya ingin mendongkrak popularis aktris lain dengan memanfaat ketenaran Jon." Angela berkata panjang lebar.
Pernyataan jujur tentang perasaan yang ia sembunyikan dan goyah karena melihat air mata gadis yang mengisi relung hati terdalamnya.
"Terimakasih Angela, kau baik sekali." Kirana tersenyum. Mencoba menyembunyikan kekalutan hati, tapi tidak dengan wajah sembabnya.
"Kita akan menjadi saudara, kau boleh bercerita apa pun padaku." ucap Angela prihatin. Mengira kegundahan Kirana karena berita tak mengenakan itu.
"Iya, kita akan menjadi saudara.." Kirana berucap pelan, seolah pada dirinya sendiri.
Dave pikir setelah Kirana berbincang dengan Angela akan merubah keputusannya. Tapi gadis itu memang sama keras kepalanya dengan Sang Ibu dan kuat pendirian seperti Ayahnya.
Beberapa hari kemudian, Kirana dengan di dampingi bodyguard nya yang berjaga di beberapa titik melakukan konferensi pers perihal artikel di media yang memuat foto-foto dirinya dengan seorang pria.
Sebenarnya dia tak pernah suka menunjukan wajah diri pada kalayak seperti ini. Apa lagi untuk hal tak mengenakan seperti ini. Tapi karena Jonathan adalah public figure, maka mau tak mau dia harus melakukannya.
__ADS_1
Sedikit gentar saat melihat banyaknya wartawan dan flas kamera yang mengarah padanya. Seolah mereka semua tengah mengeroyoknya. Beberapa kali di bawah meja Kirana meremas dan melemaskan genggaman tangannya yang dingin dan menghela nafas panjang. Sekedar untuk menenangkan dan memberinya kekuatan.
Apa pun tindakan kita, pasti akan ada resiko. Tapi yang lebih buruk dari itu adalah berdiam diri, pasrah dengan keadaan tanpa mampu berbuat. Kirana tak mau itu, dan tak ingin semuanya bertambah buruk.
"Seperti foto-foto yang beredar. Saya memang sedang memeluk seseorang." Suara Kirana bergetar karena gugup.
Beberapa flas kamera membuat ia memejamkan mata karena silau. Kirana berdehem untuk mengatur intonasinya.
"Tapi itu tidak seperti yang di beritakan. Kami berpelukan karena dia ingin mengucapkan selamat atas rencana pernikahan saya dengan Jon." Kirana berkata.
Beberapa wartawan saling berebut pertanyaan, seperti kenapa harus memeluk ? kenapa di tempat gelap dan sepi ? Tapi Kirana mengabaikan semuanya.
"Kami juga tidak berciuman." Kirana berkata lantang. "Papparazi mengambil sudut yang membuat terlihat seperti berciuman. Tapi itu tidak benar." Kirana menegaskan.
Tiap kali dia berhenti berbicara, para wartawan akan langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang tidak berniat dia jawab.
Di bawah meja, kedua tangan Kirana saling meremas gugup. "Dengan adanya berita ini juga, saya merasa jika tidak pantas bersanding dengan Jon yang baik."
Para watawan makin heboh. Sorot kamera semakin silau dan suara mereka bagai lebah yang membuat telingan Kirana bedengung sakit. Tapi dia telah bertekat.
"Saya dan Jon memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami, maaf." Kirana langsung bangkit berdiri saat Para wartawan mulai mengerbutinya.
Bodyguard-Bodyguard nya dengan sigap melindungi. Kirana sesak di kerubuti banyak orang seperti itu. Berkalai-kali ia hampir jatuh karna terdorong, untung saja bodyguard yang di pekerjakan Ayahnya setia melindungi.
Di depan gedung, Penggemar Jonathan telah menunggu. Mengeluarkan kata makian dan hinaan terhadapnya.
Kirana tak mempedulikan, ia berjalan cepat bersama para bodyguardnya sedang para wartawan terus mengejar.
Mobilnya telah menunggu dan jaraknya hanya tinggal beberapa meter, ketika sebutir telur terlempar dan tepat mengenai kepala Kirana dan mengotori rambut panjangnya dengan lendir dan bau amisnya.
__ADS_1