SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
SUARA HATI


__ADS_3

"Ini hari pertamaku masuk Kampus..." Dave melipat kedua tangannya ke dada, kepalanya menoleh ke arah lain. Ia berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Kirana yang kini berdiri di hadapannya dan menatap penuh tanda tanya dengan kedua bola mata nya yang berwarna cokelat terang.


Dave melirik sebentar ke arahnya, kemudian kembali menoleh kan pandangan ke arah jalan raya yang padat. "Aku tersesat !" ia kembali berkata dengan nada ketus. Tapi sebenarnya ia sedang berusaha menyembunyikan kegugupan dan kepanikannya karena ketahuan mengikuti Gadis itu.


"Oooww...." mulut gadis itu membulat, membuat Dave benar-benar menoleh ke arah nya dan memandangnya. "Kalau begitu, ayo aku antar !" Kirana tersenyum lebar lalu membalikkan badannya dan berjalan lebih dulu dengan langkah panjang-panjang.


"Apa dia benar-benar bodoh sampai percaya begitu saja..??" Dave berkata dalam hati. Meski begitu, di ikuti nya juga langkah kaki Kirana.


Siang semakin terik dengan suara bising kendaraan dan debu jalanan yang berterbangan. Kirana dan Dave berjalan berurutan di trotoar jalan dengan banyaknya anak-anak jalanan yang beristirahat, loper koran dan pedagang asongan.


"Kenapa harus bertemu di saat seperti ini...??" runtuk Kirana dalam hati. Berkali-kali ia merapikan helaian-helaian rambutnya yang menutupi kening dan pipi nya. "Pasti saat ini wajahku juga terlihat kumal..." Sesal Kirana dalam hati.


Berkali-kali ia menyeka keringat di kening dengan punggung tangannya. Lalu mengusap-usap wajanhnya dengan telapak tangannya. Namun tetap saja wajahnya memerah karena terkena sengat sinar matahari.


Di liriknya Dave yang berjalan di belakangnya dan sedang mengambil saputangan di saku celananya untuk kemudian di tutupkan ke mulut dan hidungnya.


Hatinya berdebar-debar. "Jantungku...tenanglah..." Kirana mengerang dalam hati. Di remas-remasnya kaos warna merahnya dengan gelisah.


Tenggorokan Dave seperti ada pasir-pasir kecil saat tadi secara tidak sengaja ia menghirup asap hitam dari kenalpot Bus yang tadi lewat. Ia menyipitkan matanya. Walaupun ia sudah menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Tetap saja hawa panas dari kenalpot kendaraan yang berpadu dengan debu dan bisingnya aktivitas siang hari di pinggir jalan raya itu membuatnya tak nyaman.


"Sudah gila kau ini Dave !" runtuk Dave dalam hati. "Untuk apa kau mengikuti gadis bodoh ini..?? Oh God..." Di pandanginya punggung Kirana dengan kuncir rambutnya yang bergerak seirama dengan langkah kakinya yang penuh semangat.


Meskipun Dave terlihat tenang, tapi percaya lah, dia mati-matian menahan diri untuk tidak mengumpat atas perbuatan bodohnya mengikuti gadis itu.


Ia baru melepas sapu tangan yang membekap mulut dan hidungnya ketika mereka telah masuk ke lubang yang yang ada pada tembok pembatas Kampus.


Kirana dan Dave saling pandang saat mereka telah berada kembali di pinggir lapangan basket.

__ADS_1


Di lihatnya Dave yang mengaruk-ngaruk lengannya yang terdapat bintik-bintik merah. Wajahnya terlihat kesal. Sepertinya badannya menjadi gatal-gatal karena tadi dia melewati rumput ilalang yang tinggi dan tak terawat.


"Memang aku selalu sial kalau bertemu gadis ini !" Ia mengumpat dalam hati. Di garuk-garuknya kedua lengannya secara bergantian dengan kesal.


"Jangan di garuk seperti itu." ragu-ragu Kirana berkata.


Dave mengangkat wajah ke arahnya.


"A, aku...aku bawa salep untuk gatal-gatal..." ia menunduk, membuka resleting tas nya. Tapi sebenarnya Kirana menundukkan dalam-dalam wajahnya lebih karena tidak tahan jika Dave menatapnya.


Dengan tergesa ia mengacak-ngacak isi tasnya sampai ia menemukan tas kecil berbentuk dompet warna putih dengan logo palang merah di tengahnya.


Di perhatikannya Kirana yang akhirnya berhasil menemukan apa yang ia cari, ternyata sebuah dompet putih kecil yang berisi perlengkapan P3K.


"Ini." Kirana menyerahkan salep berbentuk tube kecil bertulis hydrocortisone kepada Dave. "Itu tinggal di oleskan..." Kirana kembali berkata saat Dave masih membaca tulisan kecil-kecil pada tube nya.


"Sok tahu." Dave mencibir dalam hati. Tapi sebisa mungkin ia mempertahankan ekspresi datarnya.


Di lihatnya sebuah bangku sederhana yang biasanya di gunakan anak-anak basket duduk setelah latihan. Dave berjalan ke arah sana dan duduk di bangku tersebut.


Pipi Kirana mengelembung melihat Dave yang berjalan melewatinya begitu saja. "Mana terimakasih mu...?? Dasar muka datar !" Ucap Kirana dalam hati kesal.


Tapi di ikutinya juga lelaki yang memakai tas ransel hitam yang di cangklongkan di bahu sebelah kanannaya itu.


Dave duduk di bangku tersebut di ikuti Kirana. Mereka duduk dengan jarak yang longgar.


Di perhatikannya Dave yang menaruh tas ranselnya di sebelahnya, kemudian mulai membuka tutup tube salep untuk gatal-gatal tersebut.

__ADS_1


"Kenapa tiap kali melihat orang ini aku selalu deg-degan sampai mulas gini..." Kirana berkata dalam hati. Ia duduk dengan sedikit membungkukkan badannya sambil memeluk perutnya.


Di pandanginya sekitar, lapangan bakset itu sepi tidak ada orang. Karena memang terletak dk bagian belakang Kampus dan hanya ramai saat ada latihan atau kompetisi antar Kampus. Meski begitu, Kirana masih bisa mendengar keriuhan suara Para Mahasiwa dari tempatnya duduk sekarang.


"Apa perutmu sakit lagi...?" Suara Dave mengagetkan lamunananya.


Sontak Kirana menegakkan badannya. Kemudian menoleh ke arah Lelaki yang telah selesai mengoles kulitnya yang gatal dan kini menjulurkan tangannya memberikan salep hydrocortisone miliknya.


Lagi-lagi Kirana merasakan wajahnya begitu panas dan dadanya kembali berdebar tak karuan saat mereka kembali bertemu pandang.


"Kau nggak mau menerimanya kembali..??" Dave mengerakkan salep berbentuk tube yang sudah ia sodorkan di hadapan Kirana, namun gadis itu tak kunjung mengambilnya.


Kirana tergagap, ia langsung mengambil salep miliknya dan cepat-cepat memasukkannya kembali ke dalam tas slempangnya sambil menunduk dalam-dalam. Ia malu jika sampai Dave menyadari jika sekarang wajahnya memerah dan terasa panas dengan jantung berdebar saat melihat wajahnya.


"...Terimakasih." Ucap Dave yang membuat mata Kirana membulat dan kembali ia menoleh ke arah Lelaki tersebut.


Mulut Kirana membuka, ia tak percaya melihat kedua alis Dave yang berkerut dengan wajah yang sama merah nya dengan dirinya.


Lelaki itu terlihat begitu kikuk dengan tangan yang berkali-kali merapikan rambutnya yang menutupi kening. Kedua bola matanya bergerak tak fokus. Berkali-kali pula ia menoleh sedikit ke arah Kirana, kemudian menunduk. Menoleh ke arah lain lagi dengan kedua jari-jari tangannya yang saling tertaut dan tak berhenti bergerak.


Kirana tertawa melihatnya, membuat Dave langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau tertawa ?" tanyanya ketus. Ia masih berusaha menghindari tatapan mata berwarna cokelat terang itu. Kendati wajahnya menoleh sepenuhnya ke arah Kirana.


"Aku hanya senang kau bilang terimakasih padaku." jawab Kirana sambil tersenyum lebar.


Dave langsung membuang muka, wajahnya semakin merah. Senyum yang beberapa saat lalu hanya di lihatnya dari kejauhan, kini berada tepat di hadapannya. "Kau sudah gila Dave !" umpat Dave dalam hati. "Kau melakukan tindakan bodoh dengan mengikuti gadis kumal ini, dan sekarang jantung mu berdebar hanya dengan melihat semyumnya...??" Dave tak percaya.

__ADS_1


Mungkin jika saat ini tidak ada Kirana, dia pasti sudah menampar wajahnya sendiri untuk membuatnya sadar.


__ADS_2