
"Lihat, Tuan Muda Dave senyum-senyum sendiri..." bisik seorang Pelayan wanita kepada rekannya yang sedang sibuk memasukan baju dan keperluan Dave ke dalam koper besar.
Rekannya itu menoleh diam-diam ke arah Tuan Mudanya yang sedang duduk santai di atas ranjang kamarnya sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Eh...kalung siapa itu yang di pegang Tuan Muda...?" Rekannya itu berbisik penuh rasa ingin tahu saat melihat Dave yang tersenyum sambil mengamati kalung yang ia pegang dan terjulur di depan matanya.
"Siapa lagi kalau bukan milik Nona Angela." si Pelayan kembali berkata pelan agar Tuan Muda nya itu tidak tahu jika dari tadi sedang di amati.
"Benar juga." Rekannya tersenyum sambil menutup mulutnya.
Kembali mereka berkonsentrasi pada pekerjaannya melipat dan memasukan baju-baju milik Dave ke dalam koper besar setelah sebelum nya tadi, Dave sudah memilih baju-baju mana saja yang akan ia gunakan selama tinggal di Rumah Ayahnya.
Kamar tidur Dave luas dan jarak 2 Pelayan wanita itu lumayan jauh dari Dave yang tengah tiduran di ranjang nya. Sampai Lelaki berusia 19 tahun yang kali ini hanya memakai celana pendek warna merah maron dan kaos abu muda itu tidak begitu memperhatikan, jika 2 Pelayannya tersebut tengah asik membicarakannya.
"Beruntungnya Nona Angela bisa bertunangan dengan Tuan Muda kita yang ganteng dan baik itu." kembali si Pelayan itu berkata pelan sambil melirik ke arah Dave. Sementara tangannya sibuk melipat baju-baju milik Dave, yang di tumpuk begitu saja oleh yang Punya tadi.
"Nona Angela sangat baik, sangat serasi dengan Tuan Muda." Rekannya yang berusia lebih tua itu berkata pelan sambil menata baju yang telah di lipat ke dalam kopor agar muat banyak. "Aku berharap, jika nanti Tuan Muda benar menikah dengan Nona Angela. Pernikahan Tuan Muda akan bahagia, tidak seperti orang tua nya." lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
"Aku belum pernah bertemu langsung dengan orang tua Tuan Muda." si Pelayan itu berkata agak keras, yang langsung cepat-cepat di tutup mulutnya tersebut sambil melirik ke arah Dave yang masih fokus memperhatikan kalung yang berada di tangannya.
"Kau ini..." Rekannya mendesis dengan ekspresi marah.
Pelayan tersebut tersenyum meminta pengertian Rekannya bahwa dia tadi kelepasan bicara.
"Dulu orang tua Tuan Muda juga di jodohkan." Rekannya itu berbisik. "Tapi malang, Ayah Tuan Muda selingkuh dengan wanita lain."
Mata Pelayan itu membelalak, ia menutup mulutnya tak percaya. " Tapi Nyonya Eva itu cantik sekali, aku lihat fotonya. Jadi bagaimana mungkin...??" ia tak percaya. Di bungkukkan punggungnya dan di kecilkan volume suaranya agar Dave tak mendengar.
"Entah bagaimana cerita aslinya, aku sendiri juga cuma di beri tahu oleh Ibu ku yang sudah mengabdi pada Keluarga ini selama bertahun-tahun sampai beliau meninggal." Rekannya berkata. "Yang jelas Nyonya Eva begitu sedih dan sakit hati sampai beliau menetap di Paris selama bertahun-tahun dan tidak mau pulang."
__ADS_1
"Malangnya..." Ucap Pelayan wanita itu dengan ekspresi memelas.
"Lebih malang lagi, Ayah Tuan Muda menikah dengan Selingkuhannya itu." Rekannya itu terlihat gemas saat bercerita, tapi tetap nada suaranya di rendahkan agar Dave yang sedang tiduran di tempat tidur tak mendengar.
"Pantas saja Tuan Besar begitu marah saat Tuan Muda ingin tinggal dengan Ayahnya itu." si Pelayan berkata.
"Sudah di larang pun, tapi Tuan Muda tetap bersikeras." Rekannya itu berkata. "Aku yakin, kemarin Tuan Muda sampai mau memasak untuk merayu Tuan Besar agar mengijinkannya tinggal dengan Ayahnya yang...ugh..emosi sekali aku dengan Lelaki yang meninggalkan istri dan anaknya untuk wanita lain." Kening Rekannya itu berkerut penuh ketidaksukaan.
"Kasihan sekali Tuan Muda..." raut wajah si Pelayan terlihat sedih. Ia melihat ke arah Dave yang masih saja asik memainkan kalung berbandul cincin itu.
"Cukup Pernikahan orang tua Tuan Muda saja yang berakhir pahit." Rekannya kembali berkata sambil ikut memandangi Dave dari kejauhan " Tuan muda kita sangat baik dan ramah, semoga Tuan muda bisa tetap tersenyum seperti itu saat nanti beliau menikah dengan Nona Angela." ucapnya saat melihat Dave yang kembali tersenyum sambil memandangi kalung yang ia pegang.
"Dasar gadis ceroboh." Dave tersenyum geli membayangkan Kirana yang tentu saat ini sangat panik mencari kalungnya tersebut.
Ia begitu asik mengamati kalung dari emas putih dengan cincin berlian utuh nya itu. Sampai ia tidak sadar jika dari tadi, 2 Pelayan yang duduk di lantai berlapis karpet bulu warna hitam dengan setumpuk baju-bajunya yang ia taruh ke dalam wadah plastik tadi, tengah memperhatikannya dari jauh.
"Tapi...Kenapa insialnya A...?" tanya Dave dalam hati. Di amatinya ukiran huruf kecil-kecil pada lingkar bagian dalam dari cincin yang di jadikan bandul kalung tersebut. "A for A forever..." kembali ia membaca kalimat singkat yang terdapat pada lingkar bagian dalam dari cincin tersebut. "Bukannya namanya itu Kirana yaa...??" Dave bertanya dalam hati, kedua alisnya saling tertaut penuh rasa ingin tahu. "Tapi...for A..??" kembali ia bertanya dalam hati.
Mengingat Lelaki dengan penutup wajah yang mengaku sebagai Tunangan Kirana yang ia temui beberapa hari lalu itu membuat wajah Dave lesu. Ia menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Tiba-tiba ia kembali menegakkan punggungnya. "Memang kenapa kalau dia sudah punya tunangan ?!" tanya Dave dengan suara keras.
Sontak kedua Pelayan yang duduk di pojokan kaget dan bangkit berdiri.
"Ada apa Tuan Muda ??" tanya mereka panik sambil berjalan cepat ke arahnya.
Dave terkejut, ia lupa jika di dalam kamarnya ada 2 Pelayan yang sedang membantu menata baju-bajunya. Seketika wajahnya merah padam.
"Tuan Muda ??" tanya salah satu Pelayan itu lagi.
__ADS_1
Di pandanginya 2 Pelayannya yang melihatnya dengan wajah khawatir.
"Gadis sial...!" umpat Dave dalam hati. Ia memalingkan wajahnya sesaat. Berdehen beberaoa kali, sebelum kembali memandang kedua Pelayannya yang kini sudah berdiri tidak jauh dari ranjang king size nya. "Kalian keluar lah, aku mau tidur." Dave berkata setelah bisa menguasai diri.
"Tapi...baju-baju Tuan Muda..."
"Lanjutkan nanti saja !" Dave berkata dengan nada agak tinggi.
Kedua Pelayan itu saling pandang, sebelum kemudian mereka menunduk permisi.
Dave langsung menghela nafas panjang ketika 2 Pelayan tadi sudah keluar dan menutup pintu kamarnya.
Di usap wajah nya dengan kedua tangannya kesal. Di rebahkan dirinya pada ranjang, matanya memandang langit-langit kamarnya dengan kedua alisnya yang salit bertaut.
"Untuk apa aku repot-repot memikirkan mu ??" ucap Dave seolah ada Kirana di situ. "Sudah gila aku !" ia mengumpat lagi.
Di usap lagi rambutnya ke belakang, memperlihatkan keningnya yang lebar dengan alis hitam nya yang berkerut.
Kembali di pandanginya kalung emas putih dengan bandul cincinya yang berayun di atas wajahnya.
"Sampai mati nggak akan aku kembalikan, dasar bodoh !" ucapnya seorang diri.
Sementara itu di Rumah Keluarga Marthadinata. Ruang tidur Kirana sudah seperti habis tergunjang gempa, begitu berantakan dengan barang-barang yang berhamburan tidak pada tempatnya.
"Kemana yaa...?? kemana...??" ia berkata dengan wajah gusar. Di keluarkannya semua barang-barang dari dalam laci meja riasnya, dan di jatuh kan begitu saja ke lantai yang sudah berantakan dengan berbagai barang yang berhamburan. Tapi yang ia cari tetap tak kunjung ketemu.
Ia terduduk di kursi dengan putus asa, di pandangi kamar nya yang sangat berantakan. Sudah hampir 1 jam ia mengobrak-abrik isi kamarnya tersebut, tapi kalung yang selalu ia pakai sejak kecil itu belum juga ketemu.
Mata sipit cokelat terangnya itu mulai berkaca-kaca. "Kalau hilang beneran gimana...??" ia berucap dengan tangan kananny yang meraba lehernya, tempat di mana biasanya ia memainkan bandul nya yang berupa cincin pernikaha milik Mendiang Kakek dan Neneknya.
__ADS_1
Air mata Kirana mulai jatuh, ia takut kehilangan benda kesayangannya itu. "Iibbuuuu....!" tangisnya keras-keras.