
Matahari naik semakin tinggi membiaskan sinar-sinar nya menerobos jendela runag perawaran di mana Kirana sedang duduk bersila di atas tempat tidur dengan menu sarapan komplit di yang di tarauh di atas meja khusus pasien rumah sakit.
"Kenapa cuma di lihat ?" Jonathan yang duduk di samping ranjang bertanya sambil mengigit sandwich yang tadi ia beli di Kantin Rumah sakit.
Kirana terdiam, sejak ia di temukan pingsan di makam Rendy, ia memang menjadi lebih pendiam dan tiba-tiba saja selera makannya yang seperti Kuli hilang entah ke mana.
"Kau masih syok kalau ternyata si Dave itu bukan anak Daddy mu ?" tanya Jonathan lagi setelah dia dengan cepat menghabiskan roti berbentuk segitiga dengan isian sayur dan potongan beef tersebut lalu meminum air mineral langsung dari botol nya.
Kirana mengkerutkan bibirnya, tapi pandangannya masih tertunduk menatap kosong pada nampan berisi penuh sarapannya tersebut.
"Dari awal aku sudah mendunganya sih, kalian nggak ada mirip-miripnya." Jonathan berkata.
"...Aku...hanya kaget.." akhirnya Kirana berucap, ia menoleh ke arah Jonathan di sebelahnya. "Kenapa aku sama sekali nggak mengingat kalau Om Rendy yang menyelamatkanku dari peristiwa penembakan itu ?" tanya Kirana dengan kening berkerut memandang Jonathan. "Dan Dave...anak Om Rendy..??" ia tak percaya. "Seingatku Om Rendy itu nggak menikah, bagaimana mungkin punya anak ? Dan kenapa harus Daddy yang mengakuinya sebagai anak ? Lalu Ibu, kenapa diam saja dan malah sepertinya sudah tahu dan mendukung ??" Kirana tak habis pikir.
"...Mereka pasti punya alasan kenapa berbuat seperti itu." ucap Jonathan. "Bukankah Oba-san berjanji akan memberintahu semua nya kalau si Dave itu sudah sadar ?"
Mata Kirana langsung membulat. "Bagaimana keadaan Dave ?" tanya nya cepat.
Kening Jonathan berkerut. "Kenapa ? kau mengkhawatirkannya...?" kata Jonathan acuh.
Kirana tergagap. "Di, dia kecelakaan...tentu saja aku khawatir." Kirana berkata sambil memalingkan muka, menunduk kemudian mengambil sendok dan mulai makan dengan perasaan risau.
"Aku pikir hubungan kalian nggak begitu baik, ternyata kau khawatir juga dengannya." Jonathan melipat kedua tanganny di dada sambil menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki.
"...Kalau dia benar anak Om Rendy bukannya aku berhutang nyawa Ayahnya." Kirana berucap tanpa menoleh setelah tadi ia hanya diam dan tetap makan dengan tenang. Sikap yang tidak biasa untuk Kirana yang banyak bicara dan tidak bisa diam, bahkan ketika makan sekalipun.
"Kenapa seolah kau yang salah ?" Jonathan tak mengerti. "Aku pikir Rendy-san melakukan itu karena beliau orang baik, dan itu nggak ada hubungannya dengan si Dave yang mungkin bahkan dia nggak kenal dengan Rendy-san."
Kirana hanya diam sambil tetap menyendokkan makanan ke mulutnya pelan.
__ADS_1
Jonathan menghela nafas panjang.
"Siang ini aku ada pemotretan untuk majalah, kau mau ikut ?" tanya nya.
"Nggak mau." jawab Kirana tanpa berpikir.
"Setelahnya kita bisa jalan-jalan, makan apa pun yang kau mau." lanjut Jonathan masih berusaha.
Kirana diam, berpikir.
"Ayolah...klo kau sampai nggak ingat itu bukan salahmu kan ?" Jonathan kembali berkata. "Orang kalau sudah saatnya meninggal pasti akan meninggal juga, dan kebetulan saja Rendy-san meninggal karena menyelamatkanmu."
"Kenapa bicara seolah ini hal yang wajar ?" Kirana memandang Jonathan marah. "Kau nggak tahu kagetnya aku saat ingat kejadian itu !"
"NAH !" Jonathan berkata cepat dan keras, membuat Kirana terkejut. "Mungkin pada saat itu kau yang berusia 3 tahun sangat kaget dan mungkin sempat depresi karena peristiwa penembakan itu, makannya oleh Oji-san dan Oba-san kau di buat untuk lupa."
"Tapi..."
Kirana terdiam tak berkata apapun, hatinya gamang.
"Sudahlah...ikut aku, ya..?" rayu nya. "Aku ijin nanti dengan Oji-san, sepertinya beliau masih di rumah sakit menunggu si Dave itu." ia berucap.
Mendengar nama Dave, lagi-lagi pikiran Kirana bercabang. Ia yang masih kaget tentang Om nya yang sampai berkorban nyawa untuk menyelamatkannya ketika kecil, dan rasa khawatirnya tentang keselamatan Dave.
"Dia sudah berkata kasar pada mu." ucapan Jonthan membuyarkan lamunan Kirana, membuat gadis itu menoleh ke arah nya. "Membuat Keluarga kalian nyaris tercerai-berai, untungnya hal yang dia ucapkan hanya di dasari kebohongan."
Kirana hanya diam mendengarnya. Ia tertunduk, tiap kali ingat wajah Dave selalu dadanya ini berdetak lebih kencang, membuat tak nyaman.
Tiba-tiba suara ketukan pintu di lanjut suara pintu terbuka terdengar, membuat baik Jonathan maupun Kirana menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Kau sudah tidak apa-apa Kirana ?" Ayahnya dengan wajah lelah dan lingkar di bawah mata masuk bersamaan dengan Ibu nya.
Jonathan langsung bangkit dari duduknya, di gantikan oleh Andreas yang langsung memeluk putrinya dengan sayang.
Kirana bisa menciun aroma maskulin segar yang selalu tercium tiap kali Ayahnya itu memeluknaya, aroma wangi yang selalu membuatnya tenang tiap kali ia bisa menyandarkan kepalanya di bahu Lelaki yang menjadi cinta pertamanya sebagai seorang anak itu.
"Kenapa main kabur-kaburan ?" tanya Andreas sambil mengamati wajah putrinya yang mau sebesar apa pun ia tumbuh, ia tetap gadis kecil kesayangannya.
Marisa duduk agak jauh dari ranjang, sebelum Jonathan minta ijin padanya untuk pulang ke Apartemennya sebentar untuk mandi dan berganti baju.
Ia juga meminta ijin untuk nanti bisa pergi bersama Kirana menemaninya pemotretan.
"Iya, ajak saja dia." marisa mengijinkan. "Buat dia lupa tentang masalah ini, buat dia tersenyum dan mau makan banyak lagi." ia tersenyum lebar, bermaksud untuk mencairkan perasaan tidak enak karena Jonathan yang jadi tahu rahasia Keluarga mereka.
"Tentu saja." jonathan terkekeh, sebelum ia membuka pintu dan keluar dari ruangan.
"...Aku merasa bersalah dengan Om Rendy..." air mata Kirana membayang di pelupuk mata, membuat mata nya yang berwarna cokelat terang malah semakin indah.
"Kenapa merasa bersalah...?" Andreas duduk di pinggir ranjang sambil mengelus rambut panjag Kirana yang kusut.
"Om Rendy meninggal gara-gara aku." tangis nya yang langsung kembali di peluk Ayahnya. "Aku sama sekali nggak ingat.." ia terisak dengan posisi kepalanya yang berada di dada Ayahnya dengan kedua lengannya yang melingkar di pinggang.
"Daddy dan Ibu memang sengaja membuat mu lupa." ucap Ayahnya yang langsung membuat Kirana melepas pelukanny dan menatap wajah Ayahnya.
"Kenapa...?" kedua alis Kirana saling tertaut dengan wajah yang sembab.
"Pasca kejadian kau demam tinggi dan terus mengiggau memanggil Om Rendy." Andreas memberi pengertian. "Sudah berbagai macam Dokter dan obat yang kau minum, tapi panasmu tidak turun-turun dan semakin hari igauanmu semakin parah Kirana." ia meletakkan tangannya pada pundak Putrinya.
"Ibu khawatir dan akhirnya setelah seminggu, ada seorang Dokter ahli hipnoterapi yang dengan terapi secara berkala bisa membuat mu lupa tentang hal itu." Marisa ikut berbicara sambil duduk di samping ranjang bersama Suaminya.
__ADS_1
Kirana terdiam, ia masih mencoba menerima penjelasan dari kedua orang tuanya yang memang terdengar masuk akal, sebelum kemudian ia teringat akan Dave.