SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KITA


__ADS_3

Di lihatnya dari kejauhan Kirana yang telah jatuh tersungkur dengan dagu yang mengesek jalanan berpaving. Tanpa berpikir Dave segera berlari ke arahnya.


"Kau itu punya mata cuma untuk hiasan yaa...??" Dave berkata sambil menarik 1 tangan Kirana.


Alih-alih membantu Gadis itu berdiri, itu hanya membuat lengan Kirana sakit karena hanya 1 tangannya yang di tarik Dave dalam posisi ia yang masih jatuh tersungkur.


Kirana bangkit berdiri dan mengibaskan tangannya kesal. "Sakit tahu !" ucap nya sambil memandang Dave marah.


Mata Dave membulat saat Kirana menoleh ke arahnya." Hei...dagu mu berdarah...!" tunjuknya pada dagu Kirana yang lecet dan mengeluarkan sedikit darah.


Awalnya Kirana tak mengerti maksud Dave, tapi saat ia meraba dagu nya dan terasa perih, baru lah dia paham.


"Enggak apa-apa, ini cuma lecet." Kirana menjawab santai.


Ia kembali berbalik arah dan ingin pergi, tapi Dave segera meraih lengannya.


"Kau harus mengobatinya." ucap Dave dengan wajah khawatir.


Sesaat kembali debaran di dada Kirana terasa saat mereka saling pandang dari jarak tidak kurang dari 3 jengkal tangan. Namun rasa kesal karena kata-kata Dave membuat Kirana mengabaikannya.


"Luka seperti ini pakai ludah juga sembuh kok." kata Kirana membuat mata Dave membulat tak percaya.


"A, apa kau bilang...??" Dave tak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Pakai ludah." Kirana mengulang omongannya dan menekankan pada kata ludah.


Dave masih memandang Kirana tak paham.


"Seperti ini nih." ia menjulurkan lidahnya dan mengusap dengan telapak tangannya, kemudian mengusapkannya pada luka lecet di dagu nya.


Ekspresi Dave seketika menjadi jijik. "Kau ini wanita, tapi jorok sekali. Apa kau tak punya malu hah..?!" ucapnya tak habis pikir.


"Malu ku sudah hilang setelah tahu kau orang picik yang nggak punya rasa kasihan !" Kirana mengumpat dalam hati sambil memandang Dave sengit.

__ADS_1


"Untuk apa kau membawa P3K, kalau kau mengunakan..." Dave memutus kalimatnya, wajahnya menunjukkan ekspresi mual saat mengingat Kirana tadi yang mengusap luka lecetnya dengan ludah.


"Aku membawanya karena Ibu ku yang menyuruh, tapi nggak pernah aku gunakan tuh !" Kirana berkata dengan nada sombong.


Mendengar kata Ibu, Dave langsung teringat akan Mommy nya. Di tatapnya gadis berkuncir dengan luka lecet tergesek paving ketika ia jatuh tadi.


Melihat Dave yang tiba-tiba diam dan menatapnya tak berkedip, membuat Kirana kembali salah tingkah. Namun ia masih bisa menyembunyikannya dengan apik.


Ia baru akan berbalik pergi meninggalkan lelaki dengan ruam di kedua lengannya itu kalau saja ia tidak mendengar Dave berbicara.


"...Lebih baik kau pakai obat-obatan yang sudah di siapkan Ibu mu itu." ucapnya perlahan. Mata hitam nya kembali menatap Kirana dengan rambut nya yang tertiup angin. Membuat rambut Dave yang awalnya hanya menutupi sebagian keningnya, kini menjadi seperti poni.


Kirana tertegun, sejak awal bertemu Dave. Ia selalu merasa jika ada yang lain dari diri lelaki itu. Sesuatu yang membuat dadanya berdebar lebih kencang, bahkan sampai bisa membuat ia menangis hanya karena Dave mengatainya kumal.


Segala sesuatu yang berhubungan dengan Dave, pasti membuat Kirana tak tenang karena wajahnya yang pasti memerah dan jantungnya yang serasa melompat keluar.


Kali ini pun tanpa sadar Kirana sudah memegangi dadanya dengan kedua tangannya saat ia melihat ekspresi wajah Dave yang berubah muram. Kirana tidak tahu, tapi mata hitam Dave yang melihatnya saat ini membuat hati Kirana perih. Seolah Kirana tahu jika saat ini Dave tengah bersedih akan sesuatu.


"...Ibu mu...sampai menyiapkan P3K seperti itu, pasti karena khawatir denganmu." lambat-lambat Dave berkata.


"....Kau beruntung mempunyai orang tua yang memperhatikanmu." Dave kembali berkata.


Ia teringat akan kedua orang tua nya yang sudah berpisah. Membuat ia dari kecil tak pernah merasakan kasih sayang dari sebuah Keluarga yang utuh dan harmonis.


Jangankan untuk di perhatikan sampai hal-hal membawakan kotak P3K seperti Kirana. Hal lumrah seperti makan bersama saja sangat jarang Dave lakukan bersama orang tuanya.


Maklum saja, meskipun ia tinggal bersama Ibunya, tapi dari kecil segala keperluan Dave Babysitter yang menangani.


Ibu nya lebih sering mengurung diri di dalam kamar dari pada bermain atau menemaninya belajar.


Di malam-malam tertentu, saat Dave kecil ingin tidur dengan merasakan hangat dekapan seorang Ibu pun ia tidak bisa. Dulu ia hanya bisa mematung di depan pintu kamar Ibu nya yang sedikit ia buka. Ia tidak berani masuk ke kamar di mana suara tangis Ibu nya terdengar begitu menyayat.


Tangis yang membuat anak kecil itu akhirnya hanya bisa menutup pintu kamar Ibu nya dan kembali ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Dave menundukkan wajahnya, "Kenapa di saat seperti ini aku malah mengingat hal-hal seperti itu...??" ucapnya dalam hati.


Ia baru saja akan menyisir rambutnya kebelakang, saat kedua tangan Kirana sudah terjulur memegang kedua pipinya. Membuat mata Dave membulat dan mengangkat wajahnya memandangn Kirana.


"Apa yang aku lakukan ?!" Kirana langsung menarik kedua tangannya begitu Dave mengangkat wajahnya.


Muka Kirana memerah. "Ma, maaf !" Ucapnya gagap. Ia kebingungan, kenapa tadi kedua tangannya dengan lancang langsung terjulur begitu saja memegangi kedua pipi Dave.


Dave masih menatap tak bergeming. Kirana mundur beberapa langkah, ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Beberapa kali bibirnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kembali menutup. Sampai akhirnya gadis itu langsung berbalik arah dan berlari begitu saja meninggalkan Dave yang masih saja terpaku di tempatnya.


"Apa yang kau lakukan Kiranaa...?? Kenapa kau memegang pipinya..??" Runtuk Kirana dalam hati sambil terus berlari menjauh dari lapangan basket yang berada di bagian belakang Kampus.


Wajahnya begitu merah dengan jantung yang serasa melompat keluar. Ia tak peduli dengan dengkul kakinya yang terasa nyeri tiap kali ia berlari, yang saat ini memenuhi pikirannya hanya wajah Dave. Wajah lelaki itu yang begitu terkejut saat tangan kurang ajarnya ini dengan berani memegang kedua pipi nya.


"Kiranaaaa...kali ini tindakan bodoh mu benar-benar nggak ada obat !" ia mengerang dalam hati, jengkel dengan perbuatannya sendiri.


Dave terduduk ke tanah sambil menutupi wajahnya yang tertunduk dalam-dalam. Mata hitamnya bergerak-gerak menatap tanah berlapis paving yang menutupi seluruh area di dekat lapangan bakset itu.


"Gadis sial..." ucapnya sambil meremas kaos pada bagian dadanya dengan tangannya yang lain. Posisinya masih duduk sambil membungkukkan badannya dengan wajah yang ia tutupi dengan tangan.


Untungnya di situ tidak ada orang, jika tidak. Pasti Dave di anggap sedang sakit dan mesti mendapat pertolongan karena ia yang duduk di tengah-tengah jalanan berpaving dengan matahari di atas kepalanya.


Hangat tangan Kirana yang memegang kedua pipinya masih ia rasa. Kedua bola mata cokelat terangnya yang menatapnya dengan binar ketulusan, sebelum kemudian membulat terkejut di barengi Kirana yang menarik kedua tangannya masih begitu jelas terrekam dalam ingatan.


Berkali-kali Dave menghirup dan menghela nafas untuk menenagkan diri.


"Ini konyol." Ia berkata dalam hati sambil mendongkakkan wajahny melihat langit berawan dengan sinar matahari nya yang terik.


Sesaat setelah ia bisa meredam perasaan aneh yang menyelimuti dirinya sendiri. Dave membenarkan letak cangklongan tas ransel nya pada bahu sebelah kanan, lalu mulai bangkit berdiri dengan bertumpu pada tangan kirinya.


Dave kaget ketika tangan kiri nya yang ia buat sebagai tumpuan itu mengenai sesuatu. Sebuah kalung emas putih dengan hiasan cincin bermata berlian utuh yang tampak berkilau terkena cahaya siang.

__ADS_1


" A for A forever....??" Dave memicing kan matanya membaca tulisan kecil-kecil pada lingkaran bagian dalam dari cincin yang di gunakan sebagai hiasan kalung itu.


__ADS_2