
"Kenapa Nenek ada di Dapur...?" tanya nya kaget sambil mematikan kompor. Ia memberi kode kepada seorang Pelayan wanita yang berdiri di pojok agar mengantikannya.
Dengan segera si Pelayan berjalan mendekatinya sambil menunduk.
"Tolong kau haluskan ini." tunjuk Dave pada potongan cabai merah, bawang putih, bawang merah beserta kencur dan terasi yang sebelumnya tadi telah ia goreng.
"Iya Tuan Muda." si Pelayan menunduk patuh
"Jangan lupa daun jeruk nya harus benar-benar sudah halus sebelum kau mencampur gula jawa nya." ia mengingatkan.
"Saya akan mengingatnya Tuan Muda." Pelayan itu berkata tanpa mengangkat wajahnya.
"Tempennya sudah aku goreng, setelah sambalnya siap kau tinggal mencampur tempe itu dan ********** bersama sambal tadi." Kembali Dave menberi intruksi, sementara Erika menunggu di situ sambil tersenyum dan memperhatikannya.
Untuk beberapa saat Dave masih berbicara tentang garam dan bumbu penyedap sebelum akhirnya Laki-laki berusia 19 tahun itu mencuci tangannya di wastafel dan berjalan ke arah Neneknya.
"Nenek menganggu mu...?" Erika tersenyum sambil mengandeng lengan Dave.
"Tidak, hanya tinggal membuat sambal tempe tadi." Dave berucap sambil memandangi wanita berusia 80 tahun yang tingginya hanya sedadanya itu. "Kakek paling suka sambal tempe dengan banyak daun jeruk, dan aku khawatir Pelayan tadi tidak benar-benar bisa menghaluskannya secara manual dengan menggunakan cobek." lanjutnya.
Erika tertawa geli mendengarnya. "Kau sampai memasak semua makanan favorite Kakek mu, apa kau ingin merayu nya Dave..?" Erika berkata.
Dave langsung menunduk dengan wajah memerah dan mengulung bibirnya kedalam.
Senyum Erika bertambah lebar melihat nya. Ia tahu sebenarnya Cucu nya itu type anak yang pendiam dan pemalu. Keadaan lah yang menuntut dia untuk menjadi Dave yang sekarang.
Masih di ingatnya dulu, betapa kikuknya Dave ketika pertama kali Suaminya mengajak ke Perjamuan para Pengusahan. Bagaimana ia hanya menunduk dan tersenyum kaku tiap kali rekan-rekan Kakeknya itu memuji dan berusaha menjilat nya.
Tapi kini, Cucu nya itu telah pandai bersikap. Ia tumbuh menjadi Pemuda gagah yang menawan siapa saja dengan fisik rupawan, kekayaan berlimpah, kecerdasan akademis. Dan meskipun ia selalu irit bicara di mana pun, tapi justru itu yang membuatnya lebih menarik.
Hertoni hanya menoleh sebentar saat melihat Dave dan Istrinya sampai di meja makan. Para Pelayan dengan sigap menarik kan kursi untuk Para Majikannya duduk.
__ADS_1
Sampai sambal tempe yang tadi di buat Dave di antar oleh seorang Pelayan di hidangkan di meja makan, Hertoni masih tak menyapa atau berkata apa pun pada Cucu yang duduk berhadapnya dengannya dan hanya di pisahkan oleh meja makan itu.
Beberapa kali Dave melihat ke arah Kakeknya, namun ia tak berkata apa pun. Erika yang duduk di samping Suaminya diam-diam menatap Dave, dan memberi insyarat agar ia meyapa nya.
Namun Dave hanya menunduk sambil menelan ludah. Membuat wanita berusia 80 tahun dengan rambut nya yang di cat warna pirang terang itu kesal dengan sikap gengsi kedua nya.
Mereka sarapan dengan tenang. Mata Dave membulat saat Kakeknya itu menambah sayur asam sampai 2 kali dengan hanya sambal tempe. Padahal di situ Dave juga memasakan menu lain seperti Ayam goreng dan sapi lada hitam. Tapi memang menu favorite Hertoni dari dulu memang hanya sayur asam dan tempe goreng. Iya, sesederhana itu menu yang menjadi kegemaran Pemilik Jaringan Bisnis Sanjaya Company.
"Padahal Dave sudah jarang sekali memasak, tapi rasa masakannya tetap tidak berubah ya, Sayang...?" Erika membuka obrolan setelah ia selesai dengan makannya dan meletakkan sendok dan garpu dengan posisi terbalik di piring bekas makannya.
"....Ya." Hertoni menjawab singkat setelah tadi ia sempat terdiam beberapa saat.
Dave yang melihat reaksi Kakeknya hanya diam dan menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya, sebelum ia meletakkan sendok dan garpunya dalam posisi terbalik dan mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Ya apa...?" Erika mengerutkan keningnya. "Dave bangun lebih pagi dari kita, dia juga sudah capek-capek memasakan menu favorite mu. Dan kau hanya bilang Ya...?" Erika pura-pura marah.
Hertoni tak acuh dengan omelan Istrinya, di ambilnya gelas kaca berisi air putih lalu di minumnya sampai hampir habis.
"....Kau ingin apa Dave ?" tanya Hertoni yang membuat wajah Dave langsung terangkat ke arahnya.
Rupanya tidak hanya Erika yang merasa Dave ingin meminta sesuatu. Mungkin karena mereka sangat mengenal karakter Cucu nya tersebut, yang tidak akan mungkin mau repot-repot memasakan kan seseorang jika bukan karena ia sendiri yang mau.
Karena percaya lah, Dave itu unik. Umumnya jika masakan kita di makan dan di puji enak, tentu kita akan merasa senang. Sebaliknya, Dave tidak suka jika sembarang orang memakan masakannya. Lebih baik masakan yang ia buat itu di buang ke tempat sampah dari pada di makan oleh orang yang tidak ia kehendaki. Itu pula lah yang membuat Dave sangat jarang sekali melakukan hobi nya itu, kendati ia menyukai kegiatan memasak.
Hertoni masih memandangi wajah Cucu nya yang bagimana pun ia menyembunyikan kegelisahannya, tapi tetap tergambar jelas di wajah tampan nya.
"Kau tahu waktu ku tak banyak Dave.." kembali Hertoni berkata sambil melihat sekilas jam tangannya.
Dave kembali mengangkat wajahnya, sementara kedua tangannya di bawah meja makan saling mengenggam dengan gelisah.
"....Kakek..." Dave berkata perlahan. Ia takut Kakeknya akan marah dan tidak mengabulkan keinginanya. Di pandangi Kakek dan Neneknya yang duduk bersebelahan di seberang meja. "...Boleh...aku tinggal di rumah Dad...??" tanya Dave membuat kedua orang tua itu terkejut.
__ADS_1
"Apa kau bilang...??" Hertoni tak yakin dengan apa yang di dengarnya.
Istrinya langsung memegangi lengannya, menyuruhnya agar bersabar.
"Untuk apa Dave...?" kali ini Nenekny yang bertanya. "Selama ini kau tinggal dengan kami, kenapa tiba-tiba kau ingin tinggal di sana...?"
Di pandanginya raut wajah Kakeknya yang telah mengelap, dan wajah Neneknya yang terlihat khawatir.
Dave menunduk, bagaimana pun Kakek dan Neneknya adalah pengganti orang tua yang telah merawat dan mendidiknya selama ini. Dave menghormati mereka dan berusaha untuk selalu menyenangkan hati kedua nya. Tapi keinginan untuk dekat dengan Ayahnya begitu besar.
"...Aku...aku hanya ingin sekali-kali bisa seperti anak lain yang bisa tinggal bersama Ayahnya..." ucap Dave sambil menunduk dengan raut wajah sedih.
Sementara itu di sebuah area Pemakaman mewah dengan tulisan besar dari batu alam bertulis, Memorial Hill.
Kirana di temani Shopie berjalan beriringan melewati jalan setapak yang membelah rumput jepang terawat dengan pohon cemara pensil di pinggir-pinggirnya.
"Kenapa mesti hari ini sih...??" keluh Shopie. Ia berhenti berjalan, membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu ke lutut. "Hari ini diskon terakhir brand make up favorite ku..." Wajah Shopie mewek.
"Ya sudah sana pulang !" ucap gadis yang kali ini pun hanya memakai kemeja kebesaran dengan rambut panjangnya yang di kuncir sembarangan ketus.
"Sudah sampai sini kau bilang gitu, tadi maksa buat di temani. " Shopie memonyongkan bibirnya, membuat Kirana tertawa terpingkal.
Mereka terus berjalan menanjak dengan nafas sedikit ngos-ngosan karena area Pemakaman itu memang terketak di atas bukit. Dan meskipun hari masih pagi, tetap saja dengan letak parkir yang jauh di bawah, mereka harus berjalan cukup jauh untuk sampai di area makamnya.
"Ngomong-ngomong...kenapa mesti selalu tanggal 6 Maret sih..?" tanya Shopie saat mereka sudah sampai di atas.
Pemandangan di situ sangat indah dan teduh dengan rumput yang hijau dan Pohon-pohon kamboja yang beberapa mengugurkan bunga-bunganya ke atas makam. Yang meskipun makan tersebut tidak di jenguk oleh Keluarga, tapi selalu ada bunga segar dari Pohon kamboja di atasnya.
"Mana aku tahu." Kirana mengusap keringat di kening dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa keranjang penuh bunga. "Tapi berkali-kali Ibu selalu mengingatkan kalau tanggal 6 Maret aku nggak boleh lupa ke makam Opa dan Om Rendy." Kirana menerangkan.
Shopie terdiam seperti sedang mengingat sesuatu."...Jadi ingat waktu Opa meninggal, kau menangis sampai seperti itu." Shopie melirik ke arah sahabatnya yang kini sudah menunduk sedih saat melihat 3 makam berjajar di depannya.
__ADS_1