SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
SEORANG AYAH


__ADS_3

"Waah..siapa ini yang bertamu di hari minggu ?" Andreas pura-pura ramah saat melihat pria seusia dirinya telah duduk di kursi ruang tamu.


Ia dan Adriansyah memang tak pernah akrab. Sifat kolot yang nyaris sama dan pernah cekcok memperdebatkan suatu hal sampai perang saham antar Perusahaan, membuat mereka bak air dan minyak.


"Di mana anakmu ?" tanya Adriansyah begitu Andreas duduk di depannya.


Andreas mengangkat satu alisnya.


"Dave. Di mana dia ?" tanyanya lagi. "Lepas dari benar atau tidak nya dia anak kandungmu, bukankah dia masih tanggung jawab mu ?" pria berjambang dan berkacamata itu berkata.


Andreas berdehem. "Bukankah sudah jelas yang Dave katakan padamu tempo hari ?"


Kening Andriansyah berkerut. "Gadis itu, putri mu sendiri, kan ?" nada bicaranya menekan.


" Iya." Andreas menanggapinya santai. "Dan aku bersyukur dengan begitu Dave benar-benar menjadi anakku lewat pernikahan mereka nanti."


Adriansyah menghela nafas. Wajahnya menunjukkan kekalutan yang belum pernah Andreas lihat sebelumnya.


Ia masih menunggu apa yang akan Pemilik Jaringan bisnis ekspor-impor itu lakukan. Andreas tak mau gegabah. Jika seorang Adriansyah Adam sampai mau datang ke rumahnya, pasti itu karena ada hal yang membuatnya terdesak dan tak ada pilihan.


"Di mana Dave ? Aku ingin bertemu." ulangnya setelah terdiam beberapa saat.


"Untuk apa menemuinya ?" kembali Andreas bertanya.


Adriansyah mengepalkan kedua tangannya yang berada di paha. "..Aku mohon padamu," ia menatap mata Andreas dalam-dalam. Membuat Andreas sedikit terkejut karena baru kali ini rival bisnisnya itu merendahkan diri pada nya. "Di mana Dave, aku harus bertemu dengannya."


"Dave.." Kirana menahan Dave yang hendak keluar. Mereka sedari tadi memang menguping dari sebelah ruangan. Sudah di larang, tapi rasa penasaran membuat mereka tetap ingin mendengar apa yang kedua orang tua itu bicarakan.


"Ayah Angela mencari ku." Dave berkata pelan. Hampir seperti bisikan.


"Bagaimana jika dia memukul atau menyakiti mu ?" Kirana khawatir.


Dave tersenyum sambil mengenggam tangan Kirana yang masih menahannya. "Apa menurutmu Dad akan diam saja jika terjadi apa-apa dengan ku ?" tanyanya.


Wajah Kirana berubah gamang. Di lepasnya cengkraman tangannya pada lengan Dave. Ia tahu, Ayahnya tak akan membiarkan apa pun terjadi pada Dave, apa lagi ini di rumahnya sendiri.

__ADS_1


Kirana merapatkan diri pada pinggir tembok saat melihat Dave keluar dari ruangan menuju ruang tamu. Kirana mengigit bibir bawahnya cemas saat melihat Ayah Angela itu langsung bangkit berdiri begitu melihat Dave.


Andreas yang mengira Adriansyah akan memukul Dave bangkit dari duduknya hendak menghalangi.


"Dave." dengan wajah merah padam, Pria lima puluhan tahun itu memegangi kedua pundak Dave. Membuat mata Dave membulat dan Andreas yang sudah terlanjur berdiri terkejut dan mematung di antara keduanya. "Angela sekarat...anakku sekarat.." ia memberitahu.


Dave tertegun menatap pria yang beberapa saat lalu masih sangat akrab dan ramah tiap kali ia berkunjung ke rumah Keluarga Adam.


Andreas tak bergerak. Di lihatnya Dave yang masih terdiam berdiri berhadap-hadapan dengan Ayah Angela yang memegang kuat kedua pundaknya.


"Hanya kau yang bisa menolongnya.." Adriansyah memohon.


Dave termenung. Ia kaget, tak tahu harus bagaimana. Ia terlihat sangat syok.


"Jangan melibatkan Dave ke dalam urusan yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya." Andreas mencoba menengahi.


Adriansyah melepas pegangannya pada pundak Dave dan menoleh pada Andreas. "Kita selalu berselisih paham dalam hal apa pun." ucapnya. "Kau juga tahu aku seperti apa.." ia menelan ludah dengan susah payah.


Adriansyah memunduk dengan raut frustasi. Dikepalkannya kedua tangannya yang berada di kanan dan kirinya.


Andreas dan Dave sama-sama tersentak. Bahkan Kirana yang diam-diam mengintip dari balik tembok pun menutup mulut dengan mata membelalak saat seorang terhormat seperti Adriansyah Adam, berlurut di hadapan Andreas dan Dave.


Mulut Dave mengangga tak percaya. Begitu pun Andreas yang selama bertahun-tahun mengenal siapa itu Adriansyah.


"..Apa pun akan aku lakukan untuk Angela anakku." ia menunduk dalam-dalam. Ia tak peduli lagi pada harga dirinya. Asal putrinya bahagia, ia akan lakukan apa pun. Begitu tak terbatasnya kasih orang tua itu.


"Paman.." Dave gemetar. Tak tahu lagi harus bagaiman bersikap.


"Kita sama-sama Ayah dari seorang gadis." Adriansyah menatap Andreas yang tampak menjulang tinggi.di depannya yang tengah berlutut. "Seharusnya kau yang paling tahu perasaan ku saat ini." ia menatap Andreas. "Bertahun-tahun putri ku menunggu saat di mana dia bisa duduk di pelaminan bersama lelaki yang dia kasihi. Dan kini secara tiba-tiba lelaki itu membatalkan semua."


Wajah Dave berkerut pedih menyadari kesalahanya.


"Mungkin jika itu kau, lelaki itu sudah pasti pulang dengan tubuh cacat." Adriansyah berkata, menyindir sifat Andreas yang selalu protektif pada Keluarganya.


Andreas tak bergeming. Ia masih kaget melihat pria itu bersimpuh di hadapnnya. Bagi Andreas, jika ini mimpi pun, itu terlalu mustahil untuk seorang Adriansyah Adam melakukan hal ini.

__ADS_1


"Putri ku sekarat Andreas." ucapnya penuh rasa sesak. "Dia bisa mati kapan saja dengan tidak ada nya makanan yang masuk ke dalam tubuhnya selama hampir satu bulan." air mata nya mengalir. "Aku datang ke rumah ini dengan menanggalkan nama Keluarga dan semua yang melekat padaku." ia memegang dadanya sendiri dengan tangan kanan. "Aku hanya seorang Ayah yang rela menyerahkan Perusahaan, harta dan semua yang ia miliki untuk kebahagiaan putrinya." ia menatap Dave lekat-lekat.


Kirana terisak. Dia tak kuat lagi dan memilih berbalik pergi. Ia berjalan melewati Ibunya dan Ibu Dave yang masih mengobrol di ruang tengah.


"Kirana ?" Marisa bangkit berdiri. "Maaf." ucapnya pada Eva.


Eva mengangguk maklum dan menyilahkan Marisa untuk mengejar Kirana yang naik ke lantai dua.


"Kirana ?" Marisa mengetuk pintu kamar Kirana beberapa kali. Tapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya Marisa memutuskan meraih handel pintu dan membukanya.


Wajah Marisa memelas saat melihat Kirana berbaring miring membelakangi dirinya. Dia menutup pintu dan perlahan berjalan mendekati Kirana.


Marisa duduk di pinggir ranjang dan semakin tak tega saat melihat anak gadisnya sudah berlina air mata sambil memeluk boneka Pucca kesayangannya.


"Ayah Angela mengatakan sesuatu yang buruk ?" tanyanya sambil membelai lembut kepalanya.


Kirana mengeleng sambil menghapus air matanya.


Marisa menatap sedih.


Kirana berusaha untuk tegar. Berkali-kali di hapus air matanya yang terus mengalir, lalu bangkit duduk di samping Ibu nya.


"Bu.." wajah sembab nya menatap Marisa. "Ibu dulu nggak suka Daddy bukan ?" tanyanya.


"Kenapa tiba-tiba..?" Marisa tak mengerti.


"Jawab saja, Bu, aku mohon.." air mata kembali mengenangi pelupuk matanya, yang anehnya membuat mata cokelat terang itu semakin indah.


Marisa menghela nafas panjang. "Iya, Kirana." jawab Marisa sambil menghapus air mata di pipi anaknya. "Dulu Ibu tidak hanya tak suka. Tapi Ibu sangat benci Daddy mu." ia menatap wajah cantik putrinya baik-baik. "Tapi seiring waktu dan berkat hadirnya dirimu. Ibu mulai merasakan ketulusan dan cinta dari Daddy mu."


Ibu dan anak itu saling pandang dengan Marisa yang mengelus rambut panjang Kirana sampai ujung.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu Kirana ?" tanya Marisa perlahan.


Pandangan Kirana langsung mengawang. "Bu, aku tak mau berbahagia di atas penderitaan wanita lain." ucapnya sambil memandang wajah Ibu nya. "Jika waktu bisa merubah perasaan benci jadi cinta. Aku juga berharap waktu dapat membuat ku lupa akan cintaku pada Dave." air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


__ADS_2