
Dengan cepat Eva segera mengambil sapu tangan dari kantong baju nya, kemudian mengelap noda darah bercampur lendir pada telapak tangannya. Mengusap beberapa kali ujung bibirnya yang sebenarnya tidak ada noda atau kotoran apa pun, sebelun kemudian membuang sapu tangan versace warna gold tersebut ke dalam tempat sampah tidak jauh dari situ.
"...Kenapa bisa separah itu...?" tanya Andreas saat Eva kembali duduk di salah satu bangku yang berjajar di depan ruang operasi tersebut.
Eva hanya diam, membuat Andreas kesal dengan sikapnya. "Kenapa kau tidak mengobatinya ??" ucap Andreas berusah untuk sabar.
Wanita yang duduk di hadapannya itu masih mendongkakkan wajahnya yang bermake up tebal dengan congkak seperti biasa. "Aku tidak butuh belas kasihan siapa pun." ucapnya lantang. "Jangan bertanya apa pun, silahkan...kau nikmati hidup mu dengan wanita itu dan anak-anakmu." ia bangkit berdiri dengan kedua mata hitam nya yang kelopakny berhias eyeliner hitam dan bulu-bulu matanya yang lentik tebal menatap ke arah Andreas.
Mereka berdiri sejajar, dan meskipun Andreas bertinggi 185cm, tapi dengan Eva yang bertinggi 168cm di tambah heels 10 cm, membuat kedua wajah mereka bisa lurus saling tatap.
"...Kenapa kau masih seangkuh ini...?" Andreas akhirnya bertanya.
"Mungkin itu memang sifatku." ia terkekeh, namun bukannya terdengar gembira, sebaliknya tawanya itu terdengar menyedihkan, dan itu membuat Andreas melihatnya dengan rasa iba.
"Saya hanya merasa jika sebenarnya Anda tidak seangkuh yang terlihat..." Laki-laki berkemeja putih yang di rangkap jas hitam rapi itu memandang ke arah nya. "Saya merasa jika sebenarnya ketika Anda berkata ketus dan kasar, itu untuk menutupi kerapuhan hati Anda."
Sekelebat ingatan masa lalu, membuat Eva diam-diam mengepalkan kedua tangannya, hanya supaya ia bisa tetap berdiri dengan dada terbusung.
"Saya berharap, anda tidak perlu berpura-pura kuat lagi."
Setengah mati Eva bersikap tegar, namun bayangan Lelaki itu kembali muncul dan tersenyum ke arahnya.
"Lupakan semua yang menyakiti, dan raih kebahagian Anda sendiri."
"...Seorang Sanjaya tidak butuh di kasihani." Akhirnya ia bisa berkata setelah berkali-kali menelan ludah dan mencoba mengenyahkan ingatan masa lalu nya tersebut.
Kening Andreas langsung berkerut melihat sikap pongah Eva.
"Strata kami tinggi dengan kekayaan yang bahkan melebihi mu." Eva mengangkat satu alisnya. "Keturunan darah biru kami, tidak bisa di samakan dengan kalian yang hanya bermodal kerja keras dan akhirnya sukses." Sesaat Eva mengigit bibir bawahnya menatap Andreas yang kini menatapnya dengan pandangan meradang.
__ADS_1
"Banguun Reenn...."
Tangis dirinya beberapa tahun silam nyaris mengoyahkan keangkuhannya, sebelum ia memalingkan wajahnya dan pura-pura menbenarkan kerudung hitam yang menutupi kepalanya, padahal diam-diam ia tengah mengusap ujung matanya yang hampir meneteskan air mata.
"Pulanglah kembali pada Keluargamu." usir Eva tanpa melihat ke arah Andreas. "Aku yakin Dave akan baik-baik saja setelah menerima transfusi darah." ia langsung duduk di kursi yang berada tepat di belakangnya. Ia lelah karena menempuh perjalan Paris-Jakarta selama hampir 17 jam, dan selama itu ia sama sekali tidak bisa tidur atau beristirahat kendati ia menaiki pesawat pribadi. Pikirannya terus menegang akan rasa khawatir pada Dave yang kecelakaan.
Eva merasa nafasnya mulai berat dan kedua kakinya gemetar, namun ia masih bisa untuk menutupi.
"Bukankah kami juga orang tua Dave...?" suara seorang wanaita terdengar, membuat baik Andreas maupun Eva melihat ke sumber suara. "Kenapa menyuruh Andre untuk pulang...?" lanjut Marisa yang kini telah berdiri di antara mereka.
"Marisa...?" Andreas langsung berjalan ke sisi wanita berperawakan kecil yang jika berdiri berjejer dengan Suami nya itu, terlihat sangat tidak serasi karena tinggi Suaminya yang menjulang, dan ia yang bertubuh pendek. "Bagimana Kirana...??" tanyanya.
"Tidak apa-apa, ada Jon yang menungguinya." Marisa tersenyum sambil mengelus-elus tangan Suaminya yang mengenggam satu tangannya yang lain.
Eva yang duduk bersandar pada tembok tak jauh dari mereka dan melihat kemesraan keduanya memalingkan muka.
"Jika saya seorang Marthadinata apa kah Anda tidak akan malu mengakuinya...?"
"Nona...?"
Eva terkejut saat Marisa sudah duduk di sebelahny dan mengenggam jari-jari tangannya yang dingin.
"Berani-berani nya...!" Eva langsung bangkit berdiri bersamaan dengan ia yang menepis kasar tangan dari wanita yang kini menjadi Istri dari Mantan Suaminya tersebut.
"Eva !" Andreas langsung membentaknya.
"Kenapa ?" Eva melihat ke arah Andreas pura-pura tak mengerti.
Kalau bukan karena Istrinya yang segera memegangi lengannya, tentu ia tidak hanya akan membentak.
__ADS_1
"Lihat, bahkan setelah bertahun-tahun pun, wanita ini memanggilku Nona..." Eva memandang Marisa dengan tatapan merendahkan. "Artinya dia sendiri mengakui kalau sampai kapan pun, walaupun dia sudah mengantikan posisiku sebagai menantu di Keluarga Marthadinata, dia tetap seorang yang berasal dari kasta rendah." Eva melipat kedua tangannya.
"Memang kenapa kalau dari kasta rendah ?" tanda di duga Marisa berkata lantang.
Andreas mundur, tahu jika saat ini Istrinya yang biasanya lembut kini sedang tersulut emosinya.
"Sudah merasa hebat sekarang karena menjadi Nyonya Rumah di Keluarga kaya...??" Eva melipat kedua tangannya angkuh.
Kening Marisa berkerut semakin dalam. "Kenapa yang selalu Anda bicarakan hanya soal derajad dan kekayaan ?" wanita bertubuh lebih pendek dari Eva itu berkata.
Mulut Eve mengangga mendengar ucapan Marisa.
"Lihat apa derajad dan kekayaan yang Anda bicarakan itu bisa membuat Anda bahagia...?" Marisa dengan suaranya yang lantang berucap.
"Aku bahagia dengan hidupku !" bentak Eva. "Apa kau pikir karena kau berhasil merebut Andre dari ku, makanya sekarang sok hebat dengan mencoba menasehati ?" Eva melihat sekilas Mantan Suaminya yang berdiri menatapanya awas di belakang Istrinya.
"Anda tahu ini bukan soal Andre." suara Marisa membuat Eva membelalak. "Tangis Anda saat itu lebih jujur dari sifat arogansi Anda saat ini."
Eva langsung membuang muka.
"Sampai sekarang aku tidak pernah mengerti dengan cara mendidik kalian Para orang kaya yang katanya di lahirkan dari Keturunan berbeda dari kami, apa memang harus terlihat sempurna ?" kata Marisa lagi. "Apa salah nya jujur dengan diri sendiri ?" Marisa semakin berapi-api karena mengingat kejadian masa lalu mereka yang buruk
"CUKUP !!" Bentak Eva dengan wajah merah padam.
Ia sudah mengangkat tangan kananya untuk menampar wanita di depannya yang terus berbicara menyakitkan, sebelum wajahnya menegang dan ia kembali terbatuk-batuk.
"Nona ??" Marisa langsung menghampirinya, menduduknya Eva di kursi dan cepat-cepat mengambil minyak kayu putih dari dalam tas nya.
Saat Marisa menyingkap kain hitam yang menutupi kepala Eva untuk membalurkan minyak kayu putih ke lehernya, kain itu merosot dan memperlihatkan rambut panjang nya yang putih uban.
__ADS_1
Baik Andrean dan Marisa sama-sama terkejut melihatnya.
"...Jangan menatap kasihan padaku." Eva berucap dengan nada angkuhnya seperti biasa, namun wajahnya terlihat pucat dengan keningnya yang berkeringat dan darah kental yang mengotori ujung bibir dan telapak tangannya.