SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KELUARGA


__ADS_3

Mobil Lamborghini Huracan EVO warna grey itu memasuki Pintu Gerbang tinggi yang terbuat dari kombinasi kayu dan besi dengan gaya minimalis modern namun berkesan mewah dengan cat warna gold nya.


Pintu Gerbang itu terbuka secara otomatis dan Mobil sport yang di kendarai Dave langsung melanju lurus di jalan berpaving yang membelah taman indah dengan rumput jepangnya yang terawat dan sebuah kolam luas berbentuk air terjun mini berisi ikan Koi dengan berbagai jenis.


Dave menghentikan laju mobil nya tepat di depan pintu masuk yang di situ telah menunggu seorang Pelayan laki-laki yang bertugas memarkirkan mobil nya.


"Selamat datang Tuan Muda." ucapnya begitu Dave turun dari mobil.


Dave tersenyum dan memberikan kunci mobil nya yang di terima dengan sopan oleh si Pelayan laki-laki. Ia melirik sekilas body mobil mewahnya yang tergores panjang sampai bagian pintu, sebelum berjalan masuk.


Pintu rumah terbuka, 2 orang Pelayan wanita menunduk hormat padanya.


"Selamat datang Tuan Muda." Mereka berucap berbarengan saat Dave berjalan melewatinya.


Dave hanya tersenyum sesaat dan berlalu, membuat 2 orang Pelayan wanita itu senang tak terkira.


Dave memasuki Rumah mewah dengan lantai marmer nya tersebut dan segera di sambut Pelayan wanita lain yang kali ini terlihat lebih senior dari pada yang tadi.


"Tuan besar sudah menunggu di ruangan nya dari beberpa jam yang lalu Tuan Muda..." ucapnya sambil menunduk sopan.


"Terimakasih, aku akan segera menemui beliau." Dave berkata dan segera melangkah menuju tangga ke lantai 2, meninggalkan Pelayan wanita yang masih membungkuk dan menundukkan kepalanya tersebut.


Ia berjalan menelusuri lorong dengan tembok putih, di mana kanan dan kirinya terdapat foto-foto dari beberapa generasi dalam Keluarga itu.


Langkahnya terhenti di sebuah pintu kayu bercat putih, ia membenarkan baju dan merapikan rambutnya, memastikan jika penampilannya sempurna.


Sesaat ia menelan ludah sambil memejamkan mata, lalu mengetuk pintu beberapa kali dan membuka nya.


"Kakek..." Ucapnya pada seorang Laki-laki tua berusia kisaran 85 tahunan yang duduk di kursi kulit hitam dengan meja kerja model minimalis yang mengarah langsung ke pintu.


"Dari mana kau Dave, kenapa baru sampai..??" ia bertanya. Dan walaupun fisiknya telah menua dengan rambut memutih dan wajah yang di penuhi kerutan, Hertoni dalam balutan baju santai berkerah nya tetap terlihat tegas dengan sorot mata tajam yang mengarah pada cucu lelakinya.


Dave berjalan perlahan ke arah nya dan duduk di kursi depan yang berhadapan langsung dengan Kakeknya, orang yang selama ini mendidik dan membesarkannya sejak usia 7 tahun.


Dave masih menunduk bahkan ketika ia sudah duduk, membuat kerutan di dahi Hertoni bertambah.


"Dari mana kau Dave...?" tanyanya lagi.


Dave mengigit bibir bawahnya sesaar, sebelum ia mengangkat wajahnya untuk melihat Kakeknya.


"...Aku...mampir ke rumah Dad, sebentar..." jawabnya perlahan.

__ADS_1


Hertoni langsung mengebrak meja. "Untuk apa kau menemui orang yang bahkan tidak menganggapmu anak nya ?!" bentaknya dengan mata melotot dan wajah merah padam.


Dave menelan ludah, ia tahu Kakeknya tidak akan suka ia menemui Daddy nya. Tapi Dave sejak kecil telah di didik untuk patuh dan jujur akan hal apa pun pada Laki-laki berusia 85 tahun tersebut.


"Bertahun-tahun dia mengabaikanmu !" Hertoni masih terlihat begitu marah. " Saat kau sakit, saat kau tinggal di Paris, pernah dia datang untuk menemuimu ??!" Nafas Hertoni sampai naik-turun karena begitu emosi.


Dave diam menunduk dengan wajah kaku, kedua tangannya saling tertaut di pangkuannya. Kakeknya benar, selama bertahun-tahun Ayahnya memang tidak pernah berinisiatif datang untuk menemuinya, paling sering hanya video call atau hanya telepon, itu pun selalu berdua bersama Istrinya.


Bahkan sampai usia 19 tahun, satu-satu nya foto dengan Ayahnya itu hanya ketika tidak sengaja mereka bertemu di perjamuan Para Pengusaha, yang ia datangi bersama Kakeknya saat berusia 10 tahun dan mereka tidak sengaja bertemu, kemudian berfoto berdua.


"....Aku ke sana hanya karena butuh tanda tangan Dad, Kek..." akhirnya Dave berkata.


Hertoni mengeram, ia bangkir dari dudukny. "Tidak usah Kuliah di Jayabaya !" uacpnya tegas yang membuat Dave melihat ke arahny dengan wajah terkejut.


"Aku tidak pernah meminta apa pun Kek !" suara Dave meninggi. Ia bangkit berdiri, dan kini mereka saling berhadapan dengan hanya di pisahkan sebuah meja kerja.


Hertoni sedikit terkejut dengan sikap Cucu nya yang biasanya penurut itu.


"Selama bertahun-tahun aku lakukan semua yang Kakek perintahkan." Lanjut Dave dengan mata hitam nya yang menatap tajam ke arah Hertoni. "Dan sekarang Kakek ingin membatalkan apa yang sudah Kakek setujui sebelumnya...??" kening Dave berkerut.


" Universitas itu milik Keluarga Martadinata !" Hertoni berkata keras. "Dan melihat sikap mu hati ini, bisa di pastikan jika kau ingin Kuliah di sana, hanya supaya bisa dekat dengan Ayah brengsek mu itu !" kembali nafas Hertoni naik-turun karena emosi.


Dave mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan keningnya yang berkerut, Kakeknya itu benar. Namun ia berusaha menutupi. "Kita sudah membahas itu, dan Kakek sudah setuju." ucap Dave tenang. "Syarat-syarat pendaftaran sudah aku penuhi, aku hanya tinggal masuk." lanjutnya.


Tiba-tiba pintu terbuka, masuk lah seorang wanita berusia sekitar 80 tahun yang terlihat masih gesit dengan rambut berubannya yang di cat warna pirang terang.


"Sayang.." ucapnya sambil mengelus punggung Hertoni. "Dave baru saja pulang, kenapa langsung kau marahi seperti ini...??" ia berkata dengan wajah yang memberi kode pada Dave agar lekas pergi dari situ.


"Dia menemui si bregsek Andreas !" kata-kata Hertoni masih bernada tinggi, kendati Erika istrinya mencoba untuk menenangkannya. "Dan dia ingin masuk ke Univeristas milik Keluarga mereka ! Apa dia tidak punya harga diri ?!"


"Sudahlah...Andreas kan Ayahnya, jadi wajar Dave ingin dekat dengannya..." Erika mencoba bicara. Di liriknya Dave dan mengelengkan kepalanya sedikit, menyuruh agar Dave segera keluar, sementara dia mengalihkan perhatian Suaminya.


Dave mundur perlahan, kemudian berbalik arah dan berjalan ke arah pintu.


"Dia ingin dekat dengan Ayahnya, tapi apa Ayah brengsek nya itu mau dekat dengannya ?? Dia tidak pernah di anggap ada !!"


Masih di dengarnya suara Kakeknya ketika Dave sudah menutup pintu. Ia menghela nafas panjang, terdiam menunduk sesaat sebelum berjalan ke kamarnya.


Matahari tenggelam dan di gantikan malam berselimut bintang dengan bulan yang membentuk senyum.


Di dalam kamarnya, Marisa masih sibuk mengobati luka di lengan Kirana yang tadi siang terkena ranting pohon. Ibu dan anak itu duduk di atas ranjang dengan Marisa yang membersihkan luka dengan alcohol, kemudian mengoleskan obat luka .

__ADS_1


"Kenapa kau selalu naik ke atas pohon...??" Marisa bertanya pada anak gadisnya yang malam ini terlihat cantik dengan baju piyama warna pink dengan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai bebas.


"Habisnya...Daddy maksa supaya aku jemput Jon sih..." Kirana cemberut, yang malah membuat wajannya semakin terlihat cantik.


"Jon kan memang datang untuk menenuimu..." Marisa berkata tanpa melihatbke arah Kirana, karena ia masih mengoles obat luka pada lengan Kirana.


"Aaaaahh...aku nggak mau pokoknya.." ia merajuk seperti anak kecil.


Marisa tersenyum sambil merapikan peralatan P3K nya ke dalam kotak kecil warna putih dan menaruhnya di atas nakas.


"Kenapa..?Jon kan ganteng." Marisa berkata. "Aktor dan model lagi, penggemarnya di Jepang banyak lo..." Ia kembali duduk di samping Kirana.


Bibir Kirana mengerucut. "Jon itu sudah jadi temanku, jadi nggak bisa aku anggap lebih." ucapnya.


"Suruh saja Jon berhenti jadi temanmu." Ayahnya sudah berjalan ke arahnya dan duduk di sisi ranjang sebelah kanan.


Kirana mencibir, kini mereka bertiga berada di atas ranjang king size yang muat untuk 5 orang, dengan posisi Kirana di tengah dan Ayah-Ibu nya di kanan dan kirimya.


"Ibu pikir Kirana tidak suka dengan Jon, karena sudah ada orang yang di sukai." Ibu nya berkata.


Mendadak wajah Kirana langsung merona dan ingatannya langsung terbang kepada Dave.


"Ma, mana mungkin !" Kirana langsung gugup, tapi ia berusaha menyembunyikannya.


Marisa tertawa melihat wajah anak gadisnya yang memerah.


"Kalau iya pun tidak apa-apa..." ia bekata di sela tawanya.


Jantung Kirana langsung berdebar tak karuan, ia seperti sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah. Ia segera meraih lengan Ayahnya dan memeluknya.


"Laki-laki yang aku sukai yaa cuma Daddy..!" ucapnya yang membuat Andreas terkejut.


Marisa semakin yakin jika tebakannya benar, tapi ia cuma tersenyum geli.


"Sudah sana balik kamar, Daddy masih marah denganmu." usir Ayahnya pura-pura marah.


"Aaah...Daddy..." Manja nya Kirana kumat. "Mau tidur sini..." ucapnya sambil mengalungkan kedua lengannya pada leher Ayahnya.


"Tidak bisa, sana tidur di kamar sendiri. Daddy dan Ibu masih ada pekerjaa ." Andreas menoleh ke arah Istrinya sesaat, yang membuat wajah Marisa sama merahnya dengan Kirana tadi.


"Daddyy...." Kirana masih merengek saat Ayahnya yang bertinggi 185 cm itu bangkit berdiri dengan ia yang masih bergelantungan pada leher Ayahnya, kemudian di bopong dan di turunkanny di depan pintu.

__ADS_1


Sebelum Kirana merengek lagi, Ayahnya itu segera menutup pintu kamar meninggalkan Kirana yang cemberut.


"Huh..Daddy bucin." ucapnya kesal sambil berjalan malas-malas kembali ke kamarnya.


__ADS_2