SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
DUA KELUARGA


__ADS_3

Suasana canggung dan tegang mewarnai ruang makan yang menjadi satu dengan dapur luas dengan deret kitchen set dan berbagai alat masak yang tergantung di masing-masing rak nya.


Di meja segiempat sederhana itu duduk Andreas, Marisa. Agak menjauh, duduk pula Hertoni bersama istrinya Erika. Eva duduk di sudut satunya bersebelahan dengan tiga bangku kosong yang di apit dirinya dan Marisa.


Aroma masakan memenuhi seisi ruang. Bercampur dengan suara minyak yang tengah mengoreng sesuatu.


"Ah, tumben sekali anak-anak mengajak kita untuk berkumpul seperti ini." Marisa membuka obrolan.


"Dave ingin sekali kita sekali-kali kita berkumpul dan merasakan masakannya." Eva yang berada di di samping dan terpaut tiga kursi kosong menimpali.


"Aku baru tahu kalau Dave bisa memasak." Marisa terlihat bangga.


"iya, di Paris sehari-hari dia yang memasakan untukku." Eva tersenyum lebar.


"Dave juga kadang di rumah memasak untuk kami." Erika akhirnya ikut mengobrol. "iya, kan, Sayang ?" dia menyentuh tangan Hertoni yang berada di atas meja.


"..Ya, ya, Dave memang suka memasak." agak rikuh Hertoni berkata.


"Tentu saja Dave suka memasak, karena Rendy pun begitu." Andreas dari ujung meja menatap Hertoni.


Cepat Marisa langsung mencubit paha Suaminya pelan, yang membuat pria lima puluh tahun itu meringis ke arahnya.


Marisa tersenyum kaku. Pandangan Eva mengawang. Sedangkan Pasangan Suami Istri Sanjaya terlihat tak nyaman.


Sementara itu di sisi dapur. Dave masih sibuk mengoreng sesuatu, sedangkan Kirana di sebelahnya ikut membantu.


"Aawh !" Kirana langsung menjatuhkan pisau yang di pegangnya.


"Ada apa ?" Dave segera mematikan kompor dan menghampiri Kirana yang mengaduh memegangi jaru telunjuknya yang teriris pisau.


"Kau ini.." Dave mendesis khawatir sambil memegangi telunjuk Kirana yang berdarah. Di masukkannya jari telunjuk Kirana yang berdarah ke mulutnya lalu di sepapnya pelan. Membuat wanita tersebut terkejut , tapi tak berusaha menarik tangannya.


Setelah darahnya berhenti, Dave segera membuka laci dan memgambil plester luka dan membalutkannya pada jari Kirana yang masih melongo dengan tindakan Dave padanya tadi.


"Kau duduk saja sana." perintah Dave setelah selesai mengobati luka di jari Kirana.


"Tapi aku ingin membantu." wajahnya memelas.


"Membantu apa ? Dari tadi kau lebih banyak menganggu dari pada membantu. Terciprat minyak lah, gosong, nasi jadi bubur dan sekarang jari mu teriris." Dave mengomel.

__ADS_1


Kirana manyun.


Laki-laki berkaos santai dengan celemek motif kelinci warna merah muda itu mendengus kesal.


"Baiklah.." dengan putus asa Kirana berjalan menjauh. Dave kembali sibuk dengan pengorengannya.


Tapi baru beberapa langkah Kirana berjalan, ia melirik makana yang telah Dave tata di atas piring dan masih berada di atas kitchen set.


"Dave." panggil Kirana girang.


"Apa lagi ?" ogah-ogahan ia menoleh ke arah Kirana.


"Makana yang sudah matang ini, aku taruh ke meja makan, ya ?" tanyanya sambil menunjuk masakan yang telah selesai Dave masak.


Dave melirik ke arah makanan tersebut. Mempertimbangan tingkat kecerobohan Kirana dan aman tidaknya. "Terserah kau saja. Tapi hati-hati, satu-satu saja bawanya." ucap Dave masih tak yakin.


"Siap, Bos!" Kirana mengacungkan jempol tangan dan tersenyum lebar.


Mata Dave berputar melihat tingkah wanita yang entah bagaimana bisa menguasai hati hatinya tersebut.


Kirana meletakan satu persatu piring-piring berisi makanan yang sejak tadi pagi di masak oleh Dave. Melihat makana itu sedikit banyak mengurangi kegugupan Kirana berhadapan dengan dua Keluarga.


"Enggak, Bu, Dave yang memasak semua. Aku cuma bagian mencicipi." Kirana tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Kirana melirik wajah-wajah yang tengah berkumpul. Membuat nyalinya sedikit ciut. Berkaki-kali ia menghela nafas sambil meremas-remas jemari tangannya yang berada di bawah meja.


"Jarang sekali Dave mau memasak untuk orang lain kecuali dia punya keinginan." Erika berkata, membuat Kirana langsung mengangkat muka kaget.


"Benarkah ?" Eva bertanya. "Selama tinggal dengan ku di Paris, dia suka sekali memasak."


"Kau kan Mommy nya, tentu dia akan selalu memasak untukmu." Erika tertawa, mencoba mencairkan suasa yang sedari tadi dingin dan canggung.


"Aku juga ingin di masak kan oleh Dave setiap hari." Marisa menimpali.


Mereka bertiga tertawa. Hanya Hertoni dan Andreas yang masih pasang muka masam. Sedang Kirana tengah sibuk dengan pikiranya sendiri.


"Rendang daging untuk Dad, Sambal ikan panggang untuk Kakek dan Foie gras untuk mu Mom." Dave tersenyum dan meletakkan piring terakhir di depan Eva, lalu duduk di sampingnya.


"Kau memasak 3 jenis masakan Dave ?" Marisa tak percaya saat melihat di meja makan terhidang aneka makanan Jawa, Padang dan Perancis.

__ADS_1


"Aku bingung makanan apa yang kalian sukai." Dave berkata sambil melepas celemek, melipatnya lalu menaruh di buffet yang berada di belakangnya.


"Kau benar-benar mirip Rendy, Dave, serba bisa." Andreas memujinya.


"Iya, Dad." Dave tersenyum simpul lalu menunduk dan saling lirik dengan Kirana.


"Kau mengumpulkan kami semua pasti ada maksud dan tujuan." Hertoni berkata.


Dave memandang Kakeknya yang duduk di seberang meja. "Aku hanya ingin sesekali kita sarapan bersama, Kakek." Dave menjelaskan.


"Kau bisa memakai salah satu ruangan di rumah jika menginginkan acara seperti itu." Erika berkata. "Ruangan ini..." ia mengedarkan pandangannya. "Terlalu sempit bukan ?" tanyanya pada Dave.


"Ini Aparteme milik Papa Rendy, Papa ku." Dave menekankan.


Seketika suasan menjadi terasa berbeda.


"Maaf, tapi aku sudah menerimanya dan aku pikir baik Kakek dan Nenek juga pasti sudah menerima kenyataan bahwa aku memang anak dari Rendy Aryatedja." Dave berkata ringan, lalu menoleh ke arah Andreas. "Benarkan, Dad ?" tanyanya.


"Tentu Dave." Andreas berkata. "Tapi itu tak merubah apa pun, kau tetap bagian dari Keluarga Marthadinata."


Dave tersenyum menanggapinya.


"Ayo, silahkan, aku sendiri yang membeli bahan-bahan dan memasaknya." Dave mempersilahkan. "Tentu saja dengan di bantu Kirana." Dave menoleh ke arah Kirana yang wajahnya kaku tak bisa menyembunyikan kecemasan.


"Bukankah ada yang belum datang ?" tanya Eva karena kursi yang berada di antara ia dan Dave masih kosong.


"Sudah, beliau sudah datang dari tadi." jawab Dave sambil merangkul kursi kosong di sampingnya.


Semua yang duduk di meja makan itu tak mengerti, kecuali Kirana yang pastinya sudah pahan maksud Dave.


"Kursi ini untuk Papa Rendy." Dave berkata sambil memandang orang-orang yang ia kasihi. "Seumur hidup aku tak pernah tahu tentang beliau. Dan saat tahu pun, aku tak bisa berbuat banyak. Jadi saat kita sedang berkumpul seperti ini, aku ingin beliau juga ada."


Eva langsung terenyuh sambil menatap bangku kosong di sampingnya.


"Dia akan selalu ada untukmu, Dave." Andreas dari ujung meja berkata. "Karena kau adalah dia. Tidak, kau lebih dari dia. Dan pasti dia bangga melihatmu saat ini." Andreas berkata pasti.


Dave menunduk dan tersenyum. Di kolong meja, tanpa di ketahui siapa pun, kedua tangan Kirana dan Dave saling mengengam dan menguatkan.


"Iya, Dad." kata Dave sambil memandang Andreas. Ia kembali melihat ke arah bangku kosong di sebalahnya. "Aku juga berharap beliau akan mendukung keputusanku." ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2