
"....Bagaimana Dave ?" tanya Kirana setelah terdiam beberapa saat.
"Semalam dia sudah di operasi, dan beberapa saat lalu dia baru saja sadar." Andreas tersenyum.
Kirana menunduk dan diam-diam ia bernafas lega.
"Temui lah kalau kau mau." Ibu nya berkata. "Tentu dia akan senang."
"Nggak mau." tolak Kirana cepat, wajahnya kesal mengingat perlakuan dan kata-kata Dave tentang nya.
Marisa maklum dengan sifat putrinya dan hanya menghela nafas melihat nya.
"Aku ada rapat sore ini dan tidak bisa aku tunda lagi." Andreas berkata sambil melihat pesan yang baru saja ia terima.
"Pergi lah, aku akan pulang ke rumah setelah Jon datang." Marisa berucap sambil mendongkakan wajah memandangi Suami nya yang berdiri di samping nya. "Kirana akan pergi dengan Jon, iya kan ?" ia mengalihkan pandangannya ke Kirana.
"Aku belum setuju kok." dia cemberut sambil menyingkirkan sarapannya.
"Pergilah dengan Jon, dia jauh-jauh dari Jepang hanya untuk menemui mu." Andreas berucap.
Kirana diam tak memberi reaksi. Hatinya masih tak menentu dan pikirannya masih kacau karena kejadian satu hari lalu. Dan pergi dengan Jonathan bagi Kirana hanya akan membuat ia makin kesal, begitu yang ia pikir.
Angela yang siang ini memakai dress panjang selutut warna soft pink yang di padu cardigan tanpa lengan motif bunga-bunga merah dengan rambut panjangnya yang tergerai indah berjepit mutiara pada kedua sisi keningnya berjalan cepat menelusuri lorong rumah sakit.
Tak lupa di tangan kanannya ia membawa kue cotton cake buatannya sendiri yang ia bungkus rapi dalam kotak indah berpita warna silver. Ia terkejut ketika tadi pagi mendapat kabar jika Dave kecelakaan, membuat ia yang saat itu berada di Asrama ballet nya untuk kompetisi Internasional yang akan di adakan beberapa minggu lagi memaksa ijin untuk menengok Tunangannya tersebut.
__ADS_1
Ia menjerit keras saat ia dengan tergesa berbelok dan menubruk seseorang, membuatnya oleng dan hampir saja terjatuh kalau saja orang yang di tabraknya itu tidak memegangi lengannya dan dengan sigap menagkap dus berisi kue untuk Dave yang telah susah payah ia buat pagi-pagi buta.
"Gomen." Jonathan yang memakai topi dan penutup wajah warna hitam reflek mengucap maaf dalam bahasa nya.
"Maaf kan saya !" Ucap Angela cepat sambil mengambil dus berisi kue nya yang berharga dari tangan Jonathan.
"Kau...?" Jonathan mengamati wajah Angela lekat-lekat, begitu pun dengan gadis cantik dengan matanya yang bulat lebar bak boneka itu.
"Apa sebelum nya kita pernah bertemu ?" tanya Angela merasa familiar dengan gaya pakaian Jonathan yang seolah tidak mau orang mengenali wajahnya.
"Kau yang waktu itu bersama Dave kan ?" tanya Jonathan dari balik masker hitam yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Aah !" akhirnya Angela mengingat saat Kirana menubruk Dave dan menghamburkan semua kertas-kertasnya. "Kau Tunangan Kirana kan ?" ia tersenyum membuat bias rona di kedua pipi nya yang mulus berblush on warna peach.
Jonathan terkekeh, ia senang Angela menyebutnya Tuangan Kirana. Ia membuka masker hitam nya dan mengulurkan tangannya. "Benar." Ucapnya sambil tersenyum lebar. "Jonathan, siapa nama mu ?" tanya nya.
"Kau mengenaliku ?" Jonathan masih tersenyun saat Angela langsung meraih tanganya yang terulur dan menagkup nya dengan kedua tangannya.
"Siapa yang nggak kenal dengan Jon Aoki ?" Angela begitu antusias, sesaat ia sampai lupa jika tujuannya ke Rumah Sakit untuk menjengkuk Dave yang sedang di rawat, lupa akan rasa khawatirkannya pada Tunangannya.
Sementara itu di Ruangannya, Dave yang beberapa saat lalu telah sadar, masih terdiam memandangi langit-langit kamarnya dengan posisi berbaring. Suasana sepi dan hanya terdengar suara dari mesin detak jantung EKG yang berada di sisi kanan atas ranjang.
Kepalanya terasa nyeri dan sedikit berkunang saat ia menatap lampu yang berada tepat di atas nya. Namun ia mengabaikannya dan tetap diam menengadah.
Beberapa saat lalu saat ia membuka mata, pemandangan yang seumur hidup nya ingin ia lihat, ada di depannya. Iya, wajah Dad dan Mom nya yang sumur hidup tidak pernah bersebelahan, ada di sisi kanan dan kiri ranjangnya, tersenyum ke arah nya, terlihat lega dan bahagia melihatnya membuka mata.
__ADS_1
Tapi kini perasaan itu musnah bersamaan dengan kenyataan di luar nalarnya.
"Dave, maaf kan Daddy sudah menamparmu."
kata itu lah yang pertama di ucapkan oleh Laki-laki yang seumur hidupnya ia yakini sebagai Ayahnya.
Dave tak bergeming, rasanya seluruh tubuhnya terasa lelah dan sakit. Seperti baru di jatuhkan dari lantai atas, terjun bebas memeluk aspal yang keras, remuk tulangnya dan kini untuk bergerak sulit.
"...Dad menyayangi mu, dan tidak akan ada yang berubah."
Ayahnya kembali berkata setelah ia tidak memberi respon yang baik.
"Untukmu Dave." Ayahnya meletakkan sebuah map warna merah di atas nakas di samping Mommy ny duduk. "Meskipun ulang tahun mu masih seminggu lagi, tapi anggaplah ini sebagai hadiah untuk mu."
Dave masih diam tak memberi respon, sampai Daddy nya itu pergi bersama Istri nya, ia masih saja diam dengan pandangan kosong.
"...Dave, bicara lah..." akhirnya Eva berkata setelah beberapaa menit Anaknya itu tetap tak berkata apa pun. Membuat ruangan luas mirip kamar hotel bintang lima itu sunyi dan hany terdengar suara alat pantau detak jantung yang berada di kanan atas ranjang yang di tiduri Dave.
"Kau tidak senang Mom di sini ?" tanya Eva lagi sambil memegangi telapak tangan anaknya yang dingin kemudian mengecup nya sesaat.
Dave tak bergeming, ia bahkan tidak mau menoleh untuk melihat Ibu yang sebenarnya sangat di rindukannya karena kini mereka tinggal berjauhan.
"Mom lega sekali kau selamat." Ucapnya. Di pandanginya putra satu-satu nya itu dengan sayang. "Dave...?" kembali ia memanggil, namun seperti tadi, anak nya hanya diam tak menjawab.
Eva menghela nafas panjang saat Dave masih tak mau melihatnya. Di ambil nya map warna merah yang tadi di tinggalkan Andreas. "Kau tidak mau melihat Daddy mu memberi kado apa ?" tanya nya sambil tersenyum, meskipun yang di ajak senyum tak melihat.
__ADS_1
"Dia bukan Daddy ku." akhirnya bibir pucat Dave berkata tanpa menoleh ke arah Ibu nya.