SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
RASA


__ADS_3

Dengan lemas Dave kembali merebahkan punggung dan menatap hampa pada langit-langit ruang tempat dia di rawat.


Beberapa menit ia seperti tubuh tanpa nyawa yang hanya diam tak bergerak, sebelum kemudian ia kembali melihat map merah dengan isinya yang tersebar begitu saja di pangkuannya.


Di raih nya kembali selembar foto berukuran R4 dengan wajah seorang laki-laki kisaran usia 30 tahun dengan rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. Mata hitam laki-laki dalam foto itu menatap lurus, seolah mereka sedang saling tatap dengan posisi Dave yang memegangi foto itu tepat di hadapannya.


Tanpa sadar Dave memegangi keningnya yang kini tertutup perban dengan tangan yang satunya. "...Pantas saja Mom meminta agar keningku nggak tertutup rambut, dan berkali-kali mengatakan kalau rambut di keningku menganggu, membuat penampilan tidak rapi." ia berkata sendiri dengan nada getir.


Ia juga mengingat sepasang mata cokelat terang milik Daddy nya. Mata yang membuat ia iri pada Kirana dan Kiandra, karena hanya dia yang tidak memiliki warna mata itu.


Hati Dave semakin lara kala mengingat kejadian di ruang kerja Ayahnya saat ia mengambil figura foto bergambar tiga orang lelaki. Saat itu ia tidak melihat jelas siapa Lelaki yang berdiri di sisi Ayahnya, dan ia tak mengerti kenapa Ayahnya tiba-tiba marah.


Satu tetes air mata mengalir dari sudut matanya, membuat Dave langsung mengusapnya.


Sementara itu Angela dan Jonathan masih asik mengobrol sambil berdiri di salah satu sudut lorong Rumah Sakit yang ramai dengan beberapa orang yang berlalu lalang.


"Terimakasiih." Angela tersenyum manis setelah memerima buku catatan baletnya yang baru saja di tanda tangani Jonathan.


Jonathan tersenyum sambil mengerakkan sedikit kepalanya tanda tak masalah. Beberapa saat lalu pun mereka baru saja berfoto selfie bersama, dan jika di lihat seperti ini mereka berdua terlihat sangat cocok satu sama lain.


"Semoga pertunjukan balet mu sukses." ucap Jonathan.


"Aku juga berharap Kakak tahun ini bisa memenagkan Grammy." Angela nampak antusias. "Akting Kakak di Film Don't Lie baguus sekali." puji nya.


Jonathan terkekeh mendengarnya.


"Setelah Dave sembuh, aku harap kita bisa pergi berempat." Angela kembali berkata. "Aku, Dave, Kakak dan Kirana." matanya berbinar membayangkan.


Jonathan tersenyum simpul. "Kau belum tahu apa yang di perbuat Dave sial itu." sunggut nya dalam hati.

__ADS_1


Angela pamit begitu menyandari jika sedari tadi ia sudah mengobol cukup lama dengan Jonathan, membuat ia tidak enak karena telah menyita waktu Lelaki berperawakan tinggi putih tersebut.


"Maaf sudah menyita waktu Kakak." dari kejauhan ia berkata dan membungkukkan badan ke arah ny beberapa kali sebelum wanita dengab penampilannya yang sangat feminim itu berjalan cepat dan pergi menjauh.


Jonathan segera memakai masker kain hitam nya kembali untuk menutup mulut serta hidungnya, kemudian mulai melangkah pergi.


Sambil berjalan ia iseng membuka-buka ponsel nya, sekedar untuk melihat jadwal hariannya, dan ia tersenyum ketika membuka pesan whatsApp dari Kirana-chan,


[Jangan telat ]


Mengabaikan pesan-pesan whatsApp lain yang jauh lebih penting, Jonathan segera memasukan ponsel nya ke dalam saku celana dan bergegas pulang untuk membersihkan diri.


Saat Angela sampai di ruang perawatan, Dave sudah merapikan semua nya dan memasukannya kembali ke dalam map warna merah dan menaruh nya di atas nakas.


Ia mencoba tersenyum saat Angela yang datang terkejut dan langsung menangis melihat keadaanya.


"Maaf kan aku...harusnya aku ke sini kemarin, tapi aku baru dapat ijin pagi ini untuk keluar Asrama." ia berkata sambil mengusap air mata nya yang membasahi pipi.


Angela tersenyum mendegarnya. Di raihnya tangan Tuangannya tersebut, dan di letakkan telapak tanganny ke pipi. "Syukurlah jika semua baik-baik saja." ia memandag Dave sayang. "Karena...saat pertama masuk ke Ruangan ini, wajahmu terlihat sedih sekali." ucap nya.


Angela memang peka, tapi Dave tak berniat menceritakan tentang apa pun pada nya. Begitulah dia yang selalu menyimpan semua nya sendiri.


Ragu-ragu Kirana yang sudah bersih dan berganti baju dengan celana jeans dan atasan kaos hitam yang di padu cardigan putih berdiri mematung di depan pintu ruang perawatan dengab label VVIP warna gold.


"Siapa ?"


Sebuah suara membuat Kirana berjingkak kaget, ia menoleh dan di samping nya telah berdiri Eva.


"Temannya Dave ?" ia bertanya.

__ADS_1


Kirana gugup, ia meremas-remas jari-jari tangannya yang dingin. "Dasar bodoh !"umpatnya dalam hati. "Untuk apa kau ke sini ? Bukankah sudah cukup dengan mendengar kalau dia sudah sadar ?" Kirana tak habis pikir.


Eva berjalan mendekatinya karena Kirana tak kunjung menjawab pertanyaanya.


"...Ma, maaf..." Kirana mengigit bibir bawahnya, mata cokelat terangnya bergerak-gerak panik.


Di perhatikan baik-baik gadis dengan penampilannya yang tomboy tersebut. Jika di perhatikan baik-baik, gadis berkulit putih dan bermata sipit dengan warna bola matanya yang menonjol itu terlihat familiar untuknya.


Dan ketika ia sadar mirip siapa gadis itu, Eva tersenyum. "Kirana kan ?" ucap nya.


Mata Kirana langsung fokus menatap wanita seusia Ayahnya yang berbaju hitan-hitam dengan kerudung warna senada yang menutupi kepalanya.


Eva terkesiap, dulu sekali saat ia muda. Ia begitu berkeinginan memiliki anak yang juga mewarisi mata indah itu. Mata berwarna cokelat terang serupa hazel yang selalu berhasil menyihir siapa pun yang melihatnya.


"...Mom Dave ?" takut-takut Kirana berucap. Ia teringat cerita Dave, dan kenyataan jika wanita yang kini berdiri di hadapannya itu adalah mantan istri Ayahnya, membuat ia tak enak hati.


"Iya." Eva berkata, masih di telisiknya wajah gadis itu yang bagai pinang di belah dua dengan Mantan Suami nya.


Meski sudah menduga, tapi tetap saja Kirana terkejut. "Ka, kalau begitu saya permisi." ia menunduk dan berbalik arah.


"Masuk lah." ucap Eva membuat langkah Kirana tertahan.


Gadis dengan rambut panjangnya yang tergerai dan sangat tidak cocok dengan baju yang tengah ia pakai itu menoleh.


"Dave pasti akan sangat senang di jenguk Saudaranya." Eva berkata. Dan meskipun wanita itu tidak tersenyum, Kirana bisa merasakan jika wanita yang pernah menjadi Istri Ayah nya itu tulus dan tidak ada nada kebencian dari ucapannya.


Mau tidak mau akhirnya Kirana ikut masuk ke dalam ruang Perawatan yang mirip kamar Apartemen mewah itu.


"Dave ada di ruangan itu." tunjuknya begitu mereka masuk ke ruangan yang seperti ruang tamu. "Masuk lah dulu." ucap nya sambil berjalan ke arah kanan dan membuka sebuah pintu yang Kirana yakini sebagai toilet.

__ADS_1


Kembali Kirana termenung di depan pintu, ia mengigit bibir bawahnya berkali-kali sebelum akhirnya ia memutuska untuk membuka pintu ruangan di mana Dave berada.


Dan seketika matanya membulat dengan mulut menganga melihat Dave dan Angela sedang berciuman.


__ADS_2