SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
BIMBANG


__ADS_3

"Dave, kau di mana ?" suara dari dalam ponsel terdengar.


"Aku sedang mengantar Kirana ke Kantor Polisi." ucap Dave dengan ponsel yang ia letakkan di telingan kanan. Wajahny tampak gusar saat menerima telpon dari Angela. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berkata jujur.


"Apa Kirana masih syok ? Aah, dia pasti kaget sekali." suara Angela terdengar prihatin.


"iya, dia syok. Tapi sekarang sudah nggak apa-apa." Dave merasa bersalah.


"Barusan aku lihat Jon juga sudah mengeluarkan statemen bahwa pembatalan pernikahan itu atas keputusan bersama. Dan ia juga akan segera come back setelah kasus ini selesai." Angela menjabarkan. "Apa mereka benar-benar berpisah, Dave ?" tanya Angela ingin tahu.


Dave menelan ludah. "..Sepertinya begitu." ucapnya perlahan.


Terdengar suara Angela mengeluh. "Sayang sekali...pasti jika menikah mereka akan menjadi pasangan serasi, dan anak-anak mereka akan bermata sipit seperti Mama dan Papanya." Angela berkata.


"Angela." panggil Dave. Lagi-lagi suaranya terdengar tak bersemangat.


"Iya, Dave ?" sahutnya.


"Aku..ingin membicarakan sesuatu denganmu." Ucap Dave.


"Bicaralah, aku mendengarkan." nada bicara Angela tanpa beban.


Dave terlihat gamang. Dari kejauhan ia melihat Kirana yang baru saja keluar dari kantor polisi dan sedang berjalan ke parkiran.


"Kita bicarkaan nanti. Aku harus mengerjakan sesuatu dulu." ucap Dave cepat. Dan sebelum Angela berkata apa pun, Dave sudah mematikan ponselnya.


"Bagaimana ?" tanya Dave saat Kirana sudah membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya.


Kirana tak menjawab. Dia tertunduk dengan wajah lesu.


Dave berdecak kesal. "Sudah aku bilang kan, untuk apa kau menemuinya ?" tanya Dave tak habis pikir.


"Dave." panggil Kirana tanpa memandangnya.


Dave menoleh ke arah Kirana.


"Kapan kita akan bilang pada semua orang tentang hubungan kita ?" wajah muram Kirana melihat ke arah Dave. "Bagaimana dengan Angela ?" tanyanya lagi saat Dave belum sempat menjawab.

__ADS_1


Dave menyandarkan punggungnya pada jog mobil dan menghela nafas panjang. Hatinya ikut resah setelah tadi menerima telpon dari Tunangannya.


Kirana ikut menyandarkan kepalanya pada jog sambil memandangi Dave sedih.


Sesaat mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.


"..Aku pikir ini akan mudah. Tapi ternyata berat ya, Dave ?" Kirana yang pertama berkata.


Dave menoleh ke arahnya.


Kembali mereka hanya saling pandang tanpa bicara.


"Seharusnya aku hanya tahu kau membenciku." Kirana berkata pelan. Kembali matanya berair. "Ah, aku memang cengeng." ia mengusap air matanya sebelum mengalir.


"Kau ingin aku terus bepura-pura membenci mu ?" tanya Dave tanpa emosi.


Kirana menunduk tak menjawab.


"Kau tak tahu usahaku selama ini untuk melupanmu." Dave menelan ludah dengan pandangan mengawang menatap pemadangan dari kacamobil depan.


Kirana mengangkat muka melihat ke arah Dave.


Kirana masih memandangi dengan kedua bola mata cantiknya yang berwarna cokelat terang.


"Aku bukan orang yang pandai berbicara soal cinta." Dave melihat ke arahnya. "Aku pun hampir tak mau berharap lagi soal kita. Karena aku dari dulu telah memikirkan resiko dan banyaknya orang yang terluka jika aku tetap memaksakan hubungan ini."


Dave menatap Kirana dalam-dalam. Di elus luka gores di pipi kanan Kirana yang ia tutupi dengan rambut panjangnya. "Tapi melihatmu di sakiti dan menerima cercaan dari orang lain atas kesalaham yang aku lakukan, itu membuatku tak bisa menyembunyikannya lagi." ucap Dave sungguh-sungguh.


"Dave.." Kirana memegangi tangan Dave yang menangkup pipi kanannya.


"Aku tahu Jonathan lebih baik dari pada aku yang pasif dan tak bisa berbuat banyak untukmu. Tapi semakin aku melihat kalian, semakin aku nggak rela untuk melepasmu dengannya." mata hitam Dave menatap jujur pada Kirana, membuat wajah gadis itu kembali berkerut dan matanya berair.


"Apa boleh kita egois, Dave ?" Kirana terisak. "Aku takut Angela akan berubah seperti Shopie. Aku juga takut Daddy akan murka. Lalu keluargamu..?" Kirana memandangnya dengan air mata berderai.


"Dasar plin-plan." Dave menyentil pelan kening Kirana untuk mencairkan suasan.


Kirana memegangi keningnya dengan wajah cemberut. Tapi sebelum ia protes, Dave sudah memeluknya sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Kau yang memberiku keberanian. Kenapa sekarang malah kau yang bilang takut ?" tanya Dave sambil melepas pelukannya.


"Karena aku pikir kau nggak menyukai ku." Kirana berkata polos sambil mengusap air matanya.


Dave tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Kenapa malah tertawa ?" ucap Kirana kesal.


"Semua orang pasti akan bahagia jika ungkapan cintanya di terima dengan baik. Tapi kenapa kau malah terlihat kecewa ?" tanya Dave di sela tawanya.


Kirana makin manyun. "Aku pikir kau ini pelit senyum. Tapi kenapa kau sering sekali tertawa mengejek ku ?" Kirana dongkol.


Dave kembali tertawa. "Kau nggak tahu setengah matinya aku menahan tawa saat melihat tingah bodohmu itu." guraunya.


Kirana langsung membenarkan letak duduk dan menyandarkan punggungnya jengkel. "Iya, aku memang bodoh." ucapnya marah.


"Bodoh, cengeng, manja." Dave terkekeh.


Kirana menatap Dave dengan kedua alis menyatu, sebelum kemudian ia membuang muka.


"Tapi baik dan rendah hati. Juga sangat tulus dan berani mengambil sikap." Dave berkata. Kirana menoleh ke arah Dave, dan mendapati lelaki itu tengah tersenyum padanya.


Wajah Kirana langsung merona. "Sok tahu." Kirana mencibir. Padahal sebenarnya ia hanya malu Dave memujinya.


"Kau bisa bersikap sombong dengan semua yang kau miliki. Tapi wanita ku ini, dia malah duduk di tanah kotor dan sibuk memberi makan dan bercanda dengan kucing liar yang bahkan di pandang orang pun tidak." Dave berkata masih dengan senyum tulusnya.


"Da, darimana kau tahu aku suka memberi makan kucing liar ?" tanya Kirana setelah dia mampu meredam kegugupannya.


Dave terkekeh. "Aku tahu semua." ucapnya.


Bibir Kirana langsung mengerucut. Membuat tawa Dave makin tergelak. "Ternyata selain makan, kau juga berbakat jadi Pelawak, Kirana." tawa Dave kian kencang.


Hari itu Dave dan Kirana semakin mantap akan hubungan mereka. Tidak ada yang egois jika kita saling mencintai. Begitulah ungkapan yang mengambarkan keteguhan tentang perasaan mereka.


Berita buruk tentang Kirana segera mereda setelah Jonathan memberi klarifikasi dan mungkin sengaja mengandeng wanita dari kalangan aktris untuk mengaburkan hubungannya dengan Kirana.


Shopie yang harusnya di penjara selama sepuluh tahun sesuai tuntunan Ayah Kirana, mendapat keringanan karena Kirana yang berkali-kali memohon pada Daddy nya agar menghasihani Shopie yang dulu pernah dekat dengan Keluarga mereka.

__ADS_1


Berkat kecangihan teknologi laser Korea. Hanya dalam beberapa kali treatmen luka gores di pipi kanan Kirana memudar dan hanya tersisa bekas tipis yang bisa tertutup dengan make up. Kenanga-kenagan yang seumur hidup tak akan pernah Kirana lupakan.


Dan setelah hampir satu bulan semuanya mulai kembali normal. Atas usul Dave dan Kirana, Keluarga Marthadinata dan Sanjaya berkumpul.


__ADS_2