
Kyoto, Jepang.
Mobil Mercedes Benz S-class warna silver itu berhenti mendadak saat segerombolan orang menyebrang di jalanan yang di lewati.
"Ada apa ?" Seorang pria kisaran usia 35 tahunan membenarkan letak kacamatanya saat Si Sopir tiba-tiba mengerem.
"Sepertinya di depan sedang ada Festival, ramai sekali, mobil tidak bisa lewat." Si Sopir menjelaskan.
Pria itu membuka kaca mobil. Angin musim gugur berhembus, membuat daun-daun momiji (maple) yang banyak tumbuh di jalanan sekitar Kyoto Imperial Palace berguguran.
"Jidai Matsuri." pria itu tersenyum saat melihat arak-arakan festival dari kejauhan. Ia menutup kaca mobil dan memakai mantel musim gugur warna cokelat tuanya. "Aku akan berjalan kaki dari sini." ucapnya.
"Tapi Anda baru saja dari perjalan jauh. Apa tidak lebih baik.."
"Aku tidak apa-apa." Pria itu memotong perkataan si Sopir. "Aku sudah lama tidak menyaksikan Festival Jepang. Dan Jidai Matsuri adalah salah satu dari tiga Festival terbesar di Kyoto. Rasanya aku beruntung karena datang di saat Festival ini sedang berlangsung." ia tersenyum lebar.
"Baiklah, jika Anda berkata seperti itu." Si Sopir berkata.
Pria berkacamata tersebut segera turun dari mobil. Suasana begitu meriah dengan banyaknya orang yang mengikuti Festival tersebut. Dengan tenang ia berjalan paling pinggir, di belakang orang-orang yang sedang berdesakan melihat Parade yang pertama kali di selenggarakan pada tahun 1895 untuk memperingati berdirinya Kuil Heian Jingu, sekaligus memperingati 1.100 tahun berdirinya ibu kota Heian-kyo (Kyoto) yang dulu merupakan Ibu kota Jepang sebelum Tokyo.
Pria itu menghentikan langkahnya saat sorak-sorai terdengar lebih kencang. Rupanya iring-iringan kelompok berkostum dari jaman Restorasi Meiji yang di wakilkan dari tentara Kekaisaran Yamagumi yang merupakan korp penembak jitu membuat pengunjung yang sebagai turis luar negeri berteriak kagum oleh baju yang di kenakan.
Kemudian di susul kelompok berkostum zaman Edo, lebih ke belakang lagi kelompok berkostum pada zaman Azuchi-Momoyama, zaman Yoahino, era Kamakura dan terakhir kelompok berkostum dari zaman Enryaku. Juga tak ketinggalan iring-iringan peserta festival yang mengenakan kostum bangsawan klan Fujiwara yang luar biasa megah.
Festival melibatkan lebih dari 2000 orang dengan kostum dari berbagai era di Jepang. Untuk itu pula Festival ini di namai Jidai Matsuri atau Festival Zaman.
Terpesona dan ikut lebur dalam kemeriahan festival, membuat pria itu mengeluarkan ponsel dan ikut memotret seperti penonton lain.
Rasa lelah karena perjalan Jakarta-Kyoto yang di tempuhnya, dan kini ia harus berdesakan berjalan kaki lantaran jalan di tutup, tak lagi di rasakan saat melihat euforia orang-orang melihat Festival.
Bahkan ia yang sebelumnya hanya melintas, kini malah ikut berpartisipasi mengikuti Parade dari Kyoto Imperial Palace menuju Kuil Heian Jinguu.
BUUGH !
"Sumimasen." Pria itu langsung berseru saat tak sengaja menubruk seorang wanita sampai ponsel yang dia pegang jatuh ke aspal.
Wanita berambut panjang yang di kepang ke depan itu terkejut dan hendak mengambil ponselnya yang jatuh. Bersamaan dengan itu, si Pria juga membungkuk dengan niat yang sama,
DUUK !
Kepala mereka berbenturan dan mereka mengerang bersamaan sambil mengusap kepala masing-masing.
"itaidesu ne.." wanita itu segera mengambil ponsel nya yang retak sambil memegangi kepalanya yang sakit dengan wajah masam.
Pria itu tertegun. Matanya membulat dari balik kacamata yang tengah ia pakai.
Wanita itu masih mengomel dalam bahasa Jepang saat melihat ponselnya yang rusak dan tak bisa di nyalakan. Ia hendak marah pada si Pria yang berdiri di hadapannya. Namun seperti Pria itu, ia pun terdiam saat mata mereka saling tatap.
"..Dave..?" ucapnya tak percaya.
Pria berkacamata itu tersenyum. Perasaan rindu melingkupinya. "Apa kabar, Kirana ?" ia mencoba berkata setenang mungkin.
Keadaan di sekitar mereka begitu ramai dengan tabuhan genderang dan omikoshi yang di panggul. Orang-orang makin antusias dalam melihat dan mengabadikan moment festival yang hanya setahun sekali tersebut. Tapi bagi Dave dan Kirana, waktu terasa berhenti.
Mereka duduk di salah satu bangku di area taman Kyoto Imperial Palace Park atau Kyoto Gyoen National Garden.
Panas mulai mereda, kelembaban telah turun dan udara terasa begitu kering. Meski begitu, musim gugur di Jepang adalah musim paling nyaman untuk melakukan kegiatan. Seperti Festival Jidai Matsuri dan Festival-festival lain, rata-rata di selenggarakan pada musim gugur seperti saat ini.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kita tak bertemu ?" tanya Dave yang duduk di samping Kirana dan kini telah melepas mantelnya.
Wanita di sebelahnya termenung sesaat sambil memandangi pohon momiji dengan daunnya yang berwarna kuning dan merah. Di situ memang tumbuh ratusan pohon momiji berukuran besar yang konon usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Membuat suasan sekitar taman berwarna kuning kemerahan saat musim gugur seperti ini.
"..Hampir sebelas tahun, sejak aku memutuskan menetap di Tokyo." akhirnya Kirana menjawab.
Mereka kembali diam sambil memandangi daun-daun momiji yang berguguran dan menciptakan keindahan tersendiri dari gradasi warna daunnya yang kuning-orange-merah.
"A, apa kau ke Kyoto untuk melihat Jidai Matsuri juga ?" tanyanya kikuk.
"Tidak, aku ke kamari karena ada urusan pekerjaan." jawab Dave sambil memandangi wanita dengan baju terusan warna pink salem di sampingnya. "Jalan menuju Hotel tempatku menginap di tutup karena ada Festival, dan aku terpaksa jalan kaki." ia terkekeh, mencoba mencairkan kecanggunagn di antara mereka.
"Ah, ya..kau pasti menjadi orang sibuk sekarang." Kirana menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya yang berada di pangkuan. "Kalau aku hanya pengangguran." kelakarnya. "Aku sengaja naik sikansen dari Tokyo ke Kyoto untuk melihat Jidai Matsuri." ia mengangkat wajah dan melihat ke arah Dave.
Mereka kembali terpegun, saat memandang wajah satu sama lain yang kini terlihat lebih dewasa di usia kepala tiga.
Di taman tersebut lebih tenang, dari pada di luar yang penuh keramaian festival, meskipun di dalam taman juga terdapat banyak pengunjung.
"..Aku turut berduka cita atas meninggalnya Jonathan." Dave berkata pelan. "Maaf aku baru sempat memgatakan."
Kirana terkejut, tapi kemudian ia menipiskan bibir dan mencoba tersenyum. "Tak apa. Itu sudah satu tahun lebih.." ia berkata.
"Jonathan pria yang baik." ucap Dave tulus.
"Sangat baik." Kirana berkata sungguh-sungguh.
"Iya." Dave mengamini.
Kembali mereka diam. Sepuluh tahun lebih tak bertemu membuat baik Dave ataupun Kirana serasa seperti orang asing. Apa lagi di tambah masa lalu mereka yang pelik.
"Suatu pagi..tiba-tiba Jon tak lagi bangun." Kirana mulai bercerita dengan pandangan mengawang. "Aku panik karena dia tak bernafas. Aku panggil Dokter, dan benar, semua sudah terlambat.." ia menunduk. "Jon divonis kena serangan jantung karena terlalu extreme dengan rutinitas menjadi aktor produser."
"Padahal kami sedang merencanakan program kehamilan setelah kista ku di operasi." Kirana mencoba kuat meskipun air matanya sudah di pelupuk. "Bertahun-tahun dia menunggu supaya aku bisa hamil, dan saat aku di nyatakan sehat..dia pergi begitu saja." Kirana mengusap air matanya yang hampir meleleh.
Wajah Dave semakin berkerut sedih. Ia tahu betapa mesra hubungan Kirana dengan Jonathan setelah menikah. Dan ia menjadi salah satu orang yang terkejut saat berita kematiannya muncul di televisi. Aktor yang meninggal muda dan tengah di masa puncaknya, pastilah selalu di kenang oleh penggemar dan orang terdekatnya.
"Kenapa kau tak pulang ? Dad dan Ibu mencemaskanmu..berharap kau kembali ke rumah dari pada tinggal sendirian di Tokyo." Dave berkata dengan hati-hati.
Wajah sembab Kirana menoleh ke arahnya. Di tatap baik-baik pria yang kini terlihat begitu dewasa dengan pundak lebar, rahang tegas, rambut tersisir rapi dan kacamata yang membingkai wajahnya. "Satu-satunya alasan ku tak pulang karena dirimu, Dave.." ia berkata dalam hati. "Aku tak mau kita bertemu, aku tak mau menyakiti Angela lagi dengan kehadiranku."
Kirana berpaling. "Aku akan pulang jika telah siap." ucapnya bohong.
Dave memandangnya sendu. Ingin ia memeluk pundak Kirana yang terlihat semakin rapuh. Tapi ia tak sanggup.
Serombongan turis dengan di pandu tour guide berjalan di belakang Dave dan Kirana. Suara mereka mirip lebah saat si tour guide menjelaskan tentang sejarah Taman Istana Kyoto yang tengah mereka kunjungi tersebut.
Dave menautkan jemari tangannya dengan siku yang di tumpu di kedua paha dengan posisi agak membungkuk. "...Angela dan aku telah bercerai." ucap Dave membuat Kirana kaget dan melihat ke arah nya. "Kami bercerai di tahun kedua setelah menikah. Satu tahun setelah kau dan Jonathan tinggal di Tokyo." Dave menoleh ke arah Kirana yang menatapnya dengan mata membelalak. "Aku tak bisa hidup dengan wanita yang terus bersembunyi di ketiak orang tua saat ada masalah dalam rumah tangganya." Dave menjelaskan.
"Da, Daddy atau Ibu tidak pernah cerita..?" Kirana tak percaya.
Dave tersenyum. "Aku melarangnya." ucap Dave. "Aku ingin kau bahagai dengan Jonathan tanpa memikirkan apa pun." lanjutnya.
Mata Kirana meremang. Alasan yang sama dengan kenapa ia mau ikut Jonathan tinggal di Tokyo, jauh dari orang tua yang dia sayangi dan tetap tak mau pulang meski kini Jonathan telah meninggal dan ia sebatang kara di Tokyo karena tak dekat dengan Keluarga Jonathan yang lain.
"Aku terus berpikir tentang perpisahan kita saat itu." Dave memandangnya. "Aku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya aku tak pernah mengungkapkan rasa cinta ku padamu, seandainya aku bisa mengunakan logika ku, seandainya aku bisa lebih tegas dalam bersikap, seandainya aku bisa memutar waktu, tentu kau tak perlu menderita." Dave menatapnya. "Tapi..saat melihat kebahagianmu bersama Jonathan, pandanganku mulai berubah. Aku mulai bisa berdamai dengan keadaan dan yah..mungkin ini lah yang terbaik yang di gariskan Yang Maha Kuasa."
Air mata Kirana mengalir. "Dave.." Kirana memanggil nama dari tiga pria yang selalu ia sebut dalam doa. Ayahnya, Suami dan Dave. Tanpa sadar tangan Kirana bergerak mengenggam tangan lelaki tersebut, membuat Dave menoleh ke arah nya.
__ADS_1
Angin hangat musim gugur kembali berhembus dan menjatuhkan daun-daun dari pohon momiji atau Acer Palmatum tersebut. Tangan Dave terjulur ke puncak kepala Kirana, di ambilnya daun berwarna merah yang jatuh di atas kepalanya.
Kirana terkejut dan segera melepas pegangan tangannya. "Maaf, kan aku. Tanpa sadar aku.." Kirana mengigit bibir bawahnya gugup.
Waktu tak bisa membuat hati nya tenang tiap kali bertemu dengan Dave. Debaran itu masih ada, seolah baru terjadi kemarin, cinta mereka yang naif dan penuh air mata.
"..Aku tak mau ada kata seandainya lagi, Kirana." Dave berkata setelah sepersekian menit mereka hanya diam.
Mata cokelat terang yang sangat di rindukannya itu bergetar menatapnya.
"Entah kebetulan atau kesempatan, tapi aku tak mau menyesal lagi." Dave membuka sesuatu dari balik kerah bajunya.
Kirana terpana saat Dave menunjukkan kalung dengan bandul cincin emas putih yang dulu pernah Kirana berikan padanya bertahun-tahun lalu.
"Aku letakkan di dekat hatiku, sebagai pengganti dirimu." Mata Dave berkaca-kaca menunjukkan cincin yang selalu ia kenakan tersebut.
Air mata Kirana meleleh. Ia meraba dadanya yang juga terdapat cincin pasangan dari cincin milik Dave di balik bajunya. "..Boleh kah, Dave ?" wajah Kirana sudah di penuhi air mata. "Boleh kah sekarang kita bersama ?" ucapnya. "Tak ada yang terluka ? Tak akan ada yang tersakiti karena kita bersama ?" tanyanya dengan suara bergetar karena bercampur tangis.
"..Tak ada, Kirana." Dave tersenyum dengan wajah memerah menahan air mata. Air mata bahagia tentu saja.
...🍁🍁🍁...
Tak ada dekorasi megah, hanya deretan bangku sederhana yang di tutup kain warna putih dengan sedikit hiasan rustic. Tak ada pula kebaya mewah bersulam emas seperti yang dulu ia kenakan atau gaun pernikahan bernilai ratusan juta yang mestinya mampu ia beli.
Wajah tua Marisa tersenyum setelah memakaikan kebaya pengantin warna putih miliknya dulu pada Kirana. Model yang sudah ketinggalan jaman, namun begitu pas di tubuh anak gadisnya yang telah menjadi wanita dewasa.
Wajah Kirana tak semuda dulu, garis halus sudah mulai tampak di bawah mata. Namun senyum itu cerah melukiskan kebahagiaan.
Kisah kita tak sempurna. Jalan kita terjal dan berliku. Tapi Tuhan Maha Baik, Dia mendengar setiap doa kita.
Hanya pernikahan sederhana yang di gelar di belakang rumah Keluarga Marthadinata, dan di hadiri kerabat dekat, tak lebih dari lima belas orang.
Dave mengenakan setelan jas seperti yang tiap hari ia pakai bekerja. Tak ada yang istimewa, kecuali hatinya yang bungah menatap pengantinnya yang berkebaya putih berjalan ke arahnya.
Tak ada suara musik, hanya semilir angin di pagi yang teduh dengan awan-awan putih yang menutupi matahari.
Cincin yang dulu hanya di kenakan sebagai bandul kalung, kini terpasang di jari manis masing-masing. Sepasang cincin yang di wariskan dari Kakek, kemudian ke Ayahnya untuk Ibunya dan kini di pakai dirinya dan Dave. Berharap, cinta mereka akan seindah pemilik cincin sebelumnya.
Wajah dari orang-orang terkasih yang menatap penuh haru pada kedua mempelai yang masih tak percaya bahwa mereka kini telah menikah. Seolah ikut larut dalam kesakralan pernikahan yang mengharu-biru.
"Tak ada lagi kata seandainya, Dave" Kirana memandang Dave yang semakin gagah seiring usianya yang semakin matang.
"Tak kan ada." Dave tersenyum menatap Kirana yang terlihat luar biasa cantik meskipun yang merias wajahnya bukan tangan profesional, melainkan Ibu nya sendiri.
Di gandeng tangan wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut untuk menemui keluarga yang telah menanti.
Kisah kita memang tak sempurna, tapi cinta kita lah yang sempurna.
SEANDAINYA..
Semarang, 6 Mei 2021
E N D I N G
...----------------...
__ADS_1
Selamat tinggal hanya untuk mereka yang suka dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang suka dengan hati dan jiwa, tak ada hal seperti pemisah.
-Jalaludin Rumi-