SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
POTRET


__ADS_3

"Tunangan Dave...??" Wajah Marisa terlihat cerah saat menyambut Angela yang malam ini terlihat manis memakai dress di bawah lutut warna merah muda, dengan rambut panjangnya yang di kuncir dan di sampirkan di bahu sebelah kanan.


Saat itu Marisa sudah berada si Ruang tamu bersama Suaminya, dan Angela yang bersama Dave di depan mereka.


"Angela dari Keluarga Adam...?" Andreas menyambut uluran tangan dari gadis itu.


"Benar." ia tersenyum sambil gantian menyalami Marisa yang berdiri di sebelah Suami nya.


"Maaf jika malam-malam saya berkunjung...." ucapnya sambil memandangi Ayah dan Ibu tiri Dave tersebut bergantian. " Tapi saat Dave bercerita jika dia tinggal dengan Daddy nya, saya jadi tidak sabar untuk bertemu." Ia tersenyum menambah cantik wajahnya.


"Ah, tidak apa-apa, ini masih jam 7 malam." Marisa berkata cepat. "Silahkan duduk." ucapnya ramah sambil mengulurkan tangannya sebagai isyrata agar mereka duduk.


"Terimakasih." Angela tersenyum, lalu duduk di sofa besar warna cokleat tua yang berada di belakanganya bersama Dave yang hanya diam.


Tak berapa lama mereka sudah terlibat dalam percakapan ringan, di susul dengan Pelayan yang menghidangkan beberapa kue serta minuman hangat.


"Keluarga Adam adalah Rajanya di Industri Retail, tentu dia akan sangat membantu mu kelak Dave." Andreas berucap. " Dasar Paman Hertoni, sampai Dave sudah di tunangan pun aku tidak di beri tahu." ucapnya dalam hati. Namun sebisa mungkin ia tidak memperlihatkan kekesalanya.


"Kelak saya pasti akan melakukan semua yang saya bisa untuk membantu Dave memajukan Sanjaya Company dan Marthadinata Corp." Angela tersenyum sambil mengenggam tangan Dave, menanggapinya Lelaki itu hanya tersenyum simpul.


Entahlah...saat ini pikiran Dave tak berada di situ, meskipun kini raganya sedang bersama mereka. Tapi melihat kemesraan Ayah dan Ibu tirinya secara terus menerus seperti ini, benar-benar menyiksa batinnya. Belum perdebatannya dengan Kirana, itu semua membuatnya lelah.


" Sayang sekali Kirana sedang menginap di Rumah temannya, jika dia tahu Tunangan Dave mampir ke sini, tentu dia akan senang." Marisa berkata sambil tersenyum lembut.


"Menginap di rumah teman..??" kening Dave berkerut. Namun ia tak berkata apa-apa.


"Kirana..??" mata Angela membulat.


"Iya, dia saudara Dave." Marisa berucap. "Apa Dave tidak pernah menceritakannya..??" ia bertanya.


Angela langsung menoleh pada Dave yang duduk di sebelahnya.


"...iya...dia Kirana yang tempo hari kita temui." Dave berkata setelah membenarkan letak duduknya.


"Waaahh..." Angela langsung menepukkan kedua tangannya girang.


"Jadi Angela sudah pernah bertemu Kirana yaa ?" Ibu tiri Dave itu bertanya masih dengan wajah ramah dan bibir yang tak henti mengulas senyum.


"Iya, Saya sudah pernah bertemu." jawab Angela. Wajahnya terlihat sama senangnya dengan calon Ibu tiri nya tersebut.


Untuk beberapa menit mereka berdua kembali terlibat percakapan seru antar wanita. Sedangnya Andreas hanya sesekali ikut berbicara, sedang Dave hanya diam sambil menyandarakan punggungnya ke sofa, sambil berharap Angela segera memintanya untuk di antar pulang.


"Ohh...jadi waktu dia pulang dengan memakai Dress warna kuning itu dari mu....?" Marisa terkejut.


"Iya." Angela tersenyum malu.

__ADS_1


"Kau baik sekali...cocok dengan nama mu." puji Marisa.


Angela terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Padahal waktu itu Tante sempat mengira Kirana mau memakai dress lagi." Marisa terlihat menyesal. "Pasti cantik..." Pandangan wanita berusiai 43 tahun itu terarah pada potret wanita berambut panjang dan memakai dress putih sedang memamg bunga lili putih.


"Waahh...cantik sekali.." mata Angela berbinar menatapnya. " Apa itu Kirana..??" tanyanya.


"Bukan, itu Neneknya. Ibu dari Daddy nya Dave." Marisa mengelus lengan Suaminya agar mau sedikit berbicara.


"Iya...Kirana mirip beliau." Suaminya berkata singkat sambil tersenyum. Andreas memang type orang yang tidak banyak bicara, apa lagi dengan orang yang baru di temui nya.


Dave ikut melihat satu-satunya potret wanita yang terpasang di dinding ruang tamu tersebut.


"Mirip dia...??" Ia tersenyum mengejek, kemudian melengos tak melihatnya lagi.


PLAAAKK !!


Kirana mengingat bagaimana ia menampar Dave.


"Dad memperkosa Ibu mu ! Ibu mu hamil dan Dad terpaksa menikah dengannya !"


Suara Dave terngiang dalam pikirannya, membuat Kirana menaikkan selimutnya dan mencoba memejamkan matanya kembali.


"Menurutmu seperti apa Dad ketika masih muda ??" seringai di wajah Lelaki yang selalu membuatnya berdebar itu membayang. "Pemakai, one night stand, mabuk-mabukan, itu Daddy kita !"


"Apa benar Daddy seperti itu dulu...??" ucapnya dalam hati.


"Kirana, anak cantik Daddy..."


Kirana membayangkan masa kecilnya bersama Ayahnya. Ayahnya yang berwajah kaku, tapi begitu baik dan menyayanginya. Bahkan dulu sering kali ia minta di mandikan dan di pakaikan baju olehnya, bermanja-manja di lengannya, tidur bersama. Betapa waktu kecil Kirana begitu dekat dengannya.


Walaupun setelah besar, Ayahnya menjadi lebih tegas padanya, tapi Kirana tahu Ayahnya yang berwajah mirip dengannya itu sangat menyayangi Kelularganya.


Kirana menghela nafas panjang, di lihatnya dalam keremanangan kamar tidur, Shopie yang tidur membelakanginya di ranjang luas tempat mereka berbaring.


"Aku nggak bisa tidur..." ucap nya murung.


Jam di tangan Dave menunjukkan pukul 11 malam ketika ia yang mengendarai Mobil Mazda GS milik Ayahnya untuk mengantar Angela melewati jalanan yang lengang.


"Aku pikir Daddy mu orang tua botak yang berwajah seram." ucap Angela ketika ia tadi mengantranya pulang. "Ternyata sangat ganteng, mirip Oppa-Oppa Korea." Angela terkekeh.


Waktu itu Dave hanya menanggapinya dengan senyum.


"Pantas saja Kirana berwajah oriental dengan mata sipit dan kulit nya yang putih." kembali Angela berkata. "Kalau Dave lebih mirip Mom Eva yaa...?"

__ADS_1


Kening Dave berkerut mengingatnya, ia menginjak gas Mobil nya membelah jalanan yang gelap, sebelum ia menagkap sosok seorang wanita dengan sepedanya di pinggir jalan.


"Nggak mungkin kan..??" Tanya Dave seorang diri, ia tak yakin. Namun hati nya terusik, akhirnya di putar balik nya Mobil warna sonic titanium itu.


Dari kejauhan di lihatnya seorang gadis bercelana pendek di atas lutut dengan jaket warna hitam menuntun sepedanya di pinggir jalan yang gelap dengan hany penerangan lampu di pinggir jalan.


"Apa dia sudah gila...??" Dave tak habis pikir saat di lihatnya gadis berkuncir itu dari kejauhan. Di lihatnya kanan dan kirinya, sepi hanya sesekali lewat kendaaran bermotor di jalan yang menuju Komplek Perumahan Rumah Angela.


Dave mematikan mobil dan segera turun, saat di lihatnya Gadis itu meninggalkan sepedany begitu saja di pinggir jalan dan masuk ke dalam semak yang ada di pinggir jalan.


Saat ia hampir sampai, sebuah tangan mencegram kuat lengannya untuk mencegahnya mendekati gadis tersebut.


Dave menoleh terkejut, di lihatnya seorang berbaju hitam-hitam yang menghalanginya. Namun begitu melihat wajah Dave, orang tersebut langsung melepas cengkramanny dan menunduk.


"Maaf, saya tidak tahu jika Tuan Muda yang ingin mendekati Nona Muda." ucap nya.


"Kenapa malam-malamdia di sini...? Bukankah harusnya dia menginap di Rumah temannya...?" Dave bertanya pada Laki-laki yang ternyta Bodyguard yang selama ini mengikuti dan menjaga Kirana diam-diam.


"Benar." jawab Laki-laki tegap tersebut. "Tapi sepertinya Nona tidak bisa tidur, dan tadi baru saja makan di Warung ujung jalan sana." ia menerangkan.


"Apa..?? Warung...??" Kening Dave makin berkerut.


Di dengarnya suara tawa Kirana dari balik semak, membuat dia memberi kode dengan tangan menyuruh Bodyguard itu pergi.


Terdengar bunyi binatang malam saat Dave perlahan masuk ke dalam semak tinggi di lahan kosong pinggir jalan.


Dalam gelapnya malam dan hanya di sinari lampu jalanan yang remang, di lihatnya Gadis yang beberapa saat lalu menamparnya itu sedang duduk begitu saja di tanah dengan beberapa ekor kucing liar yang berkerumun padanya.


Di dekatnya terdapat nasi bungkus denagn lauk ikan yang menjadi rebutan kucing-kucing liar yang tampak kotor bagi Dave.


"Hahahahaa...gelii..." Kirana tertawa saat kucing-kucing itu mengeong dan mengelus-ngeluskan kan kepalanya yang berbulu pada kaki nya.


Bahkan tanpa ragu Kirana mengendong, dan membiarkan kucing-kucing itu menjikati tangannya, membuat tawanya makin keras dan ia terliihat begitu bahagia.


Mata Dave nanar melihatnya, ia mundur ke belakang dan segera pergi dari situ tanpa sempat di sadari oleh Kirana yang masih asik dengan kucing-kucing liar nya.


" Aku iri padamu yang dekat dengan Dad..." Dave memaju mobil nya kencang melewati mobil-mobil lain di jalan raya.


Wajahnya merah padam dengan jantung nya serasa ingin lompat keluar setiap ia mengingat tawa dari gadis yang menjadi saudara 1 Ayahnya.


"Aku iri padamu yang seolah tidak punya beban hidup..." Dave mencegkeram stir mobilnya kuat-kuat. " Aku iri pada jiwamu yang bebas, yang tidak pernah aku miliki..."


Hati Dave tak menentu, rasanya ia ingin menenggelam kan diri, agar segala kegundahan hati nya saat ini ikut tenggelam bersamanya.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2