SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
PERMINTAAN


__ADS_3

Raut wajah wanita dalan ponsel itu langsung tertegun mendengar perkataan anak lelakinya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang dengan ekpresi memohon di wajah Dave.


"...Kenapa setelah bertahun-tahun, sekarang kau ingin tinggal dengannya Dave...??" tanya Ibu nya setelah mereka hanya diam dan saling tatap dengan pikiran masing-masing.


"Aku hanya ingin dekat dengan Dad, seperti Keluarga lain yang mereka dekat dengan Ayahnya..." jawab Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Kedua alis wanita di dalam ponsel itu sedikit berkerut, ia balas memamdangi wajah putranya itu dengan tatapan sedih. "...Kau tahu jika Keluarga kita tidak mungkin bisa seperti Keluarga umum lainnya..." Wanita itu mencoba memberi pengertian.


Tanpa sadar kening Dave ikut berkerut dan ia mengigit bibir bawahnya menunduk.


"....Aku tahu itu Mom..." Dave berucap tanpa memandang wajah wanita di dalam ponsel tersebut.Ia memiringkan kepalanya dan menidurkannya pada satu lenganny yang terlipat. "Aku cuma kadang iri dengan anak-anak Dad dari wanita itu yang bisa tinggal bersama Dad sejak kecil. Sedangkan aku..., sekali pun tidak pernah merasa kan itu..." lanjut Dave pahit.


Mata ibu nya langsung berkaca-kaca, ia menutup mulutnya dan langsung mengusap air matanya yang hampir saja mengalir. Ia memang tidak bisa melihat raut wajah anak lelakinya, karena Dave menunduk dan menidurkan kepalanya miring berbantal pada siku.


Tapi sebagai seorang Ibu, ia bisa merasakan pilunya hati anak lelaki nya saat ini.


"Kau jangan iri dengan saudaramu Dave, Mom yang salah karena mengajakmu tinggal di Luar Negeri, jauh dari Daddy mu..." Wanita itu kembali berkata setelah memastikan air matanya bisa ia bendung. Ia tidak mau anak lelakinya itu melihatnya menangis lagi.


Tapi Dave masih dengan posisinya, tak bergeming dan tak merespon apa yang baru saja ia katakan.


Wanita itu menghela nafas panjang, jika Dave sudah tidak mengindahkan omongannya, berarti anak lekakinya itu benar-benar serius dengan ucapannya"...Kekekmu tidak akan setuju..." ia kembali berkata.


Kali ini Dave mengangkat wajah nya, dan mau memandangi wajah Ibu yang berada dalam layar ponsel.


"Kau tahu kan, Kakekmu tidak suka dengan Daddy mu..." Ibu nya kembali berkata. Berharap putranya itu mau mengurungkan niatnya untuk tinggal bersama mantan Suaminya tersebut.


"Aku tidak peduli dengan Kakek, aku hanya meminta ijinmu Mom." Dave berucap tegas. "Kalau Mon mengijinkan, mau Kakek setuju atau tidak, aku tetap akan tinggal bersama Dad." Mata hitam Dave menatap tajam ke arah Ibu nya.


Wanita berambut panjang berwarna putih seperti di cat itu kembali menautkan kedua alisnya, ia gundah melihat wajah Dave yang penuh harap padanya.

__ADS_1


Wanita itu terdiam, dan menundukkan pandangan. Membicarakan mantan suaminya selalu membuat dada nya perih, mengoyak sanubari dan luka lama yang mati-matian ia lupakan namun tak pernah bisa meskipun kini raganya telah menua.


"Aku tahu Mom sedih jika aku membicarkan Dad, tapi please...sekali ini saja Mom...aku hanya ingin merasakan tinggal satu rumah dengan Dad..." Mata Dave berkaca-kaca dengan raut wajah memelas.


Di lihatnya Ibu nya yang mengusap wajahnya yang memerah dengan tangan dari layar ponsel.


"Mom...please..." Dave kembali meminta. "Maaf Mom aku egois, tapi aku benar-benar iri dengan anak Dad yang lain, yang bisa akrab dan tertawa dengan Dad. Sedangkan aku, seolah hanya seperti orang asing...."


"....Jika Kakekmu mengijinkan, Mom juga akan mengijinkan kau tinggal dengan Daddy mu." ucap Wanita itu akhirnya.


Sementara itu di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.


Sejak berangkat dari Rumah Keluarga Martadinta sampai kini tiba di Bandara, Jonathan tak henti-henti nya mengulas senyum dari balik masker hitam yang ia kenakan.


Di benarkan letak topi hitamnya sambil memandangi calon tunangannya yang malam ini mau bermake up dan memakai baju rajut lengan panjang warna soft pink, yang di padu rok mini di atas lutut berwarna putih dengan sepatu jenis flatshoes warna pink.


Walaupun wajah gadis itu manyun, tapi ia terlihat sangat cantik. Bahkan beberapa kali Jonathan memotretnya dengan ponsel, karena sangat jarang melihat Kirana yang bermake up seperti ini.


Mungkin mereka hanya terlihat sedang berdua saja di tengah keramaian Bandara pada malam itu, tapi jika di teliti lebih dekat. Seperti biasa di dekat mereka selalu terdapat beberapa bodyguard berpakaian hitam-hitam yang berada dalam jarak aman yang di tugaskan untuk menjaga keselamatan mereka, terutama Kirana yang merupakan Nona Muda di Keluarga Konglomerat Martadinata.


Jonathan terkekeh dari balik masker hitam nya. "Aku hanya senang, kau sampai mau berdandan untuk mengantar kepulanganku." Lelaki bermata sipit itu berkata.


Kirana mengerucutkan bibirnya. "Enak saja ! Aku berdandan untuk menenagkan Ibu, kau tahu !" Kirana mencibir dalam hati.


Sebelum berangkat tadi, Kirana memang pasrah di pilihkan baju apa saja dan di dandani model bagaimana pun oleh Ibunya. Hanya supaya Ibu nya itu melupakan tentang ia yang berkata kumal.


"Coba kau seperti ini terus setiap hari..." Jonathan sengaja memutus kalimatnya dan tersenyum lagi dari balik maskernya. Di pandanginya Kirana yang bibir polosnya kini terdapat warna merah yang memikat, membuat ia teringat akan panasnya ciuman gadis itu padanya.


"Ogah !" Kirana berkata ketus sambil membuang muka, membuyarkan lamunan Jonathan tentang pagi indahnya saat gadis itu memeluk dan menciumnya. Meskipun ketika itu Kirana melakukannya dalam kondisi tidak sadar.

__ADS_1


"Iya, lebih baik jangan." Jonathan berkata, membuat Kirana melirik ke arahnya. "Nanti bisa-bisa aku pindah ke Jakarta dan semua pekerjaan ku terbengkalai karena mu." ia tersenyum lebar lagi dari balik masker hitam nya. Membuata kedua matanya semakin menyipit.


"Aku nggak tersanjung tuh." ejek Kirana masih dengan sikap ketusnya, padahal sebenarnya ia merasa malu Jonathan berkata seperti itu.


"Lalu apa yang membuat mu tersanjung...?" Jonathan mendekatkan wajahnya, membuat kedua pipi Kirana makin memerah dan ia mendorong dada Jonathan agar menjauh dari nya.


"Apa-apaan kau ? Ini di tempat umum !" Kirana sengaja menekan suaranya marah, ia melihat sekeliling dan untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka dari sekian banyak orang yang berlalu lalang.


"Kenapa kau panik...?" Laki-laki bertinggi 187cm itu tertawa kecil. Mata sipitnya tak pernah lepas memandang Gadis berkuncir yang malam ini sukses membuatnya semakin jatuh cinta. "Kita hanya seperti sepasang kekasih yang akan berpisah." lanjutnya dengan kedua matany yang menyipit, menandakan jika ia tengah tersenyum di balik maskernya.


"A...apaa...?" Wajah Kirana merah padam.


"Hei Kirana..." Jonathan kembali mendekatkan wajahnya, Kirana bersiap dengan kedua tangannya yang menjadi perisainya, kalau-kalau Jonathan hendak memeluk atau mencium nya di depan umum.


"Apa...??" Kirana mendongkak menatap laki-laki yang hanya terlihat sepasang mata sipitnya itu.


"Apa benar, ciuman yang kemarin itu...ciuman pertama mu...??" tanya Jonathan dengan kedua matanya yang berbinar terkena sorot lampu ruangan Terminal Keberangkatan yang terang benerang.


Kirana langsung menunduk, ia teringat bagimana bibir yang di kira milik Dave menyentuh dan menyesapnya. Memberikan sensasi mengetarkan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Seketika wajah Kirana memerah dan ia tidak berani melihat ke arah Jonathan.


"Iya, yaaa...??" Jonathan terkekeh. Namun Kirana masih mendunduk dan mengigit bibir bawahnya dengan perasaan malu dan jantungnya yang serasa mau melompat keluar karena mengingatnya.


Jonathan menarik masker hitamya ke bawah dagu, lalu di raihnya kedua pipi calon Tuangannya itu agar melihat kearahnya. Jonthan bisa melihat betapa cantiknya Kirana dengan make up yang kini di kenakannya.


Sepasang mata cokelat terangnya berbinar terkena sorot lampu saat menatapnya, dan rona merah di kedua pipinya membuat Jonathan tak pernah bisa berpaling pada yang lain, meskipun Gadis yang dulu menjadi teman dekatnya itu kini memusuhinya tanpa ia tahu sebabnya.


"Minggu depan aku akan datang lagi Kirana..." ia berucap sambil menatap kedua mata cokelat terang itu dalam-dalam. "Saat itu, cobalah kau melihatku bukan sebagai teman, tapi sebagai calon Tunanganmu..." Lekaki berwajah oriantal itu tersenyum. "Karena cepat atau lambat, kita pasti akan segera bertunangan secara resmi." Ia tersenyum sambil mengusap lembut pipi Kirana .


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2