
"Maaf kan aku !" ucap Kirana cepat begitu Dave membungkuk dan memunguti kertas-kertasnya dengan keningnya yang berkerut dalam.
Dengan cepat Dave mengambili kertas-kertas itu, yang bahkan sebelum Angela yang lemah lembut ikut jongkok dan merapikan dress nya dulu, Dave sudah selesai memunguti nya.
Ia segera bangkit berdiri bersamaan dengan Angela yang berdiri tidak sempat ikut membantu memunguti kertas-kertas nya dan Kirana yang berada di depannya dan menyodorkan selembar kertas milik Dave yang kini terdapat bekas tapak sepatunya.
"...Maaf kan aku..." ucapnya lagi.
Dengan sengit Dave mengambil kertas yang di ulurkan Kirana kasar, membuat Jonathan yang berdiri di belakang Kirana tak suka.
"Apa kau tidak bisa bicara ?" ia berkata dengan tetap memakai masker hitam nya. "Dia sudah minta maaf, dan kau hanya diam."
Kirana langsung memelototi Jonathan, namun sayang fokus Lelaki bermata sipit itu kini bukan ke Kirana.
Dave terdiam sesaat sebelum kemudian terkekeh menatatap Lelaki yang lebih tinggi dari nya itu.
"Iya, aku maaf kan." ucap Dave singkat namun dengan sikap meremehkan. Ia segera mengandeng Angela yang sebenarnya ingin mengobrol dengan Kirana, namun hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki tunangannya.
Wajah Kirana berkerut sedih, hatinya gamang. Di remas-remasnya kaos nya yang kebesaran dengan jari-jari tangannya.
Tanpa Kirana sadari, Jontahan yang berdiri di belakangnya telah beringsut dan menghalangi Dave yang telah berjalan beberapa langkah melewatinya.
Dave memandang Jonathan dengan dengan kedua alis tebal nya yang saling bertaut. Sementra Angela sudah memegangi lengan Dave dengan kedua tangannya. Ia takut jika tuangannya itu berkelahi dengan laki-laki jangkung bermasker itu.
"....Mau apa ?" tanya Dave dengan mata hitam nya yang masih menatap Jonathan penuh ketidak sukaan.
"Aku tidak suka dengan sikap mu." jawab Jonathan tegas. Ia bersedekap sambil memandangi Lelaki berkaos hitam panjang dengan rambut lurus nya yang menutupi kening itu. "Kau bilang memaafkan tapi sikap mu meremehkan." lanjutnya.
Lagi-lagi Dave terkekeh, membuat Angela mengelus-elus lengannya dengan wajah cemas.
"Jon !?" Kirana terkejut. Ia berjalan cepat ke arah mereka. "Apa-apan kau ??" ia menarik lengan Jonathan dan berusaha membawa nya pergi dari situ.
__ADS_1
Dave melirik ke arah Kirana sesat, sebelum ia kembali menatap wajah Lelaki yang hanya tampak kedua matanya yang sipit dengan tulangan hidungnya yang mancung dan alis hitam nya yang terukir sempurna.
"....Dia minta maaf, dan aku sudah memaafkan. Kau mau apa lagi ?" Dave berkata setelah terdiam beberapa saat.
Kirana dan Angela diam-diam saling pandang, wajah kedua nya sama-sama menyiratkan kecemasan dengan tangan mereka yang sama-sama berada di lengan pasangan.
"Sikap mu seperti meremehkan Tuanganku, dan aku tidak suka !" Jonathan kembali berkata.
Membuat mata Kirana melotot dan hampir saja ia menginjak kaki Jonathan kalau saja ia tidak ingat di situ ada Dave dan Angela.
Dave tersenyum mendengarnya, wajahnya kali ini terlihat seperti sedang terkesan akan sesuatu.
Di pandanginya lagi Kirana sesaat, yang membuat gadis berkuncir itu mengigit bibir bawahnya dan menarik lengan baju Jonathan serta tanpa sadar menyembunyikan separuh wajahnya
Siang itu lingkungan Kampus sangat ramai dengan lalu-lalang mahasiswanya yang berada di sekitar. Tapi tidak ada yang memperhatikan mereka, mereka hanya terlihat seperti 4 orang mahasiswa yang sedang berdiri di berhadap-hadapan dengan pacar masing-masing dan mengobrol.
"Oh, kau tunangannya ??" Dave pura-pura kaget.
Kening Jonathan berkerut, dia betul-betul tidak suka dengan sikap Lelaki yang baru di temui nya ini. Penuh kepalsuan, begitu Jonathan menyimpulkan.
"Bilang pada tunanganmu, kalau jalan pakai mata..." Ia berkata ringan, sambil tersenyum dan menatatap Jonathan dengan pandangan menatang.
"Dave..." Angela mendesis, mengoyang lengan Dave agar pergi dari situ.
"Apa kau bilang...??" Emosi Jonathan langsung terpancing. Ia sudah maju 1 langkah dan akan lebih maju lagi, kalau saja Kirana tidak menahan lengannyan kuat-kuat.
"Jon, ayo lah..." nada Kirana kini sudah berubah memohon. Ia tidak mau terjadi baku hantam.
Dave memasukan satu tangannya ke dalam saku celana jeans nya, sedang tangan yang lain masih memegangi beberapa lembar kertas yang tadi di bawanya dengan Angela yang masih bergelayut pada lengannya. Dave bersikap seolah tidak tahu jika ia telah berhasil menyulut emosi Lelaki bermata sipit dengan baju biru dan celana jeans hitamnya tersebut.
"Coba tanyakan pada tunaganmu itu, berapa kali dia menabrakku." Dave tersenyum sinis menatap Kirana yang hanya bisa tertunduk bersembunyi di balik lengan Jonathan.
__ADS_1
Jonathan terkejut, ia melihat ke arah Kirana. "Kau sebelumnya pernah bertemu dia Kirana..?" tanya Jonathan perlahan, Kirana hanya mengigit bibir bawah nya sambil memandang Jonathan.
"Tapi itu tidak sengaja." Angela akhirnya bersuara. Membuat Kirana dan Jonathan memandang ke arahnya. "Benar kan Dave...?" Angela mendongkak kan wajahnya memandang ke arah tunangannya yang sama sekali tak melihat ke arahnya.
"Kau masih ingat mobil ku kan..??" Mengabaikan semua, Dave kembali berkata sambil menatap gadis berkuncir yang masih saja melingkarkan tangannya pada lengan tunangannya yang membuat Dave jengah, dan perasan tak nyaman lagi-lagi melingkupinya.
"A, aku bisa ganti kok !" Kirana berkata cepat meskipun ia gugup. "Aku bisa ganti berapa pun !" ia kembali berkata.
"Tidak usah !" Kali ini Dave berkata dengan nada tinggi. Membuat Kirana lagi-lagi mengigit bibir bawahnya dan memegangi lengan Jonathan lebih erat.
Tahu Kirana kaget mendengar ucapan Dave, membuat Jonathan memegangi tangan Kirana yang mencegkeram erat lengan baju nya. Membuat mata Dave menyipit, dan tanpa sadar mengepalkan tangannya yang berada di dalam saku celana.
Tidak hanya Kirana, bahkan Angela pun kaget, Dave bisa berkata sekasar itu.
"Kau tidak perlu membentaknya !" Jonathan kembali emosi. "Kalau kau memang tidak mau di ganti, kenapa kau masih saja membahasnya...??" kening Jonathan berkerut dalam menatap Dave.
Dave tersenyum, senyum sinis seperti biasa. "Supaya Tunaganmu itu sadar, bahwa lebih baik uangnya itu ia gunakan untuk memperbaiki kepribadiannya yang ceroboh dan sama sekali tidak mencerminkan diri seorang wanita." Dave menatap tajam ke arah Kirana. " Lihat penampilannya..." ia tersenyum meremehkan. "Kumal !" ucapnya tanpa perasaan.
Seketika wajah Kirana memerah, ia langsung lari begitu saja meninggalkan Jonathan, Dave maupun Angela. Wajahnya memerah dengan air mata yang mengambang di pelupuk matanya, ia sangat malu mendengar Dave berbicara seperti itu tentangnya.
"Kiranaaa...!" Jonathan memanggil saat melihat punggung Kirana yang mulai menjauh.
Ia kembali menoleh ke arah Dave dan mendesis marah, namun ia mengabaikan Lelaki berkaos hitam yang melihatnya tanpa rasa bersalah itu, dan berlari mengejar Kirana.
"Dave, kenapa kau tega sekali berkata seperti itu...??" Angela memandangnya dengan kening berkerut. "Bukankah kau tidak pernah berkata atau pun bertindak kasar pada seorang wanita karena menghargai Mommy mu yang juga seorang wanita...??" Suara lenbut Angela kembali terdengar.
Namun Dave hanya diam dan terus berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa kali Angela menoleh ke arah di mana Kirana menghilang, ia ingin ikut mengejar gadis itu. Tapi tentu saja ia lebih memberatkan tunangannya.
Dada Dave berdesir, tidak ada yang tahu jika saat ini lagi-lagi hati nya di liputi perasaan tak jelas yang menganggu.
__ADS_1
Kembali ia teringat saat Lelaki bermata sipit yang mengenakan masker hitam itu menyebut Kirana tunagannya. Dan kembali ia teringat saat tangan gadis berkuncir itu tak mau lepas dari lengan Lelaki tersebut.
Hampir-hampir tadi Dave memukul dadanya sendiri yang sesak, sebelum ia bisa menutupinya dengan kata-kata sadisnya.