
Untuk kesekian kali Kirana menghela nafas sambil mengaduk-aduk gelas es tehnya.
"Kenapa ?" tanya Shopie yang duduk di hadapannya. Saat ini keduanya tengah makan siang di kantin kantor.
"Nggak tahu..." Kirana menjawab asal. Wajahnya murung sambil memandangi es batu yang telah berubah kecil dan kini tengah berputar-putar di dalam air teh.
Shopie melihat piring makan Kirana yang masih penuh namun sudah di singkirkan ke samping. "Tumben makannya dikit, lagi diet karena mau nikah, ya ?" Ia bergurau.
Wajah Kirana kian tertekuk. "...Kenapa aku nggak merasakan apa-apa saat bersama Jon ?" ia seperti bertanya, tapi suaranya mirip gumaman.
"Hah ?" Shopie terkejut. "Maksudnya ?" ia tak mengerti.
Kirana mengangkat wajah untuk melihat sahabatnya dari jaman ia masih kuliah sampai kini mereka jadi parther kerja. "...Aku..sepertinya sampai kapanpun hanya mampu menganggap Jon seorang teman." ucap Kirana lambat-lambat.
"Apa ??" Mata Shopie melotot. Untungnya saat itu suasana kantin sedang ramai, sehingga suaranya yang keras tak begitu terdengar. "Sudah gila, ya ?" ia tak habis pikir.
Kirana hanya diam dengan wajah berkerut kusam.
"Kau mau menikah dan masih memikirka suka dan nggak suka ?" Shopie mengusap wajahnya kesal. "Hidupmu sempurna Kirana." Shopie menekankan. "Kau cantik, kau kaya dan calon suamimu itu seorang lelaki yang menjadi dambaan banyak wanita dari berbagai Negara !" Shopie berkata dengan berapi-api. "Negara kau tahu !" ia melipat kedua tangannya di dada sebal.
"Kebahagian nggak di ukur dari materi atau wajah, Shopie." Kirana ikut kesal karena seolah Shopie menganggap ia tak punya beban hidup.
"Itu karena kau nggak pernah kekurangan, Kirana." Shopie berkata tegas. Membuat mata Kirana langsung membulat. "Apa yang salah dengan wajah tampan atau cantik ?" Shopie balik bertanya. "Banyak wanita yang ingin wajahnya cantik dan bukankah suatu kebanggan jika pasangan kita pun tampan ?" Shopie memandang Kirana tajam. "Dan kau punya semua itu tanpa perlu bersusah payah Kirana, jadi cobalah bersyukur."
Kirana diam tak menjawab. "Mungkin memang aku yang kurang bersyukur." ia berucap dalam hati.
"Jangan-jangan ada orang lain yang kau cintai ?" selidik Shopie membuat Kirana bangun dari lamunannya.
"Apa..?" ia pura-pura bodoh.
"Kau nggak sedang menyukai seseorang kan ?" tanya Shopie lagi.
Wajah Kirana langsung merona. "Enggak. Siapa ?" ia balik bertanya.
Tapi Shopie bisa melihat kegugupan dari sikap Kirana.
"Aku hanya susah merubah perasaanku ke Jon." kata Kirana mulai tenang. "Kami berteman sudah lama, dari pada Suami, aku lebih menganggapnya sebagai Kakak."
"Kau benar-benar nggak bersyukur Kirana." Shopie menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kau nggak mengerti perasanku." ucap Kirana kesal.
"Perasaan mu yang aneh." sanggah Shopie. "Kau tinggal membuka sedikit hati mu untuk, Jon. Dan itu hal mudah karena Jon punya semua yang wanita inginkan."
__ADS_1
"Kau kira selama bertahun-tahun aku nggak pernah mencobanya ?" bibir Kirana manyun. Jika seperti itu, ia mirip anak kecil yang merajuk. "Yang ada hanya Dave terus yang memenuhi isi kepalaku." Kirana berkata dalam hati.
"Bagaimana kalau Jon tahu kau nggak mencintainya ?" tanya Shopie.
Kirana termenung. "...Aku harap setelah kami menikah aku bisa bisa belajar mencintainya." Dari pada menjawab pertanyaan Shopie, kata-kata Kirana lebih di tunjukan pada dirinya sendiri.
Rencana pernikahan Jonathan dan Kirana di muat besar-besaran oleh media Jepang dan Indonesia. Kirana harus mulai terbiasa melihat wajahnya yang terpampang di berbagai media.
Kirana memandang foto dirinya bersama Jonathan di salah satu majalah dengan wajah muram. Seperti biasa sore ini ia duduk di beranda yang menghadap danau di halaman belakang rumahnya. Ia senang duduk di situ, pemandangannya indah dengan angin lembut yang membawa aroma wangi mawar dari kebun bunga mawar putih peninggalan mendiang Neneknya.
"Untung di situ kau terlihat cantik." Jonathan yang telah berdiri di belakangnya berkata.
Kirana menoleh dan mengelembungkan pipi nya saat melihat Jonathan yang menunjukan raut muka mengejek. Kirana langsung meletakkan majalah mingguan itu ke meja.
Jonathan memang sengaja tak mengambil job beberapa waktu dan memilih tinggal di Jakarta untuk sementara karena ingin fokus mengurus pernikahannya yang tinggal hitungan minggu.
"Coba kau bukan pekerja seni. Tentu aku nggak akan malu keluar rumah." Kirana murung.
"Semua orang senang menjadi terkenal, kenapa kau malah malu ?" Jonathan duduk di sebelahnya.
"Nggak semua orang." Kirana menekankan.
Jonathan terkekeh. Bahkan dengan wajah Kirana yang polos seperti ini, ia tetap begitu cantik di matanya. Apa lagi kedua mata cokelat terangnya yang selalu bersinar ketika melihat ke arahnya.
"Terserah saja." Kirana berkata tanpa memandangnya.
Jonathan terbahak. Tidak tahu kenapa jika bersama Kirana ia selalu tertawa. Mungkin karena wajah Kirana yang menurut Jonathan imut akan semakin terlihat mengemaskan saat gadis itu bersikap ketus terhadapnya.
Jonathan meraih kalung emas putih yang melingkar di leher Kirana, membuat gadis itu terkejut.
"Kita pakai cincin ini." Jonathan mendekatkan bandul kalung berupa cincin yang selama ini selalu melingkat di leher Kirana.
Kirana masih memandangnya tak bicara.
"Seperti Kakek-Nenek mu yang tidak menikah lagi dan hanya mencintai satu orang. Begitu aku ingin pernikahan kita seperti itu." Jonathan berkata serius.
Kirana memalingkan muka sambil menarik bandul kalungnya dari Jonathan dan mengengamnya erat.
"Jangan yang ini." Kirana berkata.
"Kenapa ?" Jonathan terlihat kecewa tapi ia menyembunyikannya.
"Ci, cincin ini memang milik Kakek dan Nenek. Tapi yang memberikan adalah Ibu," Kirana berhenti sejenak untuk mencari-cari alasan yang tepat. "I, ibu bilang sangat menyayangi cincin ini karena menyimpan banyak kenangan tentang Daddy dan aku ketika kecil. Sedangkan cincin yang satu milik Opa. Opa ingin cincin ini tetap menjadi satu seperti ini dengan cincin milik Oma." Kirana mengarang cerita.
__ADS_1
"Cincin itu tetap akan kau pakai, Kirana, dan yang satu aku yang akan memakainya. Cincin itu tetap bersatu, kan ?" Jonathan tak mengerti.
"Kita cari yang lain saja, " Kirana meraih lengan Jonathan. "Aku, aku ingin cincin dengan batu safir biru untuk cincin pernikahan kita." ucapnya berusaha terlihat sunghuh-sungguh.
Jonathan sudah membuka mulut hendak bicara saat dering ponselnya terdengar. Ia berdecak kesal saat melihat nama Managernya pada layar ponsel. "Sudah aku bilang tidak mau diganggu." sungutnya. Tapi di terima juga panggilan telpon tersebut.
Kirana mengela nafas lega saat melihat Jonathan berjalan menjauh untuk menerima telpon.
Sementara itu di Rumah Keluarga Sanjaya. Di dalam kamarnya seperti biasa Dave setiap ada kesempatan pasti akan meghubungi Ibu tercintanya.
"Syukurlah Mom sehat." Dave tersenyum dengan ponsel di telingan kanan. "Besok aku akan pulang ke Paris, jadi hari Rabu aku bisa menemani Mom terapi." ia berucap.
Beberapa saat Dave mendengar Ibu nya berbicara.
"Nggak Mom," Dave kembali berkata. "Aku nggak sibuk dan aku nggak merasa di repotkan." ia terkekeh. "Mom tahu, kan, walaupun Kakek sudah menunjukku sebagai Wakilnya dan berniat pensiun. Tapi bukan Kakek namanya jika nggak datang ke kantor dan masih memantau semua pekerjaan."
Sesaat Dave mendengarkan suara di telpon sebelum kemudian ia tertawa. "Iya, tentu saja hanya sakit yang bisa menghentikan Kakek dari kegilaannya akan pekerjaan." ia berucap di sela tawanya.
Mereka masih mengobrol beberapa menit dengan Ibunya lalu menutup ponselnya dengan senyum terkembang bersamaan dengan bunyi ketukan pintu kamarnya.
"Ada Nona Angela di ruang tamu, Tuan muda." seorang Pelayan menunduk saat Dave membuka pintu kamarnya.
Dave sedikit heran, karena tidak biasanya Angela datang ke rumah tanpa pemberitahuan.
Segera ia menuruni anak tangga menuju lantai bawah ke ruang tamu di mana dari kejauhan Dave bisa melihat Angela yang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah cemas.
"Tumben ?" Dave berkata ramah begitu berada di dekat Tunangannya tersebut.
"Aku menghubungi berkali-kali." Angela panik. "Kenapa ponselnya sibuk terus ?" tanyanya.
"Maaf aku sedang,"
"Ini." potong Angela langsung memberikan ponselnya pada Dave.
Diambilnya ponsel Angela walaupun ia tak paham. Mata Dave membulat melihat foto dirinya yang kala itu memeluk Kirana tersebar di akun gosip online.
BERSELINGKUH SEBELUM MENIKAH
CALON ISTRI JON AOKI MEMILIKI KEKASIH
CIUMAN PANAS CALON ISTRI JON AOKI DENGAN LELAKI LAIN
Mulut Kirana menganga membaca potongan artikel-artikel yang di kirim Manager Jonathan lewat pesan whatsapp ke ponsel milik Jonathan.
__ADS_1