SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
AKU MINTA MAAF


__ADS_3

Kirana memang tidak pernah benar-benar memikirkan Jonathan, tapi kata-kata terakhir Jonathan saat berada di Bandara beberapa saat lalu mau tidak mau membuat Kirana memikirkannya.


Seperti sore ini, ia tengah duduk begitu saja di rumput sambil merenung di pinggir danau buatan yang berada di halaman belakang rumahnya yang luas. Sesekali ia melempar ikan sarden beku yang sudah di cairkan yang ia ambil dari ember kecil di samping nya, membuat bangau-bangau dengan bulu-bulu mereka yang putih berkeroyok menangkap ikan yang ia lempar kan.


Sejak kecil ia senang kegiatan memberi makan bangau ini, tapi sejak Kakek nya meninggal, ia merasa sudah tak seasik dulu kegiatan memberi makan bangau tersebut.


"Kenapa harus membandingkan dengan yang lain ?" bibir Kirana mengerucut. Di lempar kan nya lagi ikan sarden yang terakhir ke tengah danau, membuat bangau-bangau itu kembali berebut.


Kirana menghela nafas panjang, wajah nya lesu menatap bangau-bangau yang sampai mengembangkan sayap putih nya tersebut untuk berlomba mangambil makanan.


"Kalau memang suka ya suka, kenapa harus di banding kan dengan orang lain ?" Ucap Kirana kesal sambil menghentak satu kaki nya ke tanah.


"Siapa yang suka ?"


Suara laki-laki terdengar, membuat Kirana menengadah dan matanya langsung membulat saat mihat Dave telah berdiri tinggi menjulang dari samping tempat nya duduk.


Cepat-cepat Kirana berdiri, ia kaget. Jantung nya sampai mau melompat hanya dengan kehadiran Lelaki itu.


"Ke, kenapa nggak bilang kalau datang ?" Kirana tergagap, wajah nya sudah merah padam. Namun ia berusaha bersikap biasa saja.


Baru saja ia menguat kan hati, tapi ia langsung menunduk membuang muka saat Dave menatap diri nya.


Kirana menelan ludah, tanpa sadar ia meremas celana pendek yang tengah ia kenakan hanya untuk mengurangi kegugupannya.


"Aku minta maaf." ucap Dave membuat Kirana yang semula menunduk melihat ke arah nya.

__ADS_1


Mereka berdiri dan saling pandang dengan latar danau dengan air nya yang jernih dengan beberapa bangau yang berenang, bunga teratai ungu- putih yang tengah bermekaran.


"Aku minta maaf karena telah berkata buruk tentang mu." kembali Dave berkata bersamaan dengan angin sore yang berhembus lembut mengibarkan rambut kedua nya.


Kirana masih tak berkedip menatap Laki-laki berkaos hitam dengan celana jeans biru nya tersebut.


"Kata-kata ku keterlaluan pada mu, kau bisa balas memaki atau menampar ku kalau kau mau." Dave berkata lagi saat di lihat nya gadis berambut panjang kuncir sederhana dengan kaos kebesaran warna pink dan celana pendek di atas lutut itu hanya melongo melihatnya.


"A, aku memang sempat marah." Kirana akhirnya bisa berucap. "Tapi aku sudah memafkan mu.." ia kembali menunduk sambil meremas kaos nya yang kebesaran.


Dave diam mengamati nya. Selalu ada hal aneh dari dirinya tiap kali berhadapan dengan gadis yang membuat hari nya sial dulu.


"...Kita sama-sama nggak tahu." Kirana berkata setelah hanya diam menunduk. "Kau pun pasti nggak menyangka, dan aku pikir...dari pada aku, kau lebih sakit hati." ia menatap Dave dengan kedua mata cokelatnya yang terlihat terang karena bias cahaya matahari sore.


Dave tertegun memandangnya.


Kali ini Dave yang tidak memberi reaksi, membuat Kirana salah tingkah dengan beberapa kali mengigit bibir bawah nya dan memalingkan muka.


"Maaf kan aku." ia akhirnya memandang Dave lagi. "Aku hanya ingin mengatakan jika hal yang wajar kalau kau marah dan aku..." Kirana tercekat saat wajah Dave memerah dengan mata yang sudah menganak danau. "Maaf kan aku !" Kirana berkata cepat dan langsung menghapus air mata yang hampir saja menetes ke pipi Lelaki itu.


Mata Dave membulat menatap wajah Kirana dalam jarak dekat. Gadis itu sudah berjinjit dan memegangi pipinnya, membuat waktu seakan terhenti dan sekitar terasa sepi dan hanya ada mereka berdua.


Kirana seperti tidak sadar apa yang sudah dengan berani ia lakukan, dan saat ia menyadari nya. Ia langsung menarik diri menjauh dari Dave. "Maaf kan akuuu !" ia menjerit sambil menutup mata. "Aku benar-benar minta maaf, aku nggak sengaja, SUMPAH !" Kirana benar-benar ketakutan, ia tidak mau Dave salah paham dengannya.


Diam-diam Dave tersenyum simpul melihat Kirana yang terlihat sangat panik sampai tidak berani melihat ke arah nya.

__ADS_1


Di ambil nya sesuatu dari saku celananya, kemudian d sodorkan pada Kirana. "Milik mu." ia berucap.


Mata Kirana membulat saat melihat kalung nya yang hilang beberapa saat lalu dan ia hampir melupakan karena banyaknya masalah yang terus bermunculan.


Segera di ambil nya kalung tersebut, di amatinya kalung emas putih dengan mata berlian utuh nya yang berkilau tertimpa sinar matahari. Kalung nya yang berharga, yang berbandul dua cincin pernikahan Almarhum Opa dan Oma yang konon berwajah sangat mirip dengannya.


Melihat reaksi Kirana yang begitu menyayangi benda tersebut, Dave yakin jika gadis itu pasti akan marah pada nya. Dan ia sudah bersiap untuk itu.


"Terimakasih..." Mata indah itu berkaca-kaca melihat ke arah nya, membuat ia menelan ludah tanpa sadar. "Ini Cincin pernikahan Opa dan Oma." ia memperlihatkan cincin yang menjadi hiasannya kalungnya.


Dave terkejut saat cincin itu bisa di lepas dan menjadi dua. Namun ia hanya diam dan tak bertanya.


"Cincin milik Oma, Daddy yang memberikan kepada Ibu, lalu di berika kan pada ku." ia memperlihatkan cincin dengan berlian utuh nya kepada Dave. "Yang ini milik Opa, di berikan pada ku saat aku berusia 3 tahun." Kirana tersenyum memperlihatkan cincin dari emas putih polos.


Dave masih hanya diam memperhatikan. Bukan memperhatikan dua cincin yang di perlihatkan Kirana pada nya, tapi lebih memperhatikan wajah Kirana yang tampak berseri saat menerangkan.


Saat Kirana sadar jika Dave hanya diam, akhirnya matanya tertuju pada Lelaki tersebut, membuat wajahnya seketika kembali merona merah dan jantungnya serasa mengedor keluar dari rongga dada. Kirana langsung tertunduk, ia canggung dengan cara Dave memandangnya.


Sesaat mereka hanya diam dengan angin yang berkali-kali berhembus membuat anak-anak rambut Kirana berantakan dan menutupi kening dan pipi nya.


"Dave !?"


Suara seorang wanita mengagetkan kedua nya, membuat dua orang itu langsung menoleh ke sumber suara.


"Kau datang ke sini ?" Marisa sudah memegangi kedua lengan Dave yang masih belum sepenuh nya sadar dari lamunannya. "Kau baik-baik saja ?" wajah wanita berusia 43 tahun itu menatap cemas ke arah nya.

__ADS_1


Perlahan Dave tersenyum dengan wajah berkerut sedih, kemudian di peluk wanita yang hanya bertinggi sedada nya tersebut. "Aku baik-baik saja, Bu." ia berucap. "Maaf kan aku..." ia menyandarkan kepalanya pada bahu wanita tersebut sambil memejam kan mata menahan pedih.


__ADS_2