SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
TANDA


__ADS_3

Ketika Pelayan yang sebelumnya telah di beri tahu Dave soal kondisi Kirana dan pergi ke kamar Gadis itu, ia mendapati Nona Mudanya tersebut telah mengigil dengan wajah pucat dan kening yang berkeringat dingin, membuat si Pelayan tersebut berteriak panik dan membangunkan seisi Rumah.


Dokter Keluarga segera Andreas panggil, sambil menunggu Dokter yang sedang dalam perjalan, Marisa berkali-kali mengopres dahi Kirana dengan air hangat, wajahnya terlihat sangat cemas memandang Putri satu-satunya itu.


"Kirana kenapa jadi seperti ini Nak...?" wajahnya sudah memerah dengan mata berkaca-kaca. "Padahal sejak kecil Kirana paling aktif dan tidak pernah sakit." air mata nya meleleh di ujung matanya.


"Kau tenang saja, ini hanya demam dan Kirana akan segera sembuh setelah minum obat." Suaminya menenagkan sambil memegangi bahu Istrinya.


Dokter datang, dan begitu di periksa Kirana ternyata deman sampai 40 derajat dan dia dehidrasi. Punggung tangannya segera di pasang infus, sekaligus oleh si Dokter menyuntikkan cairan obat lewat selang infus yang telah terpasang.


Begitu selesai di periksa, Dokter dan Suaminya di luar kamar berbincang sedikit tentang kesehatan Kirana, Marisa di bantu oleh seorang Pelayan membantu mengganti baju piyama Kirana yang basah oleh keringat.


Mata Marisa membulat saat melihat tanda merah pada dada sebelah kiri anak gadisnya yang tengah tertidur karena efek obat. Berkali-kali ia mengusap tanda itu dengan handuk hangat yang di gunakannya untuk menyeka tubuh Kirana yang berkeringat, namun tanda itu tak kunjung hilang.


Wajah Marisa berubah khawatir saat menyadari tanda merah apa yang terdapat pada dada Kirana, tangannya langsung gemetar dan ia hampir menangis saat itu juga karena pikiran buruk yang sudah memenuhi isi kepalanya.


Tepukan di pundaknya bahkan sampai membuatnya berjingkak kaget, ia menoleh menegandahkan kepalanya ke atas, dan melihat Suaminya telah berdiri di sampingnya.


"Dokter bilang Kirana tidak apa-apa, hanya dehidarasi dan demam." ia berucap.


Marisa hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca, kemudian menunduk tanpa berkata apa pun.


Dengan isyarat tangan Andreas menyuruh Pelayan yang masih berdiri di belakang mereka untuk keluar.


"Ada apa...?" ia bertanya karena Istrinya hanya diam saja sambil memakaikan piyama baru untuk Kirana yang masih tertidur.


"...Tidak apa-apa." jawab Marisa tanpa memandang ke arahnya.


Andreas melihat Istrinya agak kesusahan mengangkat punggung anaknya untuk memakaikan lengan yang satunya, tanpa di minta Andreas segera mengangkat tubuh putrinya yang masih terasa panas saat tubuh lemahnya menempel pada dadanya yang berlapis baju tidur.


Di baringkannya Kirana pelan-pelan kembali ke bantalnya saat piyamanya telah terpakai dan tinggal di kancingkan.


Dengan mata sipitnya yang semakin menyipit karena menahan kantuk, Andreas memandang Putri satu-satunya tersebut. Ketika tiba-tiba matanya membulat dan ia langsung memegangi tangan istrinya yang masih mengancingkan piyama yang di kenakan Kirana.


Marisa terkejut dan menoleh ke arah Suaminya yang kini wajahnya terlihat menegang dan memandang pada satu titik, di mana tanda merah bekas ciuman Dave membekas pada dada sebelah kiri Kirana.

__ADS_1


"...Apa menurutmu karma itu ada, sampai anak kita pun mengalami hal yang sama..??" Ucap Marisa.


Saat Andreas menoleh ke arahnya, wajah Istrinya telah di penuhi air mata.


Sejak subuh Dave telah bangun dan berolah raga di halaman belakang yang menghadap danau buatan yang di sana terdapat beberapa angsa yang berenag dengan bebas.


Setelah tadi ia berlari memutari danau entah sampai berapa kali, kini ia berlari-lari di atas treadmill sampai keringat mengucur deras dan membasahi rambut serta punggungnya.


"Ternyata kau benar-benar tinggal di sini yaa..?" Suara seorang Lelaki membuat Dave menurunkan kecepatan treadmill dan melihat ke sumber suara.


Ia langsung mengacuhkannya begitu melihat Jonathan lah yang telah berdiri di deka pintu masuk.


Mendapati sifat Dave yang seperti itu, tanpa membuang waktu Jonathan langsung berjalan pergi meninggalkan halaman belakang yang di situ terdapat beberapa alat olahraga yang sering di gunakan calon Ayah mertuanyanya dan dirinya dulu jika senggang.


Begitu Jonathan pergi, Dave langung mematikan alat olahraga lari tersebut dan mendengus kesal.


Pikirannya kacau, bahkan dari semalam dia tidak tidur dan hanya memikirkan Saudara lain Ayahnya tersebut.


Ia menyisir rambutnya yang basah oleh keringat ke belakang, sebelum memutuskan untuk menguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Aku nggak mau." Kirana berucap tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa ada yang ingin kau makan...? Aku belikan yaa..?" Jonathan kembali berkata.


"Aku nggak mau apa-apa..." Kali ini suara Kirana terdengar seperti tangis. "Aku cuma mau sendiri..."


"Kau ada masalah apa...??" Jonathan meletakkan sendok berisi nasi tadi ke piring penuh nasi dan lauk yang ia taruh di atas nakas."Seperti dulu, kau bisa cerita padaku..." lanjutnya.


Kirana tak menjawab, bahunya gemetar dengan suara tangisnya yang kian lama semakin jelas terdengar.


"Kenapa sepi sekali..? Di mana yang lain...?" Dave yang telah selesai mandi dan kini telah rapi dengan kemeja abu tuanya duduk di meja makan.


"Nyonya sedang mengantarkan Tuan Kecil Kian ke sekolah, sedang Tuan Besar sudah berangkat ke Kantor." Pelayan yang menyiapkan sarapan untuk Dave berkata.


"Oh.."

__ADS_1


Pelayan wanita itu tersenyum melihat ke arah Dave. "Tadi Nyonya sempat mencari Tuan Muda Dave untuk sarapan bersama, tapi karena Tuan Muda masih asik berolah raga memutari danau, Nyonya memutuskan tidak mau menganggu." ia menerangkan.


Dave hanya diam sambil meminum air putihnya dan memulai makannya, sendiri di meja makan kayu panjang berisi berbagai jenis lauk dan sayur.


"Nyonya sangat baik kepada siapa saja, bahkan kepada kami yang cuma Pelayan." kembali Pelayan itu bercerita sambil menuangkan orange jus dan meletakkannya di samping gelas kaca berisi air mineral yang barusan di minum Dave separuh.


Dave melanjutkan sarapannya tanpa mempedulikan Pelayan yang bertugas melayaninya makan yang terus bercerita tentang kebaikan Nyonya rumahnya.


Sampai di lihatnya seorang Pelayan lain berjalan melintas dengan membawa baki berisi nasi dan lauk serta minum dalam gelas kaca yang masih utuh.


Dave langsung meminum orange jus nya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Nona Muda benar-benar sedang sakit yaa, sampai tidak mau makan...?"


Dave mendengar suara seorang Pelayan wanita dari balik pintu dapur yang terbuka lebar.


"Sepertinya iya, semalam demamnya sampai 40 derajat."


Suara Pelayan lain terdengar.


"40 derajat...??" Wajah Dave mengang.


Ia segera masuk ke dapur dan mengagetkan 3 Pelayan wanita yang tengah berkumpul dan asik berbincang tersebut.


"Tuan Muda Dave...?" Hampir bersamaan mereka langsung berdiri dan menunduk seperti menanti perintah.


"...Kirana...nggak mau makan...?" Dave bertanya ragu.


Ketiga Pelayan itu saling pandang, sebelum kemudian salah satu dari mereka maju ke depan dan menjawab. "...Benar, Nona Muda...tumben-tumbenan sakit sampai tidak mau makan." ia berucap. " Padahal Nona Muda paling suka makan, kami sampai cemas dengan keadaan Nona Muda..." Pelayan itu menunduk.


Dave mengigit bibir bawahnya. "Kenapa kau memikirnya..? Mau dia mau makan atau nggak, urusannya denganmu apa...??" Dave berkata dalam hati.


Keningnya berkerut dalam, wajahnya terlihat gamang. "Kirana sial !" Umpat Dave dalam hati sambil mengusap wajah nya kasar.


Ketiga Pelayan yang diam-diam memandanginya tak mengerti dengan sikapnya, dan membuat mereka saling pandang.

__ADS_1


"...Kirana...paling suka makan apa...?" dengan enggan dan seperti tak percaya dengan omongannya sendirin, Dave bertanya.


__ADS_2