SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
DADDY


__ADS_3

"Kenapa kau tidak memberi tahu ku soal Dave yang di tunangkan dengan Keluarga Adam ?" tanya Andreas pagi itu dengan ponsel yang di letakkan di telingan kanan.


Ia sudah rapi dengan setelan jas biru dongker yang di padu kemeja putih dan dasi biru tua dengan motif lingkaran.


"Papa yang mengatur semua, aku juga tidak di libatkan dalam masalah pertunangan itu." suara seorang wanita terdengar.


"Kenapa kau diam saja...? Kau kan Ibu nya..?" Kening Laki-laki berusia 50 tahun dengan rambutnya yang tersisir rapi ke belakang itu berkerut. "Aku tidak pernah suka dengan Evander Adam, tapi bisa-bisa nya Paman Hertoni menunangkan Dave dengan putrinya...??" Andreas berjalan mondar-mandir di ruang kerja nya tersebut.


"Kau tahu Papa membenci mu sejak perceraian kita, dan Papa selalu berusaha melakukan apa pun supaya Dave menjauh dari mu." suara wanita dalam ponsel terdengar. " Jadi jangan salahkan aku, kalau soal pendamping hidup pun Papa memilih dari Keluarga yang pernah terlibat konflik denganmu."


Andreas memijit-mijit keningnya, apa yang di bicarakan wanita dalam ponsel itu benar. Ia menghela nafas panjang.


"...Aku menyayangi Dave, dan lebih menyayangi nya setelah melihatnya tubuh besar dan cerdas seperti sekarang..." Nada suara Laki-laki dengan kerutan di bawah matanya yang sipit itu merendah. " Aku hanya ingin memastikan bahwa dia akan hidup bahagia...punya karir bagus, menikah, punya anak..." mata nya yang berwarna cokelat terang itu mengawang. " Aku tidak mau Dave tertekan karena aku tahu seperti apa Paman Hertoni."


Wanita yang duduk sendiri di kamar tidurnya dengan syal rajut tebal yang memeluk tubuhnya itu terdiam beberapa saat. "....Angela gadis yang baik, Dave juga menyukainya. Jadi tidak ada paksaan dalam pertunangan itu, kau tenang saja..." ia berucap pelan.


Andreas menjatuhkan diri di sofa besar yang berada di depan meja kerja nya. "Aku lega kalau memang seperti yang kau bilang." ucap nya. "Ku lihat anak yang bernama Angela itu juga baik dan lembut, dan yang paling penting Dave terlihat senang saat bersamanya." ia berkata.


Andreas terdiam beberapa saat. "...Selain hal itu, aku menelpon mu juga ingin membicarakan tentang hal lain..."lanjutnya.


"Hal lain...??" tanya suara dari dalam ponsel.


"Dave sebentar lagi beusia 20 tahun." ia berkata. Kembali Lelaki yang telah rapi dan terlihat siap untuk berangkat ke Kantor itu terdiam. "....Semua aset milik...."


TOK !


TOK !


TOK !


"Aku telpon lagi nanti." Andreas segera mematikan ponselnya begitu di dengar pintu ruang kerja nya di ketuk seseorang, dan menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana.


"Masuk !" ia berkata dengan suara lantang.

__ADS_1


Dave masuk dengan memakai setelan jas hitam dan kemeja putih di padu dengan dasi warna senada dengan jas nya.


Tanpa sadar Andreas langsung berdiri dengan wajah tertegun menatap anak lelakinya yang baru masuk tersebut.


"Dad, maaf...aku mau minta tolong..."


Sebelum Dave menyelesaikan kalimatnya, Daddy nya itu langsung berjalan cepat ke arah nya. Memeluk dirinya sampai ia hampir tersentak ke belakang, membuat Dave terkejut dan hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.


Di rasakan pelukan Ayahnya itu bertambah erat dengan bahu lebarnya yang bergetar. Dave tak mengerti kenapa tiba-tiba Ayahnya bersikap seperti itu, namun dengan senang hati ia balas memeluknya.


Sampai beberapa menit Andreas masih memeluk dan mengusap-usap punggungnya, membuat Dave semakin tak mengerti.


"...Dad, ada apa..??" akhirnya ia bertanya.


Mendengar suara Dave, membuat Andreas seperti kembali tersadar dari dunia masa lamunannya. Ia segera melepas pelukannya.


"Kau pasti kaget..." Andreas tertawa untuk menutupi perasaan haru melihat sosok Dave yang mengingatkan pada seseorang. "Kau...kau terlihat tampan dengan setelan jas dan kemeja ini." Ia menepuk-nepuk pundak anak lelakinya yang memang terlihat semakin tampan dengan penampilannya.


Dave berdehem beberapa kali sebelum berbicara. "Dad, hari ini aku akan ke tempat Kakek untuk membantu di Divisi Penjualan." ia berkata.


"Ah, karena itu kau berpakaian serapi ini...??" Andreas masih tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan perasaan sayang dan bangga. Dan itu terlihat sekali dari sorot mata cokelat terangnya yang berbinar.


"Iya." Dave tersenyum menatap wajah Ayah yang sangat di sayangi nya. "Aku...belum begitu paham untuk hal Strategi Pasar...aku..." Wajah Dave tertunduk. Ini pertama kali nya ia meminta tolong soal pekerjaan pada Ayahnya, dan itu membuatnya canggung dan malu.


Andreas paham apa yang di maksud Dave. "Kemari lah .." Ajaknya sambil berjalan ke arah meja kerjanya. " Aku punya buku bagus yang bisa kau pelajari dan pasti akan sangat membantu mu dalam bidang penjualan." Ia menoleh dan tersenyum lebar ke arah Dave yang berjalan mengikutinya.


Dave tersenyum menatap punggung Ayahnya, di perhatikan cara berjalan Andreas dari belakang, membuat Dave meniru setiap gerak-gerik Ayahnya tersebut.


"Pertama kali terjun langsung ke lapangan, kau memang akan merasa kebingungan meskipun sudah tahu dasar-dasarnya." Andreas berkata sambil berdiri membelakanginya.


Ia sedang mencari buku yang akan membantu Dave dalam Penjualan di antara deretan panjang lemari buku yang terletak di belakang meja kerja nya.


Sedangkan Dave sambil menunggu, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kerja Ayahnya yang di penuhi lemari berisi buku-buku.

__ADS_1


Ia membuang muka dan menghela nafas panjang saat melihat dinding yang menghadap langsung ke arah meja kerja Ayahnya, terdapat foto Keluarga yang terdiri dari Ayahnya, istrinya, Kirana dan Kiandra yang masih bayi dan berada dalam dekapan Ibunya.


Hal itu mengingatkan Dave akan dirinya yang sampai mengunting foto Ayahnya yang ia dapat di majalah, kemudian di tempelkan bersama foto diri nya dan Ibu nya, karena dia yang tidak punya foto Keluarga yang ada Ayahnya.


"Di mana aku meletakkanya yaa...??"


Di dengar suara Ayahnya yang bergumam, membuat Dave menghilangkan jauh-jauh perasaan iri dan sakit hati nya.


Tanpa sengaja tangan Dave menyenggol sebuah figura foto yang berada di atas meja kerja Ayahnya yang berada persis di dekatnya. Dengan iseng Dave mengambil nya, foto 3 orang Lelaki, 1 duduk dan 2 berdiri.


Dave mengenali yang duduk sebagai Kakek dari pihak Ayahnya. Yang ia hanya sempat menemuinya beberapa kali, sebelum akhirnya meninggal.


Salah satu dari 2 Lelaki berusia kisaran 25-30tahun yang berjas hitam dan berdiri di sisi kanan adalah Ayannya, itu terlihat dari mata sipit berwarna cokelat teramganya yang lain sendiri, dan kulit putih khas Asia Timur yang tidak berubah sampai sekarang.


Dave masih mengira-ngira siapa yang berdiri di sisi sebelah kiri Kakeknya, karena baru kali ini ia melihat sosoknya, ketika tiba-tiba Andreas sudah merebut figura itu dari nya.


Dave terkejut dan langsung melihat ke arah Ayahnya itu.


"Ini buku yang bisa membantumu." Wajah Andreas terlihat kaku. Di ulurkannya sebuah buku hadcover ke arah Dave, sedang tangannya yang lain meletakkan figura foto itu secara terbalik.


Dave menelan ludah, di ambil nya buku itu. "...Terimakasih Dad.." ucapnya sambil menunduk.


Baru kali ini Ayahnya bersikap kasar dengan merebut figura foto itu darinya sampai jari tangannya tadi secara tidak sengaja tergores pinggir figura, yang untungnya tidak luka. Dan wajah kaku Ayahnya itu, baru kali ini Dave melihatnya.


"Kenapa...??" Kening Dave berkerut. "Siapa orang di foto itu...? Kenapa sikap Dad berubah..? Apa aku berbuat salah...??" Banyak pertanyaan yang berkecambuk dalam diri lelaki berusia 19 tahun itu, namun ia yang sejak kecil sudah di ajari untuk menahan diri dan tidak terlalu banyak mencampuri masalah orang lain, hanya bisa menelan semua pertanyaan itu untuk diri nya sendiri.


Di lihatnya Ayahnya yang masih berdiri dan memalingkan muka dari nya, membuat Dave tak enak hati.


"...Permisi Dad..." ia akhirnya berucap. Tanpa menunggu respon Ayahnya, Dave segera berbalik dan berjalan menuju pintu.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2