SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
FAKTA


__ADS_3

Samar-samar Hertoni mengingat sosok Lelaki yang selalu ada si belakang Andreas kala itu. Hampir tak terlihat, dan Hertoni pun tak peduli, karena bagi nya yang bermartabat tinggi, sosok Lelaki yang bernama Rendy itu tak pernah bisa sejajar dengannya, walaupun rekan bisnisnya Adnan Marthadinata yang tak lain Ayah Andreas yang kini telah meninggal telah mengangkatnya sebagai anak.


Bagi Hertoni yang kolot, keturunan tidak lah bisa di gantikan dengan apa pun. Dan mesti Lelaki yang selalu tampil rapi dan menjabat sebagai Wakil Direktur dengan segala prestasinya memajukan Perusahaan dan bahkan memenagkan tender untuk proyek kerjasama Sanjaya Company dan Marthadinata Corp, tak akan merubah fakta bahwa Rendy bukanlah keturunan dari Keluarga Terhormat, melainkan hanya anak angkat yang di ambil dari Panti Asuhan dan tidak jelas asal-usulnya.


"Apa maksud mu dengan berbicara seperti itu...??" Erika terlihat emosional.


Andreas hanya diam sambil memalingkan muka.


Hertoni dengan wajah tertegun berjalan perlahan menuju pintu di mana Dave sedang berbaring. Lewat pintu yang separuh terbuat dari kaca, ia bisa melihat Cucu Lelaki nya itu tertidur dengan kepala yang terlilit perban dan alat-alat medis yang terpasang untuk menopang hidupnya sembari menunggu donor yang cocok.


"Katakan anak siapa itu...??" Hertoni mengingat dulu ketika tiba-tiba ia mendapat kabar jika Putri nya yang baru saja bercerai, melahirkan di kota Paris.


Masih di ingatnya waktu itu Eva hanya diam meskipun ia sudah mengancam akan mengambil bayinya jika ia tetap diam dan tidak mau mengatakan apa pun.


Air mata Lelaki tua dengan wajah yang sudah di penuhi keriput itu menetes saat memandang wajah Dave yang terlihat pucat dengan mata terpejam.


"Kau hebat Dave, memang pantas kalau kau adalah seorang Sanjaya." Hertoni memuji Dave yang kala itu masih berusia 10 tahun tapi berhasil lompat kelas.


"Kau spesial karena terlahir dari keturunan 2 Keluarga terhormat, tidak pantas bergaul dengan orang-orang yang tidak sederajad dengan mu." ucapnya di lain kesempatan saat Dave berusia 15 tahun dan ia ingin bermain dengan anak seusianya, tapi di larang oleh nya.


"Meskipun orang tua mu telah bercerai, tapi tidak merubah fakta bahwa darah Keluarga Marthadinata mengalir padamu, jadi tidak ada alasan untukmu merasa iri dengan mereka, hanya karena teman-teman mu yang lain datang bersama kedua orang tua nya." Hertoni berkata tegas pada Dave yang kalah itu lulus cumlaude sebagai lulusan termuda dan merasa kecewa karena Andreas tidak bisa hadir dalam wisudanya.


"Kenapa kalian berdua diam saja ?" Ucap Erika memandang Andreas dan Suaminya bergantian.


Hertoni masih berdiri di depan pintu ruangan Dave di rawat dengan posisi membelakangi Istrinya, sedangkan mantan menantunya hanya diam dan berdiri tidak jauh dari nya.

__ADS_1


Wajah wanita berusia 80 tahun itu berkerut sedih dengan air mata yang kembali mengalir. "...Mengapa kau mengatakan hanya Rendy yang bergolongan darah sama dengan Dave...??" tangisnya.


Di ruangan lain Marisa yang tahu Suaminya sedang mengkhawatirkan Dave yang belum mendapat donor, tidak mau tambah membebaninya dengan berita menghilangnya Kirana.


Ia sudah berkeliling Rumah Sakit bersama Jonathan dari pagi dan sudah menyuruh beberapa bodyguard untuk ikut mencari, tapi sampai mendekati makan siang ini, Kirana belum juga ketemu.


"Di mana sebenarnya Kirana ??" Marisa terduduk di kursi taman Rumah Sakit dengan wajah lelah dan cemas.


"....Oba-san..." ucap Jonathan perlahan sambil duduk di sebelah wanita berusia 43 tahun dengan rambut tergelung sederhana dan memakai baju terusan warna krem.


Marisa menoleh ke arah nya


"...Maaf aku ikut campur, tapi Kirana sampai mabuk-mabukan seperti itu...pasti dia tertekan sekali..." ucap Lelaki bermata sipit dan berkulit putih itu. "Jadi...tolong maafkanlah Kirana.."


"Kenapa Oba-san ikut minta maaf...??" Lelaki berusia 23 tahun berkebangsaan Jepang yang saat ini memakai kaos biru dan jeans hitam itu tsrsenyum. "Aku mencintai Kirana, dan aku ingin mengenalnya bahkan hal buruknya sekalipun. Agar aku kelak bisa tahu cara menghiburnya di saat ia sedih." ucap nya dengan bahasa Indonesia yang masih saja terdengar aneh meskipun ia sudah bertahun-tahun mempelajarinya.


Marisa terharu. "Kau benar-benar baik Jon." Marisa mengelus sesaat lengan Jonathan yang duduk di sampingnya. "Kirana beruntung di cintai orang seperti mu..." lanjutnya.


Tiba-tiba getaran ponsel di saku rok Marisa terasa, ia segera mengambil ponsel nya tersebut. Dari salah satu bodyguard yang ia suruh mencari Kirana.


Wajah Marisa yang lelah seketika berubah terkejut saat mendengar bodyguard nya tersebut mengatakan telah menemukan Kirana yang pingsan di area makam Keluarga Marthadinata.


Tiap jam terasa berlalu dengan cepat, tiba-tiba saja malam sudah kembali menyapa. Andreas bisa melihat Dokter di bantu Para Perawatnya itu sedang berusaha untuk membuat Dave bertahan dengan berbagai alat dan obat yang di suntikan ke dalam tubuh Dave yang lunglai.


Tangan Andreas gemetar, bayangan menyakitkan saat Rendy tertembak dan kehilangan banyak darah saat menyelamatkan Putrinya terlintas berkali-kali di benaknya.

__ADS_1


"Lakukan sesuatu !" di pojok ruangan Erika berteriak pada suaminya yang duduk dengan posisi tertunduk. "Apa masalahnya kalau Dave memang anak Rendy ?? Dave tetap lah Cucu kita, anak Eva !" tangisnya. Sejujurnya Erika juga terkejut dan kecewa, namun ia begitu menyayangi Dave dan perasaan itu tidak mungkin bisa langsung di rubah hanya dengan ia mendengar fakta mengejutkan ini.


Hertoni begitu terguncang, sampai-sampai ia hanya duduk diam, bahkan ketika Istrinya berkali-kali menarik lengannya.


Seperti nostagia melihat dirinya sendiri saat Andreas melihat pasangan Suami Istri itu.


Masih ia ingat jelas dalam ingatan terdalamnya, detik-detik terakhir dari kawan baik sekaligus saudara angkatny tersebut. Bagaimana wajah nya mengulas senyum berbarengan dengan bunyi nyaring dari layar EKG yang menampilkan garis lurus panjang, yang membuat tidak saja hatinya yang remuk, tapi juga hampir membuatnya depresi karena begitu kehilangan.


Andreas mengusap wajahnya yang hampir menitikan air mata saat pintu di buka dan Dokter keluar bersama Perawatnya.


"Bagaimana...??" tanya Andreas serak karena ia yang menahan tangis.


Dokter itu mengeleng dengan wajah penuh sesal.


"Apa tidak bisa selain darah O rhesus negatif Dok...??" Erika yang telah berada di antara mereka berucap. "Darah itu langka sekali...bagaimana Cucu saya bisa bertahan...??" tangisnya.


Dokter itu hanya diam dengan pandangan prihatin.


Tiba-tiba saja pintu terbuka keras, membuat semua yang berada dalam ruangan tersebut terkejut dan menoleh ke arah nya.


"Dave...??" Ucap Eva dengan nafas terengah dan kening yang berkeringat.


Ia masih menggunakan baju musim dingin khas Eropa dengan kain yang menutupi rambutnya, dan ia tampak begitu letih karena berlari menggunakan baju tebal dan heels tinggi.


Andreas dan Eva saling tatap, sebelum kemudian mereka berjalan cepat dan saling memeluk satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2