SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
MENCOBA MENGERTI


__ADS_3

Pagi sekitar jam 7 Hertoni telah siap dengan setelan jas abu-abu dan kemeja putih beserta dasi warna hitam. Usia 85 tahun lebih tidak serta merta membuat jalannya terbungkuk dan mendapat bantuan tongkat.


Ia tetap terlihat gagah dan berwibawa sebagai President Direktur sekaligus Pemilik dari Jaringan bisnis Keluarga Sanjaya yang telah di bangun sejak generasi Kakeknya.


Ia yang sempat putus asa karena tidak mempunyai anak laki-laki, dan sangat kecewa sampai berujung sakit hati karena rumah tangga putrinya yang gagal, kini menaruh harapan besar pada Cucu lelaki satu-satunya untuk meneruskan Kerajaan Bisnisnya.


"Apa Dave sudah mendaftarkan diri di Univeristas itu ?" tanya Hertoni pada Erika Istrinya yang berjalan di sampingnya.


"Sudah." Jawabnya."Beberapa hari yang lalu dia sudah mendaftar ke sana di temani Angela." wanita berusia 80 tahunan dengan rambutnya yang di cat warna pirang dan di potong pendek itu berkata.


Hertoni mendengus kesal sambil melonggrakan kerah baju nya.


"Sudahlah...jangan marah terus..." Ia mengandeng lengan Suaminya dan mengusap-usap dadanya dengan tangan yang lain. "Bukankah kau juga sudah janji pada Dave akan mengabulkan apa pun keinginannya kalau dia berhasil lulus INSEAD dengan nilai cumlaude...??" Istrinya mengingatkan.


Hertoni masih terdiam dengan kerutan di wajah nya yang semakin nampak jelas di wajah tua nya.


Mereka berjalan beriringan di Rumah luas mereka yang berlantai marmer putih dengan interiornya yang bergaya Kontemporer modern yang membuat kesan rumah menjadi bersih dengan tidak terlalu banyak hiasan di dalam nya.


"Waktu itu aku mengiyakan karena begitu bahagia melihat dia lulus di usia 19 tahun dengan predikat cumlaude." Hertoni berusaha menyangkal.


"Jangan bilang kau kesleo lidah." Erika bertawa sambil menepuk bahu Suaminya.


Lelaki yang telah menjadi Kakek itu hanya terdiam dengan kening berkerut. Istrinya benar, waktu itu ia mengiyakan karena terbawa suasana bahagia dan haru melihat Cucu Kesayangannya itu kembali membuat nya bangga dengan keberhasilannya.


"Dave selalu menuruti mu, kenapa tidak sekali-kali kau yang menurututinya...?" Istrinya kembali berkata.


Wajah Hertoni berubah kaku. "...Kau masih ingat kan apa yang di lakukan Lelaki brengsek itu kepada Putri kita...??" Hertoni menghentikan langkahnya dan memandangi wajah wanita yang selalu selalu setia di sampingnya itu.

__ADS_1


"Dia tetap Ayah Dave, Sayang..." Erika berkata dengan nada penuh penekanan.


Hertoni membuang muka, ingat jika ada darah mantan menantuanya itu di dalam diri Dave, membuat ia kesal.


"Apa kau pikir aku tidak sakit hati dengan tindakan Andreas pada putri kita..??" Istrinya kembali berkata.


Hertoni masih terdiam dengan keningnya yang berkerut dalam.


"Aku yang melahirkan Eva, jelas aku lebih sakit hati dengan tindakan Andreas pada Putri kita itu...!" Wajah wanita berusia 80 tahunan itu memerah, di tepuk-tepuknya dada nya sendiri. "Bahkan setelah bertahun-tahun pun...putri kita masih saja terpuruk dan tidak mau pulang ke Rumah..." Erika menunduk, menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.


Ia sedang mencoba menahan segala kesedihannya saat membicarakan Putri yang sangat ia rindukan itu. "Tapi Dave..." suara wanita itu tercekat karena di barengi dengan isak tangisnya sendiri. " Dave tidak tahu apa-apa...dia hanya ingin dekat dengan Ayah kandungnya..." Erika menutupi wajahnya yang sudah di penuhi air mata dengan kedua tangannya.


Wajah tua Hertoni seketika memelas melihat Istrinya yang tertunduk sedih dan menangis karenanya. "...Aku minta maaf..." akhirnya ia berucap. Di peluknya tubuh Erika agar tidak lagi menangis. "Kau benar...Dave tidak tahu apa pun, dia hanya ingin dekat dengan Ayahnya..." Hertoni mengulang kata-kata istrinya.


Di lepas pelukan Suaminya, lalu di pandanginya wajah Suaminya dengan kedua matanya yang masih berair. "Tolong jangan terlalu keras pada Dave..." ucapnya memohon. "Dave sudah memberi kita banyak kebahagiaan, dia juga selalu membuat mu bangga. Sekali-kali...turuti lah keinginanya..." Wanita yang selalu berada di sisisnya lebih dari setengah abad itu berkata.


Hertoni tersenyum samar sambil mengusap lembut pipi keriput Istrinya yang lembab oleh air mata. Ia menghela nafas panjang. "...Aku akan mencoba tidak bersikap terlalu keras padanya." Hertoni berkata perlahan.


"...Dan...untuk kali ini..." ia berkata ragu. Di lihatnya sesaat wajah istrinya. "...Aku akan biarkan dia Kuliah di sana." ucapnya sambil menoleh ke samping, menghindari tatapan mata istrinya.


"Sayang..." Nenek berusia 80 tahun tersenyum haru. ia senang Suaminya yang kolot itu akhirnya mau mengerti.


Mereka kembali berjalan beriringan dengan Erika yang mengandeng mesra lengan Suaminya sambil sesekali mereka saling pandang dan tersenyum.


Rasanya tidak ada yang bisa menyaingi kebahagian bisa tetap hidup berdampingan sampai usia setua itu dengan orang yang di cintai.


"Dave pasti akan sangat senang jika kau mau menyapanya." Erika kembali berkata saat mereka sudah sampai di Ruang makan yang bersebelahan dengan Dapur.

__ADS_1


Hertoni pura-pura tak mendengar dan langsung duduk di kursi makan, bahkan sebelum seorang Pelayan membantunya menarik kursi.


Dua orang Pelayan wanita berjalan dari arah Dapur dengan membawa baki berisi makanan yang kemudian di taruh bersama makanan lain yang terlebih dahulu sudah ada di meja makan.


Sementara 2 Pelayan lain sibuk menata meja makan dan beberapa lainnya berdiri berjejer di belakang meja makan, bersiap untuk membantu mengangkat kursi agar memudahkan Majikannya duduk.


Hertoni menghirup aroma wangi dari beberapa menu masakan yang telah terhidang di atas meja makan. Bisa di lihatnya dari beberapa menu masakan itu masih mengepulkan asapnya, yang menandakan jika masakan itu baru saja matang dan masih panas.


"...Rasanya menu masakan pagi ini agak lain...??" Erika berkata dengan posisi ia yang masih berdiri di samping Suaminya yang telah duduk.


"Apa chef kita yang orang Perancis itu akhirnya bisa memasak sayur asam...?" Hertoni berkata sambil menoleh ke arah Istrinya, sebelum tadi air liurnya hampir menetes karena menciun aroma wangi dari sayur asam dengan beberapa potongan jagung rebus di dalam kuahnya dengan wangi khas dari buah asam.


"Bukankah ini semua masakan favorite mu Sayang...??" Erika seperti baru tersadar setelah tadi ia sempat berpikir keras tentang apa yang berbeda dari berbagai menu masakan yang telah terhidang di atas meja itu.


"Tuan Muda yang memasak ini semua Nyonya..." Salah seorang Pelayan wanita yang berdiri berjajar di situ akhirnya berkata.


Mata Erika dan Hertoni sama-sama membulat menatap si Pelayan yang masih menunduk dan menunjukkan sikap patuh tersebut.


"Pagi-pagi sekali Tuan Muda sudah bangun dan menyuruh Chef Louise beserta Asisten nya untuk kembali ke ruangan." Pelayan itu kembali berkata sambil menunduk hormat. " Kata Tuan Muda, beliau ingin memasak kan sesuatu untuk Tuan dan Nyonya..." Pelayan itu menerangkan sambil tersenyum dan menunduk.


"Dave...Cucuku..." Erika menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia langsung berjalan cepat menuju dapur yang letakknya bersebelahan dengan ruang makan dengan perasaan haru.


Sesampainya di dapur, di lihatnya Dave yang masih sibuk mengoreng sesuatu sambil sesekali lengan baju nya ia gunakan untuk menyeka keringat di keningnya.


Di pandanginya Cucu kesayangannya itu dari ambang pintu, Erika tersenyum lebar melihatnya. Perlahan ia berjalan mendekatinya.


"Nenek pikir, kau sudah membuang jauh-jauh hobi memasak mu ini Dave...?" ia berkata, membuat Dave terkejut dan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2