SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
INGATAN TERBURUK


__ADS_3

Wajah Kirana kaku dengan kedua tangannya yang gemetar dan saling tertaut di dada. Bola matanya yang berwarna cokelat terang itu kini membulat dengan air mata berlina melihat Ayahnya yang panik dan kondisi Dave yang tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengucur dari luka di kepalanya meski beberapa orang Perawat di bantu Seorang Dokter sudah berusaha menghentikan pendarahannya.


"Dave, Ya Tuhan..."


Ayahnya yang biasanya tenang kini raut wajahnya begitu ketakutan. Begitu panik sampai Ibu nya dan seorang Perawat ikut menenagkannya.


"Andre, tenaglah..." ucap Marisa sambil memeluk lengannya. Berkali-kali Andreas ingin maju dan melihat keadaan Dave yang sedang di tangani Dokter di ruang UGD itu. "Dave akan baik-baik saja, dia akan selamat, yaa...??"


Sebenarnya Marisa juga takut dengan banyaknya darah yang keluar, dan wajah Dave yang terlihat begitu pucat dengan luka mengangga di bagian kening.


Tapi ia harus kuat, karena Suaminya yang terlihat begitu tertekan ketika mendapat kabar Dave kecelakaan pasca ia tampar dan ketika mereka sampai di UGD ini, kondisi Dave benar-benar terlihat memprihatinkan dengan banyaknya darah yang mengotori jas sert kaos nya yang terpaksa di gunting untuk memudahkan pengobatan.


"Salahku...semua salahku..." tangis Lelaki berusia 50 tahun itu penuh sesal sambil memandangi Dokter serta beberapa Perawat yang mengelilingi tubuh Dave yang terbaring tertutup tubuh mereka di pojok ruang.


Kirana langsung memegangi kepalanya saat di lihat nya kain kassa putih penuh darah yang tidak sengaja di jatuhkan Dokter yang menangani Dave.


Tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti di hantam benda keras, nyeri di barengi ingatan hitam putih tentang seorang Laki-laki berwajah pucat yang tersenyum memeluk dan menangkan diri nya yang berusia 3 tahun dan tengah ketakutan.


"Ti, tidak apa-apa..." Laki-laki itu berucap dengan kedua tangannya yang gemetar dan berada di kedua pundak kecilnya.


"Kirana..?" Jonathan menopang tubuh Kirana dari belakang saat gadis itu mulai oleng.


"Pasien kehilangan banyak darah !" seorang Perawat berkata.


Kirana melihat Ayahnya langsung maju, bahkan mengibaskan tangan Ibu nya yang berusaha menghalangi nya. Tindakan yang seumur hidup Kirana tidak pernah lihat, karena Ayahnya yang begitu mencintai Ibu nya.


"Anda Ayahnya ?" Seorang Perawat mencegah Andreas untuk maju lebih dekat. "Sebaiknya anda segera periksa golongan darah, supaya Pasien segera mendapat pertolongan."


Andreas langsung tertegun, ingatan buruk masa lalu menghantuinya.


"Kenapa Rumah Sakit sebesar ini tidak bisa menyediakan darah untuk Pasiennya ?!"


Di ingatnya Ayahnya dulu berteriak marah pada Staf Medis Rumah Sakit.


"Golongan darahnya sangat langka Tuan, PMI tidak menyediakan."


Staf Medis berbaju putih itu mencoba memberi perngertian.

__ADS_1


"Pak...?" Ucap Perawat itu membuyarkan lamunan Andreas. "Saya tahu anda panik, tapi sebaiknya Anda segera memeriksakan golongan darah Anda."


Andreas masih terdiam dengan raut wajah kalut memandang Perawat wanita tersebut.


"Anda Ayahnya, saya yakin golongan darah nya pasti cocok."  Perawat itu tersenyum menenangkan. "Pasien akan baik-baik saja."


Belum hilang ketegangan dan kekhawatiran di ruangan itu, tiba-tiba Kirana yang berdiri di pojok ruang bersama Jonathan jatuh pingsan.


"Kirana ?? " Dengan sigap Jonathan menopang tubuh lunglai gadis itu, membuat Ayah dan Ibu nya langsung menghambur ke arah nya.


"Kirana...??" Marisa menguncang tubuh putrinya. "Kau kenapa Nak...?" air matanya mulai menetes.


Andreas segera membopong tubuh putrinya dan menidurkannya di ranjang kosong persis di samping Dave.


Seketika suasana semakin panik dengan beberapa Perawat lain yang datang dan memeriksa Kirana.


Untunglah ruangan UGD malam ini sepi tidak ada pasien gawat darurat selain Dave, dan kini di tambah Kirana yang jatuh pingsan. Sehingga mereka bisa leluasa menggunakan ruangan tersebut.


Marisa yang biasanya tenang, kini menangis sambil memegangi tangan Kirana.


Sedang Andreas, Lelaki berusia 50 tahun itu memandang Anak Lelaki nya yang pucat dengan luka yang telah di jahit, kemudian pandangannya teralih pada Anak Perempuannya yang kini ikut terbaring di ranjang yang lain dengan seorang Dokter yang memeriksa.


Di usap wajah tuanya dengan kalut, mata sipitnya memerah, sekuat tenaga ia menahan agar tidak menitikan air mata karena kajadian yang tiba-tiba ini.


......................


Gadis kecil berusia 3 tahun itu masih mengamati Seorang Laki-laki berbaju putih yang duduk sendirian di antara keramaian dan tawa orang-orang di sekitarnya.


"Kenyapa Om sendilian...??" tanya nya.


Lelaki dengan kemeja putih lengan panjang nya itu tersenyum dan membungkukkan badannya dengan kedua tangannya yang di topangkan pada kedua pahanya agar wajahnya sejajar dengan gadis kecil itu.


"Bukankah sekarang Om di temani gadis kecil yang cantik ini...??" ia berucap, membuat tawa lebar di wajah cantik mengemaskannya.


Kirana tidur tak nyenyak, keningnya berpeluh dan beberapan kali kepalanya mengeleng dan berguman tak jelas.


Ingatan-ingatan tentang masa lalu yang tidak ia ingat tiba-tiba menjadi tumpang tindih. Wajah Dave yang pucat dan darah yang mengotori baju serta kassa putih yang berubah warna terkena darah itu membuat nyeri kepalanya makin hebat.

__ADS_1


"Nona kecil, Om bawakan camilan lagi."


Wajah Lelaki yang mirip Dave itu kembali membayang dalam ingatannya yang hitam putih. Senyum tulus dan tatapan sayang dari Lelaki yang berusia kisaran 30 tahun terhadapnya yang saat itu masih 3 tahun begitu menyenagkan hati nya yang masih polos.


Perasaan bahagia karena tiap kali Lelaki itu bertemu dengannya, pasti akan di bawakan sesuatu, entah mainan, boneka atau makanan.


"Kirana, jangan makan banyak-banyak. Nanti tambah gemuk." Ibu nya memperingatkan gadis kecil itu saat memasukan langsung pisang goreng yang di balut tepung renyah dan di taburi meses cokelat dan keju.


"Bialin Kilana gemuk." ucapnya sambil melirik Lelaki yang duduk di samping Ayahnya dan tengah tersenyum diam-diam.


Tidur Kirana makin gelisah, ia sampai mengigit bibir bawahnya dengan mata yang terpejam rapat-rapat mengingat itu semua.


Samar-samar dalam warna hitam putih, ia berada dalam ruang pesta yang meriah dengan tawa dan iringan musik orang-orang yang berjoget dan ikut menyanyi bersama seorang wanita cantik yang berada di atas panggung.


Kirana mengeram, dengan mata yang masih terpejam karena pengaruh obat yang di suntikan Dokter padanya, ia memegangi kepalanya yang seperti mau meledak saat suara musik berhenti dan di ganti bunyi letupan senjata api.


DORR !!


DORR !!


DORR !!


Semuanya hitam putih, hanya warna merah dari punggung Lelaki yang tersenyum dan memegangi kedua pundaknya kecil nya dengan tangan gemetarnya itu lah yang paling nyata.


"....Dave...??" Kirana bergumam saat dalam ingatannya yang hitam putih, Lelaki yang mirip Dave itu mengelus pipi mungil nya dengan jari-jari nya gemetar dan wajah menahan sakit.


"...Tidak apa-apa..." ia berucap, masih tersenyum walaupun jelas sekali ia kesakitan.


"Om Rendy...."


Kirana berlari kencang di pagi subuh yang dingin dan langit yang masih gelap. Ia tak peduli dengan kakinya yang lecet karena berlari tanpa alas kaki, tak peduli kini ia hanya memaki baju pasien Rumah Sakit yang tipis padahal pagi itu begitu dingin karena semalam hujan.


Ia terus berlari dengan wajah memerah dan rambut panjangnya yang tergerai kusut tertiup angin.


"Kenapa aku hanya mengingat Opa...??" tangisnya dalam hati. "Kenapa aku nggak mengingat apa pun tentang Om Rendy...??" Ia menangis menahan perih mengingat kenangan terburuknya saat berusia 3 tahun dan baru kali ini ia bisa mengingatnya. "Padahal Om Rendy meninggal gara-gara akuu...!!"


Kirana terus berlari di iringi air matanya sendiri yang tak mau berhenti mengalir.

__ADS_1


__ADS_2