
Mata Kirana melotot ngeri melihat ujung runcing dari pisau yang tampak berkilat tertimpa cahaya lampu kuning lima watt yang terpasang pada atap usang di atasnya.
Jantung Kirana berpacu cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggung dan keningnya. Bahkan ia merasa sesak nafas karena begitu tegang. Seolah malam ini Malaikat Izrail siap menjemputnya.
Meskipun memakai penutup wajah atau masker. Tapi Kirana yakin jika tidak mengenal ketiga wanita yang menyekapnya ini. Begitu sadar tadi, Kirana sudah mencoba menelisik dari suara, perawakan dan semua yang ada pada ketiganya. Tapi Kirana betul-betul tak mengenal mereka.
"Apa mereka memang hanya fans dari Jon ?" Kirana bertanya dalam hati. Karena ketiga wanita itu terus membicarakan tentang Jonathan.
Dan terakhir, saat benda tajam itu mengarah padanya. Kirana yakin seratus persen jika mereka memang benar fans fanatik Jonathan yang sakit hati dengan dirinya.
Air mata Kirana meleleh. Ia tidak menyangka keputusannya akan berakibat seperti ini. Padahal Kirana pikir, teror kucing dengan leher terpengal dan di letakkan di meja kerjanya sudah yang paling ekstrim.
"Gampang sekali nangis." salah satu dari mereka tertawa.
"Jijik sama air matanya." yang kedua menyahut.
"Dengan air mata itu juga dia merayu Jon kita lalu mencampakannya." nada bicara yang ketiga terdengar emosi.
Kirana menunduk tak berdaya. Ia tidak bisa apa-apa. Ponselnya di mana pun ia tidak tahu. Jangan kan ponsel, dia berada di mana dan kenapa bisa di sini saja Kirana tak ingat.
"Ayo, cepat kita selesaikan. Sudah hampir subuh, jangan sampai ada yang tahu." salah seorang dari mereka memberi komando.
Kirana panik saat mereka bertiga berdiri dan berjalan ke arahnya. Dua orang langsung memegangi Kirana. Padahal tanpa di pegangi pun, dengan posisi kedua tangan terikat di belakang dan mulut tertutup lakban, Kirana hanya bisa mengandalkan kedua kakinya yang bebas. Itu pun pasti Kirana akan tetap sulit untuk lari.
Kirana berontak. Ia menangis tanpa suara karena mulutnya yang di bekap.
"Tenag saja, kami hanya ingin memberimu sedikit pelajaran karena sudah membuat Jon kami sakit hati." satu wanita yang jongkok di hadapannya sambil memegang pisau lipat itu berkata.
Kirana semakin ketakutan. Dalam hati ia memohon agar ada seseorang yang bisa menolongnya.
"Yang mana ?" yang memegang pisau bertanya.
__ADS_1
"Congkel matanya." usul yang berada di sebalah kanan Kirana.
"Itu terlalu eksrime, Jon tak akan suka." yang sebelah kiri menolak. "Gunduli saja rambutnya." ia terkekeh.
Yang lain ikut tertawa.
"Jon mungkin akan merasa bersyukur setelah melihatnya tanpa rambut." yang memegang pisau berkata di sela tawanya.
Jantung Kirana serasa melompat-lompat mendengar ketiga orang yang tengah membicarakan suatu kejahatan seperti lelucon.
"Tapi itu terlalu ringan." ucap yang membawa pisau setelah mereka tak lagi tertawa. "Jon sampai memutuskan tidak main film atau mengambil Job apa pun sejak batalnya pernikahan. Bukankan itu artinya Jon sangat sakit hati sekali ?" ia bertanya.
Dua orang temannya mengangguk-angguk setuju. Wajah Kirana kian di hiasi rasa ngeri dan air mata.
Saat wanita dengan penutup wajah dan yang memegang pisau itu mengarahkan pisaunya ke pipi. Kirana menjerit tertahan. Wajahnya menoleh jauh dari ujung pisau yang mengarah padanya. Ia ingin lari. Tapi oleh kedua teman wanita itu, Kirana di paksa tetap dalam posisinya.
"Kita beri dua tanda mata dari Jon di pipinya."
Meskipun Kirana tak tahu, karena bagian mulutnya tertutup masker. Tapi Kirana bisa merasakan jika wanita yang memegangi pisau itu tengah tersenyum lebar padanya.
Mereka kembali tertawa.
"Cerdas." puji yang sebelah kanan.
Tak terkira rasa takut yang bergelung di hati Kirana. Ia mencoba berontak. Tapi tekanan kedua wanita yang berada di kanan dan kirinya begitu kuat, hingga ia hanya bisa terduduk di tanah dengan wajah panik dan mengeleng-geleng dengan air mata bercucuran.
Bahakan lakban yang menutup mulut Kirana tak bisa menahan jerit kesakitan gadis itu, saat ujung pisau mengores pipi mulusnya dan meninggalkan torehan panjang berwarna merah yang sangat kontras dengan pipi putih Kirana yang tak bercela.
Kirana menangis sejadi-jadinya. Air matanya bercampur dengan darah yang menetes dari lukanya. Rasa perih dan sakit menjalar dari pipi sebelah kananya tersebut.
"Cuma goresan kecil, nangis nya kayak kena tusuk." salah satu dari mereka berkata.
__ADS_1
Kirana sudah tak mengubrisnya lagi. Ia hanya menangis menahan perih dan rasa malu karena merasa buruk rupa.
"Pegangi dia." perintah yang memegang pisau lagi.
Kirana mencoba berteriak dan berusaha lepas dari mereka. Luka yang di torehkan membuat Kirana lebih kuat dalam upaya melepaskan diri karena tak mau lagi wajahnya di ukir dengan pisau.
Kaki panjang Kirana ia gunakan untuk menendang yang memegang pisau di depannya. Membuat ia terjungkal ke belakang. Dua orang temanya terkejut, membuat pegangannya pada Kirana longgar. Kesempatan itu di gunakan Kirana untuk berdiri dan lari walaupun kondisinya masih terikat dan mulut di lakban.
Sayang, baru beberapa langkah Kirana berlari. Salah satu dari mereka sudah menjambak rambut berkuncir Kirana, membuat Kirana terjatuh ke tanah dan mengerang kesakitan.
"Kurang ajar !" teriak salah satu dari mereka.
Kirana memekik saat ia yang masih dalam posisi berbaring di keroyok tiga orang wanita yang bertubuh lebih besar dari nya.
Saat itu lah tiba-tiba pintu di dobrak.
"KIRANA !" Dave terkejut saat melihat pisau yang sudah terangkat dan di arahkan ke Kirana yang berbaring tak berdaya di lantai tanah dan tengah di keroyok tiga orang wanita.
Ketiga wanita itu kaget melihat Dave. Dan lebih kaget lagi saat Dave langsung menyergap dan mengambil pisau yang berada di tangan mereka dan melemparnya jauh ke sudut ruang.
Beberapa warga dan Satpam dengan menggunakan senter ikut masuk dan mengamankan ketiga wanita bertopeng itu yang di ketahui merupakan fans fanatik Jonathan.
"Kirana ?" Dave langsung menghampiri Kirana yang masih terlihat syok.
"Kami hanya membalas sakit hati Jon kami pada wanita itu !" salah satu wanita yang ketiganya kini sudah di buka penutup wajahnya oleh warga menunjuk Kirana yang masih gemetaran dan di peluk Dave.
Kirana tak berkata apa pun. Dari balik lengan Dave, Kirana mamandang baik-baik wajah ketiganya saat di amankan oleh warga setempat.
Kirana tak mengerti, padahal sesama wanita. Tapi kenapa bisa setega itu menyakiti wanita lainnya hanya demi sesuatu yang belum tentu bisa di raih.
Ketiga wanita itu segera di angkut ke kantor polisi terdekat. Setelah mengucapkan terimakasih dan berbincang sebentar dengan warga yang menolong, Dave pamit.
__ADS_1
Di dalam mobil, Kirana masih belum bisa bicara apa-apa. Darah di pipinya telah kering dan kini meninggalkan luka memanjang di pipi. Dave yang duduk di sampingnya memandang prihatin.
Ragu-ragu di raih, kemudian di genggamnya tangan Kirana.