
"Dave...!" panggil Ayahnya ketika Dave baru berjalan beberapa langkah. Ia menoleh ke belakang, di lihat Andreas yang memandanginya.
"Ada apa Dad...?" Dave mengurungkan niat untuk meraih handle pintu dan berjalan mendatangi Ayahnya.
Dengan wajah tertunduk dan kening yang berkerut seolah ragu akan sesuatu, Ayahnya itu berjalan keluar dari meja kerja nya. Dan kini berdiri berhadapan dengan putra nya yang kini tingginya hampit menyamainya.
"Maaf..." ia berucap sambil menepuk pundak Dave dan memandangnya. "Kau pasti kaget aku membentakmu."
"Nggak Dad..." Dave tersenyum melihat kedua mata cokelat terang milik Ayahnya, yang selalu membuat nya terpesona oleh warnanya.
Andreas tersenyum, ada keharuan tiap kali ia memandang putra tercinta nya itu. Ia menepuk-nepuk pundak Dave beberapa kali, sampai akhirnya ia meraih figura foto yang tadi Dave pegang.
Ia masih menunduk memandangi figura foto berukuran 5R itu beberapa saat, sebelum memberikannya pada Dave.
Ragu-ragu Dave menerimanya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya masih mengenggam buku yang tadi Andreas beri.
Di pandanginya kembali foto 3 orang laki-laki yang semuanya memakai setelan jas rapi dan terlihat gagah berwibawa.
"....Ada yang ingin kau tanyakan...?" ucap Andreas setelah beberapa saat ia terdiam mengamati anaknya yang masih menunduk memperhatikan figura foto yang ini berada di tangannya.
Dave mengangkat wajah dan melihat ke arah Ayahnya. "...Eem..dia siapa Dad...? baru kali ini aku melihatnya..." Dave bertanya ragu sambil memandang figura foto yang berada di tangannya dan Ayahnya secara bergantian.
Andreas tersenyum, di rangkulnya pundak anak lelakinya yanh sebentar lagi akan berusia 20 tahun, kemudian berjalan beriringan dan duduk di sofa besar yang berada di ruangan itu.
"Dia Teman..." Andreas berucap sambil menunjuk foto Lelaki yang berdiri di sebelah nya dengan figura yang masih berada di tangan anaknya.
Mereka duduk berdekatan dan nyaris menempel, membuat Dave yang menoleh ke arah Ayahnya dalam jarak 1 jengkal bisa melihat kerutan halus di kulit wajah nya yang putih dengan mata sipitnya.
"Dia teman..." Andreas mengulangi, namun kali ini pandangannya tidak ke figura foto, melainkan ke arah Dave, membuat Ayah dan Anak itu saling tatap dalam jarak dekat. " Sahabat, Wakil, Saudara..." ia melanjutkan kalimatnya.
Dave masih terdiam menatap wajah Ayahnya yang kali ini bahkan terlihat lebih tampan di mata Dave dengan kedua mata cokelat terangnya yang terlihat begitu indah saat memandangnya.
"Jika kau ke Kantor Marthadinata Corp, pasti kau akan melihat foto nya berjajar dengan foto Kakekmu Adnan dan Pemimpin sebelumnya." Andreas berkata. "Kau juga akan melihat foto nya di antara deretan foto karyawan yang paling berjasa untuk Perusahaan, karena dia selalu melakukan yang terbaik." Andreas bercerita. "Harus Daddy akui, jika dia lebih cerdas dan pintar dalam mengatur Perusahaan di banding Daddy." ia terkekeh dengan mata yang berkaca-kaca.
Dave terdiam memandang foto Lelaki yang terlihat gagah dengan setelan jas abu-abu tua dan rambut yang tersisir rapi ke belakang. Jika Ayahnya sejak muda wajahnya sudah berkesan kaku dan dingin, sebaliknya orang itu terlihat ramah dan hangat, kendati di foto itu ia hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku nggak pernah melihatnya, di mana dia sekarang Dad...?" tanya Dave ingin tahu.
"...Sudah meninggal." jawab Andreas setelah terdiam beberapa saat.
Mata Dave membulat, ia terkejut mendengarnya. "Pantas aku nggak pernah melihatnya..." ia berucap dalam hati.
Andreas memperhatikan reraksi Dave yang duduk di sebelahnya sambil memandangi figura foto yang berada di tangannya.
"...Apa kah dia sakit...?" akhirnya ia bertanya sambil melihat Ayahnya.
"Tidak..." Andreas menjawab. Ia menunduk dan terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali memandangi anak lelakinya. "...Dia tertembak saat berusaha menolong Kirana ketika kecil." Mata cokelat terangnya tampak berkaca-kaca.
Dave terkejut mendengarnya.
"...Sekali-kali...datanglah ke makamnya bersamanya Kirana, dan doa kan lah..." Lelaki berusia 50 tahun itu kembali menepuk-nepuk pundaknya. "Pasti...dia kan senang sekali." Andreas tersenyum.
Dave tertegun memandagnya.
"Ah !" Ayahnya itu seperti terkejut sendiri dengan omongannya. Tiba-tiba ia langsung bangkit dan membenarkan jas nya yang sebenarnya telah rapi tersebut. "Daddy jadi melantur seperti ini." ia tertawa, di ambilnya figura foto tadi dari atas meja diam-diam, lalu berjalan ke arah meja kerja nya. "Pokoknya kau baca lah buku itu, pasti akan sangat membantu mu dalam hal Penjualan." ia berucap.
Namun kini pikiran Dave sudah tidak lagi soal Pekerjaan, ia ingin menanyakan sesuatu yang lebih penting selagi hanya berdua dengan Ayahnya.
"Dad, ada yang ingin aku tanya kan lagi." ia berkata.
"Tanya lah." Ucap Andreas ringan sambil meletakkan figura foto tadi secara terbalik.
Dave tampak ragu-ragu.
Andreas sudah melihat jam di tangan kannanya yang menunjukkan pukul 10 lebih, namun ia masih bersandar pada meja kerja nya dan menunggu Dave bicara.
"...Tentang Mom..." Dave berkata terbata.
"Kenapa Eva...?" Andreas mengkerutkan keningnya.
Baru saja Dave membuka mulut hendak berkata, Marisa tiba-tiba sudah membuka pintu dan masuk tanpa permisi.
__ADS_1
"Andre, Kirana..." Wajah cemas wanita berusia 43 tahun itu berubah terkejut. "Ah..ada Dave rupanya..." ia mencoba tersenyum.
"Aku sudah selesai, Bu." Dave berucap. "Silahkan..kalau Ibu mau mengobrol dengan Dad." ia tersenyum, waupun di paksa. "Aku sudah harus berangkat.
Marisa yang sudah berada di hadapannya tersenyum, kemudian merapikan dasi nya. "Hari ini, hari pertama Dave kerja kan.." ia berucap. "Ibu sudah menyiapkan bekal untuk Dave di meja makan, nanti di bawa yaa...?" ia bertanya.
"Bekal..??" Wajah Dave bersemu merah. Seumur hidupnya ia belum pernah membawa bekal masakan rumah, dulu ketika sekolah ia selalu ikut catring sekolah, dan karena hal itu juga lah, ia belajar memasak sendiri supaya bisa membuat bekal untuk dirinya sendiri.
Dan kini setelah sekian tahun, ada seseorang yang membuat kan bekal untuknya, itu hal sederhana yang jujur membuatnya terkesan. "Terimaksih Bu.." ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama Dave." Marisa mengelus pundak Dave sayang.
"Permisi.." Dave melihat ke arah Ayah dan Ibu nya secara bergantian sebelum berjalan ke arah pintu.
"Kirana kenapa...?"
Terdengar suara Ayahnya bertanya saat Dave hendak membuam handel pintu, Dave sengaja melambatkan gerakannya tangannya begitu mendengar nama Kirana.
"Kirana sudah 2 hari tidak mau pulang dari rumah Shopie."
Suara ibu nya terdengar cemas.
"Apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu...?"
Nada bicaranya makin terdengar khawatir.
"Bodyguard nya memberi laporan bahwa Kirana tidak apa-apa, dan benar dia tinggal di rumah Shopie..."
Suara Ayahnya menenagkan, Dave langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan.
"Tapi..." Marisa memgkerutkan kedua alisnya dengan tangan yang meremas dada.
"Sudahlah...dia tidak apa-apa, dan lagi akan selalu ada bodyguard yang mengawasi ke mana pun dia pergi." Andreas memegangin kedua pundak istrinya.
"Jangan-jangan Kirana marah karena kita memaksanya bertunangan dengan Jon.." Mata Marisa sudah berkaca-kaca, ia benar-benar kawatir dengan anak gadisnya itu.
__ADS_1
"Dia bertunangan dengan Jon adalah wasiat Papa, dan Kirana sangat dekat dan sayang dengan Papa. Jadi tidak mungkin dia menginap di rumah Shopie hany karena hal itu." Suaminya meneranhkan. "Sudahlah...bukanlah kau yang bilang, jika Kirana sudah besar." ia membungkuk untuk melihat wajah Istrinya. " Dia menginap di rumah Shopie hanya main, dan aku janji jika sampai 3 hari Kirana tidak pulang, aku sendiri yang akan menjemputnya ke rumah Shopie."