SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
BARBEQUE


__ADS_3

Kirana membuka kaca jendela kamar nya lebar-lebar untuk menghirup udara pagi yang segar dan membawa wangi mawar putih dari Kebun bunga mawar yang letakknya menghadap jendela kamar tidur nya.


Namun ada aroma lain di pagi ini, membuat Kirana yang tengah memejamkan mata menikmati segar nya udara langsung membuka kembali mata nya.


"Barberque ?" Kening Kirana berkerut karena mencium bau daging yang di panggang.


Ia beringsut dari ranjang tempat nya tidur dan berjalan ke arah balkon kamar nya yang di sekat sebuah pintu kaca yang tertutup kordeng putih.


"KIRANAAA...!" Suara Kiandra memanggil namanya dari kejauhan membuat pandangan Kirana mengarah ke sumber suara.


"TURUUUN !" Kiandra berteriak.


Dari balkon kamar nya yang berada di lantai dua, ia melihat Keluarga nya sedang berkumpul di dekat danau buatan. Mereka duduk mengelar tikar dan tengah berpesta barbeque. Dan coba lihat siapa yang sedang memanggang daging dan jagung yang telah di tusuk membentuk sate, Dave.


"Apa semalam dia menginap di sini ?" tanya Kirana dari kejauhan saat melihat lelaki itu tengah menatap ke arah nya.


"KIRANAAA !" Kiandra melompat-lompat menyuruh nya turun.


"Yang benar saja, aku belum mandi." Kirana mengerutu.


Tentu saja Adik nya yang berada dalam jarak jauh tak mendengar.


Ia kembali masuk ke dalam kamar nya, melihat sesaat jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi.


Kirana bermaksud untuk mandi, tapi membayangkan daging sapi di panggang dengan lemak nya yang meleleh membuat perutnya langsung keroncongan.


Ia menjadi ragu untuk mandi dan bermaksud langsung turun dengan masih mengenakan piyama tidur dan muka bantal nya.


"Kau tetap seperti anak kecil ya ?"


Langkah Kirana yang penuh semangat dan hendak membuka pintu terhenti. Kata-kata Dave pada nya terngiang dalam ingatan, membuat Kirana mengurungkan niat dan dengan langkah gontai memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


"Tumben Kirana nggak langsung turun ?" Kiandra berkata sambil memasukan potongan daging tipis ke mulut nya.


"Mungkin Kirana mandi dulu." ibu nya yang sedang membantu Dave mengoleskan bumbu ke atas daging yang sedang di panggang dengan menggunakan kuas kecil berkata. Aroma daging itu bertambah semerbak dengan di oleskan nya bumbu, membuat siapa pun yang menghirup nya akan menelan ludah.


"Makanya aku bilang tumben." Kiandra kembali berucap, kemudian mengigit daging terakhir dan membuang tusuk sate nya ke tempat sampah di dekat smokeles barberque grill lalu kembali duduk ke tikar di samping Ayahnya yang sedang sibuk menelpon.


Minggu pagi cerah di pinggir danau berair jernih dengan beberapa bunga teratainya yang mekar. Di tambah rumput hijau terawat yang terhampar dengan banyak nya pepohonan yang tumbuh di pinggir-pinggir pagar pembatas Rumah Keluarga Marthadinata dengan dunia luar, menambah teduh suasana.

__ADS_1


"Saus yang kau buat enak sekali Dave." Marisa yang pagi ini mengelung rambut panjangnya memuji Dave yang tengah memotong jagung muda menjadi beberapa bagian.


Mendengar nya Dave hanya tersenyum tipis.


"Pantas saja sepi, ternyata berkumpul di sini."


Suara seorang Lelaki terdengar, membuat Marisa dan Dave melihat ke sumber suara.


"Ohayoo.." Jonathan yang pagi ini mengenakan kaos polos warna putih dan celana warna cokelat tua berucap sambil mengangkat sebelah tangan nya.


Angin pagi berhembus lembut membuat rambut nya tersibak. Menambah pesona ketampanan wajah Jonathan yang membuat siapa pun pasti akan memuji.


"Hahh !" Dave membuang muka. Untuk pertama kali nya ekspresi wajahnya yang terlihat muak selaras dengan hati nya yang tak menyukai kehadiran Jonathan di situ.


"Cicipilah, Jon." Calon Ibu Mertuanya itu berkata saat Jonathan berjalan mendekati meja mereka yang penuh dengan daging barberque dan sate panggang dengan jagung manis.


Jonathan melirik sebentar ke arah Dave yang berdiri di dekat Calon Ibu Mertua nya dan tengah pura-pura sibuk membolak-balik daging barberque nya.


"Wangi nya harum." Jonathan kembali fokus pada Marisa dan tersenyum seperti biasa.


"Dave yang membuat saus nya, enak sekali !" puji Calon Ibu Mertua nya tersebut.


Di ambil nya satu tusuk sate yang terdiri dari potongan daging sapi dan jagung manis yang di tawarkan Marisa pada nya.


"Enak kan ?" wajah Marisa cerah saat menanyakan. "Dave yang meracik bumbu dan memanggang nya." ia berkata bangga.


"Waah..." nada bicara Jonathan memang penuh kekaguman tapi coba lihat ekspresi wajah nya, terlihat sekali jika ia tengah meledek Dave yang menatap ke arah nya dengan kening terkerut.


"Iya kan ? enak sekali kan ?" Marisa yang tak tahu menahu tentang ketegangan di antara dua orang Lelaki yang dekat dengan putri nya itu masih saja antusias.


"Iya, enak sekali." Jonathan tertawa.


Tapi bagi Dave tawa nya seperti ejekan, membuat mood nya langsung buruk.


"Aku juga tidak menyangka jika Dave pintar soal bumbu-bumbu masakan." Marisa kembali memuji.


"Hahahahah..." Jonathan tertawa kencang. "Lebih hebat dari pada wanita ya ?" Jonathan tersenyum lebar ke arah Dave. "Soal bumbu dapur." ia menambah kan, kemudian terkekeh.


Dave tahu Jonathan bermaksud menghina keahlian memasak nya. Hati nya sudah meremang dan ingin sekali ia menyumpal mulut Jonathan dengan potongan daging beku yang belum ia potong.

__ADS_1


Namun ia hanya menghela nafas panjang, mencoba mengabaikan semua dan tetap fokus memanggang daging.


"Dave, kau masih ingat Jon, kan ?" tanya Marisa karena menganggap sikap diam Dave karena ia lupa kepada Lelaki berkebangsaan Jepang itu.


Dave menghentikan aktifitas memanggang nya setelah daging yang ia panggang matang dan di taruh ke atas piring.


Kini ia sepenuh nya melihat ke arah Jonathan.


"Jon yang akan menikah dengan Kirana tahun ini." Marisa menjelaskan, dan di sambut senyum lebar Jonathan saat mereka saling tatap.


"Ya, Bu. Aku ingat." Dave berkata setelah berada di samping Marisa persis. Berhadap-hadapan dengan Jonathan langsung dan hanya di pisah kan sebuah meja plastik kecil.


Dua orang Lelaki itu kembali saling tatap.


"Hai, Dave." Jonathan akhirnya menyapa duluan. "Kau masih di sini ?" ia menekankan pada kata di sini, dengan maksud yang hanya Dave dan dirinya yang tahu.


Dave menarik bibi nya membentuk senyum. " Genki desu ka Jon ?" Sapa Dave tenang. "itsu nihon ni kaerimasu ka ?" senyum Dave kian terkembang, senyum sinis tepat nya.


Kening Jonathan langsung berkerut. Sebenarnya Dave hanya menanyakan kapan Jonathan akan pulang ke Negara nya. Tapi melihat hubungan mereka yang kurang baik, itu bisa berarti Dave tengah mengusir Jonthan secara tidak langsung.


"Sudah lapaaarrr...!" teriakan Kiandra dari tempatnya duduk di sebelah Andreas mencairkan ketegangan antara Jonathan dan Dave yang sama sekali tidak di sadari Marisa yang tengah menata daging yang sudah mereka panggang tadi.


"Iyaa..Kian !" Marisa segera membawa piring lebar penuh daging barberque kepada Kian dan Suami nya.


Di atas tikar telah terhidang nasi, potongan buah dan air minum yang telah di sediakan lebih dulu tadi oleh Para Pembantu nya.


"Sayang, ini hari minggu. Berhenti lah menelpon." tegur Marisa saat Andreas masih saja sibuk dengan ponsel nya.


Dengan isyarat, Lelaki 50 tahun itu memberi tanda supaya Istri nya itu diam dan mengacungkan satu jari telunjuk nya yang arti nya satu menit lagi, kemudian kembali fokus pada telpon nya.


Walaupun sedikit kesal, tapi Istri nya paham jika Suami nya memang orang sibuk. Bahkan di hari libur seperti ini.


"Setelah menuduh dan berkata jahat, kau masih punya muka untuk datang ke sini ?" Jonathan berkata saat hanya ada mereka berdua.


"Orang luar tahu apa ?" Dave tersenyum sinis.


Ekspresi wajah Dave sedikit berubah, sebelun ia kembali tersenyum. "Tuh, calon Istri mu datang." ucap nya sambil membalikkan badan lalu berjalan dan berkumpul bersama Andreas, Marisa serta Kiandra.


Jonathan menoleh ke belakang, di lihat nya Kirana dengan dress warna putih tanpa lengan dan rambut panjang nya yang tergerai tengah berjalan ke arah nya.

__ADS_1


__ADS_2