SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
GEJOLAK RASA


__ADS_3

Shopie kaget ketika tadi di telpon Kirana dan mintak jemput padahal siang tadi ia sedang dalam perjalanan ke Kampus. Dan lebih kaget lagi saat Kirana sambil menangis memintanya untuk pulang ke Rumahnya saja.


"Enak sekali dia minta untuk pulang saja, padahal aku ada kelas...??" ucap nya saat itu.


Tapi karena melihat Kirana menangis dan terlihat tertekan, akhirnya ia jatuh kasihan dan setuju untuk kembali pulang ke rumah.


Dalam perjalan pulang, sambil menangis Kirana hanya bercerita bahwa Dave adalah Saudara Tiri lain Ibu nya, dan dia bilang jika Ibu nya lah yang merebut Ayahnya dari Ibu Dave.


"Gilaa...!" Shopie memukul stir mobil nya karna begitu kaget. "Si Dave yang wajahnya Oh my God itu saudara tiri mu..??!" Mata shopie membelalak tak percaya.


Saat itu Kirana diam tak menajwab, ia hanya bersandar pada Jog mobil dengan wajah menoleh ke arah Jendela dan Shopie tak bisa melihat wajahnya.


Dan sampai malam pun Sahabat dekatnya itu masih diam dan hanya tiduran temgkurap di kamarnya, tanpa makan atau minum. Padahal Shopie sudah menawari nya berkali-kali. Dan seorang Kirana sampai menolak makanan itu artinya benar-benar sudah Danger.


Shopie mendengus kesal mengingatkanya. Ia kesal karena tak mau melihat Kawan baik nya yang selalu ceria dan pemakan apa saja itu kini terlihat menyedihkan.


"Kalau kau memang nggak mau bicara, lebih baik kau pulang sana !" usir Shopie yang membuat Kirana langsung bangkit dari tidurnya.


"Nggak mau !" tolaknya dengan suara serak kebanyakan menangis.


Di lihatnya wajah Kirana yang sembab dengan hidungnya yang memerah dengan ia yang berkali-kali menyedot ingusnya agar tidak keluar.


"Terus mau apa kau di sini..?? Numpang nangis ?!" Ucap Shopie ketus. Ia sengaja berkata seperti itu, bukan karena ia tidak sayang pada sahabatnya itu. Tapi karena Shopie tidak mau Kirana terus menerus menangis.


"Jahat sekali kau ini..." Kirana kembali terisak dengan tangannya yang berkali-kali menghapus air matanya yang terus mengalir. " Temannya sedang sedih, bukannya di hibur, malah di ketusi..." Kirana menyedot ingusnya kuat-kuat sambil mengosok hidung mancung nya yang memerah, membuat Shopie bergidik jijik.


"Gimana mau menghibur kalau kau tiduran terus nggak mau melihat ku..??" Ucap nya sambil melipat kedua tangannya.


Kembali Kirana terisak, bedanya sekarang ia sudah lebih tenang.

__ADS_1


"Nih !" Shopie menyodorkan gelas berisi air putih yang di ambilnya dari atas nakas, yang memang ia mengambilkan untuk Kirana sejak tadi dan belum di minum nya.


Segera Gadis yang rambutnya terlihat makin berantakan karena dari tadi hanya tiduran sambil menangis itu menerimanya dan segera meminun air putih tersebut sampai habis.


"Saat kita pertama kali bertemu dengannya itu, harusnya aku sudah sadar jika dia dan Daddy mu itu mirip." Shopie berkata beberapa saat setelah Kirana sudah mandi dan berganti pakaian dengan milik Shopie, dan kini mereka berdua duduk di lantai 2 beranda kamar Shopie sambil menatap langit gelap tanpa bintang.


"Apa nya yang mirip ?" Setelah mandi dan berganti kaos dan celana pendek, kini hati dan pikiran Kirana sudah tidak sesedih dan seberat tadi.


Bahkan tadi ia sudah menghabiskan 1 piring nasi goreng nanas buatan Ibu Shopie, dan kini di pangkuannya ia masih sibuk mengemil rengginan , makanan daerah yang terbuat dari ketan dan di goreng.


"Wajah kaku dan sikap sombongnya." Shopie terkekeh.


"Enak saja." Kirana langsung memukul pundak kawan baiknya, yang membuat tawanya kian menjadi.


Sesaat mereka saling pukul dan tertawa, sebelum kemudian Kirana kembali terdiam. Dan Itu disadari Shopie.


"Sudah lah...kau nggak perlu memikirkannya." ia berkata. "Bisa saja si Dave itu sengaja berkata begitu, supaya Keluarga kalian nggak harmonis." Ucap Shopie. "Ingat, dia itu anak dari Mantan Istri Ayahmu. Di mana-mana yang namanya mantan pasti buruk !" Shopie ngomel. "Nah kan jadi baper sendiri aku." Ia memukul keningnya sendiri pelan.


"Mana mungkin kan aku cerita ke Shopie, kalau Dave juga berkata jika Daddy memperkosa Ibu lalu hamil aku..." Kirana memeluk kedua kakiny yang di tekuk, kemudian bersandar pada lututnya.


Ingatannya mengawang akan wajah Dave yang terlihat begitu emosional saat bercerita tentang Ibu nya.


"Selama itu juga Mom hidup menderita !"


Kirana memejamkan matanya, berharap bayangan wajah Dave tidak muncul dalam ingatannya. Tapi bukannya hilang, wajah Lelaki itu malah makin terlihat jelas, membuat hati Kirana makin susah akan perasaan gundah yang ia sangka karena sakit hati dengan ucapan Dave.


"Kenapa kau mencuci piring...??" Andreas berkata sambil mematikan keran air yang sedang di gunakan Istrinya untuk mencuci piring-piring bekas makan malam.


"Maafkan saya Tuan, saya sudah melarang Nyonya, tapi..."

__ADS_1


Andreas mengangkat tangan kanannya, kemudian mengibaskan nya, sebagai tanda agar Pelayan wanita yang menunduk ketakutan itu segera pergi.


"Yang aku cuci hanya piring makan mundan Kian." Marisa menatap Suaminya dengan kening berkerut, kamudian menyalakan kembali keran air dan melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.


Lelaki berusia 50 tahun itu mendengus kesal, namun ia tidak bisa apa-apa selain bersandar pada pinggir washbak menunggui Istrinya.


"Kemana Kirana..? Tumben tadi tidak ikut makan malam." tanyanya.


"Kirana tadi ijin mau menginap di rumah Shopie." jawab Marisa tanpa menoleh ke arah Suaminya, dan tetap berkonsentrasi pada piring terakhir yang di cuci.


"Mendadak sekali..." Andreas merenung. "Jangan-jangan tidak menginap di Rumah Shopie, tapi malah pergi dengan pacarnya." Andreas terkejut sendiri dengan ucapanya.


"Memang kau tahu Kirana punya Pacar..?" Istrinya yang bertubuh mungil itu akhirnya mendongkakkan wajahnya untuk memandangnya.


"Tidak." Ucapnya.


"Iiss..kau ini.." Marisa pura-pura marah. "Sudah setua ini, kenapa kebiasaan asal bicara mu itu tidak hilang...?" Ia mengeleng-geleng kan kepalanya sambil berjalan melewatinya. "Lebih baik kau telpon Dave, kenapa dia belum pulang, aku khawatir dia..."


Kalimat Marisa terpotong saat Suaminya itu sudah memeluknya dari belakang, kemudian membaliknya menghadap dirinya dengan kedua tangannya yang masih melingkar di pinggang Istrinya.


"Bagaiman dengan sikap keras kepalamu sendiri yang sampai sekarang tidak hilang...?" ucapnya sambil membungkukkan badannya seperti hendak menciumnya.


Seketika Wanita berusia 43 tahun itu tergagap dengan wajah merona merah, dengan kedua tangannya yang berada di kedua lengan Suaminya.


"Dad."


Suara seorang laki-laki terdengar, membuat Suami-Istri itu saling melepaskan diri dan melihat ke sumber suara.


Dave sudah berdiri tidak jauh dari mereka, wajahnya tetap datar seperti biasa. Namun ia menyembunyikan gejolak hatinya saat lagi-lagi melihat kemesraan Ayah dan Ibu tirinya tersebut.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku kenalkan padamu, Dad." ia berucap.


__ADS_2