
"Waah...sekarang Kirana bangunnya pagi terus." celetuk Kiandra saat Kakak perempuannya itu baru saja duduk di meja makan bersama mereka.
Biasanya Kirana memang selalu melewatkan sarapan bersama karena Gadis itu yang tidak pernah bisa bangun pagi, walaupun pintu kamarnya di ketuk berapa kali pun. Tentu saja bukan nya ia tidak lapar, karena Kirana akan bangun tengah malam atau subuh jam 4 pagi ketika semua anggota Keluarga masih tidur, hanya untuk makan, setelahnya ia akan kembali tidur.
Tapi sejak Dave tinggal bersama mereka beberapa hari lalu, Kirana jadi bangun lebih pagi dan tidak pernah melewatkan sarapan bersama seperti saat ini.
"Kau malu karena ada Kak Dave di sini yaa, Kirana..?" Kiandra tertawa.
Kirana yang pagi ini memakai kemeja kedodoran warna hijau army di padu celana jeans hitam dengan rambut yang di kuncir seperti biasa, mendesis jengkel pada Adik Lelakinya yang berseram sailor khas anak TK dan duduk di sebelahnya.
"Kian, panggil Kak Kirana." Ibu nya yang duduk di seberang meja memperingatkan.
"Kakak ku cuma Kak Dave." Kiandra menoleh ke arah Dave yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum lebar.
Dave hanya menanggapinya dengan senyum tipis dan kembali melanjutkan sarapanny dengan tenang.
Sebaliknya Kirana yang biasanya akan langsung menjewer atau mencubit Adik Lelakinya itu, kini hanya bisa memelototkan mata ke arah nya dengan wajah kesal. Tentu saja Kirana begitu karena ada Dave yang duduk di sebelahnya dan hany di pisahkan oleh Kiandra yang duduk di tengah.
Marisa menghela nafas panjang mendengar, kedua anak nya itu selalu saja tidak pernah akur padahl jarak usia mereka sangat jauh.
"Sudahlah..." Suaminya meletakkan tangannya ke atas tangan Marisa yang berada di atas meja, membuat Dave yang duduk di depannya menghentikan sesaat makannya dan melihat.
"Mereka memang seperti itu, tapi kita sama-sama tahu kan, kalau Kian sangat menyayangi Kirana..." Ucap nya lembut sambil memandangi Istrinya.
"Kau benar," Marisa balas mengenggam tangan Suaminya sambik memandangnya. "Tapi...kalau di dengar orang rasanya tak sopan." ia berucap.
"Kenapa kau selalu memikirkan pandangan orang lain...?" Suaminya yang saat ini sudah rapi dengan kemeja biru muda dan jas serta dasi warna hitam itu berkerut tak suka.
Dave menunduk melihat adegan itu, dan mulai tidak berselera melanjutkan sarapan. Tinggal dengan Ayahnya tidak seperti yang dia kira, jangankan untuk bisa dekat, ingin mengobrol derdua pun susah.
Ayahnya selalu sibuk dengan Pekerjaan, meskipun selalu sarapan dan malam malam bersama, bahkan makan siang pun Ayahnya yang super sibuk itu selalu menyempatlan pulang. Tapi Ayahnya itu akan selalu menempel pada Istrinya, dan jika ada waktu luang selalu berkumpul di Ruang keluarga bersama-sama dengan yang lain.
Dave menghela nafas panjang, ia mulai mual dengan kemesraan yang di perlihatkan oleh Ayah serta Ibu Tiri nya tersebut.
__ADS_1
"...Maaf, aku duluan Dad, Ibu." Dave berkata setelah ia meletakkan sendok dan garpunya dengan posisi terbalik di piring yang masih banyak tersisa nasi serta lauk nya.
Kirana yang duduk di ujung meja reflek melihat ke arah Lelaki berkaos hitam panjang yang lengannya di tarik sampai siku dengan celana jenas biru.
"Aku mau di anterin Kak Dave !" Kiandra ikut berdiri sambil melihat ke arah Dave dengan mata coklat terangnya yang bulat.
"Kian, jangan merepotkan Kak Dave, " Ucap Marisa dari seberang meja. "Kau akan berangkat bersama Daddy seperti biasa." lanjutnya.
"Enggak ! Aku mau berangkat bareng Kak Dave." Kiandra berkata sambil menarik lengan Dave yang berdiri di sampingnnya.
"Kian..." Ayahnya ikut bicara.
"Aku mau sama Kak Dave, Daddy...sekali saja..." wajah Kiandra memelas. "Aku ingin bilang sama teman-temanku, kalau aku punya Kakak yang keren !" Kianadra memandang bangga pada Dave yang hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Memang selama ini aku nggak keren ??" Kirana yang dari tadi cuma mendengarkan langsung berkata kesal.
"Apa nya yang keren dari mu Kirana ?" Kiandra berkata sengit lalu cepat-cepat sembunyi di balik kaki panjang Dave ketika Kirana langsung berdiri dari duduknya dengan wajah jengkel.
"Nggak apa-apa..." Dave menoleh ke arah Ayah dan Ibu tirinya yang masih duduk di meja makan. "Biar Kian aku antarkan." ia berkata.
"Tapi kau akan terlambat Kuliah pagi nanti." Marisa Ibu Tirinya itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya dengan wajah cemas.
"Nggak Bu, aku nggak ada Kuliah Pagi. Aku hanya ada sedikit urusan, dan nggak masalah kalau mengantar Kiandra dulu." Dave berkata dengan pembawanya yang tenang seperti biasa.
"Kirana, kau juga sekian berangkat Kuliah bersama Dave." Andreas yang masih duduk di meja makan berkata.
"Apa..??" Kirana terkejut melihat ke arah Ayahnya yang duduk di depannya yang hanya di pisahkan oleh meja makan. "Kenapa aku harus ikut..? Aku bisa beramgkat sendiri." ia langsung menaruh sendok serta garpu nya begitu saja. "Mana mau aku 1 mobil dengan dia, mau kena serangan jantung di usia muda...???" Kirana mengerang dalam hati.
"Daddy ingin kau bisa akrab dengan Dave." Ayahnya itu tersenyum pada Dave yang berdiri bersama Istri dan anak lelakinya di dekat meja makan. "Tidak ada salahnya kan, kau di antar Saudaramu sendiri..?"
"Akrab..? Saudara...?" kening Kirana berkerut, ia menoleh ke arah Dave yang juga melihat ke arahnya dengan wajah datar menyebalkannya itu.
"Maaf yaa Dave, tapi terimakasih..." Marisa tersenyum sambil mengelus lengan Dave pelan, dan di sambut sorak gembira Kiandra dan Kirana yang langsung menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Setelah drama pagi dengan keluarga, di lanjut drama Kiandra yang dengan bangga memamerkan Kakak Keren nya bersama Lamborghini Veneno Roadster warna merah nya yang langka dan mencolok mata.
Kini tinggal Kirana seorang yang berada di dalam mobil mewah dengan harga lelangnya yang mencapai hampir 20 miliar dengan Dave yang menyetir di sampingnya.
Perasaan hening dan canggung menyelimuti mereka, apa lagi Dave yang sama sekali tidak menyalakan musik di mobil nya tersebut.
Jantung Kirana berdebar tak karuan dengan jari-jari tangannya yang dingin saling tertaut di pangkuannya. Di lirik nya Saudara Tirinnya itu beberapa kali, ia tetap tenang menyetir dengan pandangan lurus ke depan.
Mobil mewah yang sebenarnya tidak cocok untuk jalanan Kota Jakarta yang padat itu beberapa kali berhenti karena macet nya jalanan di pagi yang sibuk itu.
"...Ka, kau bisa menurunkan aku di Halte Bus depan sana..." Kirana akhirnya yang membuka suara. "Aku nggak mau kau terlambat, karena permintaan Daddy yang aneh." lanjutnya.
Dave masih diam dengan pandangan lurus menatap jalan Kota Jakarta yang padat dengan 1 tangan di stir mobil, sedangkan tangannya yang lain di buat sandaran untuk kepalanya dengan siku yang bertumpu pada pinggir kaca jendela mobil.
Kening Kirana berkerut, ia kesal dengan sikap Dave yang menacuhkannya. " Walaupun Daddy ingin kita akrab, tapi aku tahu kita nggak mungkin dekat." Kirana membuang muka saat Dave masih tetap diam tak bergeming.
"...Kau tahu kalau aku lebih muda dari mu...??" tanya Dave setelah diam beberapa saar, membuat Kirana yang sedang melihat ke arah kaca jendela mobil di sisinya menoleh ke arah nya.
"Apa..??" Kirana tak mengerti.
"Aku lebih muda dari mu 1 tahun." Dave menoleh ke arah ny sebentar, sebelum kembali melihat ke arah depan.
Kirana masih memandangnya tak mengerti.
"Mommy ku adalah Istri Pertama Dad, tapi kenapa aku bisa lahir setelah kau...?" tanya Dave tanpa menoleh ke arahnya.
Awalnya Kirana tak paham, namun sesaat kemudian wajahnya memerah dengan kedua alis nya yang saling bertaut. "Kau ingin mengatakan apa tentang Ibu ku ?!" Kirana berkata marah.
Dave hanya diam tanpa melihat ke arahnya. Kening nya berkerut dalam, semua tidak sesuai dengan rencananya, dan terutama Kirana yang ternyta adalah saudara lain Ibu nya.
Dave menginjak gas kuat-kuat, membuat mobil mewah tersebut melaju kencang saat jalanan di depannya telah lengang.
Kirana langsung tersentak ke jog mobil begitu Dave menginjak gas dan menjalankan mobil nya kencang. Namun Gadis berkuncir itu tidak berkata apa-apa, ia menatap Dave dengan gamang. Takut pikiran buruk yang saat ini melintas di pikiranny menjadi kenyataan.
__ADS_1