SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
DALAM MIMPI


__ADS_3

Dave dan Jonathan masih saling tarik memperebutkan Kirana yang memang berbadan kurus, sehingga kedua Lelaki itu seperti hanya sedang memprebutkan boneka.


Kirana yang entah pingsan atau tidur karena mabuk, sama sekali tidak terbangun dengan aksi tarik Dave yang memegangi pinggang sampai kaki dan Jonathan yang memegangi pinggang dengan kepala Kirana yang tersandar di bahunya.


"Mimpi apa aku sampai harus melihat kejadian ini...??" Shopie memijit-mijit keningnya. Tapi saat melihat Kirana yang mulai mengerang dengan wajah kesakitan kendati matanya terpejam. Cepat-cepat ia membantu Jonathan agar Dave melepas pegangannya pada pinggang Kirana.


"Kauu..."Kening Dave berkerut dalam menatap Shopie, saat Gadis itu mengigit lengan dan menyebabkan Dave melepas pegangannya.


Jonathan segera memapah Kirana dan berjalan menjauh dari situ.


"Kirana nggak pernah mabuk-mabukan seperti itu !" ucap Shopie sengit. "Kau pasti mengatakan sesuatu yang membuatnya sampai begitu !"


Kening Dave berkerut dalam dengan wajah emosi dan hanya melihat Gadis berambut pendek yang di cat pirang itu tanpa berkata apa pun.


"Shopie !" dari kejauhan Jonathan memanggil.


Shopie menoleh sebentar ke arah Jonathan yang telah menjauh dengan membopong Kirana, kemudian kembali menatap ke arah Dave.


"Walaupun katanya kau Saudara lain Ibu Kirana, tapi aku yakin kau ada maksud nggak baik." ia berucap, sebelum kemudian membalikkan badan dan berlari ke arah Jonathan yang telah menunggu.


Dave melihat dari tempatnya berdiri, dalam gelapnya malam mereka mulai berjalan menjauh dan menghilang di antara deretan mobil-mobil yang terparkir.


"Untuk apa kau memperebutkan gadis itu...??" Dave tak habis pikir. "Biarkan saja dia pulang dengan Tunangan atau siapa pun Laki-laki brengsek yang bahkan untuk membuka matanya pun nggak bisa." Dave mengejek Jonathan yang bermata sipit.


"Aku perkosa kau..."


Ucapan Kirana yang di barengi dia yang membuka baju dan memperlihatkan gunung kembarnya terlintas di ingatan Dave, membuat wajah Lelaki itu merah padam. "Gadis bodooh..!!" Dave berucap sambil mengacak-ngacak rambut nya agar pikirannya segera bersih dari hal-hal kotor yang memenuhi kepalanya.


Ketika Dave sampai di rumah, dan ia sedang berjalan melintasi teras samping, di dengarnya suara Ayahnya yang marah. Ia yang sebenarnya sudah lelah dan memutuskan untuk segera ke kamarnya, berhenti sejenak dan mengintip dari balik tembok yang mengarah ke ruang tamu.


"Maaf kan saya..." Shopie menunduk menyesal. "Tapi biasanya di sana kami hanya melepas stres dengan menari dan tidak pernah menyentuh minunan keras." lanjutnya tetap dengan wajah menunduk.


Wajah Andreas masih merah padam dengan kedua alisnya yang saling tertaut, ia tidak menyangka Kirana pulang dengan keadaan mabuk seperti itu.


"Sudahlah..." Istrinya yang baru datang menengahi. "Tante berterima kasih padamu Shopie karena sudah mengantar Kirana pulang dengan selamat." ia duduk di samping Suaminya. "Tentu saja, Oba-san juga berterima kasih pada mu Jon." ia tersenyum pada Jonathan yang duduk di samping Shopie. "Padahal kau baru datang, tapi malah melihat Kirana yang mabuk seperti itu..." wajahnya terlihat menyesal.


Jonathan mengeleng dan balas tersenyum. "Bagaimana Kirana, Oba-san..?" ia bertanya.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, sekarang sedang tidur." jawab Marisa. Sebenarnya wanita berusia 43 tahun itu juga terkejut dengan Kirana yang samlai mabuk seperti itu, tapi ia memilih menahan diri, karena Suaminya pasti akan lebih marah jika dia tidak bisa bersikap tenang.


"Tapi tadi Kirana mengigil Tante." Shopie terlihat cemas.


Dave tidak lagi melanjutkan mengintip 4 orang yang sedang duduk berhadapan itu, dan memutuskan segera naik ke kamarnya.


Malam kian larut, dan Dave belum juga bisa memejamkan matanya. Di raihnya ponsel dari atas nakas, dan di geser layarnya. Seketika cahaya dari ponsel terlihat benderang di kamarnya yang gelap.


Ia tersenyum membaca pesan balasan dari Ibu nya,


Selamat tidur juga Anakku Sayang,


Miss u..


Membaca pesan dari Ibu nya sedikit banyak membuat pikirannya teralihkan, namun sesaat kemudian wajah Kirana kembali memenuhi otaknya.


"Aku anak hasil perkosaan yaa berarti...??" wajahnya yang menatap dengan kedua mata cokelat teranganya yang berkaca-kaca membayang. "Aku anak yang nggak diinginkan..?? iyaa...??"


Dave bangkit dari tidurnya, dan duduk di pinggir ranjang.


"Aku yakin gara-gara dia, Kirana sampai minum, minuman keras !"


Dave menghela nafas panjang dan menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya.


"Kenapa aku goyah...?" ia bertanya seorang diri dalam kamarnya yang gelap. "...sudah pasti...itu nggak sebanding dengan penderitaan yang mom pikul..." ia kembali memegangi kepalanya dan mengacak rambutnya kesal.


Ia memutuskan untuk mengambil minum ke dapur dan berjalan keluar dari kamarnya. Suasana di dalam rumah besar yang di penuhi ukir2an kayu pada tiap sisinya terlihat sepi dengan hanya di sinari lampu kuning yang menjadikan nya temaram.


Dengan mata yang sebenarnya sudah mengantuk ia berjalan perlahan, ketika ia sampai di pintu kamar Kirana ia mendengar bunyi benda jatuh. Dave kaget dan langsung membuka pintu kamar Kirana yang anehnya tidak di kunci.


Dave langsung mencari saklar lampu dan menyalakannya, di lihatnya Kirana yang sudah jatuh ke bawah di samping tempat tidurnya, dan ia sedang berusaha bangkit.


"Sedang apa kau...?" Dave langsung membantu Kirana dan memapahnya kembali ke tempat tidur. " Kau panas...??" Dave terkejut saat membaringkan gadis yang memakai piyama motif Unicrown warna pink itu.


Kirana tak tenang, ia berusaha membuka matanya dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri. Sampai di rasanya telapak tangan yang terasa dingin di kulit nya yang panas menyentuh keningnya, membuat ia nyaman dan akhirnya bisa sedikit tenang.


"Kirana...?" Dave berucap, ia memandang khawatir pada gadis yang rambutnya biasa di kuncir tapi kali ini di biarkan tergerai bebas.

__ADS_1


Ia beringsut hendak memanggil Pelayan agar merawat Kirana yang nampaknya sedang sakit, ketika pergelangan tanganny di pegangi oleh kedua tangan Kirana.


"Aku mohon jangan pergi..." ia menangis seperti anak kecil.


Dave menoleh ke arah gadis yang masih dalam posisi berbaring dan memegangi tangannya dan tengah memandangnya dengan mata sayu yang di penuhi ait mata.


Kening Dave berkerut, jantungnya seperti hendak keluar, namun ia berusaha menutupinya.


"Sedikit-sedikit tertawa, sedikit-sedikit menangis, apa kau ini anak kecil..??" Dave berkata ketus. Namun ia membiarkan tangan kanannya masih di pegangi Kirana.


Wajah Gadis itu semakin berkerut sedih. "Lihat...dalam mimpi pun kau tetap ketus pada ku..." ia terisak.


"A, apa...?" Dave berucap.


Di lihatnya Kirana yang terus menangis sesengukan sambil meletakkan telapak tangan Dave di pipi nya yang lembab oleh air mata.


"...Kenapa kau jahat sekali padaku...??" ia terisak dengan air mata yang mengalir di wajahnya yang kian memerah. "..Padahal...hanya pada mu aku ingin terlihat cantik...hanya padamu aku seperti terkena serangan jantung..."


DEG


DEG


DEG


Bahkan Dave bisa mendengar suara detak jantung nya sendiri yang terdengar begitu keras saat di dengarnya Gadis yang biasa ia katai bodoh itu berkata.


"Tapi...kenapa kita malah bersaudara...??" Tangis Kirana dengan air mata berderai. "Bahkan..kau mengatakan kalau aku..."


Mata sayu Kirana yang di penuhi air mata membuka lebar saat Dave sudah membungkukan badan di atas nya dan mencium bibirnya.


"ini mimpi..." Kirana berucap dalam hati. Demam nya membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Kembali air matanya mengalir dari sudut-sudut matanya yang ia pejamkan saat Dave mulai menciumnya lebih dalam.


Kirana hanya merasakan kenyaman saat tubuhnya yang panas menempel pada tubuh Dave yang dingin, membuat ia balas memeluk Dave dan mereka saling menyesap dan bergelung dengan lidah Kirana yang terasa panas dalam mulutnya.


...--------------...


Tolong dukung saya terus supaya semangat untuk bisa Update, karena RL saya yang semakin sibuk 🙏🤧

__ADS_1


Terimaksih


-🍀-


__ADS_2