SEANDAINYA...

SEANDAINYA...
KEBENARAN ll


__ADS_3

"Siapa yang mengatakan hal seperti itu, Kirana ?!"


Mata Kirana yang sudah memerah dan di penuhi air mata membulat, baru kali ini Ibu nya berkata dengan nada tinggi seperti itu. Sedangkan Ayahnya, hanya diam dengan wajah nya yang tiba-tiba saja terlihat tua dengan kerutan dalam di dahi nya.


"Jawab saja, Bu. Iya atau enggak !" Kirana mencoba tegar. Ia marah, takut dan sedih, perasaan campur aduk yang mengumpul jadi satu di dadanya yang nyeri. Seolah bersiap menerima kenyataan yang akan mengoyak hati dan pikirannya.


Marisa mengatupkan bibirnya yang gemetar.


"Daddy." Kirana memanggil Ayahnya, membuat Lelaki berusia 50 tahun itu memandang ke arah putrinya. "Jawab, apa Daddy dulu seperti itu..?" mata mereka yang senada itu saling tatap.


Andreas mengepalkan kedua tangannya, ia merasa di rendahkan atas penghakiman anak nya sendiri.


"Kirana." Jonathan meraih lengan Kirana, membuat gadis itu mendongkak ke arah Lelaki bertinggi 187 cm itu. "Nggak seharusnya kau menghakimi orang tua mu sendiri." tegurnya.


Kirana memandang sengit ke arah Jonathan dan mengibaskan lengan yang di pegangi lelaki itu.


"Benar." Ucap Andreas membuat baik Kirana, Jonathan, bahkan Istrinya sendiri menoleh ke arahnya. "Begitulah Daddy menghabiskan masa muda, dengan hal-hal buruk yang telah kau sebutkan tadi."


Mata Kirana membulat, bahkan Jonathan pun ikut terkejut mendengarnya. Karena selama ini ia mengenal Oji-san nya sebagai pribadi yang tegas untuk hal-hal seperti itu, bahkan dai tidak pernah sekali pun melihatnya merokok, apa lagi untuk hal-hal yang lebih dari itu.


Sesaat Andreas melihat ke arah Istrinya yang memandanginya dengan wajah berkerut sedih, Marisa seperti melarang Andreas untuk tidak meneruskan bercerita tentang masa lalu, tapi Lelaki yang malam itu memakai kaos berkerah warna cokelat tua mengangguk perlahan, tanda bahwa semua akan baik-baik saja.


Kembali ia menoleh ke arah Kirana yang masih terkejut dengan kata-kata nya. "Daddy peminum, bahkan Dad punya koleksi vodka dulu di rumah." ia berkata lagi, kali ini lebih tenang. "Pemakai karena teman-teman Daddy pun begitu, free sex ya...itu paling buruk dan Daddy pun mengakui hal itu."


Mulut Kirana mengangga tak percaya.


Andreas berhenti sebentar untuk memandangi putri satu-satunya, anaknya bersama orang yang di cintai, yang karena dia lah ia rela meninggalkan semua dan bertekad menjadi orang tua yang baik. "...Daddy sudah pernah melakukan semuanya, dan tahu imbas buruk apa yang terjadi setelah nya. Karena itu...jika selama ini Daddy keras kepada kalian, tak lain karena Daddy ingin menjagamu dan Kiandra, agar jangan sampai terjerumus ke dalam hal-hal buruk seperti itu." Ucapnya. "Cukup Daddy saja yang merasakan buruk dan kotornya kehidupan malam, jangan kalian." lanjutnya.


Sesaat suasan menjadi hening karena tidak ada seorang pun yang bicara, sepertinya Kirana pun masih begitu terkejut dengan penjelasan Ayahnya, walaupun ia memcoba memahami.


"Jelaskan sekalian Dad, kenapa usia ku lebih muda dari Kirana." Ucap Dave yang telah berdiri di ambang pintu, membuat semua orang yang berada di situ menoleh ke arah nya.


"Jangan berpikir macam-macam Dave." kening Andreas berkerut menatap Anak Lelakinya yang masih memakai kaos abu tua yang di rangkap jas warna hitam.


"Aku hanya menuntut penjelasan." wajah Dave mengkeras dan balas menatap Ayahnya berani. Pembicaraan dengan Neneknya menyangkut Ibunya masih membekas di pikirannya, membuat sakit hati nya bertahun-tahun terusik.


"Tidak ada yang perlu di jelakkan mengenai hal itu." suara Andreas meninggi.


"Kenapa dengan Kirana Dad mau menjelaskan...?" Mata Dave yang hitam kelam menatap sesaat ke arah gadis yang hampir setiap saat memenuhi pikirannya, gadis yang hampir saja meruntuhkan imannya, gadis yang selalu saja membuatnya iri dan cemburu karena kedekatannya dengan Ayah mereka.

__ADS_1


"Pembicaraan malam ini selesai." Andreas berkata. "Jon, kau pulang lah." Andreas menoleh ke arah Jonathan yang masih setia berada di belakang Kirana memegangi kedua pundak calon Tunangannya yang hampir oleng.


"Dad sudah mengakui masa lalu Dad yang buruk, dan nggak mau anak-anak Dad seperti itu." Dave masih berkata. "Kenapa Dad nggak sekalian mengakui jika ketika masih terikat pernikahan dengan Mom, Dad menghamili wanita itu." tunjuk Dave kepada Ibu tiri nya, membuat wanita berusia 43 tahun dengan perawakan kecil nya itu memekik kaget dan menutup mulutnya.


"DAVE !" bentak Andreas, wajah langsung merah padam.


"Seandainya wanita itu nggak hamil dirimu Kirana." Dave menatap benci ke arah Kirana, membuat gadis itu terhenyak menatapnya. "Ibu mu hanya akan menjadi salah satu wanita satu malam Dad." ucapnya yang langsung membuat air mata Kirana menetes.


Andreas berjalan cepat ke arah Dave, menarik kerah anak Lelakiny dengan kedua tangannya. "Jaga bicara mu, Dave !" amuknya.


"Aku bicara kenyataan !" Wajah Dave yang biasanya tenang kini di liputi emosi yang menbuat raut wajahnya tampak berbeda dari biasanya. "Gara-gara wanita itu dan anaknya, Mom menderita !" ia berteriak tepat di depan wajah Ayahnya yang hanya berjarak sejengkal dengan kedua tangannya yang memegangi kedua tangan Ayahnya yang mencengkeram kuat kerah baju nya.


"Kau tidak tahu apa-apa, berhenti berbicara yang tidak-tidak !" Ayahnya tak kalah emosi, ia paling tidak suka jika Keluarganya di hina, terutama istrinya.


"Andre, sudahlah..." Marisa memegangi pinggang Suaminya yang berperawakan jauh lebih besar dan tinggi dari nya.


"Kau yang nggak tahu apa-apa, Dad !" bentak Dave sengit. "Kemana kau selama ini saat aku membutuhkan mu ?" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Saat aku sakit, saat aku berhasil cumlaude sebagai lulusan termuda...??" Dave menatap Ayahnya yang wajahnya sama sekali tidak mirip dirinya itu. "Aku melakukan segala cara, tapi sedikit pun kau nggak pernah memperhatikan ku !"


Andreas melepas cengkraman nya, ia seperti tersadar akan sesuatu. Selama ini ia memang lebih sering berinteraksi lewat ponsel, karena ia yang memamg punya kesibukan luar biasa, dan Andreas pikir itu sudah cukup, tapi ternyat tidak.


"Dave, maafkan Ibu Nak." Marisa meraih lengannya dan memandang ke arah anak tirinya tersebut dengan mata yang berair. "Daddy mu bukannya tidak memperhatikanmu, hanya saja waktunya habis untuk pekerja..."


Dave mundur satu langkah menjauh dari Ibu tirinya. "Kau selama ini hidup bahagiankan kan dengan Dad...?" ia tersenyum sinis pada Ibu tiri yang selama ini selalu memperlakukannya dengan lembut. "Sadar nggak kebahagianmu itu di bangun di atas penderitaan wanita lain..?"


PLAAAKK !!


Andreas langsung menampar anak Lelakinya itu, membuat semua yang berada di situ terkejut, bahkan Dave sendiri untuk sesaat tak percaya jika Ayahnya menampar dirinnya.


Marisa gemetar sambil menautkan kedua tangannya di dada dengan air mata meleleh.


Dave terkekeh sambil mengelus pipi nya yang memerah. "Begini lah nila ku di mata mu, Dad.." ucapnya.


"Apa ini yang di ajarkan Eva selama kau tinggal dengannya ?!" Andreas terlihat sangat emosi. "Aku kecewa, ternyata pikiran mu sama picik nya dengannya dulu !"


Mendengar nama Ibu nya di tuduh seperti itu, membuat Dave tak terima. "Siapa yang picik !?" Dave tak kalah emosi. "Mom picik lalu bagaiman dengan wanita itu !" Dave menunjuk Marisa tanpa menoleh ke arah nya, dan tetap menatap wajah Ayahnya yang berdiri di depannya. "Wanita ular yang pura-pura di perkosa sampai hamil hanya untuk hidup mewah !!"


PLAAKK !!


Untuk kedua kali Andreas menampar Dave, membuat Marisa langsung memeluk Suaminya dari belakang.

__ADS_1


"Sudah, Andre..." tangisnya.


"Ayah kandung mu menangis mendengarmu berbicara kotor seperti ini !!" ucap Andreas, membuat mata Dave membukat.


Kata-kata tersebut keluar begitu saja, membaut Andreas sendiri terkejut.


"...Tidak...bukan seperti itu..." Ia berucap, wajahnya kaku memandang Dave yang mulai mundur dengan tangan kanannya yang memegangi pipi nya yang bengak karena dua kali di tampar dengan keras di tempat yang sama.


Sebelum Andreas sempat berkata lagi, Dave langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan yang sedari tadi di liputi ketegangan dan kini hening mencekam dengan keterkejutan kalimat yang keluar dari mulut Kepala Keluarga Marthadinata tersebut.


"Ayah kandung mu menangis mendengarmu berbicara kotor seperti ini Dave "


Dave menangis, hatinya remuk. Ia memaju mobil sport warna grey nya itu cepat di jalan raya yang basah melewati mobil-mobil lain di malam gelap dan hanya di sinari lampu jalanan.


Nyeri pada pipi nya tak lagi di rasa, karena hati nya lebih perih dan sakit dari luka apa pun saat ini.


Sampai pada suatu tikungan, ia yang sedang menghapus air matanya, tidak melihat sebuah sepeda motor menyebarang.


Dave terkejut, ia langsung banting stir. Tapi sayang mobil sport nya dalam kecepatan tinggi, membuat ia tak bisa mengendalikannya.


Bunyi benda keras yang bertubruk di barengi bunyi keras klason mobil memecah malam dingin dengan iringan hujan gerimis dan tubuh Dave yang lunglai tak sadarakan diri dengan darah mengalir dari kepalanya.


...----------------...



...----------------...


Halo...


Mohon maaf untuk beberapa waktu saya akan hiatus dulu 🙏


Saya merasa jika Novel saya tidak begitu bagus 😅 jadi saya mau memupuk rasa percaya diri saya dulu 😂🙈


Tenang saja pasti saya tamat kan kok ❤


Terimakasih yang sudah mau membaca, memberikan like, komen, vote bahkan mengikuti dan masuk ke CG saya 🙏


-🍀-

__ADS_1


__ADS_2