
"Dokter !" Eva segera melepas pelukan Andreas, beringsut menjauh dari nya dan memegangi kedua tangan Dokter wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Saya membawa darah untuk Dave, tolong segera operasi anak saya !" perintahnya dengan wajah sembab penuh perasaan was-was.
Semua yang berada di situ terperanjat, tak terkecuali Hertoni yang sedari tadi hanya duduk di pojok ruang dan menunduk dalam meskipun Istrinya berkali-kali menarik lengannya agar melakukan sesuatu.
"Tapi golongan darah Pasien..."
"Darah yang saya bawa milik Dave sendiri." potong Eva sebelum Dokter itu selesai berbicara. "Saya rutin mengambil darahnya sejak dia beusia 17 tahun dan menyimpannya di Bank darah kota Paris." Wanita dengan kain yang menutup kepalanya itu menerangkan.
Tanpa menunda waktu lagi, si Dokter segera mengintruksikan persiapan Operasi kepada salah satu Perawatnya. Sebelum kemudian rombongan mereka pamit pergi meninggalkan ruangan.
Eva dan Andreas kembali saling tatap dengan perasaan lega yang tak perlu di ungkap kan oleh kata, karena mereka bedua sama-sama tahu, bahwa semua akan baik-baik saja.
"...Eva..." lirih suara Erika terdengar.
Wanita berusia 50 tahun yang masih terlihat cantik meskipun lingkar hitam dan kerutan di bawah mata masih terlihat jelas di make up nya yang tebal itu menoleh ke arah Ibu nya.
"Mah..." Eva berjalan cepat ke arah nya, kemudian memeluknya erat.
"Ada apa ini Ev...??" mata tua nya membayang air mata saat memeluk putrinya.
Air mata Eva meleleh, sadar kebohongan yang ia bangun bersama mantan Suaminya kini telah terbongkar. Dengan matanya yang basah oleh air mata pula, Eva memandang ke arah Ayahnya yang bahkan tidak marah atau melakukan hal apa pun terhadapnya. Hal yang aneh, mengingat sejak muda, Ayahnya selalu bersikap keras padanya, bahkan untuk kesalahan sekecil apa pun.
"Lebih baik Papa dan Mama pulang dulu..." Eva berucap setelah melepas pelukan dan menghapus air mata nya. "Kita bicarakan ini setelah Dave sehat, aku mohon..." ia memelas.
Sebetulnya Erika ingin saat ini juga anaknya itu menjelaskan tentang kenapa Dave bisa memiliki golongan darah langka yang berbeda dengan keluarga, termasuk Andreas yang Ayah nya sendiri. Namun ia menyadari jika saat ini bukanlah waktu yang tepat, terlebih Suaminya yang hanya diam dan terlihat begitu terguncang. Itu membuat Erika akhirnya memilih pulang ke rumah bersama Hertoni sambil menunggu kabar tentag Dave setelah di operasi.
Butuh waktu 3 jam untuk persiapan operasi karena harus menggumpulkan Dokter-Dokter yang berkompeten di dalamnya di petang hari seperti saat ini.
Kini tinggal Mantan Pasangan Suami-Istri yang duduk berjejer di depan ruang operasi dengan lampu yang berwarna merah di atasnya, tanda jika di dalam Para Dokter sedang bertarung dengan Malaikat maut untuk memperebutkan nyawa pasiennya.
__ADS_1
Subuh menjelang dan operasi Dave belun selesai, entah sudah berapa jam, tapi baik Andreas dan Eva yang kini kini telah melepas mantel musim dinginnya hanya saling diam.
"....Terimakasih sudah mengkhawatirkan Dave." suara Eva terdengar, memecah sunyi di antara mereka.
Andreas menoleh ke arah wanita yang menggenakan kain hitam penutup kepala, wanita yang beberapa tahun lalu pernah menjadi Istrinya karena cinta sepihak dan sebuah perjodohan demi bisnis kedua Keluarga.
"Apa kau lupa yang aku katakan padamu beberapa tahun lalu ?" Laki-laki berusia 50 tahun itu berkata sambil memandang ke arah wanita yang duduk di sebelahnya, namun sayang Eva masih saja menunduk tak melihat ke arah mantan Suaminya tersebut. "Dave anak Rendy, saudaraku." ia merendahkan nada bicaranya.
Mendengar nama yang bertahun-tahun ia coba kubur dalam-dalam membuat Eva langsung menoleh ke arah Andreas dan menatapnya tajam.
"Tidak ada yang boleh menghinanya sebagai anak tanpa Ayah." ucap Andreas membuat mata Eva memerah.
Mereka berdua masih saling tatap dengan perasaan sesak memenuhi rongga dada, sesak akan masa lalu yang perih dan penuh penyesalan.
Membuat mereka yang awalnya saling benci akhirnya bisa memafkan, hanya supaya Dave bisa mendapat pengakuan hukum sebagai anak yang di lahirkan dalam ikatan pernikahan yang sah secara hukum dan Negara.
"Karena jika Rendy masih hidup pasti dia akan melakukan hal yang sama terhadapku." Andreas berucap.
Eva menelan ludah dengan susah payah, namun ekspresi wajahnya masih terlihat angkuh. "Melakukan hal yang sama...?" ia tersenyum mengejek. "Berdiri di belakang sebagai bayangan ?" ia bertanya, membuat raut wajah Andreas langsung menegang. "Atau bersikap sok menjadi pahlawan dengan mengorbankan nyawanya untuk orang lain ?"
"Kau..." Andreas mendesis marah.
Eva tetap menunjukkan raut wajah angkuhnya. "Bagiku dia tetap orang bodoh !" umpat Eva sengit namun dengan kedua mata yang memerah menahan tangis.
Andreas mengeram, ia langsung berdiri dan meraih lengan wanita itu kasar, memaksanya untuk bangkit dari duduknya.
"Kau hina Rendy sekali lagi, aku tidak segan..."
"Apa...?" ejek Mantan Istrinya itu, masih dengan raut wajah penuh keangkuhan.
__ADS_1
Wajah Andreas mengkeras, keningnya berkerut dalam posisi mereka berdiri dengan pergelangan tangan tangan Eva yang di cengkeram kuat oleh Andreas dan mereka saling tatap.
"Mau menarik rambut ku seperti yang kau lakukan dulu ?" tantang Eva sambil tersenyum sinis.
"Aku melakukannya karena kau memfitnah istriku, kau membuatnya menangis karena mengatakan dia merebutku dari mu." Andreas masih tidak mau melepas pergelangan tangan Mantan Istrinya itu saat ia berusaha melepas nya.
"Iya, aku memfitnahnya." Eva tersenyum lebar, membuat ekpresi wajahnya terlihat aneh karena matanya jelas-jelas memerah dan sudah siap mengalirkan air mata di pelupuknya. "Sekarang tidak ada orang itu yang mencegahmu..." suaranya bergetar. "Kau bisa menarik rambutku, atau menamparku sekali pun...."
"Aku tidak akan seperti itu lagi." Andreas langsung melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Eva.
Kembali mereka saling tatap, sudah bertahun-tahun berlalu. Raga mereka pun tak lagi muda, akan tetapi masih seperti baru terjadi kemarin, saat Andreas yang marah menarik rambut panjang mantan istrinya itu menelusuri lorong rumah sakit tempat Istrinya di rawat. Begitu marahnya ia saat itu, karena ucapan Eva kepada Istrinya yang sedang di rawat, mengatakan bahwa Istrinya tersebut perempuan perebut lelaki orang.
Andreas yang saat itu masih berusia 33 tahun memang bertempramen tinggi, dan andai saja saat itu tidak ada Rendy yang menengahi, entah apa yang akan terjadi pada Eva yang sama saja keras kepala nya dengan tidak mau menjelaskan jika Istrinya tidak merebutnya dari siapa pun, bahwa pernikahannya dengan Eva hanya karena bisnis dan Andreas tak pernh menyentuhnya seujung jari pun selama masa pernikahan mereka.
Namun kini semua sudah berlalu, mereka berdamai pasca drama konflik pernikahan dan cinta segitiga mereka dalam peristiwa penembakan yang merengut nyawa Rendy.
Hidup dalam strata sosial tinggi tidak menjamin semua mudah, karena martabat, harga diri dan nama baik di atas segalanya. Terikat dan sulit menentukan pilihan, meskipun dunia seolah berada dalam genggaman.
"Kita sudah terlalu tua untuk bersikap kekanakan seperti itu." Andreas berucap, membuat lamunan mereka tentang masa lalu memudar. "Maaf tadi aku bertindak kasar..." lanjutnya.
Eva tersenyum getir. "Tidak sia-sia kau memperjuangkannya dulu." ia melipat kedua tangannya di dada, masih dengan sikap sombongnya.
Andreas hanya diam.
"Dia bisa merubah seekor Serigala, menjadi domba jinak." Eva terkekeh.
Kembali kening Andreas berkerut mendengar kata-kata Eva yang seperti hinaan. Namun ekspresi wajahnya berubah kaget, saat wanita itu mulai terbatuk-batuk sampai terbungkuk dan membelakanginya.
"Ev...?" ia berjalan mendekatinya karena Eva yang menjauh dari nya, matanya membulat saat batuk Eva berhenti dan melihat Mantan Istrinya itu memandangi telapak tangannya yang gemetar dan terdapat darah kental yang mengotorinya.
__ADS_1